Manusia sering mengira ia membutuhkan kepastian untuk bisa hidup. Padahal sering kali ia hanya membutuhkan keberanian untuk tetap berjalan di tengah ketidakpastian.
TVSTRANGERTHINGS
hello vonnie

★

⁂
art blog(derogatory)
Alisa U Zemlji Chuda


祝日 / Permanent Vacation
occasionally subtle
RMH
wallacepolsom

roma★
Not today Justin
he wasn't even looking at me and he found me
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH

JBB: An Artblog!

izzy's playlists!

Peter Solarz
sheepfilms
seen from Germany
seen from United States

seen from Peru

seen from United States
seen from United States
seen from Argentina

seen from Malaysia
seen from United Kingdom

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia
seen from Sweden

seen from United Kingdom
seen from United Kingdom

seen from Malaysia
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Germany
@absurdismee
Manusia sering mengira ia membutuhkan kepastian untuk bisa hidup. Padahal sering kali ia hanya membutuhkan keberanian untuk tetap berjalan di tengah ketidakpastian.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
— 6626 —
Aku tidak berhenti mencintaimu, aku hanya berhenti memegang erat keyakinan yang mulai retak; bahwa aku pasti dipilih.
Kadang kita mencintai seseorang dengan sangat tulus. Lalu suatu hari kita menemukan fakta bahwa orang itu belum bisa mencintai dengan cara yang kita harapkan.
Dan itu tidak otomatis membuat salah satu menjadi jahat. Itu hanya membuat kenyataan menjadi jauh lebih menyedihkan.
Karena kita sama-sama bertarung dengan rasa takut masing-masing. Aku yang takut akan kemungkinan tidak dipilih, dan kamu yang takut akan kemungkinan bahwa risiko hidup bersamaku tidak cukup layak untuk ditanggung.
Di sisi lain, memahamimu bukan berarti meniadakan rasa sakitku, dan memahamiku tidak semerta-merta menghapus ketakutanmu. Memahami semua ini juga bukan berarti menafikan segala bentuk upaya, cinta, dan kasih kita.
Semua ini hanya menunjukkan bahwa cinta sering kali diuji oleh realita dan ketakutan yang kita hidupi.
Semuanya bisa benar secara bersamaan.
Sebab kadang manusia gagal bukan karena tidak saling mencintai, melainkan karena mereka sedang berusaha menjawab persoalan yang berbeda.
Jujur, memahami semua fakta ini menjadi begitu ironis, bahwa ternyata pertanyaan yang kita ajukan pada dunia tidak simetris.
Dan yang lebih menyedihkan, mungkin masing-masing dari kita belum mampu menjadi jawaban bagi pertanyaan yang paling ditakuti untuk satu sama lain.
Mungkin untuk saat ini, aku tidak perlu memutuskan masa depan hubungan ini.
Tidak perlu memutuskan apakah kita akan bersama atau tidak.
Tidak perlu memutuskan apakah kamu akan memilihku atau tidak.
Mungkin cukup satu keputusan kecil:
"Untuk beberapa waktu, aku akan kembali merawat diriku sendiri. Karena ada bagian diriku yang baru saja terluka oleh sebuah kejujuran yang tidak siap kuterima."
Dan menurutku, mungkin itu keputusan yang sangat manusiawi.
Maaf.
Ternyata aku tidak sekuat yang kukira.
Aku mohon, bersabarlah dengan segala sesuatu yang belum terselesaikan di hatimu dan cobalah untuk menyukai pertanyaan-pertanyaan itu sendiri seolah-olah itu adalah ruangan terkunci atau buku yang ditulis dalam bahasa yang sangat asing. Jangan mencari jawaban yang tidak dapat diberikan kepadamu saat ini, karena kamu tidak akan mampu menjalaninya. Intinya adalah jalani saja. Jalani pertanyaannya sekarang. Mungkin kemudian, suatu hari nanti, kamu akan perlahan-lahan, bahkan tanpa menyadarinya, menjalani jalan menuju jawabannya.
— Rainer Maria Rilke, Letters to a Young Poet
Tuhan Tidak Tendensius
Ada saat di hidup kita, ketika satu kejadian pahit terasa cukup buat bikin kita yakin bahwa Allah sedang melawan kita dan memihak orang lain. Misalnya, doa yang tak kunjung dikabulkan, orang terdekat yang tiba-tiba pergi, takdir menyenangkan orang lain yang keliatan lebih effortless, atau kegagalan yang meruntuhkan semua harapan dan rencana. Tampaknya, semua hal dibuat sulit hanya untuk kita dan orang lain tidak. Jelas geer murahan yang tidak reliabel, yang kita klaim sebagai fakta, padahal itu bias dari sampel tunggal bernama hidup kita.
Agak ngeri juga ya, nantangin by one sama Tuhan Semesta Alam :v
Kita pernah jadi peneliti tolol yang semena-mena bikin kesimpulan besar dari sampel tunggal (yakni pengalaman pribadi). Dalam penelitian, kalau cuma punya sample size = 1, hasilnya nyaris tidak bisa dipakai buat generalisasi, sebab pengalaman pribadi hanyalah satu data point dari "big data" ciptaan Allah. Sedangkan Allah punya akses ke seluruh populasi baik itu masa lalu, masa kini, masa depan, yang kelihatan, maupun yang tersembunyi. Jadi keputusan Allah selalu berdasarkan n = ∞.
Kalau n (jumlah sampel) kecil, maka akurasi rendah, hasilnya bias, dan margin of error besar. Sebaliknya, kalau n besar maka akan mendekati populasi, hasil makin akurat dan representatif, kesimpulan makin bisa dipercaya.
