Aku berlindung kepada-Mu dari segala hasratku untuk menerima kehormatan-kehormatan.
Mike Driver
taylor price
trying on a metaphor
One Nice Bug Per Day

titsay

tannertan36

Stranger Things
macklin celebrini has autism

art blog(derogatory)

JVL
Sade Olutola
sheepfilms
Show & Tell
d e v o n

Kiana Khansmith

ellievsbear
𓃗
Monterey Bay Aquarium

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from Argentina

seen from United States

seen from Ireland

seen from Canada
seen from United States

seen from Brazil
seen from United States
seen from United States
seen from Russia
seen from Spain

seen from Vietnam

seen from Brazil
seen from Ireland

seen from Canada
seen from Brazil
seen from United States
seen from United States
@gizantara
Aku berlindung kepada-Mu dari segala hasratku untuk menerima kehormatan-kehormatan.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Tempat Pulang Cahaya
Aku duduk di tepi air, bertanya mengapa ia tak pernah marah pada batu yang memecah langit di permukaannya.
Lama sekali sebelum aku mengerti. Tak ada permukaan yang belajar memantulkan, tanpa lebih dulu mengenal gelombang.
Konon cahaya menemukan jalan pulang, melalui air yang jernih dan tenang. Maka air tak terburu-buru, mengembalikan langit ke tempatnya.
Ia menunggu, membiarkan yang keruh perlahan mengendap, hingga tak lagi mengaburkan langit.
Ia menunggu, hingga riak tak lagi merasa harus menjelaskan dari mana ia berasal.
Ia menunggu, hingga lingkaran-lingkaran itu lelah mengejar tepi, lalu pulang menjadi cermin.
Barangkali, ada baiknya kita berhenti saling melempar batu. Agar langit dapat kembali utuh di antara kita, dan kita dapat kembali melihat wajah masing-masing yang saling memandang.
— Giza, pemandangan tidak pernah sekeruh ini sebelumnya
Santai
Belakangan ini tiba-tiba punya kebiasaan baru yaitu mantengin TV sekitar jam 2.30-an siang buat nonton Bluey, the best kids show EVER MADE. Bener kata orang luar negeri, ini hiburan keluarga berkualitas tinggi.
Pertama-tama, kartun ini tentang apa dan kenapa bagus banget?
Kartun ini nyeritain seorang (eh seekor) anak anjing bernama Bluey dan keluarganya (ayah, ibu, dan Bingo, adiknya), dan sebagian besar episodenya berisi permainan yang mereka mainkan bersama. Aku suka banget teamwork ayah dan ibunya saat parenting, bahkan kekonyolan ayahnya saat dia menciptakan "versi dirinya yang lain" dengan boneka unicorn-nya itu wkwk. Ibunya jadi kayak ngasuh 3 anak hahaha.
Katanya Bluey ditulis oleh orang tua yang meluangkan waktu dan usaha untuk melihat dunia dari sudut pandang anak-anak mereka. Pokoknya siapapun di balik serial ini betul-betul jenius dan kelihatannya sangat menyadari proses (yang sebenarnya sangat sulit) yang dilalui anak-anak usia 3-6 tahun. Sebenarnya yang terpenting adalah orang dewasa di serial itu mendengarkan saat anak-anak berbicara. Sebagai orang tua mungkin nggak selalu setuju, tapi mereka meluangkan waktu untuk menangani kekhawatiran anak-anak.
Well written mengingat bahwa kebutuhan dan perasaan anak-anak semakin kompleks, tapi di saat yang sama mereka nggak punya pengetahuan atau bahkan kata-kata buat memahami dan mengkomunikasikannya. Susah buat menavigasi emosi baru tersebut. Jadinya lesson learning itu ditanamkan ke permainan yang mereka mainkan, semacam.. "mensimulasikan" perasaan mereka (misal di episode Pirates, di mana Bluey, Bingo, dan Missy main bajak laut di atas hammock dan Missy ketakutan, sedangkan ayah dan ibu memandu permainannya). Palet warna nya juga indah, nggak bikin sakit mata. Juga nggak bikin anak overstimulasi.
Hal lain yang aku notice, meski parenting ayah dan ibu Bluey bagus, penulisnya kadang membiarkan para orang tua itu melakukan kesalahan (misalnya ayah yang kongkalikong sama anak-anak supaya nggak dimarahin ibu, atau ibu yang nggak mau makan makanan absurd buatan Bingo saat main resto-restoan). Permintaan maaf dan upaya memperbaiki kesalahan itu sih yang terpenting. Terus dari beberapa episode yang udah kutonton, tanggung jawab pribadi itu tema kunci yang umum.
Range audiensnya juga luas dan teknik story tellingnya beragam, contohnya flashback, imajinasi, alur yang nggak linier, dan penggunaan metafora yang sangat baik dan tepat konteks. Situasi-situasinya pun realistis dan mudah dipahami karena dekat dengan kehidupan sehari-hari, ditambah karakter yang punya pengalaman dan pandangan yang berbeda. Narasinya juga nggak kerasa dipaksakan cuma buat menyampaikan pesan moral ke penonton. Aku juga suka gimana film ini mendorong anak-anak untuk menggunakan imajinasi mereka.
Bandit (ayah Bluey) dianggap sebagai sosok ayah yang hampir "sempurna" karena selalu kreatif, sabar, dan mau main dengan anak-anaknya seaneh apapun imajinasi itu. Di episode berjudul Octopus, Chloe (teman Bluey, anjing dalmatian) main gurita-guritaan sama Bluey dan ayah Bluey. Setelah pulang ke rumah, Chloe ngajak main ayahnya permainan yang sama, tapi ayah Chloe nggak bisa bermain pura-pura (make-believe) sebaik Bandit.
Menurut ayah Chloe, gurita itu aslinya nggak kayak di permainan Bluey, jadi permainan itu nggak masuk akal. Chloe jadi sedih dan nganggap ayahnya nggak asik. Ayahnya juga sedih karena di mata anaknya ternyata lebih asik ayah orang lain (kena dong egonya dibandingin sama orang tua lain).
Nah thoughtful-nya ayah Chloe, dia pun nyari funfact ilmiah tentang gurita dan membangun narasi permainan guritanya sendiri. Akhirnya Chloe dan ayahnya main bareng lagi dengan serunya dan bahkan kali ini Bluey diajak main ke rumah Chloe untuk main gurita-guritaan versi Chloe dan ayahnya. Yah, not every dad can be Bandit, wkwk. How the heck Bandit has that much ability to play all the games and roles he does without embarrassment, preservation, or intolerance I have no idea! Tapi ayah Chloe tetap bisa menjadi orang tua yang baik kok dengan caranya sendiri.
Biarpun belum pada jadi orang tua, kartun ini sangat aku rekomendasikan buat ditonton. Baca review orang-orang, katanya kartun ini banyak menyembuhkan luka pengasuhan mereka.
— Giza, secuil hiburan di tengah kesibukan orang dewasa
Perjalanan Nafs Bagian II : Nafs Lawwamah
Hakim di Dalam Dada
Aku sudah pernah membahas tentang Nafs Ammarah di sini.
Aku tertarik melanjutkan bahasan ini ke Nafs Lawwamah soalnya jujur "janggal". Kenapa ya, Nafs Lawwamah didahului sumpah sedangkan Nafs Ammarah enggak? Kenapa ya Allah perlu bersumpah demi rasa bersalah manusia, tepat setelah sumpah demi hari kiamat? Seolah-olah topik 'mencela diri' ini jauh lebih krusial untuk dibahas daripada sekadar membahas kesalahan itu sendiri.
Untuk menjawabnya, kita bisa mulai dari 3 fitur utama manusia saat diciptakan (cek QS Al-Baqarah : 30-38).
Allah mengajarkan Adam nama-nama, implikasinya Bani Adam memiliki kemampuan berbahasa yang kemudian akan berkembang menjadi daya kognisi untuk mengonstruksi seluruh bangunan ilmu pengetahuan (kapasitas intelektual).
Allah mengontraskan antara malaikat yang sujud dan iblis yang enggan sujud. Lalu Allah juga memberi perintah "tinggallah kamu di sini" dan larangan "jangan dekati pohon itu". Karena diberikan free will, Adam memakan buah yang menunjukkan bahwa dirinya mampu membuat pilihan, baik itu benar maupun salah (kapasitas moral).
Allah menegur Adam, Adam pun bertaubat, "Rabbana dzalamna dst." Artinya, kombinasi dari dua fitur pertama, memungkinkan lahirnya fitur ketiga yaitu metakognisi (kemampuan memikirkan, mengilmui, memonitor, menilai, dan mengevaluasi pikiran, perasaan, tindakan, dan pilihan hidup) which is hewan nggak punya ini.
Lalu apa kaitannya semua itu dengan Lawwamah?
Metakognisi sendiri sifatnya deskriptif dan netral (hanya kemampuan mengamati pikiran atau helicopter viewing). Ada diri yang menilai dan ada diri yang dinilai. So.. manipulator ulung atau bahkan psikopat pun bisa sangat reflektif dan mengenal dirinya. Yang membedakan adalah (si)apa yang menjadi hakim atas hasil refleksi itu? Didasarkan pada apa penilaian diri itu?
Sementara itu, kata lawwamah (لَوَّامَة) berasal dari akar لَامَ – يَلُومُ (lāma–yalūmu) yang artinya mencela, menyalahkan, menegur, dan mengkritik. Anyway.. kapan jiwa bisa mencela dirinya? Yakni ketika hasil metakognisinya dihadapkan pada sebuah standar moral, lalu ia bersikap jujur dan rendah hati terhadap itu.
Standar moral yang dimaksud adalah fitrah yang Allah tanamkan, yaitu pengetahuan dasar tentang benar dan salah yang membuat Adam langsung mengakui, "Rabbana dzalamna," bahkan sebelum turun wahyu syariat secara terperinci. Jadi.. lebih dari metakognisi, lawwamah adalah kemampuan mengamati diri dalam penggarisnya Allah. Di konteks Adam tadi, penggarisnya adalah perintah dan larangan.
Menariknya..
Kemampuan metakognisi ini dieksplisitkan di Al-Qiyamah (75:14). Like.. manusia tau kok apa motif dirinya, apa yang sebetulnya dia mau, kapan dia sedang berbohong, dan kapan dia sedang mencari pembenaran.
بَلِ الۡاِنۡسَانُ عَلٰى نَفۡسِهٖ بَصِيۡرَةٌ ۙ Bahkan manusia menjadi saksi atas dirinya sendiri.
Lalu ayat 15-nya menjelaskan, kenapa metakognisi aja nggak cukup untuk memunculkan Nafs Lawwamah (membangunkan hakim itu).
وَّلَوۡ اَلۡقٰى مَعَاذِيۡرَهٗؕ dan meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya.
Kesadaran diri dan metakognisi nggak otomatis menghasilkan pertaubatan, dan itulah yang membedakan Adam dengan iblis. Masuk akal kemudian, kenapa "haunan" atau kerendahan hati (re: self awareness yang berketuhanan) menjadi kualitas pertama yang diapresiasi Allah pada diri ibadurrahman (25:63). Sebab untuk dapat jujur, mengakui, dan membaca diri, kita perlu mereduksi kesombongan itu. Sombong sendiri menurut hadis ada dua jenis yaitu terhadap al-haq (menolak kebenaran) dan terhadap makhluk (merendahkan manusia).
