Aku berlindung kepada-Mu dari segala hasratku untuk menerima kehormatan-kehormatan.
todays bird

pixel skylines
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
trying on a metaphor
noise dept.

祝日 / Permanent Vacation

Discoholic 🪩
Keni
we're not kids anymore.

Kaledo Art
he wasn't even looking at me and he found me
One Nice Bug Per Day
Cosmic Funnies
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
tumblr dot com


JBB: An Artblog!


blake kathryn
seen from Switzerland
seen from Malaysia

seen from Türkiye

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Germany
seen from Israel

seen from Türkiye

seen from Sweden
seen from Belgium

seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States

seen from Sweden
seen from T1
seen from United States
seen from United States

seen from Germany
@gizantara
Aku berlindung kepada-Mu dari segala hasratku untuk menerima kehormatan-kehormatan.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
"Menurutmu, pengalaman apa yang seharusnya dialami setiap manusia?"
"Patah hati."
Sekonyol dan sesarkas apapun kedengarannya, beberapa pelajaran hanya bisa diajarkan oleh patah hati. Sulit untuk sepenuhnya memahami bagaimana rasanya, hingga kamu mengalaminya sendiri.
Orang-orang yang memilih ketenangan pikirannya daripada stres dalam relasi, bukannya tidak menghargai cinta. Justru lebih sering, karena apa yang telah mereka alami dan pelajaran yang mereka pelajari dari patah hati.
Kalau kamu sedang mengalami patah hati saat ini, pertama, akui rasa sakitnya.
Kedua, hargai fakta bahwa kamu telah melihat kehidupan dari perspektif yang berbeda dan pengalaman itu membentuk pertumbuhanmu.
Ketiga, ambillah pelajaran penting bahwa ketika cinta menemukanmu lagi, jangan pernah kehilangan dirimu di dalamnya. Cintailah dengan dalam, tapi selalu pertahankan cukup rasa hormat diri dan kemandirian untuk pergi dari apa yang tak lagi bermanfaat bagimu.
Feel deeply, think accurately, act wisely. Character development comes with it.
Aku mohon, bersabarlah dengan segala sesuatu yang belum terselesaikan di hatimu dan cobalah untuk menyukai pertanyaan-pertanyaan itu sendiri seolah-olah itu adalah ruangan terkunci atau buku yang ditulis dalam bahasa yang sangat asing. Jangan mencari jawaban yang tidak dapat diberikan kepadamu saat ini, karena kamu tidak akan mampu menjalaninya. Intinya adalah jalani saja. Jalani pertanyaannya sekarang. Mungkin kemudian, suatu hari nanti, kamu akan perlahan-lahan, bahkan tanpa menyadarinya, menjalani jalan menuju jawabannya.
— Rainer Maria Rilke, Letters to a Young Poet
Even God Doesn't Need Our Sotoyness
Setiap pikiran mulai ngerangkai kata-kata untuk berdoa yang muluk-muluk, langsung inget doa Nabi Nuh di surat Hud ayat 47:
Dia (Nuh) berkata, "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu untuk memohon kepada-Mu sesuatu yang aku tidak mengetahui (hakikatnya). Kalau Engkau tidak mengampuniku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku termasuk orang yang rugi."
Btw, doa itu dipanjatkan setelah beliau mengatakan, "sesungguhnya anakku (Kan'an) adalah keluargaku" dan langsung ditegur oleh Allah di ayat 46-nya:
Dia (Allah) berfirman, "Wahai Nuh! Sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu, karena perbuatannya sungguh tidak baik, sebab itu jangan engkau memohon kepada-Ku sesuatu yang tidak engkau ketahui (hakikatnya). Aku menasihatimu agar (engkau) tidak termasuk orang yang bodoh."
Langsung kebayang pas diriku lagi ngotot-ngototnya, mungkin percakapannya bisa jadi begini:
"Ya Allah, menjadi X adalah cita-citaku sejak lama."
"Sesungguhnya itu bukan pekerjaanmu di masa depan karena mendatangkan mudharat. Sebab itu jangan engkau memohon kepada-Ku sesuatu yang tidak engkau ketahui. Aku menasihatimu agar (engkau) tidak termasuk orang yang bodoh."
Sebenarnya berlaku nggak cuma dalam konteks cita-cita. Bisa aja doa yang over specific, seperti cara, waktu, jumlah, dan tempat masuknya rezeki, barang yang lagi dipengenin banget, atau bahkan jodoh, yang sebenarnya hakikatnya itu nggak baik di sisi Allah dengan alasan apapun (yang seringnya kita juga gatau alasannya apa).
Kadang ketidaktahuan dan ketidaksabaran emang bikin bodoh sih. Kalau kata Bang Abdur Arsyad mah, Allah adalah pemilik data dari "awal tak hingga" sampai "akhir tak hingga". Dalam matematika, semakin banyak data yang dimiliki, semakin akurat penilaiannya. Maka siapalah kita merasa patut menilai Allah berdasarkan data yang kita punya? Seberapa akurat penilaian yang diperoleh dari sampel data yang cuma kita punya sejak kita lahir sampai usia kita hari ini? 1%-nya (dari data Allah) juga enggak nyampe wkwk dasar manusia sotoy (re: aku).
Akhirnya baru sadar betapa bijaksananya doa sapu jagat tentang kebaikan di dunia dan akhirat. Dialah Yang Maha Tau, Maha Baik, dan Maha Bijaksana.
— Giza, memperbaiki etika dalam berdoa