Sekarang, kita punya dua kasus.
Pertama: "kalau kita terluka, maka Allah jahat". Ada banyak bias di pernyataan ini. Negativity bias (satu sakit bisa "menghapus" seribu nikmat sehat sebelumnya), availability bias (pikiran cepat banget mengakses pengalaman yang paling segar/menyakitkan karena data itu yang paling gampang muncul di memori), egocentric bias (semua hal ditafsirkan dengan diri sendiri sebagai pusat), ditambah jumping to a conclusion. Kurang bodoh apa?
Kedua: "kalau kita bahagia, maka Allah sedang berpihak pada kita." Lebih enak sih kedengarannya, tapi tetap pakai cara pikir yang sama dangkalnya. Ada banyak bias juga di pernyataan itu. Confirmation bias (kita suka "menemukan bukti" sesuai keinginan hati), self-serving bias (klaim seolah-olah semesta revolve around me), egocentric bias, lagi, (tolok ukur "Allah baik" diambil dari kenyamanan pribadi, pusatnya ego lagi), dan overgeneralization.
Sama-sama geer, cuma kali ini geernya dibungkus syukur palsu, soalnya lagi-lagi penilaiannya subjektif, bergantung pada mood dan pengalaman sesaat. Plus, dua-duanya pakai ukuran diri sendiri sebagai standar mutlak. Dua-duanya pakai sampel tunggal untuk menilai "populasi" sebesar Allah. Cara pikir kaya gitu memang aneh/keliru, karena pakai logika manusia bias untuk menilai Zat yang tidak terbatas.
Jadi, apa bukti Allah itu baik?
Kalau pakai logika sampel tunggal (n = 1), kita bakal jatuh ke jawaban sepotong, "karena aku pernah senang, karena doa aku pernah dikabulkan, karena aku sehat hari ini." Jawaban itu rapuh karena besok kalau sakit lagi, logika yang sama bisa dipakai untuk bilang "Allah jahat".
Kalau pakai logika populasi (n = ∞), maka Allah punya seluruh data, dan kebaikan-Nya mencakup seluruh aspek. Jadi bukti "Allah baik" tidak berdiri pada 1 pengalaman, tapi pada keseluruhan realitas.
Allah dan Kerangka Empirisme
Jadi, bukti Allah baik bukan cuma soal empiris. Dan sebenarnya Allah tidak bisa didekati secara empiris. Kenapa? Karena Allah bukan objek sains.
Objek sains itu:
Terdefinisi (ada kesepakatan jelas tentang apa itu)
Bisa diukur (kalau bisa diukur, berarti ada batasnya)
Ada di ruang dan waktu (bisa kita jangkau untuk diuji)
Sejak awal, Allah sudah mendefinisikan dan memperkenalkan diri-Nya sebagai Sang Maha. "Maha" artinya tak terbatas, dan yang tak terbatas itu tidak bisa diukur.
Sekarang bayangkan, logika macam apa yang ingin coba mengukur sesuatu yang Maha? Penggaris macam apa yang ingin kita pakai? Manusia jelas tidak punya instrumen yang valid untuk menakar sifat atau keputusan Allah. Pada kerangka apa kita ingin menguji Tuhan? Perkara bodoh dan dangkal, kan?
"The absence of proof is not proof of absence."
Ketika kamu merasa tidak punya pengalaman pribadi yang bisa dipakai sebagai evidence kebaikan Allah, jangan berhenti di situ. Ketiadaan bukti bahwa "Allah baik" di hidupmu, bukanlah bukti Allah tidak baik.
Bisa jadi datanya ada, tapi kita belum sadar atau belum punya syukur di hati. Atau bukti itu baru akan muncul nanti, atau Allah sengaja sembunyikan demi hikmah yang lebih besar.
Terus gimana kalau belum nemu bukti itu?
Sadar posisi bahwa kita terbatas. Kita hidup dengan "sample size = 1" yang artinya data yang kita pegang itu sangat sedikit dibanding "populasi" realitas yang Allah pegang. Selanjutnya, latih cara dan gaya pandang. Carilah tanda yang mendekatkan diri untuk mengenal-Nya.
Itu sebabnya, saat Allah memerintahkan Iqra' (bacalah), Dia tidak bilang "iqra' rabbaka" (bacalah Tuhanmu) Tapi "iqra' bismi rabbik" (bacalah atas nama Tuhanmu)
Artinya, Allah nyuruh kita membaca ciptaan-Nya, tanda-tanda-Nya, ayat-ayat di alam (kauniyah) dan dalam wahyu (qauliyah), untuk mengenal Allah, bukan untuk "mengukur" Allah dengan keterbatasan alat sensori dan persepsi kita.
Maka itulah pentingnya kenalan sama Allah sebelum menerobos realitas. Supaya dalam kedukaan dan keterlukaan pun, kita tetap memiliki rasa hormat kepada Allah, bahwa Allah Maha Bijaksana atas setiap pengambilan keputusan-Nya. Supaya sabar lebih dapat didahulukan daripada marah, menuntut, dan protes. Supaya tidak jadi orang sotoy dan menggurui Allah.
Dan dalam kebahagiaan pun sama. Supaya kita tidak buru-buru merasa semua nikmat adalah hasil usaha sendiri, atau geer bahwa Allah lebih sayang pada kita dibanding orang lain. Supaya syukur lebih didahulukan daripada sombong, bangga diri, atau meremehkan cara hidup yang lain.