Tentunya kita nggak mau bermetakognisi dengan cara seperti Iblis, yang setelah mengenal dirinya dengan baik malah menyusun narasi untuk tetap merasa benar, dengan membuat komparasi/rasionalisasi yang penggarisnya materialis (api vs tanah) dan melahirkan sifat istikbar (sombong).
Surat Al-A'raf (7:77) juga isinya menohok.
Sangat buruk perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Mereka mendzalimi diri sendiri.
Jangan dipikir ayat-ayat tuh Al-Qur'an aja. Ayat-ayat di dalam diri kita masing-masing tuh banyak banget. Jangan sampai kita termasuk orang-orang yang diumpamakan sangat buruk hanya karena:
Nggak mau mengenal diri (melalui si/apapun) dan denial dalam prosesnya.
Mengenal diri dengan baik tapi malah bikin alasan ini itu.
Fir'aun pun bermetakognisi.
Bahkan, Fir'aun adalah master of self justification (pembenaran diri). Perhatikan dialognya di surat Al-Qasas (28:38), "Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku."
Untuk bisa mengatakan kalimat sebesar itu, dia harus melakukan proses mental yang kompleks mencakup evaluasi situasi politiknya, penilaian ancaman Musa terhadap kekuasaannya, dan monitoring efek pidatonya terhadap rakyatnya.
Sayangnya metakognisi Fir'aun tidak melahirkan Nafs Lawwamah. Dia sadar akan pikirannya sendiri dan malah menggunakannya untuk strategi propaganda. Dia tau Musa membawa kebenaran. Namun dia menolak tunduk secara moral terhadap pengetahuan itu.
"Mereka mengingkarinya karena kedzaliman dan kesombongannya, padahal hati mereka meyakininya..." (QS 27:14)
Menariknya diksi dzalim dan sombong di-mention lagi di sini. Kalau bahas dzalim, pasti berkaitan dengan hak sih biasanya.
I mean.. diri kita tuh punya hak loh untuk dipertemukan, dikenali, disaksikan, bahkan dipelajari oleh dirinya sendiri (kayak aneh ya?). Nggak cuma itu. Diri kita juga punya hak atas kebenaran. Diri kita berhak diukur dengan penggaris Allah, dan baik "diri yang mengukur" maupun "diri yang diukur", nggak kabur dalam prosesnya.
Lalu kenapa Nafs Lawwamah matter dan disetarakan dengan Yaumil Qiyamah?
Qiyamah sendiri berasal dari kata قام – يقوم (qāma–yaqūmu) yang artinya berdiri, bangkit, tegak, muncul, dan mengambil posisi. Sebuah gerak dari keadaan pasif menuju keadaan aktif.
Menyambung konteks Nafs Ammarah sebelumnya, di sana kesadaran itu terninabobokan. "Dunia ini ada untuk memuaskanku," sehingga realitas jadi sangat subjektif dan egosentris di mode Ammarah.
Begitu hakim di dalam jiwa berdiri (melalui metakognisi yang bertemu fitrah tadi), realitas pun berubah menjadi objektif dan teosentris. Helicopter viewing dari sudut pandang Ilahi, bahasa kerennya mah. Sehingga diperoleh penemuan bahwa ada kebenaran di luar diri kita yang harus dipatuhi, dan kita telah melanggarnya. Get it? That makes a lot of sense ada istilah spiritual awakening. Ada realitas yang hancur dan realitas lain yang bangun. Mungkin itu kali ya maksudnya, Nafs Lawwamah = mini Qiyamah di dalam dada.
Semua manusia pada dasarnya punya nurani untuk bisa merasa bersalah kalau nyakitin orang, atau merasa nggak adil kalau nemu kedzaliman, atau merasa yang baik harusnya dibalas baik. I mean.. jiwa manusia memang diarahkan ke pertanggungjawaban moral. Dengan begitu, lawwamah itu sendiri adalah "tanda" (ayat) yang mengarah pada kepastian hari pembalasan. Karena bayangin aja, kalau nggak ada pengadilan terakhir, maka rasa harusnya adil itu jadi absurd dan nurani manusia cuma jadi fitur sia-sia di alam semesta yang amoral (jika tanpa akhirat). Kayak.. ngapain Allah "repot-repot" ngasih manusia nurani/moral yang nuntut keadilan, kalau pada akhirnya realitasnya memang nggak peduli keadilan sama sekali?
Berpegang pada premis andalanku (3:91), Rabbana maa khalaqta haadza bathila, diperoleh konsekuensi logis bahwa kapasitas moral manusia ini harusnya nggak sia-sia, pasti nge-link ke sesuatu. Pasti ada tujuan final yang mengikatnya. Dan apa lagi tujuan final itu, kalau bukan hari penghakiman?
Menulis ini membuatku sadar betapa menggelikannya menghadapi diri sendiri saat kita justru benar-benar ingin lari darinya. Orang yang rajin "mengerjakan dirinya" pasti akrab sama perasaan nggak betah ini.
Berapa banyak kita melakukan flight response atau avoidance terhadap tanggung jawab moral? Sayangnya menghindari refleksi sama sekali nggak bikin kita terbebas dari itu. Surat Al-Qiyamah ayat 10-13 menelanjangi kita habis-habisan.
(10) Pada hari itu manusia berkata, "ke mana tempat lari?" (11) Sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlindung. (12) Hanya kepada Tuhanmu saat itu tempat kembali pada hari itu. (13) Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang telah dilalaikannya.
Tadi aku mention, baik "diri yang mengukur" maupun "diri yang diukur", nggak kabur dalam prosesnya. Ini senada dengan kutipan dari Carl Jung, "manusia akan melakukan apa saja, betapapun absurdnya, untuk menghindari menghadapi jiwa mereka sendiri."
Dari apa? Dari rasa malu, rasa bersalah, runtuhnya citra diri, dan dari tanggung jawab itu sendiri. Caranya banyak wkwk kita juga pasti pernah melakukannya. Entah sibuk, ngeles, pura-pura lupa, nyalahin sistem atau orang lain, atau bikin narasi/rasionalisasi. Nah, manusia pikir selama masih di dunia, bisa-bisa aja kabur untuk menunda tanggung jawab itu.
Tapi.. ke mana coba seseorang bisa lari dari dirinya sendiri? Dan kalaupun bisa, mau sampai kapan? Ujung-ujungnya mah manusia dipaksa berhadapan dengan kebenaran tentang dirinya (aduh suka tiba-tiba sedih sebenernya ngebayangin bahwa di dunia ini ada jiwa yang bahkan nggak betah tinggal di dalam dirinya sendiri).
Lihat betapa persis alias sama-sama nggak bisa kaburnya baik itu di pengadilan diri maupun di pengadilan yaumil qiyamah. Betapa serius dan agungnya proses jiwa ini hingga disetarakan dengan hari kiamat. Maka dengan bahasa yang filosofis, Al-Qiyamah (75:2) bisa jadi berbunyi,
"Demi kemampuan manusia untuk menjadi pengadilan pertama bagi dirinya sendiri. "
Kejanggalan (re: keajaiban linguistik) terakhir yang ingin kubahas adalah penggunaan diksi lawwāmah, soalnya secara tata bahasa bisa aja pakai bentuk لائمة (lā'imah) yang artinya "orang yang mencela" atau "yang sedang mencela."
Tapi Allah pilih diksi لَوَّامَة (lawwāmah) yang ngikutin wazan فَعَّالَة (fa''ālah) which is sering dipakai buat nunjukkin intensitas, frekuensi, kebiasaan, dan sesuatu yang menjadi karakter. Contohnya, غفّار (ghaffār) = Maha Pengampun (sering mengampuni) dan توّاب (tawwāb) = Maha Penerima tobat (berulang kali menerima tobat).
Jadi, berbeda dengan la'imah yang mungkin terjadi sesekali, lawwamah itu seperti mekanisme internal yang terus mengaudit diri sendiri. Dengan kata lain, lawwamah sebenarnya adalah fungsi bawaan dari jiwa yang sehat. Bukan suatu tahapan statis seperti yang suka dibahas di kajian-kajian. Bukan juga perasaan yang datang dan pergi. Kupikir fitur inilah yang membuat manusia tetap terhubung dengan realitas dan hari kiamat.
Hadis rasul yang diriwayatkan oleh Tirmidzi juga menghargai proses ini, "orang yang cerdas adalah orang yang menghisab dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati." The goal is not only I endlessly analyze myself. It’s I can see the process generating my interpretation, adjust if necessary, then act coherently.
Buat penutup.. proses mengenal diri dan menempatkan diri di "pengadilan internal" tuh nggak pernah mudah. Selalu dibutuhkan orang lain untuk mengenal diri sendiri. Kalau memang belum terbiasa menemui dan mengenal diri, boleh banget kok waktu ketemu "diri yang lainnya" minta ditemenin sama teman-teman yang kenal kamu. Pinjam "mata" atau pandangan mereka jadi cermin untuk memantulkan dirimu dan usahakan yang rasio halal-haramnya sekufu bahkan lebih baik (cenah kata tren di reels mah). Mudah-mudahan teman-teman kita sangat baik dan bersedia ngasih pemantulan yang baik, sejernih dan seotentik yang mereka bisa, dan genuine.
— Giza, segala puji bagi Allah yang telah memberi Giza kekuatan menyelesaikan draft yang sudah dicicil dari setahun lalu ini (mo nangis terharu karena udah capek banget mikirin ini nggak kelar-kelar). Gila, sungguh kerja kognitif yang berat, subhanallah, masyaallah. Mudah-mudahan metakognisi kita punya cukup daya pengaruh pada sistem eksekusi kita, (notes: abaikan inkonsistensi teknis dalam penulisan sebab Giza males koreksinya). Kebenaran datangnya dari Allah, kekeliruan datangnya dari Giza. Terbuka untuk diskusi lebih lanjut dan CMIIW!
Mayat Waktu
Beberapa waktu lalu temanku merekomendasikan anime berjudul Re:Zero − Starting Life in Another World. Akupun menontonnya. Ternyata premisnya bagus banget. Ceritanya si tokoh utama yang bernama Subaru punya kesempatan untuk kembali ke checkpoint di timeline tertentu dan mengulangi melakukan hal alternatif untuk mencapai hasil terbaik (optimasi masa lalu) dengan pengetahuan/pengalaman yang nggak di-reset setiap dia di-respawn ke checkpoint itu. Aku nggak tahu temanku merekomendasikan ini karena dia tahu isi pikiranku, atau ini cuma kebetulan aja. Soalnya ini tepat seperti yang sedang kukerjakan.
Seberapa sering kita mengandaikan masa lalu sambil berharap dapat mengoptimasinya?
Semua manusia pasti pernah melakukannya. Faktanya realitas nggak bekerja seperti di anime itu. Kita cuma bisa menguji satu opsi dan membiarkan "what if" lainnya mati dan nggak teruji di realitas.
Neurosains punya pembahasan soal ini. Disebutnya Episodic Counterfactual Thinking (ECT) dan arah waktunya ke belakang (masa lalu). Kita bertanya, "gimana kalau dulu aku memilih/melakukan A?" lalu membangun simulasi sejarah alternatif.