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Sacrifice The Queen
Sejak mulai bermain catur, aku punya gaya pandang baru dalam membaca realitas, salah satunya saat meng-capture dinamika Nabi Ibrahim. Untuk pengetahuan umum, di catur tuh ada yang disebut taktik dan strategi.
Strategy is the long-term, high-level plan designed to achieve a specific, overarching goal (the "what" and "why"), while tactics are the concrete, short-term actions and steps taken to execute that plan (the "how"). Strategy focuses on direction and positioning, whereas tactics focus on day-to-day execution and immediate wins.
Dari yang aku berhasil capture, Nabi Ibrahim tampaknya adalah pribadi yang strategis, end-to-end (hulu ke hilir), dan idealism-oriented. Sejalan kan ya, dengan perannya membangun sebuah pondasi dan kerangka peradaban yang terarah.
Untuk perbandingan, Nabi Musa mengalami dinamika yang berbeda. Pendekatan beliau lebih taktikal, task based, dan present-oriented, kelihatan dari cara beliau merespons perintah-perintah Allah secara real-time di situasi yang dinamis dan penuh pressure. Perbedaan ini juga bisa kita lihat kok dari doa-doa mereka.
Disclaimer: Aku menggambarkan Ibrahim sebagai sosok yang "strategis" dan Musa sebagai sosok yang "taktikal" bukan berarti meniadakan dimensi lain dari keduanya ya. Ibrahim tentu aja punya ketajaman taktis dalam bertindak, sebagaimana Musa juga punya kerangka strategi dalam misinya. Klasifikasi ini semata-mata pendekatan analitis untuk menyorot kecenderungan dominan dalam kisah masing-masing, supaya kontrasnya lebih terlihat dan mudah dipahami.
Nah tadinya kupikir ujian terberat seorang strategis adalah jika harus menghadapi worst scenario. Namun aku salah gengs wkwkwk.
Soalnya sebagai orang yang cukup relate secara kognitif dengan Ibrahim, menurutku ketakutan akan worst scenario itu bisa direduksi dengan memperbaiki pertimbangan dan pengambilan keputusan, melakukan persiapan, atau merencanakan alternatif. Mirip-mirip di catur lah, takut melakukan blunder/bad moves atau takut moves-nya lawan ternyata brilliant/good bisa diatasi dengan deep calculation. Dan aku yakin, Ibrahim adalah seorang deep calculator yang bisa handle worst scenario yang datang dari luar.
"Sacrifice the queen!" mungkin itulah perintah Allah pada Ibrahim, dalam metafora catur.
Di catur, queen sacrifice baru bisa disebut brilliant/best/good moves kalau bisa ngasih keuntungan yang lebih besar daripada nilai queen itu sendiri. Biasanya ada 4 kondisi, entah itu menuju skakmat lawan, menang materi, menang posisi, atau seenggaknya itu satu-satunya langkah yang menyelamatkan posisi. Pemain catur profesional manapun nggak akan mau melakukan queen sacrifice tanpa kalkulasi 4 kondisi tadi. Yang ada malah blunder entar.
Ibrahim 2x mengalami ini. Pertama, saat meninggalkan Hajar dan Ismail ke lembah Bakkah (Mekkah sekarang). Kedua, saat diperintah menyembelih Ismail.
Back to Ibrahim as strategist, dengan beliau menikahi Hajar pun artinya Hajar sudah menjadi his most important piece (Sarah dan Luth juga sih btw). Ketambahan lagi dengan lahirnya Ismail, di catur mah ini bisa diibaratin jadi pion promosi. Jadi kebayang yah betapa Ibrahim hampir all-in seluruh grand design-nya ke situ.
Sekarang di peristiwa pertama, Allah suruh Ibrahim sacrifice his queen, and also his promoting pawn. Jujurly, menurutku ini tuh nggak masuk akal dalam kalkulasi Ibrahim.
Bentar tiba-tiba nangis wkwkwk. Kenapa ya mendalami cerita ini tuh selalu menggetarkan akal budi, kek setiap movement-nya tuh obvious. Aku yakin Ibrahim nangis waktu itu, mungkin di momen after ninggalinnya. Ekstrem banget situasinya, baik secara kognitif maupun emosional.
Secara kognitif, "jika Ismail adalah awal penggenapan janji, bagaimana mungkin jalurnya justru diarahkan ke tempat yang tampak tidak menopang kehidupan? Bagaimana aku bisa menilai movement ini relevan ketika bidak-bidak andalanku justru dipisahkan dari pusat permainan?"
Secara emosional, "Ya Allah tempat ini tidak ramah kehidupan. Aku tidak melihat sebab yang cukup untuk menjaga mereka. Bagaimana aku bisa memastikan keselamatan orang yang aku sayangi, ketika aku tahu bahkan variabel-variabel di lembah ini mostly mengarahkan mereka pada kematian?"
Nah aku ingat salah satu komentar coach caturku waktu aku masih awal-awal main. Kata beliau, "aku lihat-lihat game Giza, pelajaran hari ini adalah jangan takut korbanin." Yah namanya juga pemain amatir wkwkwk masih sayang sama semua pionku. Di bayanganku, Ibrahim saat itu, diperjalankan Allah dari fase "gimana caranya mempertahankan semua pionku?" menuju fase, "kalau Sang Pemilik papan meminta pengorbanan ini, berarti ada jalur kemenangan yang belum saya lihat."
Maka beliau percayakan kalkulasi ini kepada Allah. Ditinjau dari doa beliau di QS 2 : 126 dan QS 14 : 35-38 mah sih, beliau masih bisa bayangin, "oh mungkin ada kompensasi posisi" alias masih ada harapan di situ. Walaupun dipikir-pikir secara duniawi lembah itu nggak menguntungkan, Ibrahim masih belum kehilangan orientasi strategisnya.