Allah al-Wakil bertindak atas dasar populasi total, yang mempertimbangkan semua variabel, semua waktu, semua konsekuensi. Keputusan-Nya mencakup keseluruhan realitas, bukan cuma fragmen hidup seseorang saja. Jadi jangan buru-buru menyimpulkan Allah tidak baik hanya karena hidupmu belum terasa "dibuktikan" oleh-Nya.
Kalau pengen dipihak Allah, gimana? Banyak caranya di Qur'an, salah satunya bersabar. Kalimatnya jelas, "inna Allaha ma'a shabirin".
Sabar adalah jenis sikap yang sangat bergantung pada kerangka waktu. Artinya, kita tidak menyerah terhadap Allah. Kita tidak buru-buru mundur saat mengenal Allah meski belum paham. Kita tidak mengedepankan logika, nafsu, ego, dan apapun yang sifatnya menambah kesombongan, meski belum dapat hasil. Lagian, makin sombong kita, makin tidak dikenali kita sebagai hamba. Makin susah mengenal diri as human being. Dan makin susah pula berteman dengan sesama human.
Banyak orang cepat kecewa lalu mundur dari iman hanya karena satu episode pahit. Sabar juga berarti tidak kabur hanya karena logika sesaat belum nyambung, dan menahan diri dari dorongan instan yang biasanya bikin kita nge-judge Allah. Banyak tafsiran lainnya lagi soal sabar, baca-baca aja di mana-mana.
Akhir kata, mari kita benahi pemahaman tentang qadha dan qadar, serta konsep diri sebagai manusia yang punya akal dan kemampuan memilih. Supaya ngerti betapa objektif dan tidak memihaknya Allah dalam penyusunan algoritma qadha dan qadar dan penempatan manusia di dalamnya.
Kedua pemahaman ini, jika dikombinasikan, bisa melahirkan sikap haunan, seperti Nabi Adam dalam doanya, rabbana dzalamna anfusana dst.
Life’s path is no fixed line; it is shaped by co-contributors who navigate its branching roads.
(Artinya, bukan Tuhan yang jahat, elu aja yang dzalim ke diri sendiri. Output lu itu bergantung input dan decision making yang lu pilih sendiri. Jangan salahin Tuhan kalo hasilnya malapetaka dan bencana. Stop ngerasa jadi korban di masalah yang lu buat sendiri.)
— Giza, tulisan ini isinya kayak marah-marah tapi jujur emang berangkat dari rasa kesel sama orang-orang masa kini yang asbun soal Allah padahal ga kenal Allah. Iqra lagi sono, jangan cinta-cintaan mulu. Giliran terluka nyalahinnya Allah.
— Pertarungan Tak Terlihat —
───────────────────────────────────────
“Sering kali manusia tidak berhenti karena kehilangan keinginan. Mereka berhenti karena kehilangan harapan bahwa keinginannya mungkin tercapai.”
— Absurdismee
───────────────────────────────────────
Kita mungkin sering mengira bahwa manusia bergerak karena keinginan.
Kalau ingin bahagia, maka ia akan mengejar kebahagiaan.
Kalau ingin sembuh, maka ia akan berusaha sembuh.
Kalau ingin hidupnya berubah, maka ia akan mulai berjalan.
Masalahnya, batin manusia tidak dirancang sesederhana itu.
Ada orang yang sangat ingin bahagia, namun tidak sanggup menghadapi prosesnya.
Ada orang yang bersedia berjuang, namun tidak lagi percaya bahwa perjuangannya akan membawanya ke mana-mana.
Dan ada orang yang diam bukan karena tidak ingin, melainkan karena harapannya telah terlalu lama kalah.
Kita sering kali mencampurkan tiga hal yang sebenarnya berbeda. Dalam bahasa modern, kita mungkin menyebutnya sebagai keinginan, kesediaan, dan harapan. Menariknya, tradisi tasawuf sejak lama mengenal struktur batin yang tidak jauh berbeda: himmah, mujahadah, 'iffah, raja', dan khidmah.
───────────────────────────────────────
1. Ingin (Wanting/همة)
Keinginan adalah bagian yang paling mudah. Hampir semua manusia ingin hidup yang lebih baik. Ingin dicintai. Ingin tenang. Ingin terbebas dari penderitaan. Namun keinginan sering kali hanya menunjukkan arah hati. Ia belum tentu mampu menggerakkan langkah.
Dalam pandangan tasawuf, ini disebut himmah :
توجّه القلب بكليته إلى المقصود
"Pemusatan seluruh perhatian hati kepada tujuan yang dituju."
Himmah bukan sekadar keinginan biasa. Ia adalah dorongan batin yang membuat seseorang merasa terpanggil menuju sesuatu.
───────────────────────────────────────
2. Bersedia atau mau berjuang (Willingness/مجاهدة , عفة)
Bersedia berarti menerima harga yang harus dibayar. Para ulama menjelaskan mujahadah sebagai:
حمل النفس على ما تكره فيما يرضي الله
"Memaksa diri melakukan sesuatu yang berat demi sesuatu yang diridhai Allah."
Sedangkan 'iffah sering dipahami sebagai:
كف النفس عما لا يليق
"Menahan diri dari hal-hal yang tidak patut."
Jika himmah adalah tenaga, maka mujahadah membuat manusia tetap bergerak ketika lelah. Sedangkan 'iffah membuat manusia tidak keluar jalur ketika tergoda.
Di titik ini banyak manusia berhenti.
Kita menginginkan hasilnya, tetapi belum tentu siap menghadapi prosesnya.
Kita ingin sembuh, tetapi tidak ingin terluka lagi.
Kita ingin berubah, tetapi tidak ingin meninggalkan hal-hal yang membuat kita nyaman.