Komplementernya ada Episodic Future Thinking (EFT) yang diwakili oleh pertanyaan, "apa yang bakal terjadi kalau aku memilih A?" lalu membangun simulasi masa depan. Semakin sering kita membayangkan masa depan yang belum terjadi (EFT), semakin nyata dan mungkin masa depan itu terasa. Karena otak memperlakukan simulasi itu seperti latihan mental. Outcome-nya jadi cenderung fokus mengubah variabel yang masih bisa dikendalikan.
ECT sendiri seringkali jauh lebih menyakitkan daripada EFT, sebab beroperasi pada hal yang sudah terkunci (masa lalu). Makin detail diulik alternatifnya, makin kerasa gak mungkin sebab makin banyak asumsi yang harus dibuat, meanwhile realitas yang sebenarnya terus "melawan" simulasi alternatif itu. Macam membedah mayat sambil berharap mayat itu hidup lagi wkwk. Aneh bukan? That's why, ECT bisa jadi sangat menyiksa. Kalo running terus, bakal cenderung terus mengoptimasi masa lalu. Pantesan diperingatkan di hadis rasul juga.
Setelah aku coba diferensiasi, dengan ECT ini, manusia tuh sebenernya bukan pengen kembali ke masa lalunya, atau rindu sama orangnya. ECT ini muncul karena ada kebutuhan psikologis yang belum selesai di masa kini, lalu pertanyaan-pertanyaan itu memakai masa lalu sebagai panggungnya.
ECT biasanya muncul paling kuat ketika tiga kondisi terpenuhi:
Ada titik keputusan yang jelas.
Ada alternatif yang tampak masuk akal, bahkan worthy enough untuk dicoba.
Hasil aktual mengecewakan atau ambigu.
Misalkan, Giza sudah menghabiskan bertahun-tahun berinvestasi pada gagasan mengenai sesuatu/seseorang dan Giza terus memilihnya daripada opsi lain yang worthy enough juga, lalu realitas mengoreksi gagasan dan pilihan itu cukup keras. Giza menemukan bahwa sebagian investasi itu dibangun di atas asumsi yang nggak akurat. Akhirnya kepercayaan terhadap dirinya sendiri terguncang (re: nggak percaya lagi kemampuan membuat penilaian dan keputusannya sendiri). Otak Giza mulai mengaudit masa lalu.
"Mungkinkah aku salah menilai waktu itu?" "Kalau begitu, keputusan mana lagi yang salah?" "Apa aku melewatkan sesuatu?" "Apakah aku boleh mempercayai kemampuan decision making-ku lagi?" "Apakah aku mengorbankan terlalu banyak?" "Apa aku seharusnya memilih yang lain?" "Should I keep going with this?" "Is this a worthwhile choice?" "Is this the better choice?"
Sejujurnya ini sakit untuk dipikirkan karena Giza jadi menghakimi dirinya di masa lalu yang sudah buat penilaian dan keputusan itu.
So there's no way untuk menangani ECT ini?
Sebenernya "life will tell" bisa kok menggoyahkan pertanyaan-pertanyaan itu, tapi bukan dengan cara membuktikan opsi yang nggak dipilih itu lebih buruk (ini mah penyakit hati yagesya, walau kita sama-sama tahu rasionalitas bekerja dengan cara itu). Melainkan karena realitas aktual jadi lebih kaya dan punya nilai intrinsiknya sendiri setelah dijalani. Ada alasan kenapa hidup yang sedang berlangsung ini juga layak dicintai.
Terus apakah pertanyaan itu hilang? Mungkin nggak sepenuhnya, tapi bobot emosionalnya berkurang.
But setelah dipikir-pikir, "life will tell" maupun komparasi juga irrelevant untuk menjawabnya. Soalnya inti masalahnya kan ada di kepercayaan terhadap kemampuan penilaian diri sendiri yang retak, bukan seberapa salah/benar/worth it/better/worse pilihan kita. Maka kita butuh pemahaman yang lebih dalam tentang kenapa diri kita yang dulu membuat pilihan tersebut.
Kaitannya dengan cinta..
Banyak kutemukan pemikiran kontrafaktual ini unconsciously ter-apply di konteks relasi romantis. Dan mungkin ini jadi salah satu penyebab orang gagal move on, hahaha. Misal, ECT-nya berbunyi, "did I let go of someone who could have been just as good—or even better?"
Nah, aku menemukan quote yang cukup bagus kemarin.
Ketika kamu ingin mencintai, kamu pun mencintai. Sungguh, semua masalahnya terletak pada keinginan itu. Cukuplah kamu ingin mencintai. Cukuplah kamu ingin membuka hatimu untuknya. Cukuplah kamu biarkan benih yang disebut mencintai itu jatuh ke dalam dirimu. Cukuplah niatmu condong ke arah mencintai. Ketika kamu menginginkannya, semua itu sangat mudah. Memplontarkan hati pada seseorang, cenderung padanya, itu sangat mudah, tapi hanya bagi yang menginginkannya. Ketika kamu tidak ingin mencintai, apa pun yang dilakukan orang di hadapanmu, seindah dan sesempurnanya apa pun dia, tak ada satu helai daun pun yang bergoyang di hatimu.
Søren Kierkegaard juga mengatakan bahwa nilai cinta nggak cuma terletak pada objek yang dicintai, tetapi juga pada transformasi yang terjadi pada orang yang mencintai. Dengan kata lain, ada nilai intrinsik dalam tindakan mencintai.
"Aku memilih X karena aku ingin memilihnya. Karena aku menyukai bagaimana diriku yang memilihnya terdorong untuk melakukan perubahan yang baik. Terlepas seberapa kurang atau lebihnya X daripada opsi lain."
Berarti, intinya, apakah kita memilih untuk mencintai atau enggak, terlepas seberapa worthy pilihan A maupun B.
Kupikir cinta itu adalah sebuah pilihan yang disengaja. Ketika kita memilih untuk mencintai, kita memampukan diri kita untuk melihat keindahan bahkan dalam ketidaksempurnaan orang lain. Seperti kutipan dari Rumi:
Even after all this time, the sun never says to the Earth , "You owe me". Look what happens with a love like that, it lights the whole sky.
Bahkan setelah semuanya, matahari tidak pernah berkata pada bumi, "kau berutang padaku." Lihatlah apa yang terjadi pada cinta semacam itu, ia menerangi seluruh langit.
Sederhana sekaligus mendalam secara filosofis. Cinta telah dipindahkan dari wilayah evaluasi dan asesmen, ke wilayah komitmen. Dari, "aku mencintaimu karena (blablabla)" jadi, "aku mencintaimu, lalu karena itu aku terus menemukan alasan untuk tinggal." Akhirnya cinta bukanlah sekadar respons terhadap kelayakan seseorang.
Dengan begitu, ECT kehilangan bahan bakarnya. Struktur penyesalannya berubah saat kita memahami diri kita di masa lalu yang telah membuat penilaian dan keputusan terbaiknya. Sumber kepuasannya ada pada integritas.
Kita memang nggak bisa mengendalikan siapa yang menyukai kita. Kita nggak bisa mengendalikan orang yang kita sukai. Kita nggak bisa mengendalikan orang yang datang tanpa motif yang jelas, atau orang yang pergi tanpa closure. Kita bahkan nggak bisa mengendalikan hasil akhirnya. Kita hanya bisa membuat penilaian dan keputusan terbaik berdasarkan kognitif dan afektif kita saat itu.
Outcome-nya adalah:
"Aku mengerti kenapa my past self memilih itu dengan cara itu." Lebih jauh lagi, "Aku bangga dia memilih seperti itu." Lebih jauh lagi, "Kalau aku bisa kembali, aku akan menyuruhnya memilih hal yang sama. Nggak ada yang perlu aku revisi"
Komparasi pun mulai kehilangan daya tariknya sebab ini akhirnya tentang kesetiaan pada diriku sendiri dan pada nilai-nilaiku. Setelah mengaudit hidupku, aku menemukan bahwa aku nggak mengkhianati diriku sendiri. Aku kenal betul diriku dan orang yang membuat pilihan itu memang aku. Good job, my past self.
Bahkan opsi alternatif itu, mungkin ikut berperan dalam penemuan ini. Karena tanpa kehadirannya, aku nggak pernah benar-benar diuji. Aku nggak akan pernah tahu apakah kesetiaanku cuma karena nggak ada alternatif yang menarik. Ternyata ada dan bukan alternatif yang buruk pula. Justru alternatif yang cukup masuk akal sehingga ECT-ku hidup.
Ini salah satu penemuan paling berharga dalam hidupku. Bahwa diriku yang dulu, dengan segala keterbatasan informasi dan emosinya, membuat pilihan yang bisa aku hormati sekarang. Bahwa aku nggak perlu menyelamatkan diriku yang dulu dari "kesalahan besar." Karena ternyata nggak ada kesalahan besar. Hanya seorang manusia muda yang berani memilih, dan bertahun-tahun kemudian, manusia yang sama yang lebih bijak berkata,
"Aku bangga pada diriku yang telah memilih A, dan A sama sekali nggak berkewajiban untuk membuktikan padaku bahwa dirinya lebih worth it dipilih daripada B. A nggak berutang apapun. A nggak perlu menebus apapun. Aku mempercayai kemampuan diriku membuat penilaian dan keputusan, yang implikasinya adalah, A, hanya dengan menjadi dirinya saja pun, akan selalu jadi opsi yang aku menangkan di antara alternatif yang ada. A nggak perlu bersaing dengan siapapun untuk aku pilih. Aku memilihnya karena aku ingin memilihnya, karena A adalah A."
Lompatan terakhir ECT
Meskipun opsi yang sudah dipilih mungkin nggak bisa menebus opportunity cost dari opsi yang nggak dipilih, masa depan tetap nggak kehilangan nilainya.
Biarlah kita memberi kesempatan pada waktu agar pengalaman baru perlahan memiliki bobot yang cukup besar untuk berdiri berdampingan dengan pengalaman lama. Sehingga masa lalu nggak lagi jadi satu-satunya cerita yang menentukan relasi kita dengan apa yang kita pilih.
Martin Heidegger, dalam bukunya, Being and Time, bicara tentang hidup yang otentik vs. tidak otentik. Hidup otentik adalah ketika aku menerima bahwa aku adalah makhluk yang terbatas, yang akan mati, dan yang harus membuat pilihan-pilihan yang tidak bisa diulang—lalu aku memilih dengan tegas (resoluteness, Entschlossenheit). Menunda pilihan, atau selalu membayangkan alternatif, adalah cara untuk lari dari kematianku sendiri. Kita nggak harus memilih jalur yang "terbaik". Heidegger bilang, pilihlah, dan jadilah milik pilihanmu itu.
Inilah perjalanan cinta pada integritas diri sendiri. Dari sana, cinta kepada orang lain bisa mengalir dengan jernih, tanpa beban pembuktian, utang masa lalu, maupun komparasi. "Aku memilihmu, dan aku terus memilihmu, karena itulah caraku mencintai." Aku sudah menjadi jawaban itu sendiri. Amor fati.
— Giza dan pengelolaan masa lalu - masa kini - masa depannya.
Referensi lanjutan: De Brigard, F., & Parikh, N. (2019). Episodic counterfactual thinking. Current Directions in Psychological Science, 28(1), 59–66. https://doi.org/10.1177/0963721418806512