Masuklah ke ujian kedua.
Di sini posisinya Ismail had already been promoted to a queen. Blueprint peradaban semakin jelas dan lengkap, dari opening, midgame, sampai endgame. Udah kebayang gitu si idealisme tersebut kek apa dan gimana mencapainya.
Dan untuk kedua kalinya, Allah perintahkan lagi, "sacrifice the queen!"
Dua peristiwa itu mirip bentuknya, tapi menurutku beda kedalaman ujiannya.
Masalahnya, di catur, pengorbanan menteri itu hampir pasti dilakukan oleh pemain yang udah kebayang step selanjutnya bakal apa. Atau minimal ada feeling, "ini bakal worth it".
Sedangkan Ibrahim saat itu disuruh korban menteri (lagi), sambil harus tetap punya cita-cita untuk menang, sambil nggak tau gimana merekonstruksi rencana yang variabel utamanya tiba-tiba nggak ada. Gap antara realitas - idealitas yang sebelumnya udah dikalkulasi, malah disuruh dikosongin. Terputus aja gitu. Gimana coba fill the blank-nya? Apa nggak blunder?
Rupanya ujian terberat seorang strategis adalah saat diminta untuk menghapus rencana terbaik yang dia udah invest banyak di situ, tanpa tau alasannya.
Oke lah, di perintah pengorbanan yang pertama, blank-nya belum total kosong. Masih ada harapan/ekspektasi. Masih diam-diam bergantung ke hasil akhirnya.
Sedangkan di perintah pengorbanan yang kedua, Ibrahim literally nggak dikasih akses ke langkah berikutnya. Buat orang yang strategis dan terbiasa kalkulasi langkah, nggak dikasih variabel untuk deep calculating lagi tuh menyebalkan. Lalu dengan apa kita dapat mendebat keputusan itu ketika kita bahkan nggak bisa pretelin proses decision making-nya Allah? Di titik itu, Ibrahim bener-bener dipaksa melepas kebutuhan untuk memahami mekanisme kemenangan tersebut.
Ini penting karena langkah-langkah yang sebelumnya diperintahkan Allah dan dilakukan Ibrahim seolah sedang mengonstruksi masa depan melalui Ismail. Kalau Ismail mati sebelum punya keturunan, apalagi matinya di tangan Ibrahim sendiri, jadinya kontradiktif kan? Soalnya perintah penyembelihan itu sama aja dong kayak membongkar bangunan yang sedang disusun-Nya sendiri. Kalau Ibrahim nggak sopan, mungkin bakal mikir, "Allah mah aneh." Tapi kan enggak gitu ya?
Jadi situasinya, ada 2 identitas Ibrahim yang diuji di sini. Masing-masing identitas diuji melalui logika internalnya sendiri sampai batas ekstrem.
Pertama, identitas sebagai nabi, yang bahkan diuji melalui identitas ini sendiri. Maksudnya adalah, nabi yang harus menaati perintah Allah ini adalah nabi yang sama yang harus bercita-cita tinggi. Lantas bagaimana ketika ketaatan itu tampak mengancam kesinambungan proyek kenabian yang sedang beliau bangun?
Kedua, identitas sebagai ayah, yang juga diuji melalui identitas ini sendiri. Maksudnya adalah, ayah yang pengen anaknya selamat dengan menaati perintah Allah, adalah ayah yang sama juga yang pengen sang anak tetap hidup, atau setidaknya nggak mati di tangannya sendiri.
Bayangin pergolakan kognitif-emosional-spiritual Ibrahim di rentang waktu mimpi pertama, kedua, dan ketiga. Like.. peristiwa itu sebagai "mimpi" aja pun rasanya nggak mau deh keulang.
Terus Ibrahim ngapain? Ya udah, tetap laksanakan perintah sambil percaya bahwa janji Allah tetap benar (bahwa akan ada kelanjutan, peradaban, dsb.) dan cara terjadinya janji itu sepenuhnya bukan urusan dia.
Menariknya, nggak ada doa dengan pengharapan spesifik saat melaksanakan perintah menyembelih Ismail.
Kan waktu ninggalin Hajar dan Ismail di Bakkah, kita masih mendengar doa-doa yang spesifik ya, kayak minta keamanan, minta rezeki, minta hati manusia condong kepada mereka, dan minta dijauhkan dari penyembahan berhala. Artinya di sana Ibrahim masih mengartikulasikan harapan supaya Allah menjaga mereka dengan cara ini, ini, dan ini.
Tapi di kisah penyembelihan, Qur’an nggak mencantumkan monolog emosional kayak gitu. Ibrahim nggak lagi meminta skenario alternatif, nggak lagi menyebut outcome yang diharapkan, maupun mencoba merumuskan bentuk penyelamatan. Beliau bahkan nggak tahu lagi harus meminta bagaimana. Zero expectation. Beliau bener-bener berlepas diri dari ketergantungan terhadap makna yang dibangun dari objek itu. Penyerahan total. That's so crazy, man! 🤯
(aduh kenapa yah agak familiar dengan perasaan ini, dengan scalability yang lebih kecil sih wkwk that's why kayaknya aku bisa menulis ini dengan cukup baik.. karena bisa eskalasi konteksku kalo ditarik ke scope konteks Ibrahim yang lebih megah dan luhur)
Dan justru malah Ismail yang berdoa, "mudah-mudahan kau mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." Ah, betapa indahnya kalimat itu. Bayangin betapa nangis bangganya Ibrahim. Bangga pada Hajar yang telah mendidiknya dengan sangat baik hingga Ismail punya rasa hormat sedalam itu kepada ayahnya dan kepada Allah. Bangga pada Ismail bahwa risalah itu benar-benar sudah hidup di dalam diri anak ini.