───────────────────────────────────────
3. Harapan atau kemungkinan yang dirasakan (Perceived Possibility/رجاء)
Imam al-Ghazali menjelaskan raja' sebagai:
ارتياح القلب لانتظار محبوب في المستقبل
"Ketenangan hati karena menantikan sesuatu yang dicintai pada masa yang akan datang."
Harapan bukan sekadar berpikir positif. Ia adalah keyakinan bahwa langkah yang kita ambil masih memiliki kemungkinan untuk sampai ke tujuan.
Ketika harapan runtuh, manusia sering kali berhenti bergerak. Bukan karena tidak menginginkan tujuannya, melainkan karena tidak lagi percaya bahwa tujuan itu mungkin untuk dirinya.
Namun masalahnya, ketiga kondisi ini tidak selalu berjalan searah.
Kita ingin banyak hal. Namun tidak selalu bersedia membayar harganya. Dan meskipun bersedia, tidak selalu percaya bahwa semua itu masih mungkin untuk diraih.
Ketika kita melihat seseorang mandeg atau "menyerah", biasanya label yang paling cepat kita lemparkan adalah malas, tidak punya ambisi, atau kurang berniat.
Tapi mari coba kita lihat dengan lebih jernih. Sebab bisa jadi penilaian itu lahir dari posisi kita yang kebetulan sedang memiliki ketiga hal tersebut dalam keadaan selaras. Kita lupa bahwa tidak semua orang sedang berdiri di titik yang sama.
Kita mungkin sulit menyadari bahwa ketika salah satu dari tiga hal itu hilang, langkah manusia sering terhenti—tak terkecuali diri kita sendiri.
───────────────────────────────────────
Dan tidak semua langkah yang terhenti lahir dari kemalasan; sebagian lahir dari harapan yang perlahan kehilangan tempat untuk pulang.
────────────────────────────
Dalam banyak tradisi tasawuf, ada satu keadaan lagi yang disebut dengan khidmah (خدمة).
Biasanya khidmah diterjemahkan sebagai pengabdian atau pelayanan. Namun jika dilihat lebih dalam, khidmah bukan sekadar tentang melayani sesuatu di luar diri. Ia juga tentang kesediaan untuk tetap hadir di dalam kehidupan.
Tetap bangun ketika hati sedang lelah.
Tetap berjalan ketika arah terasa kabur.
Tetap melakukan apa yang mampu dilakukan hari ini.
Mungkin karena itulah terdapat ungkapan yang dinisbatkan kepada Sayyidina Ali:
من علمني حرفا فقد صيّرني عبدا
"Siapa yang mengajariku satu huruf, maka ia telah menjadikanku sebagai hamba baginya."
Bukan karena kehinaan. Melainkan karena adanya kerelaan untuk melayani sesuatu yang dianggap bernilai. Di titik ini, khidmah menjadi bentuk tertinggi dari kesediaan.
───────────────────────────────────────
Dan kehidupan adalah guru yang paling sering kita lupakan. Padahal lewat luka dan prosesnya, ia mengajari manusia huruf demi huruf takdir.
───────────────────────────────────────
Setiap kali manusia memilih untuk tetap berjalan—meski tertatih, meski bingung, meski tidak sepenuhnya mengerti ke mana arah hidup membawanya—mungkin ia sedang berkhidmah kepada guru yang bernama kehidupan.
Dan mungkin di sinilah letak sesuatu yang terasa tragis sekaligus indah tentang manusia: bahwa tidak semua bagiannya utuh, tidak semua harapannya hidup, tidak semua keyakinannya tetap menyala. Namun ia tetap berkhidmah kepada kehidupannya.
Khidmah adalah alasan mengapa seorang ibu yang depresi tetap bangun pagi untuk membuatkan sarapan anaknya.
Khidmah adalah alasan mengapa seseorang yang patah hati tetap berangkat kerja di tengah kereta komuter yang padat.
Khidmah adalah alasan mengapa seorang mahasiswa yang hampir menyerah tetap membuka bukunya sekali lagi.
Khidmah adalah alasan mengapa seseorang yang kehilangan arah masih sanggup berkata:
"Aku akan mencoba lagi besok."
Kadang keinginan melemah.
Kadang upaya retak.
Kadang ketahanan goyah.
Kadang harapan hampir padam.
Namun manusia tetap berjalan semampunya. Tetap bangun di pagi hari. Tetap menyapa orang yang dicintainya. Tetap mencoba hidup meski tidak sepenuhnya mengerti untuk apa.
Bukankah itu tragis sekaligus indah?
───────────────────────────────────────
Sebab kita mungkin tak akan pernah benar-benar tahu bahwa di balik satu keputusan yang terlihat sederhana, sering kali manusia sempat mengalami pertarungan panjang yang tak terlihat di antara keinginan, kesediaan, dan harapan.
───────────────────────────────────────
Dan mungkin yang paling layak kita kagumi bukanlah mereka yang selalu kuat. Melainkan mereka yang tetap berjalan meski tidak seluruh bagian dirinya sedang baik-baik saja.
Mereka yang tetap berkhidmah kepada kehidupannya—meski kadang harus berjalan dengan bagian-bagian yang tak sepenuhnya sempurna.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Lelaki Tua di Musholla Kecil
Di musholla kecil itu, lelaki tua yang sehari-hari menjual rokok eceran menangis diam-diam selepas shalat.
Tak ada yang tahu kenapa.
Mungkin ia sedang mengingat hidupnya. Mungkin ia merasa jauh dari Tuhan.
Mungkin juga karena untuk pertama kali setelah sekian lama, ia sempat mendengar suara hatinya sendiri.
Dunia memang terlalu ramai.
Kadang manusia perlu lapar sedikit, agar batinnya kembali hidup.