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Teman-teman pernah nggak bertemu dengan seorang Muslim atau Muslimah yang berasal dari keluarga yang secara lahiriah tampak baik-baik saja, tapi kemudian mengembangkan perilaku yang bertentangan dengan ajaran Islam?
Ternyata, pola pengasuhan tertentu juga dapat memengaruhi bagaimana anak-anak mengalami 'keraguan untuk berserah diri'.
Ada orang-orang (mungkin juga kita) yang menerima otoritas Allah secara intelektual, tetapi perilakunya tidak menunjukkan keberserahan diri secara spiritual. Ada mekanisme pola pikir yang tidak disadari, yang menunjukkan amarah dalam mempertanyakan takdir Allah yang terjadi padanya.
Padahal, konsep keberserahan diri berkaitan erat dengan bagaimana kita membayangkan Tuhan. Inilah inti dari Islam. Bahkan, seluruh ciptaan di alam semesta pun tunduk dan berserah diri kepada-Nya (QS. Ali 'Imran: 83). Dan kemampuan untuk percaya kepada Allah membutuhkan prasangka baik terhadap-Nya dan segala ketetapan-Nya.
Mengapresiasi secara rasional pentingnya ridho akan ketetapan Allah itu lebih mudah dibandingkan menginternalisasikannya. Keraguan untuk berserah diri umumnya bisa terjadi karena ada kesulitan dalam memahami maksud di balik ketetapan-Nya (yang mungkin menyakitkan) atau karena tidak mengenal dengan baik siapa Allah.
Persepsi yang tertanam sejak kecil bahwa hubungan manusia dengan Allah hanya sebatas taat/tidak taat menghasilkan bayangan tak disadari akan Tuhan yang tidak suka mengampuni kesalahan, keras, serta berjarak dengan hamba-Nya. Hal ini meningkatkan kerentanan seseorang dalam merasakan kecemasan (misal karena sangat takut salah) dan depresi.
Orang-orang yang tidak memahami mengapa seorang hamba bisa sangat taat kepada Allah, bisa jadi tumbuh dengan bayangan akan Tuhan yang keras. Padahal penghambaan yang paripurna menurut Ibnul Qayyim adalah hasil dari rasa cinta yang muncul secara alamiah ketika kita bisa mengenali dan memahami kesempurnaan Yang Maha Sempurna. Ketaatan akan terasa manis dan mudah ketika kita bisa menjaga rasa cinta kita pada-Nya.
Merawat rasa cinta merupakan elemen krusial dalam ketaatan. Dalam sebuah hadist riwayat Bukhari dan Muslim, dikatakan bahwa manisnya iman hanya bisa dirasakan seseorang yang memiliki tiga rasa:
Rasa cinta pada Allah dan Rasul-Nya melebihi cintanya pada apapun dan siapapun
Rasa cinta pada sesama hamba-Nya karena-Nya dan untuk-Nya
Rasa benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya
Maka, ibadah adalah sebuah ekpresi dan deklarasi cinta seorang hamba. Dan kita sebagai hamba, tidak bisa mencintai-Nya tanpa terlebih dulu mengenali-Nya.
Kebalikan dari bayangan akan Tuhan yang keras dan sigap menghukum bak polisi, salah satu nama-Nya yang bisa membantu menumbuhkan kepercayaan pada anak-anak akan Tuhan yang menjaga mereka dengan penuh kasih adalah Allah Al-Wali.
Sehingga alih-alih melihat Islam hanya sebagai daftar apa yang dibolehkan dan tidak dibolehkan, anak-anak akan tumbuh dengan kesadaran bahwa hanya dengan petunjuk-Nyalah kita bisa merasa bahagia. Maka, hubungan mereka dengan Allah disandarkan pada kedekatan emosional, cinta, kepercayaan, dan keberserahan diri.
Meskipun Allah telah mengabarkan di Al Qur’an bahwa Dia adalah Wali kita, beberapa dari kita kesulitan dalam menginternalisasi rasa cinta-Nya, kedekatan-Nya, kasih dan dukungan-Nya kepada kita. Ini karena banyak orang justru menginternalisasi bayangan akan Tuhan bak polisi yg sigap menghukum.
Hal ini terjadi karena bagi seorang anak, untuk bisa menginternalisasikan nama Allah Al-Wali dibutuhkan pengalaman dilindungi, dicintai, dan didukung secara nyata lewat hubungannya dengan manusia lain. Terutama lewat hubungan pertama seorang anak, yaitu dengan orang tuanya. Kemelekatan seorang anak pada orang tuanya merupakan sebuah model kemelekatan hubungan sang anak dengan Rabb-nya.
Baik pola asuh yang otoriter maupun otoritatif bisa jadi sama-sama bertujuan baik. Hanya saja cara mendidiknya yang berbeda, sehingga hasilnya pun berbeda. Pola asuh yang otoriter cenderung lebih mengandalkan motivasi ekstrinsik dalam mengajarkan ketaatan. Sementara pola asuh otoritatif lebih mengandalkan membangun motivasi intrinsik dalam mengejar cinta Allah dan mengapresiasi usaha anak dalam melakukannya.
Otoriter vs Otoritatif
Teori parenting ini lalu diuji coba dalam sebuah survey atas 701 Muslim di Kanada. Tujuannya adalah untuk,
Memprediksi bayangan akan Tuhan yang mereka miliki
Memprediksi keraguan relijius dan keraguan untuk berserah diri yang dialami sebagai efek dari pola asuh yang (1) otoriter atau (2) otoritatif.
Hasilnya menunjukkan bahwa persepsi akan orang tua yang otoriter berkorelasi dengan memiliki bayangan akan Tuhan bak polisi yang siap menghukum. Memiliki bayangan ini diasosiasikan dengan pengalaman akan keraguan relijius dan keraguan untuk berserah diri.
Menariknya, memiliki figur ayah yang otoriter secara langsung terhubung dengan pengalaman keraguan tersebut. Sementara memiliki figur ibu yang otoriter hanya terhubung secara tidak langsung dengan pengalaman tersebut melalui "distortion in God image".
Sementara persepsi akan orang tua dengan pola asuh yang otoritatif dalam menumbuhkan kesadaran akan bayangan Tuhan yang menjaga hambaNya dengan penuh kasih (Al-Wali), diasosiasikan dengan pengalaman keraguan relijius yang lebih sedikit dan keinginan untuk taat.
Penelitian ini menunjukkan bahwa bayangan akan Tuhan yang tak disadari oleh seseorang dipengaruhi oleh pengalaman psikis di masa kecil dengan orang tua yang tidak selalu mengenakkan (bahkan dalam beberapa kasus bisa sangat menyakitkan). Bisa jadi ini merupakan penyebab utama dari berbagai isu psikospiritual yang kita lihat bentuknya di sekitar kita sebagai keraguan relijius maupun perilaku melawan ajaran Islam.
Menyadari bagaimana pengalaman emosional di masa kecil yang mungkin menyakitkan terkait bagaimana kita diasuh, sebenarnya bisa membantu kita merehabilitasi bayangan akan Tuhan yang tidak kita sadari kita miliki.
Membayangkan kembali Allah sebagai Al-Wali akan memudahkan kita untuk berserah diri dengan sepenuh hati kepada-Nya. Sehingga kita bisa memahami bahwa batasan-batasan berperilaku dari-Nya adalah bentuk ekspresi kasih sayang-Nya pada kita karena pengetahuan-Nya akan apa yang terbaik bagi kita lebih luas dari pemahaman kita sendiri.
— Ringkasan oleh The Muslim Gaze di X
Sumber: https://yaqeeninstitute.org/read/paper/parenting-style-and-our-relationship-with-god-the-influence-of-parental-love-on-our-perception-of-god
Selama seseorang bukan hamba Allah, melainkan hamba nafsunya, semua konsep ketaatan akan dianggapnya asing. Orang yang masih berpegang pada konsep taat pada ketuhanan—nonmuslimpun—akan selalu lebih baik akhlaknya ketimbang mereka yang ketaatannya di lisan saja.
Konsep ketuhanan, apalagi tauhid, akan terikat dengan "akuntabilitas." Manusia sadar bahwa dia lemah dan bukan penguasa nasibnya. Yang gagal menerima konsep ketuhanan, akan memiliki worldview yang double standard; semua disalahkan kecuali dirinya. Jika dia menang, dia merasa berkuasa mengurus nasib yang lebih lemah. Jika dia lemah, dia akan memparadekan kelemahannya itu sebagai salah pihak sebelah. Keduanya memiliki wajah dua, tergantung dengan siapa agendanya. Makanya tak heran ada orang yang amat baik di satu waktu, tapi amat jahat di waktu lain.