TAPI JUGA JADI MAKIN SEDIH DAN NYESEK. Kek.. serius nih Ya Allah.. anak sesholeh ini, anak se-"udah jadi" ini justru harus dieliminasi dari rencana semegah itu, (apalahh aku nangis lagi), dan kalau ngedidik anak baru yang lain pun belum tentu nyampe kualitasnya segini, apalagi usia Ibrahim semakin tua juga (dan ingat ya, belum ada Ishaq juga saat itu).
To sum up..
Qur'an merangkum dinamika ini melalui dua pernyataan Ibrahim yang sangat mirip. Di surat Al-An'am : 78 (إِنِّى بَرِىٓءٌ مِّمَّا تُشْرِكُونَ) dan di surat Az-Zukhruf : 26 (إِنَّنِى بَرَآءٌ مِّمَّا تَعْبُدُونَ). Tapi kedua ayat itu pakai mufrodat yang berbeda untuk frasa "berlepas diri".
Ust. Nouman Ali Khan bilang, barii’ (بَرِىٓء) adalah kata sifat. Seseorang yang 'tidak terkait' disebut barii’ (بَرِىٓء). Sedangkan kata yang digunakan dalam Surat Az-Zukhruf adalah baraa' (بَرَآء). Dan baraa' (بَرَآء) dalam bahasa Arab bukan 'seseorang yang tidak terkait', tetapi gagasan 'ketidakterkaitan' itu sendiri. Levelnya udah berbeda. Mudahnya, di film Cars, alih-alih mengatakan, "I am really fast," Lightning McQueen justru mengatakan, "I am the speed itself."
Dalam satu kasus, Ibrahim berkata, "aku tidak terkait dengan itu". Di kesempatan lain, dia berkata, "aku adalah konsep 'ketidakterkaitan'/detachment/disassosiation itu sendiri." Nah kalau lihat timeline, barii' vs baraa' ini adalah before vs after beliau menjadi nabi.
Jadi setelah kenabian, seakan dirinya menjadi manifestasi dari "berlepas diri" itu sendiri. Maka, sejak itulah hidup Ibrahim sendiri dibentuk menjadi proses pelepasan terus-menerus. Cocok ya, dengan benang merah kisah beliau dalam Qur’an, mulai dari syirik (udah jelas lah ya harus berlepas diri dari itu mah), ayahnya, kaumnya, negerinya, istrinya, anaknya, kontrol atas rencananya, bahkan logika dan perasaannya sendiri. Setiap ujiannya adalah pendalaman makna baraa’ itu sendiri.
Di kemudian hari kita mengenal istilah al-wala wal-bara. Pada Ibrahim, dua-duanya berjalan beriringan. Semakin dalam bara'-nya, semakin total pula wala'-nya. Artinya kita nggak akan bisa berserah total untuk sesuatu, kalau kita belum bisa berlepas total dari sesuatu yang lain. Pantesan aja beliau disebut khalilullah karena hatinya telah dikosongkan dari tandingan-tandingan loyalitas itu.
Grandmaster Ginger di chess(dot)com mengatakan,
"A queen sacrifice means we have to bravely give up our most important piece in order to create some magic on the board."
Queen sacrifice sebagai brilliant move memang sangat sulit ditemukan. Wajar aja kalau di momen penyembelihan, Ibrahim pun nggak nemu kalkulasi sejauh itu dengan variabel-variabel yang juga masih se-hidden itu.
Namun magic on the board itu datang kemudian. Ismail diganti dengan sembelihan lain, Ishaq lahir, Ka'bah pun dibangun. Dan rangkaian al-wala' wal-bara' satu keluarga itu akhirnya diabadikan dalam satu rukun Islam yakni ibadah haji.
Siapa sangka, ribuan tahun kemudian, jutaan manusia masih berlari kecil mengikuti jejak Hajar, masih menyembelih hewan kurban untuk mengenang kepatuhan Ibrahim dan Ismail, dan masih menghadap Ka'bah yang berdiri di lembah yang dulunya tak bisa ditaruh ekspektasi apa-apa. Satu keluarga ini pun selalu disebut oleh milyaran manusia dalam sholat.
Masih sangat banyak yang bisa diperas dari cerita ini. Belum kubahas bagaimana perspektif Hajar dan Ismail sebagai subjek sekaligus objek ujian. Belum pula kubahas Ismail dan Ishaq sebagai dua operator dengan spesifikasi berbeda yang menjalani misi spesifik berbeda pula. Tapi ini dulu aja. Kekeliruan datangnya dari Giza, kesempurnaan dan kemegahan datangnya dari Allah.
— Giza, overwhelmed banget sama kemegahan kisah-kisah ini, gokil juga udah lama nggak processing sesuatu sekenceng ini. Thanks to seseorang yang menginspirasinya bermain catur. Also thanks to Hikaru Nakamura, streamer catur yang menyenangkan untuk ditonton.
Tadinya kukira komunikasi adalah kunci bagi setiap hubungan.
Tapi ternyata enggak. Kalau masih inget, dulu aku pernah nulis tentang hard convo, nah sekarang mau review hal-hal yang penting selain komunikasi.
Aku suka menganalogikan komunikasi sebagai jembatan yang berfungsi sebagai penghubung antara dua daratan. Kira-kira ada beberapa kunci agar keterhubungan tersebut dapat bekerja dengan baik:
Kedua daratan sama tingginya. Jika tidak sama, jembatannya harus effort lebih dalam pembangunannya (sekufu).
Kesediaan mengambil bagian untuk membangun jembatan dari ujung masing-masing agar bertemu di tengah (willingness).
Tidak membebani tugas "membangun jembatan" dari satu daratan saja (self awareness, respect, empathy)
Paham bahwa membangun jembatan adalah tugas bersama. Tidak merasa si paling lelah/paling berjasa. (pemahaman hak dan kewajiban).
Keselarasan tujuan, hal yang diperlukan, hal yang tidak relevan dengan tujuan tersebut (alignment, sense of urgency and severity).
Akhirnya aku rangkum sebagai alur seperti ini:
Trust → Respect → Willingness → Listening → Understanding → Empathy → Communication → Sense of Urgency and Severity → Alignment of Vision → Implementation and Feedback (Compassion)