°°°°°
Senja di hari arafah ini, aku sadar, mungkin aku iri pada lelaki tua itu..
— Hari Ini Aku Mengakui —
Hari ini aku mengakui:
ada banyak hal yang belum mampu aku usahakan. Ada mimpi-mimpi yang mungkin akan tetap tinggal sebagai mimpi. Hari ini realita datang menamparku pelan-pelan, meninggalkan lebam yang mungkin hanya bisa aku rasakan sendiri.
Aku pernah percaya bahwa masa lalu menghadirkan makna, masa depan menjanjikan kebahagiaan, dan masa kini adalah tempat manusia menaruh daya juangnya. Namun semakin waktu berjalan, aku justru merasa kalah oleh semuanya.
Kalah oleh kenangan yang terus tinggal. Kalah oleh harapan yang tak kunjung sampai. Kalah oleh diriku sendiri yang tak pernah benar-benar selesai.
Maka hari ini aku tidak lagi ingin menjanjikan apa-apa kepada hidup. Aku hanya ingin berjalan—semampuku, sebisaku. Tanpa janji-janji besar. Tanpa keyakinan bahwa semua rasa takut pasti akan menemukan jawaban.
Hari ini aku mengakui bahwa aku hanyalah manusia biasa: seseorang dengan segala keterbatasannya, berdiri di tengah medan yang bahkan tidak selalu ia pahami. Aku bisa lelah kapan saja. Bisa kehilangan arah. Bisa runtuh tanpa sempat menjelaskan apa-apa.
Dan untuk pertama kalinya, mungkin aku mulai menerima itu.
Aku tidak lagi ingin menjadi seseorang yang selalu tampak kuat. Tidak lagi ingin memaksa diriku untuk terus terlihat mampu menghadapi segala hal. Sebab semakin aku memaksa, semakin aku sadar bahwa ada banyak hal di dunia ini yang memang berada di luar jangkauan tanganku.
Mungkin makna hari ini tidak akan sepenting itu di masa depan. Mungkin luka yang terasa besar sekarang kelak hanya menjadi debu kecil dalam ingatan. Atau mungkin justru semuanya akan hilang begitu saja tanpa sempat dimengerti.
Entahlah.
Maka aku berpasrah kepada waktu yang terus berjalan, kepada tanah yang masih memikul langkahku, dan kepada takdir yang suatu hari mungkin akan menjatuhkanku tanpa aba-aba.
Dan aku mulai sadar: tidak semua hal harus dimenangkan.
Hari ini aku mengizinkan diriku untuk kalah. Bukan karena hidup telah selesai, melainkan karena aku akhirnya memahami bahwa aku tidak sedang berlomba dengan siapa pun.
Aku tidak harus menjadi cahaya besar bagi dunia. Aku tidak harus selalu berarti di mata semua orang. Mungkin aku akan tersesat. Mungkin aku akan jatuh berkali-kali. Mungkin aku akan tiba di tempat-tempat asing yang bahkan belum pernah aku bayangkan.
Tapi biarlah.
Hari ini aku hanya ingin jujur pada diriku sendiri: bahwa aku bukan siapa-siapa. Dan mungkin, tidak apa-apa. Karena pada akhirnya, aku hanyalah manusia biasa.
Secukupnya dan Semampunya
Sebenarnya masih ada secuil keinginan di diri aku untuk melakukan segala hal yang dilakukan orang-orang seusiaku. Ya seperti bekerja di perusahaan oke, menikah, bertemu teman-teman baru, eksplor tempat baru, dan nyobain hal-hal baru lain.
Cuma emang benaran deh, dewasa itu tentang melihat sesuatu dari kacamata yang nggak lagi ideal. Semakin banyak masalah, semakin mahir kita mengatasi, tetapi semakin sedikit pula waktu dan daya kita.
Masih berjalan dengan prinsip prioritas, tapi prioritas bukan lagi soal apa yang membuat kita bahagia, yang membuat sel-sel kita terasa hidup dan hormon kita meledak-ledak, tetapi apa yang nggak merugikan kita tapi bisa membantu banyak orang, apa yang membuat kita menjadi lebih manusiawi, apa yang kita pilih untuk tetap baik. Hal-hal sederhana, yang nggak pernah kita bayangkan dengan impian kita yang besar dulu.
Dulu aku juga menganut, lintasan setiap orang itu beda-beda, jadi jangan terpengaruh dengan lintasan orang lain. Sekarang aku nggak cuma lihat itu sebagai lintasan, peran setiap orang juga berbeda-beda. Nggak semua orang harus sukses dengan minimal pendapatan dua digit sebulan, nggak semua perempuan dewasa harus jadi istri dan ibu, nggak semua dari kita harus keliling Indonesia.
Ambil peran masing-masing, semampu dan secukupnya. Yang membuat kita terus-terusan ngerasa kurang kan karena mendamba akan sesuatu yang kita belum dimampukan, makanya lahirlah iri dan penyakit hati lain.
Jadi hari ini, perannya ya ini dulu. Peran yangbelum leluasa untuk diceritakan. Kalau suatu hari keadaannya berbeda lagi, ya ambil peran lain.
Ah, jadi ingat ini juga, nggak semua dari kita peran utama, bahkan di kehidupan masing-masing. Aku supporting role di keluarga btw, hehe.
Ironi Pemahaman
Antara Tidak Mampu dan Tidak Mau
───────────────────────────────────────
“I know that I know nothing.”
—Socrates
───────────────────────────────────────
Mungkin, sejak awal, manusia memang tidak pernah benar-benar tahu.