Parameter objektif bare minimum untuk muslim adalah penegakan shalat. Tak peduli dia pendosa, jika dia merasa dirinya dan keseluruhan kesibukan dirinya lebih penting dari sepuluh menit bersujud pada Penciptanya, maka hati-hatilah. Penegakan shalat bukan cuma menjalankan saja, ya.
— Kevin Kurnia dalam postingannya di X
"Aku sedih karena ketika keinginanku terwujud, aku sudah tidak menginginkannya."
Barangkali itulah yang disebut oleh Marcel Proust sebagai kutukan. Manusia hanya mencapai sesuatu yang diinginkannya tepat pada saat hasratnya terhadap hal itu benar-benar mati. Implikasinya, keinginan yang dibunuh oleh waktu juga membunuh identitas lama kita. Oh man, I hate what time has done to this.
Waktu merambat begitu lambat sedangkan manusia berubah begitu cepat, sehingga ketika sesuatu yang diinginkan dengan gila-gilaan oleh diri di masa lalu itu baru terwujud bertahun-tahun kemudian, "diri lama" yang menginginkan hal itu sudah tidak ada lagi (too late for joy). Kita menghabiskan hidup mengejar sesuatu yang diinginkan oleh diri kita yang sudah lama mati.
"Apa arti semua perjuangan itu jika aku sudah bukan orang yang sama?"
Proust melihat perubahan diri sebagai alasan mengapa pemenuhan keinginan menjadi sia-sia. Masa lalu telah memberiku tujuan dan masa kini yang membuat tujuan itu terasa asing. Lantas siapa aku sekarang? Jadi ini yang dulu kuanggap akan memberiku kebahagiaan dan kepuasan? Apa yang akan terjadi seandainya ini datang sedikit lebih cepat? Apa yang akan terjadi seandainya aku tidak berubah terlalu cepat? Aku bahkan merasa kesal ketika hidup terus melanjutkan alur ceritanya.
Kita berjuang demi memenuhi keinginan-keinginan kita, tetapi proses perjuangan itu sendiri mengubah kita menjadi orang yang berbeda dari orang yang pertama kali menginginkannya. I hate that the person who wanted this no longer exists.
"Mungkin memang tujuan penundaan itu agar kamu berhenti menginginkannya."
Kabar buruknya kau berubah. Kabar baiknya kau telah berubah. Diri barumu mulai menyadari bahwa kamu tidak membutuhkan hal itu. Justru yang disebut kutukan adalah ketidakmampuan manusia itu sendiri untuk lepas dari keinginan lamanya meskipun dirinya telah berubah. Lihatlah kasih Tuhan yang hendak membebaskanmu dari perbudakan atas keinginan-keinginan tersebut.
Sayangnya kau bisa memahami bahwa suatu keinginan memang harus mati (untuk membentukmu menjadi orang yang lebih baik), dan tetap berduka saat keinginan itu mati. Proust begitu jeli melihat fakta bahwa kita tidak bisa lagi merasakan apa yang dulu kita rasakan. Dalam bukunya, In Search of Lost Time, ia menjelaskan dengan lebih rinci,
Hanya saja, kita harus memberi waktu kesempatan untuk bekerja. Namun tuntutan kita terhadap waktu tidak kalah berlebihan dibanding tuntutan yang diajukan hati agar dapat berubah. Pertama-tama, waktu adalah hal yang paling enggan kita berikan, karena penderitaan kita terasa begitu tajam dan kita sangat ingin melihatnya segera berakhir.
Selain itu, waktu yang dibutuhkan hati orang lain untuk berubah akan dihabiskan oleh hati kita sendiri untuk berubah pula. Akibatnya, ketika tujuan yang dahulu kita tetapkan akhirnya menjadi mungkin untuk diraih, tujuan itu sudah tidak lagi menjadi tujuan kita.
Lagi pula, gagasan bahwa tujuan itu pada akhirnya akan dapat diraih—bahwa tidak ada kebahagiaan yang, setelah berhenti menjadi kebahagiaan bagi kita, tidak dapat akhirnya kita capai—memang mengandung kebenaran, meskipun hanya sebagian kebenaran.
Hal itu jatuh ke tangan kita justru ketika kita telah menjadi tak peduli terhadapnya. Namun ketidakpedulian itulah yang membuat kita menjadi tidak lagi terlalu menuntut. Dan karenanya, ketika menoleh ke belakang, kita dapat meyakinkan diri bahwa hal itu pasti akan membuat kita bahagia seandainya datang lebih awal, padahal mungkin pada saat itu kita justru akan menganggapnya jauh dari cukup dan sangat mengecewakan.
— Giza, beberapa kemenangan mungkin tampak seperti pemakaman. Dan jiwa itu sendiri baru bisa merdeka setelah ia terlebih dahulu berkabung atasnya.
Setelah mengarungi perngopian duniawi dan ukhrawi, aku menemukan bahwa yang menakutkan tentang masa muda adalah konsekuensi dari tindakan kita tidak akan terlihat sampai sudah terlambat. Jika kita tidak bisa melihat konsekuensinya, maka kita tidak bisa belajar karena tidak ada umpan balik. Rasanya seperti berjalan sendirian di kegelapan bahkan tanpa punya lilin.
Robert Greene pernah berkata,
"Eventually, the time that was not spent on learning skills will catch up with you, and the fall will be painful."
Kabar baiknya kita bisa meminjam lilin orang lain, terutama orang yang lebih dulu melalui pengalaman itu. Dengan semakin banyak bicara dengan orang yang berhikmah (telah mengambil pelajaran), semakin banyak memperkaya konteks (melalui fiksi seperti film atau buku), dan semakin banyak mempelajari keterampilan penting, ranjau kehidupan harusnya bisa ditangani lebih dini.
Maha Suci Allah yang menghubungkan antara jiwa dan jiwa untuk saling belajar. Yang mempertemukan jiwa dengan ilmu untuk mahir menghidupi hidup. Yang menaruh rasa pantang menyerah di dalam dada untuk tetap melanjutkan perjalanan.
— Giza dan hikmah mengopi kemarin
Halo akak giza, adakah tips supaya mudah memaafkan?
Wkwkwkwk. Salah sih nanya ini ke Giza, soalnya Giza juga masih punya beberapa hal yang belum bisa termaafkan sebab masih ada beberapa prasyarat untuk memaafkan sesuatu (yang padahal mah nggak mesti ada juga, cuma diada-adain) biar segala yang sudah terjadi dapat masuk akal.
Cuma ada sih beberapa jalur ampuh atas beberapa hal yang berhasil termaafkan. Intinya, jangan terlalu berusaha mencari alasan di balik tindakan orang lain, soalnya sering kali apa yang orang lain perbuat terhadap kita memang bukan dengan niat untuk menyakiti, lebih ke.. karena dia sedang memilih dirinya sendiri, sedang melindungi dirinya sendiri, atau sedang berjalan menuju arah yang dia mau. Rasio/penalaran manusia juga beda-beda soalnya.
Kita mungkin memang terkena dampak dari keputusan itu, tapi bukan berarti kitalah pusat dari semua alasan itu. Jangan-jangan kita sendiri juga mungkin pernah melakukan hal buruk semacam itu ke hidup orang lain tanpa kita sengaja/sadari.
Kalaupun nunggu permintaan maaf, beberapa orang justru nggak akan pernah reach out kamu lagi, sebab mereka nggak punya kematangan untuk menghadapi kenyataan bahwa mereka udah berbuat salah/dzalim sama kamu. Kamu nggak pantas menemui orang macam itu lagi. Mereka kekurangan rasa tanggung jawab, mereka mungkin akan bikin narasi buatan tentang kamu agar mereka nggak merasa buruk tentang diri mereka sendiri.
Atau simply, sebenarnya nggak mesti ada pihak yang salah. Nggak semua luka butuh jawaban. Luka itu muncul karena persepsi subjektifmu saja. Terimalah kenyataan bahwa setiap orang punya hidupnya masing-masing. Barangkali/mudah-mudahan itu bisa jadi titik awal dari detachment yang paling baik.
— Giza, sepanjang hidup adalah rentang waktu tazkiyatun nafs