*masih mentahan, kayanya akan direvisi seiring waktu, urutannya juga mungkin ada yang kurang tepat, step-nya mungkin ada yang perlu ditambah
Trust akan mudah diperoleh jika "kedua daratan punya tinggi yang sama" dalam arti sekufu (compatible).
Banyak tafsiran tentang kesekufuan tapi aku senang mengartikannya sebagai "sekufu resource-nya dan kemampuan memberdayakannya, serta sekufu framework".
Bahasan tentang framework akan panjang, tapi framework mengandung 3 hal: library, tools, rules. Ketiganya barulah diperoleh dari banyak hal: default sebagai manusia, parenting, pendidikan formal, kondisi finansial, pengalaman hidup, perjalanan spiritual, pertemanan, lingkungan, tontonan/bacaan, dsb.
Kenapa sekufu framework? Karena akan mempengaruhi bagaimana algoritma kehidupan seseorang berjalan. Kemana dia akan merujuk? Apa kerangka referensi/acuan yang akan dia gunakan berulang dalam setiap problem solving dan decision making?
Respect berawal dari pemahaman tentang identitas, nilai, dan posisi diri serta orang lain (self awareness). Dari respect akan melahirkan kesediaan (willingness) untuk memahami perannya dan melakukan job desk-nya. Dia nggak akan menuntut orang lain karena sadar hak dan kewajibannya.
Empati pernah kubahas di sini. Intinya, "feel deeply, think accurately, act wisely." Dari empati, kita akan bisa membaca peta realita tentang "apa yang penting dan apa yang fatal bagi orang lain?" dengan kata lain sense of urgency and severity. Outcome-nya, kita nggak akan menyepelekan hal yang penting, dan kita nggak akan terus menerus melakukan hal fatal.
Komunikasi bukan sekedar menyampaikan melainkan bagaimana pesan dapat tersampaikan dengan baik. Kemudian implementasi merupakan bentuk menghargai semua proses membangun jembatan itu. Perlu compassion untuk melakukan implementasi terhadap "pesan" yang dikomunikasikan.
Tapi kadang, ada orang yang memelihara kemalasan emosional maupun intelektual untuk sekedar memahami apa perannya, apa posisi dirinya dan orang lain, mana yang penting, mana yang fatal, dsb. Makanya kadang-kadang hubungan nggak berjalan mulus. Bahkan sejak tahap willingness, listening, dan understanding aja orang masih banyak yang remed.
Orang juga sering "mengkambinghitamkan" ego karena kurangnya kosakata tentang hubungan antar manusia. Nope, bagi orang yang sudah tuntas hal-hal tadi, ego juga tetap diperlukan untuk menghormati diri mereka sendiri.
Tapi ada orang yang belum numbuhin willingness, belum coba understanding, belum listening comprehensive, eh malah nuntut egonya dikasih makan. Kan ngelunjak ya?
Default manusia adalah makhluk pembelajar. Jadi aneh kalo ada manusia yang enggan menumbuhkan kesediaan untuk "iqra" terhadap diri dan orang lain. Mending jadi congcorang aja. Intinya, komunikasi itu penting, tapi banyak hal penting lainnya yang perlu dipenuhi agar komunikasi berjalan dengan baik.
— Giza, nabung ilmu untuk kehidupan hari ini bersama orang-orang tersayang
"Allah menguji dirimu melalui dirimu,"
begitulah kata para sufi. Banyak orang merasa diuji oleh keadaan, padahal sebenarnya didorong oleh bagian dirinya sendiri yang belum disadari. Kalau kata Carl Jung mah, "until you make the unconscious conscious, it will direct your life and you will call it fate."
Beliau juga bilang, "everything that irritates us about others can lead us to an understanding of ourselves." Maksudnya, reaksi kita adalah cermin dari diri kita, maka lagi-lagi, ujian itu sebenarnya datangnya dari dalam.
Anw, pernah nggak sih mengalami itu? Misal mempercayakan satu sisi dirimu untuk mengambil keputusan (karena kamu tau dia paling rasional) meski di saat yang sama kamu juga tau, ada sisi lain yang harus dikorbankan untuk itu?
Menurutku, bulan April jadi salah satu bulan paling gedebag-gedebug karena beberapa identitas di dalam diriku saling nantangin gitu satu sama lain. Setiap hari di bulan itu aku habiskan untuk mendiferensiasi banyak hal, mulai dari emosi, persepsi, pikiran, sebab-akibat, perilaku, implikasi, dan lainnya. Konyolnya aku selalu memenangkan sisi rasionalku di atas sisi lainnya. Diriku yang X hampir mengambil alih semua proses pengambilan keputusan, sampai-sampai aku yang Y, Z, dan lainnya cuma bisa mojok. Boro-boro "didengar", kayaknya sebelum ngomong pun dibungkam.
Cuma rasanya jadi menyebalkan gitu karena hari-hari jadi berjalan begitu dingin dan nonchalant 😐 wkwk. Rasanya aneh, kayak bukan aku.
Akhirnya baru hari-hari ini aku mau mencoba mengizinkan sisi Y, Z, dan lainnya berbicara. Awalnya sulit menemukan "bahasa" untuk itu karena tadinya sengaja kubiarkan implisit, jauh di lapisan bawah sadar yang lebih dalam. Aku kira dengan bersikap seolah nggak terjadi apa-apa bakalan aman aja. Ternyata enggak, hahaha. Tau dari mana? Hal itu udah kebawa mimpi lebih dari 3x dan tiap bangun selalu bikin nyesek dan sedih, maka itu artinya memang belum beres di alam bawah sadar.