Dulu saat aku kecil, aku membenci kopi. Rasanya pahit, tidak ramah di lidah, dan sama sekali tidak menyenangkan. Tidak ada alasan untuk menyukainya. Aku ingat bagaimana wajahku meringis setiap kali meneguknya—seolah tubuhku menolak sesuatu yang asing.
Namun waktu berjalan. Tanpa benar-benar kusadari kapan tepatnya perubahan itu terjadi, hari ini aku justru mencari kopi. Bukan sekadar menerimanya, tetapi menikmatinya—bahkan mencintainya karena rasa pahit itu sendiri.
Kopinya tidak pernah berubah. Yang berubah adalah cara aku memahaminya.
Dari pengalaman sederhana itu, aku mulai mengerti: aku tidak hidup berdasarkan realitas semata, melainkan berdasarkan pemahamanku atas realitas. Masalahnya, pemahaman itu tidak pernah datang bersamaan dengan pengalaman. Ia selalu terlambat. Aku merasakan terlebih dahulu, lalu memahami kemudian. Aku menolak, lalu suatu hari menerima. Aku membenci, lalu pada suatu waktu yang lain, aku justru mengerti mengapa hal itu layak untuk dicintai.
Pemahaman, dengan demikian, bukan sesuatu yang gratis. Ia dibayar dengan waktu, dengan pengalaman, dan seringkali dengan kesalahan.
Bayangkan jemuran yang tergantung di halaman rumah. Langit mulai mendung. Dulu, mungkin aku tidak akan memikirkan apa-apa. Mendung hanyalah langit yang berubah warna—tidak lebih. Aku membiarkan jemuran itu tetap tergantung, merasa semuanya akan baik-baik saja.
Lalu hujan turun. Jemuran itu basah.
Jika ketidakpahaman itu terus berulang, maka aku akan terus mengalami hal yang sama—kerugian dan kesalahan yang sama—seolah hidupku terperangkap dalam lingkaran yang tidak pernah putus. Namun satu pemahaman sederhana saja—bahwa mendung berpotensi hujan—cukup untuk mengubah seluruh tindakanku ke depan. Aku akan bergegas mengangkat jemuran, menyelamatkan apa yang masih bisa diselamatkan.
───────────────────────────────────────
Satu pemahaman kecil mampu memutus kesalahan yang tanpa sadar bisa kuulang seumur hidup.
───────────────────────────────────────
Di titik ini, aku mulai sadar: pemahaman bukan hanya soal mengetahui, tetapi soal menentukan arah hidup. Tanpa pemahaman, aku hanya akan mengulang.
Namun yang membuatku gelisah adalah melihat bagaimana hari ini, manusia—termasuk aku sendiri—seringkali tidak benar-benar ingin memahami. Bukan karena tidak mampu, tetapi karena tidak mau—dan mungkin, karena merasa tidak perlu.
Aku pernah menjadi pelajar yang malas memahami. Pernah lebih ingin dimengerti daripada berusaha memahami. Dan mungkin, tanpa sadar, aku juga pernah menutup diri dari orang lain—hanya karena merasa sudah cukup tahu.
Memahami itu melelahkan. Ia menuntut kesabaran, kerendahan hati, dan keberanian untuk mengakui bahwa aku bisa saja salah. Dan yang lebih sulit lagi: memahami seringkali menuntutku untuk berubah. Maka tidak heran jika banyak dari kita memilih untuk tidak memahami.
Padahal harga dari pilihan itu sangat mahal. Ketika aku menolak untuk memahami, aku sebenarnya sedang menutup kemungkinan hidup yang lebih baik. Aku membiarkan kesalahan yang sama terus terjadi, hanya karena aku tidak mau membayar harga dari sebuah pemahaman.
Namun di sisi lain, ada kenyataan yang lebih sunyi dan lebih sulit diterima: bahkan ketika aku mau memahami, aku tetap tidak akan pernah sepenuhnya mampu.
Realitas selalu berjalan lebih cepat daripada kemampuanku untuk menangkapnya. Selalu ada jarak antara apa yang terjadi dan apa yang kupahami tentangnya.
Mungkin karena itulah, aku pernah membenci sesuatu yang ternyata baik bagiku. Dan mencintai sesuatu yang ternyata membawa keburukan.
Sebagaimana firman Allah:
وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui."
Q.S Al-Baqarah: 216
Ayat itu tidak hanya menenangkan, tetapi juga menampar. Ia mengingatkanku bahwa masalahku bukan sekadar kurangnya informasi, tetapi keterbatasanku sebagai manusia.
────────────────────────────
Ada hal-hal yang belum kupahami. Ada hal-hal yang belum bisa kupahami. Dan mungkin, ada hal-hal yang tidak akan pernah kupahami.
────────────────────────────
Di sinilah ironi itu terasa begitu nyata: aku adalah makhluk yang terbatas dalam memahami, namun sekaligus dianugerahi dorongan untuk terus memahami. Aku tidak pernah cukup mampu, tetapi aku juga tidak pernah bisa berhenti mencoba.
Mungkin, hidup bukan tentang mencapai pemahaman yang sempurna. Itu tidak mungkin.
Tetapi hidup adalah tentang kesediaanku untuk terus memahami—meskipun aku tahu bahwa aku akan selalu terlambat, selalu terbatas, dan tidak akan pernah selesai.
Dan mungkin, di antara keterlambatan dan keterbatasan itulah, aku perlahan belajar menjadi manusia.
Barangkali, itu satu-satunya hal yang benar-benar bisa kupahami.