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Hakikat Pengorbanan: Abu yang Tak Menagih Sang Api
Suatu siang, di depan kampus, seorang pria paruh baya menghentikan motornya tepat di hadapanku. Bensinnya hampir habis. Ia perlu uang untuk pulang ke Subang, lalu aku memberinya sejumlah uang yang ia butuhkan. Saat uang itu berpindah tangan, aku menyelipkan harapan kecil, suatu hari kalau aku susah, semoga ada yang memudahkanku juga.
Kupikir itu contoh sederhana bahwa manusia itu pandai menyembunyikan transaksinya sendiri. Ganjil, yah? Bahkan kebaikan manusia hampir tidak pernah benar-benar tuntas "membakar" dirinya sendiri. Seperti api pemberian yang dinyalakan, sambil diam-diam menyisakan sepotong kayu yang tak ikut terbakar.
Carl Jung menyebutnya klaim egoistik yaitu tuntutan bawah sadar bahwa si pemberi berhak menerima sesuatu sebagai imbalan. Ia mengkritik hal ini dengan pernyataan mendasar.
"Hence there is, explicitly or implicitly, a personal claim bound up with every gift. There is always an unspoken 'give that thou mayest receive.'"
Secara psikologis, selalu ada pamrih dalam setiap pemberian. Bentuknya bisa eksplisit (aku kasih kamu A, aku ingin dapat B) atau implisit, atau bahkan tidak disadari. Pamrih implisit sendiri bisa berupa kebutuhan akan pengakuan, rasa superioritas moral, harapan terciptanya utang budi, atau bahkan menyogok takdir/Tuhan. Bagiku, transaksi terselubung macam ini sebenarnya lebih ke simulacrum alias hanya tiruan palsu dari pengorbanan/ketulusan.
"Aku ingin dilihat sebagai orang baik." "Aku lebih mulia dari dia karena aku yang memberi." "Sekarang dia berhutang padaku, dan suatu saat akan kugunakan." "Tuhan, aku sudah berbuat baik, lindungilah aku dari musibah."
Kalau begitu, apa itu pengorbanan sejati?
Carl Jung melanjutkan kalimatnya dengan radikal.
"It only becomes a sacrifice if I give up the implied intention of receiving something in return. If it is to be a true sacrifice, the gift must be given as if it were being destroyed."
Suatu pemberian menjadi pengorbanan hanya jika kita melepaskan niat tersirat untuk menerima imbalan. Pemberian itu harus diberi seolah-olah itu sedang dimusnahkan (dihancurkan) sehingga tidak ada lagi jejak kepemilikan ego atasnya. Tidak ada harapan apapun, bahkan pengakuan, pahala, atau rasa aman psikologis sekalipun.
Nah definisi tadi sangat powerful begitu dikaitkan dengan Ibrahim sebab kisah Ibrahim adalah dramatisasi paling ekstrem dari definisi Jung, yakni dengan memposisikan Ismail sebagai the gift yang diberikan kepada Allah untuk dihancurkan dengan tangan Ibrahim sendiri. Mind blowing 🤯
Jung melanjutkan:
When, therefore, I give away something that is "mine," what I am giving is essentially a symbol, a thing of many meanings; but, owing to my unconsciousness of its symbolic character, it adheres to my ego, because it is part of my personality.
"Mine" di situ mewakili apa pun yang secara psikologis kita anggap sebagai bagian dari diri kita. Ibrahim mungkin menyerahkan seorang manusia biasa kepada Allah secara permukaan. Namun Ismail bagi Ibrahim, adalah simbol yang mewakili hal-hal yang lebih dalam.
Lalu Ismail itu adalah simbol dari apa saja?
Ismail adalah simbol legacy, satu-satunya mata rantai (saat itu) yang akan meneruskan misi Ibrahim setelah ia tiada. Memberikan Ismail (as if it were being destroyed) sama dengan meruntuhkan cita-cita terbesar dalam hidup Ibrahim. Seluruh bangunan hidup Ibrahim terancam berakhir begitu saja.
Kita bisa bayangkan, dalam diri Ismail terkumpul jawaban doa dan validasi bahwa pengabdian Ibrahim selama ini tidak sia-sia. Siapapun pasti berpikir bahwa dialah bukti dari janji Allah mengenai kelahiran bangsa-bangsa. Sehingga perintah penyembelihan itu sama saja seperti Allah menarik kembali janji yang sudah Ibrahim pegang erat-erat.
Jung juga menyebut adanya kepribadian potensial yang belum terwujud atau "what he will become". Jadi dalam hal ini, Ismail adalah proyeksi dari diri Ibrahim yang belum selesai, yang akan meneruskan dan menyempurnakan apa yang tidak bisa diselesaikannya. Artinya menyembelih Ismail (secara psikologis) adalah menyembelih kemungkinan diri Ibrahim yang lebih besar itu.
To sum up this part, that's why pengorbanan ini terasa berat sebab Allah meminta seluruh makna hidup yang menempel pada Ismail, yang selama ini menopang eksistensi dan identitas Ibrahim.
Lalu apa ya kira-kira "klaim egoistik" Ibrahim?
Pamrih pada dasarnya adalah kompensasi psikologis yang kita tuntut agar pengorbanan terasa sepadan. Logikanya, "aku kehilangan sesuatu yang berharga, maka aku harus menerima sesuatu yang setara atau lebih besar nilainya, supaya timbangannya seimbang."
Ibrahim di konteks ini, bertumpu pada fakta bahwa dirinya secara psikologis "memiliki" Ismail. Lalu dari rasa kepemilikan itu lahirlah klaim, "karena Ismail adalah milikku, jika kehilangannya, maka aku berhak blablabla, (yang sepadan)"
Mekanismenya semakin rumit karena datangnya tidak hanya dari satu sumber. Bagaimanapun juga, kita punya banyak identitas yang bersemayam di dalam diri kita kan? Implikasinya adalah berarti setiap peran punya "hak tagih"-nya sendiri.
Sebagai ayah, Ibrahim kehilangan anak dan pewaris darah, dan sebagai gantinya ia bisa menuntut status "keluarga pilihan" yang namanya diingat sepanjang masa. Sebagai nabi, ia kehilangan mata rantai janji Allah, dan sebagai gantinya ia bisa menuntut agar janji itu terbukti (jika tidak melalui Ismail). Jika janji-Nya batal, maka Ibrahim merasa telah ditipu oleh-Nya.
Sebagai rasul, ia kehilangan pewaris misi, dan sebagai gantinya ia bisa menuntut jaminan bahwa risalah tauhid tidak akan padam bersamanya. Pamrih macam ini cukup berbahaya sebab bersembunyi di balik kepedulian pada misi Ilahi. Seolah-olah Allah bodoh dan butuh dikoreksi dan diberi saran. Seolah-olah Ibrahim lebih tahu bagaimana cara menjaga risalah daripada Yang Mewahyukan risalah itu sendiri.
Sebagai hamba Ibrahim sudah menumpuk ketaatan. Untuk hal ini, bentuk tagihannya mungkin sangat halus, semacam merasa telah berinvestasi terlalu banyak untuk diperlakukan begini begitu. Atau bisa jadi harapan, bahwa untuk ujian yang satu ini, ia boleh tidak ikut. Bahwa prestasinya bisa menjadi alasan bagi Allah untuk menguji orang lain saja. Bahwa cintanya yang dulu bisa menebus cintanya yang sekarang.
"Aku sudah menyerahkan masa mudaku untuk menghancurkan berhala. Aku sudah menyerahkan rasa amanku saat berjalan ke api Namrud. Aku sudah meninggalkan kampung halamanku. Aku sudah meninggalkan keluarga yang kucintai di lembah Bakkah. Masa iya Engkau memintaku menyembelih anakku sendiri? Apakah ujian seberat ini benar-benar harus aku jalani? Tidakkah ada jalan lain? Haruskah aku? Bukankah riwayat ketaatanku bisa menjadi alasan untuk meringankan takarannya?"
Ibrahim mungkin frustrasi saat semuanya tidak masuk akal. Sebetulnya sangat valid dan manusiawi kok, jika Ibrahim merasa berhak mendapatkan penjelasan. Ia bisa saja menuntut supaya Allah bertindak dengan cara paling masuk akal dan sejalan dengan nalar dan hatinya, atau supaya perintah-Nya tidak melukai hati yang diciptakan-Nya sendiri. But at the end, Ibrahim hanya mendengarkan semuanya, menyadarinya, lalu memilih untuk tidak menagih.