Tentu aja prosesnya pun nggak mudah buat sampai ketemu di akurasi dan relatability 100%. Aku terus menerus merevisi "versi diriku" in present, memastikan ini identitasku yang mana yang lagi bicara, mengoreksi kembali stance-ku sebagai apa dan di pihak mana ketika memandang dan membuat penilaian. Jadi bahkan di satu kasus tuh aku bisa punya beberapa pendapat, jika ini diri yang X maka dia bakalan menyikapi begini, tapi menurut diri yang Y dan Z sih lebih ke begini.
Aku bersyukur manusia itu makhluk yang diberi kemampuan untuk menamai sesuatu dan menjadikannya eksplisit. Karena tanpa itu, semua yang terjadi di dalam tadi cuma bakal jadi satu gumpalan yang nggak jelas. Selain itu, aku jadi banyak membaca (lagi) baik itu konteks nyata di manusia lain maupun fiksi. Untungnya Allah juga ciptakan pena dan manusia-manusia baik yang mau mengabadikan cerita hidupnya untuk jadi sampel tambahan dalam proses iqra-ku.
Oleh karenanya, aku mau bangga sedikit dengan diriku karena selalu melibatkan Allah dalam prosesnya, terlepas ideal ataupun tidak. Aku cukup puas dengan keputusan yang diambil oleh "diri rasionalku" di awal. Aku senang bahwa diri rasionalku yang excited itu membuat diri-diriku yang lainnya tidak terluka.
Masalahnya ini nggak efektif dalam jangka panjang. Bagaimanapun juga, bagian diri yang nggak didengar itu bisa bangkit dan berteriak, "SAYA AKAN LAWAN!" 😡😤 wkwkwk. Jadi sebelum bom waktu itu tiba, aku mesti beresin. Huft.. inilah gilirannya.
Mendiferensiasi tidak pernah sesulit ini sebelumnya. Normalnya kita berharap identitas-identitas di dalam diri kita tuh nggak bertentangan, kan? Dan biasanya, pada umumnya/pada dasarnya kita jarang menempelkan sesuatu sebagai identitas kalau itu nantinya akan bertentangan dengan identitas kita yang lain. Kita tau lah, mana yang labelnya secara moral/ethics bertentangan.
In reality, konflik tuh bisa muncul kemudian (bukan di level label). I mean, bukan identitasnya yang bertentangan, tapi tuntutan nyata dari masing-masing identitas itu bisa saling tarik menarik. Kalau secara nilai mah sebenernya nggak ada yang salah, bahkan idealnya bisa saling mendukung antar identitas. Cuma pasti ada aja situasi di mana semua identitas nggak bisa dieksekusi bersamaan tanpa gesekan. Soalnya semuanya sama-sama bermakna dan kita nggak bisa menjalankannya sekaligus tanpa kehilangan sesuatu.
Aku telah mengizinkan diriku menangis dan berduka untuk tidak didengarnya identitas diriku yang itu. Aku telah mengizinkan diriku yang itu berbicara, meski awalnya terbata-bata. Ya, aku terluka, sebenarnya. Aku berduka.
Jadi selama ini aku bukannya nggak punya perasaan. Aku hanya terlalu cepat mengubah itu jadi sesuatu yang bisa kupahami. Atau loncat dan berpegang ke identitas lain yang lebih less sensitive. Kupikir, kalo udah bisa dijelaskan, maka perasaan itu nggak perlu dirasakan terlalu lama. Atau, kalau aku memilih menjadi diri yang X, maka problem yang mungkin muncul di identitasku yang Y maupun Z nggak akan ada. Padahal kan nggak gitu ya?
Terus gimana?
Waktu dan konteks main di sini. Emang ada momen satu bagian tertentu perlu maju sedikit ke depan, karena situasinya memang menuntut itu. Meanwhile bagian lain (yang sama-sama bermakna) harus rela berada sedikit di belakang. Gitu kan ya? Implikasi dari menjalani satu bagian dari diri kita secara penuh adalah hampir selalu nggak menjalani alias memberhentikan bagian lain dengan cara yang sama pada saat yang sama.
Re-framingku di sini, bagian yang sempat tidak kudengar tadi, ternyata emang nggak harus hilang. Kemarin salah treat diri sendiri sebab langsung mengingkari bagian itu. Kalo sekarang mah, aku sedang memilihkan waktu untuknya saja. Aku sedang memberinya bahasa sembari dia menunggu giliran bicara. Perlahan konteks dan tuntutan pun berubah, waktu pun berjalan, dan aku yakin akan lebih mampu menempatkan mereka sesuai porsi.
Maha Suci Allah yang begitu kompleks menciptakan jiwa dan otak manusia. Yang menanamkan begitu banyak lapisan dalam satu diri. Yang menjadikan hati mampu merasakan sekaligus menimbang. Yang mempertemukan antara rasa yang rapuh dan akal yang ingin rapi. Yang membiarkan keduanya bertemu, bertabrakan, lalu belajar saling mengenali.
Maha Suci Allah yang menjadikan bahkan kebingungan sebagai jalan, dan keterlambatan memahami sebagai bagian dari proses pulang. Yang memberikan fitrah pada manusia, agar di setiap kemungkinan dan setiap identitas yang kita jalani, kita tetap punya kesempatan yang sama untuk memilih Dia.
— Giza, amazed dengan tanda-tanda kebesaran Allah dalam diri dan otak manusia
One of the hardest adult lessons is that you still have to show up, no matter what you're carrying.
Do it scared. Do it unsure. Just make sure you do something. Get uncomfortable. Comfort is the enemy of growth. Do it sad. Do it grieving. Do it exhausted. Life doesn't pause to spare you, it keeps moving, so you keep moving too.
Just remember, depression can't hit a moving target, so let's go on a side quest.
Hikmah jalan-jalan hari ini