— Seni Tawadlu’ —
───────────────────────────────────────
وَاِذْ قُلْنَا لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اسْجُدُوْا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوْٓا اِلَّآ اِبْلِيْسَۗ اَبٰى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكٰفِرِيْنَ
“Ingatlah ketika Kami berfirman kepada para malaikat, ‘Sujudlah kamu kepada Adam!’ Maka mereka pun sujud, kecuali Iblis. Ia menolak dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan kafir.”
— Al-Baqarah: 34
───────────────────────────────────────
Manusia sering kali mengira bahwa rendah hati adalah tentang cara berbicara yang lembut, senyum yang hangat, atau sikap yang sopan di hadapan orang lain. Seolah-olah tawadlu’ hanyalah perkara etika sosial, bukan pergulatan batin.
Padahal, ada sesuatu yang jauh lebih sunyi dan dalam dari itu.
Tawadlu’ bukan sekadar bagaimana kita terlihat di mata manusia, tetapi bagaimana kita bersikap di hadapan kebenaran. Ia adalah kesediaan untuk tunduk—bukan kepada manusia, tetapi kepada apa yang benar, bahkan ketika kebenaran itu melukai ego kita sendiri.
Para ulama telah merumuskan ini dengan sangat jernih:
التواضع هو قبول الحق ممن قاله
“Tawadlu’ adalah menerima kebenaran dari siapa pun yang mengatakannya.”
— Ibn Taimiyah
التواضع أن تخرج من بيتك فلا تلقى مسلماً إلا رأيت له عليك فضلاً
“Tawadlu’ adalah ketika engkau keluar rumah dan tidak bertemu seorang muslim pun kecuali engkau melihat ia memiliki kelebihan atas dirimu.”
— Hasan Al-Bashri
Di titik inilah manusia benar-benar diuji.
Bukan saat ia dipuji,
bukan saat ia dihormati,
melainkan saat ia dikoreksi.
Kisah Iblis menjadi cermin paling awal. Ia menolak bukan karena tidak tahu, tetapi karena merasa lebih tinggi. Dari sana kita belajar bahwa dosa pertama bukanlah kebodohan, melainkan kesombongan—kesombongan yang berbisik pelan:
“Aku tahu… tapi aku tidak mau menerima.”
Sejak saat itu, pertarungan antara tawadlu’ dan takabur menjadi bagian dari diri manusia.
Dan ia jarang hadir dalam bentuk yang kasar. Ia bersembunyi dalam keyakinan bahwa kita lebih tahu, lebih paham, lebih benar.
Semakin tinggi seseorang berdiri, semakin halus pula ujiannya.
Yang berilmu diuji dengan perasaan paling memahami.
Yang berharta diuji dengan perasaan lebih berharga.
Yang dewasa diuji dengan keyakinan lebih bijak.
Di titik itu, tawadlu’ menuntut kejernihan: mampu membedakan antara siapa yang berbicara dan apa yang disampaikan.
Karena kebenaran tidak selalu datang dari arah yang kita hormati. Ia bisa datang dari anak kecil yang menegur kita di pinggir jalan. Dari seseorang yang kita anggap tidak mengerti apa-apa. Bahkan dari orang yang tidak kita sukai.
Dan di situlah ego berbisik:
“Siapa dia berani mengatakan itu kepadaku?”
Jika kita gagal, maka yang kita tolak bukan ucapannya, melainkan kebenaran itu sendiri.
Para ulama mengingatkan dengan sebuah ungkapan sederhana namun dalam:
انظر إلى ما قال ولا تنظر إلى من قال
“Lihatlah apa yang dikatakan, dan jangan lihat siapa yang mengatakan.”
Namun kalimat ini bukan sekadar nasihat. Ia adalah latihan panjang untuk mematahkan ego. Karena secara naluriah, manusia cenderung menimbang kebenaran dari pembawanya, bukan dari isinya.
Padahal sering kali, yang diuji bukanlah benar atau salahnya sebuah ucapan—melainkan kesiapan kita untuk menerima bahwa kita bisa salah.
Dan itu tidak mudah.
Ada saat di mana seseorang mengetahui kebenaran, tetapi tetap menolaknya. Bukan karena ia tidak mengerti, melainkan karena ada sesuatu dalam dirinya yang ingin dipertahankan: citra diri, harga diri, atau sekadar keinginan untuk tetap merasa benar.
Di titik itulah, ego perlahan membunuh kebenaran. Bukan dengan menentangnya secara terang-terangan, melainkan dengan menolak untuk tunduk.
───────────────────────────────────────
Maka mungkin, tawadlu’ bukan tentang menjadi kecil di hadapan orang lain, melainkan sebuah seni—untuk tidak menjadi besar di hadapan diri sendiri.
───────────────────────────────────────
Tentang kemampuan untuk berkata,
“Aku salah,” tanpa merasa hancur.
Dan keberanian untuk menerima,
“Dia benar,” meskipun datang dari arah yang tidak kita harapkan.
Pada akhirnya, manusia tidak diukur dari seberapa sering ia benar, melainkan dari seberapa lapang ia menerima kebenaran.
Karena di sanalah kebijaksanaan lahir—ketika manusia memilih tunduk pada kebenaran, bukan pada egonya sendiri.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Jika matamu indah, maka engkau akan mencinta dunia; namun jika lidahmu indah, maka seluruh dunia akan mencintaimu."
— Turun —
─────────────────
“Segala yang bermateri akan hancur. Aku hanyalah titik terendah materi. Aku bukan siapa-siapa di hadapan semesta, dan justru karena itu—aku merasa tenang.”
────────────────────
Ada masa ketika setiap retak terasa seperti akhir dunia. Kesalahan membesar, penolakan terasa seperti penghapusan, kegagalan seperti bukti bahwa ada yang salah sejak awal.