Lagipula, Ibrahim sebenarnya tidak menemukan satupun hal yang membuat pengorbanan itu sepadan. Semua klaimnya (sebagai ayah, rasul, nabi, hamba, manusia) tidak ada yang terbayar (setidaknya saat itu).
Dia tidak menerima jaminan tertulis tentang bagaimana risalah akan berlanjut tanpa Ismail. Janji Allah tetap misterius. Ibrahim tidak diberi tahu mekanisme bagaimana janji itu akan digenapi setelah Ismail "dimusnahkan". Tabungan ketaatannya tidak membuatnya mendapatkan keringanan. Perintah tetap harus dijalankan tanpa tawar-menawar. Dan perintah itu tetap tidak masuk akal. Tidak ada penjelasan rasional yang diberikan. Pengorbanan ini murni kerugian dari segi manapun.
Abu yang Tak Menagih Sang Api
Analogi pembakaran sangat pas menggambarkan pengorbanan sejati ini, terutama mengenai ketidakterbalikannya (irreversibility). Api sejatinya adalah proses (bukan benda) yang memberi panas dan cahaya dengan melenyapkan dirinya sendiri. Dan abu adalah residu yang tidak memiliki siapa pun untuk ditagih, karena api sudah "selesai" di dalam tindakannya sendiri.
Tidak ada reaksi balik. Abu tidak bisa kembali menjadi kayu, dan abu tidak bisa "memanggil" api kembali. Entropi sudah meningkat, proses sudah final. Ibrahim telah membakar semua klaim egoistiknya. Ia berdiri sebagai abu yang tersisa. Bahkan setelah semuanya, abu tidak pernah berkata pada sang api, "kau berutang padaku."
Lihatlah apa yang terjadi dengan kesetiaan seperti itu. Ia terbawa angin, menyelinap ke celah-celah waktu, dan menjadi buah bibir orang-orang saleh. Inilah potret pengorbanan yang tidak disia-siakan oleh Sang Maha Menghargai.
— Giza, gokil enak banget ngebedah cerita ini dengan seluruh framework dan teorinya Carl Jung
Memory of The Future
Kisah tentang keluarga Ibrahim bukanlah hal baru bagiku. Gimana enggak, setiap Dzulhijjah pasti banyak postingan, story, dan ceramah mengenai itu. Angle yang diambilnya juga macem-macem, baik itu dari segi parenting-nya, pengorbanannya, maupun misi kenabiannya. Semuanya menarik dan insightful. Setidaknya, itu yang kurasakan selama bertahun-tahun.
Berapa banyak aku harus mengulang cerita ini di kepala sebelum akhirnya sesuatu terlintas di benakku? Puluhan kali. Mungkin ratusan. Dan "sesuatu" apa yang mungkin muncul jika aku melihatnya dari sudut pandang lain? Nah.. di putaran yang entah ke berapa, pertanyaan aneh ini muncul, akhirnya.
Kalau Allah tahu Ibrahim akan lulus, kenapa Allah tetap memerintahkan Ibrahim berkurban?
Dalam pemahamanku, ujian selalu berkaitan dengan pengetahuan sang penguji yang belum lengkap. Contohnya, seorang guru memberi soal karena ia belum tahu kemampuan muridnya, lalu jawaban sang muridlah yang kemudian menyingkap kenyataan itu. Begitulah kira-kira, respons kita akan memberi tahu penguji sesuatu yang belum ia ketahui tentang diri kita.
Belum lagi, sejak kecil aku sering ditanamkan bahwa Allah meminta pembuktian dari kita. Cuma rasanya aneh kalau membayangkan ujian Ibrahim (dan kita semua) sebagai sarana untuk menunjukkan iman kepada Allah. Bukankah Allah tidak menunggu jawaban apapun untuk mengenal hamba-Nya?
Jadi menurutku, ujian itu jelas tidak mungkin berfungsi untuk "memberi tahu Allah" mengenai sejauh apa iman Ibrahim.
Kalau begitu, untuk siapa sebenarnya ujian itu? Apa yang Sang Penguji inginkan dari tes itu kalau bukan untuk mengungkap sesuatu kepada diri-Nya?
Aku menemukan jawaban yang memuaskan. Seseorang mengatakannya dengan ringkas. Katanya,
"The test wasn't to reveal Ibrahim to Allah. It was to reveal Ibrahim to Ibrahim."
🤯🤯🤯 (mindblowing) bener juga. Allah mah tau iman Ibrahim, tapi kan Ibrahim nggak tau sedalam apa imannya.
Aku langsung teringat quote dari Carl Jung. Bunyinya, "in each of us, there is another whom we do not know." Ada seseorang (atau sesuatu) di dalam diri kita yang belum kita kenal, dan ujian itu akan mengenalkan "yang lain" dalam diri kita kepada diri kita sendiri.
Coba kita apply premis itu di konteks Ibrahim. Tentu sejak awal Allah sudah tau kesetiaan Ibrahim. Nggak perlu menunggu hasil ujian untuk mengenalnya. Hanya saja Ibrahim belum pernah bertemu dengan versi dirinya yang paling taat. Kesetiaan itu (betapapun sempurnanya) masih berupa klaim/ucapan/pengakuan diri, yang tadinya belum ia alami sebagai realitas, belum "terjadi" dalam sejarah, dan belum diwujudkan melalui pilihan yang konkret.
Artinya Ibrahim nggak sedang memperlihatkan sesuatu yang baru bagi Allah, melainkan sedang mengalami sendiri ketaatannya sampai menjadi nyata. Melalui ujian itu dia menemukan fakta tentang dirinya sendiri. Istilahnya mah self revelation alias pengungkapan jati diri kepada diri kita sendiri. Analoginya mungkin gini, Allah sudah memegang naskahnya dan Ibrahim yang berjalan di atas panggung itulah yang baru memerankan dialognya sendiri.
Makna Membenarkan Mimpi (صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا)
Quote dari Jung tadi membuka pintu pembahasan ini dan ayat Allah menggenapkan kunciannya. Allah berfirman kepada Ibrahim setelah peristiwa itu: "Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu" (QS Ash-Shaffat: 105). Perhatikan kata صَدَّقْتَ (membenarkan). Ibrahim sedang membenarkan sesuatu yang sudah benar di sisi Allah, yang sebelumnya nggak pernah dihidupi oleh dirinya.
Jadi kita akhirnya tau bahwa ada perbedaan mendasar antara sesuatu diketahui Allah dengan sesuatu terwujud dalam realitas manusia.
Manusia sendiri hidup di ranah aktualisasi which is segala sesuatu baru memperoleh bentuknya ketika dilewati, dirasakan, dan dijalani. Maka fungsi ujian Ibrahim adalah mewujudkan kesetiaan Ibrahim dari ranah ilmu Allah ke ranah realitas. Apa dalilnya? Allah mencantumkan outcome yang Dia harapkan itu di surat As-Saffat (37) : 106
اِنَّ هٰذَا لَهُوَ الْبَلٰۤؤُا الْمُبِيْنُ
"Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata."
Kata الْمُبِيْنُ artinya yang nyata, yang jelas, yang tampak. Sebetulnya ada opsi diksi lain kayak, الْمَعْلُومُ (yang diketahui) atau الْمَكْتُوبُ (yang tertulis).
Cuma tengok deh, pemilihan diksi "nyata" itu menarik dan masuk akal soalnya ujian itu memang baru saja terjadi dan dihidupi oleh Ibrahim dalam bentuk pengorbanan yang konkret. Like.. antara ilmu Allah dan realitas manusia, ada jurang yang cuma bisa dilintasi oleh perbuatan. Dan Ibrahim telah melintasinya.
Dan ternyata, pemahaman ini bukan cuma dugaanku. Al-Maududi, seorang mufasir besar pun sampai pada kesimpulan yang sama. Dalam tafsirnya, beliau bilang begini:
"We did not make you see in the dream that you had actually slaughtered your son and he had died, but that you were slaughtering him. That Vision you have fulfilled. Now, it is not Our will to take the life of your child: the actual object of the vision has been fulfilled by your submission and preparation to sacrifice him for Our sake."
Al-Maududi membedakan antara tindakan menyembelih dan kematian sebagai hasil. Mimpi Ibrahim isinya bukan prediksi kematian. Maksudnya Allah nggak menginginkan Ismail mati. Fakta bahwa Ismail akhirnya diganti dengan domba adalah penegasan bahwa ujian itu berhasil dilalui. Darah domba menggantikan darah yang seharusnya karena targetnya bukan pengorbanan fisik, tapi pengorbanan hati.