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
When you are a woman who, in simply being herself, modest, composed, and self-contained, can walk into a room and draw attention without saying a word, it will unsettle those who have never taken the time to find themselves. Your presence becomes a mirror. And not everyone is ready to see themselves.
Women like you don't chase attention, yet it arrives. Not because you're performing, but because you're aligned. And that kind of quiet confidence has a way of exposing what's unhealed in others.
In these pages, you feel seen. For the times you remained yourself, even when it made others uncomfortable. There's nothing wrong with you. You're simply not meant to be understood by everyone. And that's the point. Not everyone who has access to you should have access to your inner world.
Ketika kamu adalah seorang wanita yang, hanya dengan menjadi dirinya sendiri—sederhana, tenang, dan terkendali—bisa masuk ke sebuah ruangan dan menarik perhatian tanpa mengucapkan sepatah kata pun, itu akan membuat gelisah mereka yang belum pernah meluangkan waktu untuk menemukan diri mereka sendiri. Kehadiranmu menjadi sebuah cermin. Dan tidak semua orang siap untuk melihat diri mereka sendiri.
Wanita sepertimu tidak mengejar perhatian, namun perhatian itu datang. Bukan karena kamu sedang tampil atau berpura-pura, tetapi karena kamu selaras dengan dirimu sendiri. Dan kepercayaan diri yang tenang seperti itu memiliki cara untuk mengungkap hal-hal yang belum sembuh pada orang lain.
Di halaman-halaman ini, kamu merasa dilihat. Untuk saat-saat ketika kamu tetap menjadi dirimu sendiri, bahkan ketika itu membuat orang lain merasa tidak nyaman. Tidak ada yang salah dengan dirimu. Kamu hanya memang tidak ditakdirkan untuk dipahami oleh semua orang. Tidak semua orang yang memiliki akses kepadamu sebagaimana dirimu memiliki akses ke dunia batinmu.
— Eleni Sophia, dalam The Art of Being Preserved
Mari berterima kasih atas batas yang kita tetapkan agar selamat—bahkan, terutama—dari satu sama lain. Sebab jika batas melebur, yang tak diundang pun mudah tinggal.
Seperti rayap dalam kayu yang membuatnya tak mampu menopang cita-cita. Cukup untuk meruntuhkan. Seperti lubang di lambung kapal yang membuatnya tak mampu berlabuh di tujuan. Cukup untuk menenggelamkan. Seperti karat pada besi yang menggerogoti bulatnya tekad. Cukup untuk melemahkan. Seperti benalu pada pohon yang menyerap habis sumber daya. Cukup untuk membuatnya mati konyol di tengah jalan.
Kesemuanya jelas bukan proses yang kita kehendaki, sebab aku dan kamu tampaknya lebih dari siap melihat satu sama lain memenangkan kehidupan dan kematian. Terima kasih telah bercita-cita tinggi sehingga kita tidak jatuh dalam kehinaan. Terima kasih telah memandang ketetapan Tuhan dengan cara yang baik sehingga kita dapat melangkah dengan ketenangan.
Merdekalah—aku tahu berlepas diri bukan hal yang baru bagi kita. Berkaryalah—aku tahu kita masih dengan sukacita melakukannya hingga hari ini. Suarakanlah—dengan "bahasa" terbaik yang kita miliki. Berkaryalah, lagi—aku tahu hal-hal yang tak diundang tadi tidak dapat menghentikan kita.
Semoga dedikasi kita pada Sang Kuasa bersemi di setiap musim. Semoga Allah senantiasa murnikan masing-masing dari kita. Semoga Allah luruskan cara kita merasa, berpikir, dan berlaku. Semoga Allah menambahkan kasih sayang yang berkelimpahan.
— Giza, dengan hormat dan terima kasih
Never underestimate Allah's ability to numb your heart towards something that was once very important to you.
Pada hari yang lebih tenang dan banyak hal sudah terjawab nanti, aku akan mengingat masa ketika aku pernah sebingung saat ini. Aku tidak di mana-mana dan tidak sedang menghadapkan diriku ke mana-mana.
Persimpangan itu masih jauh. Kupikir itulah kenapa begitu sulit mencoba menyelesaikan pertanyaan yang waktunya belum tiba. Sekarang mana yang benar dan mana yang hanya terasa benar? Gegabahnya aku. Terlalu cepat ingin "benar" sebelum punya cukup pengalaman untuk tahu dan merasakan apa itu "benar" buatku.
Katanya, the beauty of "not being where you want to be" is that you get to enjoy the process of becoming.
Kita selalu menghadap kepada sesuatu (seperti cita-cita atau seseorang) sambil berpikir ada jarak yang jauh antara kita dengan hal tersebut. Jarak itu kita perlakukan sebagai sesuatu yang ingin sekali kita pangkas dalam sekali langkah. Padahal, Tuhan sudah menjadikan proses, luka, pertumbuhan, cinta, duka, sukacita, dan beribu hal baik lainnya sebagai pengisinya, yang hanya dengan hal-hal itulah kita dibentuk menjadi "orang yang kita sendiri harapkan".
Menyadari hal tersebut, hatiku seperti dipelankan oleh sesuatu yang tidak bisa kutolak. Aku sudah terbiasa dengan gagasan "berlepas diri", namun kali ini mekanismenya sedikit berbeda. Beberapa rasa yang pernah aku muat di dalam dada, berangsur-angsur diambil oleh Sang Kuasa, seperti tanpa usaha harapan itu terlepas dari jiwa. Untuk pertama kalinya, aku tidak ingin merebutnya kembali ataupun mempertahankannya. Cukup, aku sudah selesai mengambil pelajarannya.
