Satu Hari untuk Keabadian #MariBercerita
Sejak kecil, saya adalah pribadi yang emosional. Di antara waktu yang saya habiskan untuk diri sendiri, juga waktu untuk bercengkerama dengan orang-orang tercinta, saya cukup banyak menghabiskan waktu senggang di dalam kepala, berpikir tentang manusia dan tentang kehidupan. Hampir setiap sesi merenung itu selalu berkawan alir hangat di pipi. Menangisi ketidakberdayaan, ketidakadilan, ketidaktahuan. Menangisi penderitaan orang lain.
Cara paling cepat untuk mengusir kegalauan adalah bercakap panjang dengan orang tua — mencurahkan segala gejolak dalam hati, mengeluhkan banyak hal yang membuat patah hati dari dunia ini dan caranya bekerja, berdiskusi tentang apa yang membuat kita sepenuhnya manusia dan bagaimana menjaga kemanusiaan itu tidak pernah menjadi subjek kompromi.
Setiap kali dibuat patah hati menyaksikan dunia yang penuh kekejaman dan penderitaan, saya teringat sebuah percakapan dengan Bapak, yang sebenarnya bermula dari permasalahan yang sangat personal, tetapi teraplikasi dalam manajemen kehidupan secara universal.
Saat itu siang hari. Cuaca cukup terik, tetapi angin yang berhembus membawa partikel air, hamparan hijau yang membentang sejauh mata memandang, suara dan petikan gitar John Mayer mengalun pelan di radio mobil, pula kebersamaan dengan Bapak dalam percakapan yang meneduhkan jiwa, kompak mengenyahkan semua yang membuat tidak nyaman, lahir dan batin.
Untuk menghibur saya yang sedang lelah jiwa dan raga, Bapak bertanya.
"Menurut kakak Bito, untuk apa kita beragama, untuk apa percaya pada Tuhan".
Saya yang saat itu sedang kalut hanya mengernyitkan alis, paham bahwa pernyataan Bapak retorik, akan dijawab sendiri oleh beliau.
"Kita beragama dan percaya pada Allah itu pada hakikatnya adalah untuk memberi kebebasan pada diri kita. Keyakinan kepada Allah membebaskan manusia dari keharusan untuk membuat semua yang terjadi di hidup kita masuk akal.
Dunia ini memang settingan-nya aneh. Dunia ini hanya masuk akal kalau dilihat secara retrospektif, tapi manusia alur hidupnya prospektif. Jadi dalam batas pengetahuan dan kebijaksanaan manusia, kehidupan di dunia ini memang tidak akan pernah masuk akal.
Percaya pada Allah itu membebaskan kamu dari perasaan harus bertanggung jawab sepenuhnya terhadap semua yang kamu alami atau saksikan.
Kamu tidak di-setting untuk paham semuanya, tidak juga di-setting untuk bisa menyelesaikan semuanya sendiri. Kalau rasanya mau jadi gila ya wajar. Makanya harus ada kebenaran yang objektif. Poinnya jadi manusia ya itu, hakikatnya lemah dan kecil, harus bersandar. Makanya harus menyadarkan dirinya bahwa ada tempat yang mutlak untuk bersandar."
Ah...Bapak — sahabat terbaikku yang cerdas minta ampun dengan tutur kata lemah lembut dan jiwa sangat indah.
Menjadi saya dengan kemampuan mengenang momen yang sangat kuat sungguhlah sebuah anugerah. Banyak keindahan yang terkenang dengan utuh, insya Allah terbingkai abadi bersama keberadaan.
Siang itu, percakapan kami, dan perspektif Bapak adalah satu dari banyak momen yang tersimpan dalam bingkai keabadian itu.
Setiap kali ada hal tentang manusia dan dunia yang membuat patah hati, hawa udara yang dibawa hembus angin sepoi-sepoi di siang itu, pula berkas cahaya yang tidak silau menyinari wajah teduh Bapak, selamanya akan mampu menghadirkan kehangatan dan ketenangan yang dibutuhkan jiwa.