So.. mimpi itu adalah panggung tindakan di mana Allah menginginkan Ibrahim siap melepaskan. Begitu Ibrahim (dengan pedang terhunus dan jiwa yang berserah) sudah membuktikan kepada dirinya sendiri dan kepada alam semesta bahwa ia benar-benar lebih mencintai Allah daripada segalanya, tujuan ujian telah tercapai tanpa harus mengorbankan nyawa Ismail.
Diri yang disimulasikan ≠ diri yang diwujudkan
Meskipun kita bisa membayangkan diri kita sebagai apapun (pemberani, setia, sabar), bayangan itu nggak pernah sama dengan kenyataan. Konon, dalam perjalanan menuju kesadaran yang lebih luas, banyak tingkat pengorbanan yang diperlukan. Setiap kali kita melepas sesuatu yang kita cintai, kita naik satu anak tangga menuju diri yang sesungguhnya.
Pada titik puncak pengorbanan itu, iman aktual lahir. Sama seperti "diri Ibrahim yang mencintai Allah lebih dari segalanya" itu muncul dari penyerahan total dan pelepasan total (al-wala wal bara). Tanpa ujian itu, Ibrahim mungkin hidup dalam ilusi tentang dirinya sendiri bahwa, "aku orang beriman, aku pasti taat."
Rose F. Holt dalam blognya menulis:
"Knowledge, or consciousness, a knowing with, is bought only with suffering and sacrifice and death, both on real and symbolic levels."
Kesadaran dan pengetahuan diri tidak datang gratis. Ibrahim "membeli" pengenalan dirinya alias reveal Ibrahim to Ibrahim melalui kesediaannya mengorbankan putranya, yang secara simbolik, merupakan "kematian" terhadap ego dan keterikatannya.
Sedangkan Allah sendiri nggak butuh kematian Ismail. Allah menginginkan proses pengorbanan itu sendiri sebagai kendaraan bagi manusia (Ibrahim dalam hal ini) untuk naik ke kesadaran yang lebih tinggi, di mana ego melepas keterikatannya, dan Self (diri sejati dalam istilah Carl Jung) terwujud.
Karena itulah, setelah ujian tersebut benar-benar terjadi, Al-Qur'an menghadirkan penghormatan yang begitu indah:
سَلَامٌ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ
"Salam sejahtera bagi Ibrahim." (QS Ash-Shaffat: 109)
Damai karena orang yang telah menemukan dirinya yang paling dalam hanya bisa merasakan ketenangan. Perjalanan telah usai. Ibrahim telah pulang ke rumahnya yang sejati dengan selamat. Ibrahim bisa berteduh di "pohon batinnya" yang telah teruji koherensi dan konsistensinya. Ibrahim bisa melanjutkan kembali misi kenabiannya dengan seluruh identitas diri/self yang telah integral.
Bacaan lanjutan: https://roseholt.blogspot.com/2004/04/analytical-meaning-of-sacrifice-if-as.html?m=0
— Giza, meski sudah Muharram bahasan ini tidak pernah kedaluwarsa
Sudah padam sebelum pandang
Adapun dahulu aku ini cahaya— yang kutempuh jarak sunyi untuk sampai ke matamu, tak ada yang lebih lekas daripadanya, namun jarak tetap meminta waktu.
Kendati ruang begitu panjang, aku tiada berbalik. Segenap terangku kusempurnakan agar engkau melihat.
Namun engkau tiada menengadah.
Maka waktu pun berlalu— dan pada jarak yang tak kasat, sumberku telah padam tanpa sempat kau tahu.
Lalu kini engkau berkata: "Cahayamu indah, aku melihatnya."
Aduhai, itu hanyalah sisa perjalanan, pantulan yang terlambat tiba di mata yang dahulu kunanti.
Yang kau lihat itu bukan lagi aku yang menyala, itu jejakku, yang tak sempat kausambut.
Dan aku.. tiada lagi bercahaya untukmu. Demikianlah cahaya tetap sampai, kendati asalnya telah tiada.
— Giza, dan sang mata yang tak sempat menyusul cahaya.
Kak bagaimana caranya berdamai dengan perasaan tertinggal?
Setiap aku merasa ketinggalan, aku selalu berpikir ulang bahwa mungkin aku dan yang lain nggak punya resource yang sama, jadi output-outcome sekarangnya juga nggak sama dan itu gapapa. Tiap orang punya struggle dan blooming season-nya masing-masing kok.
Pertumbuhan manusia di usia 20-an mah emang nggak simetris. Ada yang rata kanan di finansial/karier, tapi masih remed di kebijaksanaan. Ada yang rata kanan di pemikiran/akademik, tapi remed di percintaan. Ada yang rata kanan di pertemanan dan komunitas, tapi remed di penalaran. Macem-macem sih, variabel tiap orang juga beda-beda. Kita adalah produk masa lalu kita, jadi mungkin sulit buat kita berubah/bertumbuh di hal-hal yang sama sekali kita nggak ada bentukan soal itu.
Dalam beberapa aspek, aku selalu sadar bahwa aku ini berangkatnya dari minus, so.. mencapai titik nol aja udah jadi sebuah pencapaian besar dalam hidupku. Baik-baiklah sama dirimu sendiri, ini hidup pertamamu. Hidup pertama kita semua. Ini satu-satunya panggung yang kita punya.
Nggak ada yang tau persis gimana cara menjalaninya dengan tepat. Semua orang bikin salah. Semua orang pernah gagal. Pandanglah dirimu sebagai diri yang berhati, berjiwa, dan bermasa depan. Kalau mau nangis, nangislah, sedihlah, sesalilah, abis itu lanjutin hidup sambil tidak memunggungi "cahaya" yang bakal menuntun arah tumbuhmu. Kalo dirasa bisa dikejar, ya kejar aja. Kalo enggak, ya udah kejar aspek lain yang realistis.
Terus kalo mau, yang diukur Δ improvement-nya aja antara diri yang dulu dan sekarang, jangan menakar diri di timbangan orang lain. Jangan overvaluing orang lain sambil undervaluing diri sendiri. Allah juga mintanya "ahsanu amala" kok. Kalo kata Ust. Nouman Ali Khan mah maksudnya better bukan best. Berarti Allah nggak nuntut kesempurnaan, Allah cuma meminta perbaikan (improvement). Maka semua orang berhak untuk menjadi orang yang amalnya lebih baik.
Lagu penyemangat untukmu. Gak usah takut ketinggalan, Allah mah gak akan ninggalin kita. Semoga Allah selalu berkahi langkahmu, langkah kita, sesama pejalan!
— Giza, kalau mau dibandingin sama yang lain mah relatif ketinggalan juga kok
"Menurutmu, pengalaman apa yang seharusnya dialami setiap manusia?"
"Patah hati."
Sekonyol dan sesarkas apapun kedengarannya, beberapa pelajaran hanya bisa diajarkan oleh patah hati. Sulit untuk sepenuhnya memahami bagaimana rasanya, hingga kamu mengalaminya sendiri.
Orang-orang yang memilih ketenangan pikirannya daripada stres dalam relasi, bukannya tidak menghargai cinta. Justru lebih sering, karena apa yang telah mereka alami dan pelajaran yang mereka pelajari dari patah hati.
Kalau kamu sedang mengalami patah hati saat ini, pertama, akui rasa sakitnya.
Kedua, hargai fakta bahwa kamu telah melihat kehidupan dari perspektif yang berbeda dan pengalaman itu membentuk pertumbuhanmu.
Ketiga, ambillah pelajaran penting bahwa ketika cinta menemukanmu lagi, jangan pernah kehilangan dirimu di dalamnya. Cintailah dengan dalam, tapi selalu pertahankan cukup rasa hormat diri dan kemandirian untuk pergi dari apa yang tak lagi bermanfaat bagimu.
Feel deeply, think accurately, act wisely. Character development comes with it.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Aku mohon, bersabarlah dengan segala sesuatu yang belum terselesaikan di hatimu dan cobalah untuk menyukai pertanyaan-pertanyaan itu sendiri seolah-olah itu adalah ruangan terkunci atau buku yang ditulis dalam bahasa yang sangat asing. Jangan mencari jawaban yang tidak dapat diberikan kepadamu saat ini, karena kamu tidak akan mampu menjalaninya. Intinya adalah jalani saja. Jalani pertanyaannya sekarang. Mungkin kemudian, suatu hari nanti, kamu akan perlahan-lahan, bahkan tanpa menyadarinya, menjalani jalan menuju jawabannya.
— Rainer Maria Rilke, Letters to a Young Poet