Saat itu aku hidup dari ketinggian yang tak pernah benar-benar kupilih, namun diam-diam kujaga. Dari sana, segala goyah tampak fatal.
Lalu aku mulai melihat: yang hancur bukan hidup — melainkan posisi yang kupertahankan.
Terlalu lama aku berdiri di tempat yang menuntut segalanya untuk tetap utuh. Tempat di mana setiap salah harus dibayar mahal, karena aku merasa harus menjadi seseorang.
Sampai akhirnya aku turun.
Bukan jatuh — turun.
Turun dari peran, dari citra, dari bayangan tentang pentingnya diri. Turun ke titik yang tidak perlu dibela.
Di sana, kesalahan kehilangan maknanya. Kegagalan berhenti menjadi ancaman. Ia hanya peristiwa. Seperti hujan yang datang tanpa maksud.
“You have power over your mind — not outside events. Realize this, and you will find strength.”
— Marcus Aurelius
Barangkali kekuatan bukan terletak pada berdiri di atas segalanya, melainkan pada kesediaan untuk tidak menjadi pusat di hadapan semesta.
Februari ‘F’ nya apa ?
Fa inna ma‘al-‘usri yusrā
“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
"fabiayyi ala irobbikuma tukadziban”
Fa idhaa faraghta fanshab.
Wa ilaa rabbika farghab.
(bisaa....biar move on)
Falyatawakkalil mu'minun..
"Dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang mukmin bertawakal."
Menemukan kedamaian dalam janji-janji Nya..
Fadkhuliifii'ibaadii...
"Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku"
(Panggilan-Nya untuk bergabung dengan hamba-hambaNya yang soleh untuk masuk ke Surga-Nya)
Fashbir shabran jamila
"Maka, bersabarlah dengan kesabaran yang baik."
Di era gempuran lisan tetangga, semoga lisan kita diberi kesabaran untuk senantiasa menjaga
Satu-satunya nasehat untuk diriku sendiri adalah: mulai saja mengikhlaskan apa yang telah Tuhan tetapkan untukmu. Bila kamu harus terus menjadi Ranger pink, maka nikmati saja peranmu.
-260128
UTUH
— Tentang Cinta yang Takut Kehilangan —
────────────────────────────
“Care and responsibility denote love, but love is not possible without respect and knowledge. Respect means the concern that the other person should grow and unfold as he is. Respect thus implies the absence of exploitation. I want the loved person to grow and unfold for his own sake, and in his own ways, and not for the purpose of serving me.”
— Erich Fromm, The Art Of Loving (1956)
───────────────────────────────────────
Ada masa di mana aku percaya bahwa cinta adalah tentang memegang erat, tentang tidak melepaskan, tentang menggenggam sampai jari-jari memutih.
Aku pikir semakin kuat aku menahan, semakin aman sesuatu akan menetap. Tapi yang dicengkeram tidak pernah benar-benar tinggal—mereka hanya takut jatuh. Dan aku baru sadar: yang sebenarnya takut jatuh itu bukan mereka. Tapi aku.
Ketakutan kehilangan terasa seperti cinta. Padahal ia hanya gema luka lama yang belum sempat dirawat. Luka yang berbisik pelan di dalam dada:
“Jangan tinggalkan aku. Aku tidak mampu hidup tanpamu.”
Aku dulu mengira masalahnya ada pada hubungan atau pasangan. Ternyata masalahnya ada pada bagian diriku yang belum selesai.
Banyak orang ingin membangun hubungan tanpa pernah membangun diri. Mereka belajar taktik, menjaga “frame”, berpura-pura tenang agar terlihat berharga—sementara di dalamnya gemetar.
Kalimat seperti:
“jangan takut kehilangan, biar dia yang takut kehilanganmu,”
terdengar kuat. Tapi ia tidak menyentuh luka. Ia hanya menenangkan permukaan.
──────────
Bukan hubungan yang membuat kita takut. Yang menakutkan adalah bagian diri yang belum percaya bahwa ia tetap utuh meski sendirian.
──────────
Kadang, aku masih ingin memegang erat. Masih ada hari-hari di mana aku ingin diyakinkan. Tapi kini aku tahu: meminta orang lain menyembuhkan luka yang bukan miliknya bukanlah cinta. Itu pelarian.
Hubungan tidak runtuh karena cinta kurang kuat. Ia runtuh karena dua orang datang dengan luka yang sama-sama belum selesai.
Kedamaian terasa membosankan bagi hati yang terbiasa hidup dalam kekacauan. Sunyi terasa asing bagi jiwa yang lama bertahan di kebisingan.
Dan mungkin itulah sebabnya banyak orang lebih memilih drama daripada ketenangan. Kini aku mulai mengerti:
Cinta bukan tentang menjadi sulit ditinggalkan. Bukan tentang terlihat kuat. Bukan tentang tidak pernah takut. Cinta adalah tentang tetap tinggal pada diri sendiri, bahkan ketika orang lain pergi.
Tentang berani berkata,
“Aku takut kehilangan—tapi aku tidak akan kehilangan diriku demi bertahan.”
Karena hubungan yang benar tidak dimulai dari kecemasan, melainkan dari kejelasan. Dan kejelasan lahir ketika kita akhirnya pulang—ke diri sendiri.
.
.
.
.
“Mungkin aku bukan takut kehilangan orang yang aku cintai, tapi aku takut mengakui kesalahan narasi cinta yang telanjur aku percayai.”

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Hidup tidak hadir melalui keindahan kata-kata pujangga, ia hadir saat manusia berhenti menutup mata.
“Kedamaian adalah saat kau merasa menciptakan jarak, lalu memutuskan untuk menghapusnya.”