Tampaknya tidak semua yang pernah terasa penting ditakdirkan untuk terus hidup di hati yang sama. Seperti seseorang yang diam-diam mematikan lampu di ruangan yang sudah tidak dipakai. Kendati demikian, sesuatu bisa tetap ada di kepala meski tidak lagi pulang ke dada.
Begitu lembut sekaligus memaksa, dalam satu waktu. Aku tidak diperkenankan merasa hampa saat sesuatu diambil dariku. Maha Suci Dia, yang telah menunda hal yang belum relevan serta menjauhkan hal yang tidak akan pernah relevan, sambil diam-diam membekaliku berjalan dengan hati yang baru.
Hari itu akan terasa jauh, hampir seperti mimpi, yang juga jadi bukti bahwa aku pernah bertahan di tempat yang dulu terasa aneh untuk dilalui. Mudah-mudahan tidak ada kesia-siaan saat aku belajar hidup dengan hati penuh, belajar menilai dengan mata teduh, belajar membaca dengan pandangan yang lebih dalam, belajar melihat dengan medan pandang yang lebih luas, dan belajar menghargai dengan jiwa sungguh-sungguh. Sebab aku tahu, aku ingin dilihat dengan cara seperti itu pula oleh manusia lainnya. Dan yang aku tahu, Dia Maha Menghargai.
— Giza, tinjauan berkala mengenai tugas perkembangannya
Lately, I feel like I've lost some of my empathy. Maybe because I've already made it through it. And now this quote hits differently:
Nobody talks about the stage of grief where you can't even talk about it to anyone anymore because everyone expects you to be getting over it but it still runs through your mind everyday.
That stage is real, even if it doesn't get named much.
People tend to talk about grief like it follows a neat path (like the Kübler-Ross model). In reality, it's messier and way less visible. At the beginning, everyone can see it. They ask about it, help you carry it, and sit with you while you struggle under it. The weight is obvious. But over time, people stop noticing. To them, it looks like you've adjusted. They assume the weight must be gone.
The outside world has moved on, while inside, nothing has truly settled. It gets heavy when the world goes quiet, as if your grief has an expiration date. So you end up carrying it quietly. You don't want to burden others or repeat yourself. And the grief becomes more internal and integrated into your life in a deeper way.
But you still need "somewhere" for it to go. Keeping it completely contained tends to make it louder over time, not quieter. That "somewhere" doesn't have to be the same kind of support you needed early on. It could be one person who understands this isn't something you just finished. Writing it out, even if no one reads it. Or even just acknowledging it to yourself instead of trying to push it down.
— Giza, living with the soft ruins of what once overwhelmed her
Salam kenal mba giza. Mba giza memang jarang nulis tentang pernikahan dan jodoh ya?
Salam kenal. Hehehehehe. Iya jarang, belum nikah soalnya. Belum "mastery" soal itu jadi takut sotoy wkwk. Kalau mau mengilmui pernikahan mah banyak lah influencer instagram juga. Jangan ke Giza, Giza mah masih kecil 😆🤏🏻
Jadi ada sedikit pemikiran lain soal ini. Agak ironi dikit kalau liat orang-orang berlomba-lomba mengilmui pernikahan tapi tidak sebegitunya dengan mengilmui kematian 😅 (ini mah ga maksud nyinggung siapa-siapa, suwer ✌🏻)
Menurut hemat Giza mah, selama masih fokus pendidikan/karier, kayaknya "lawan jenis" tuh variabel yang paling mungkin dieliminasi deh dari pikiran. Mikirin soal nikah dari jauh hari sih gapapa. Ga ada yang salah. Tapi buat serius banget mikirinnya mah entar aja, kalau emang realitas pernikahan itu udah di depan mata banget. Iya sih podcast-podcast tentang nikah dan rumah tangga bertebaran di mana-mana, tapi alangkah baiknya perhatiin lagi konteks hidup kita hari ini dan tinjau relevansinya. Kalau belum relevan, yaudah tar aja.
Omong-omong, pas baca pertanyaan ini jadi keinget anak SMP nulis cerita wattpad tentang anak kuliahan. Blunder abis wkwk
Mungkin bakal gitu juga kalo Giza nulis tentang nikah hehehe. Yah, gitu deh. Belum waktunya mungkin 😅
Di sisi lain lagi, ada beberapa pertanyaan tentang hal-hal perumahtangaan pula yang masuk ke Giza, yang sifatnya studi kasus (what if blablabla, harus gimana, dll.). Jujur ngga punya kapasitas buat menjawabnya jadi didiemin aja tuh pertanyaannya 😭🙏🏻 maaf ya para budiman dan budigirl yang ngga dijawab. Ga maksud sombong, suwer 🙏🏻
Di sisi lain, kalo mau tau cara Giza ngebedah kisah nabi dan sahabat nabi dari point of view yang super seru (menurut guwe sih serunya juga wkwk) dan belum pernah Giza bahas di mana-mana, boleh gas dm aja hehehe. Giza suka berbagi excitement terutama tentang hal-hal yang dia cukup mastery.
Out of topic dikit, Giza juga pernah nangis waktu presentasi proposal tesis karena takut sotoy. Literally. Kayak, "sumpeh gue tuh belum mastery topik ini, jujur ini baru banget." Dosennya sampai ngira Giza kenapa-kenapa padahal cuma takut sotoy wkwk.
— Giza, dan takut sotoynya

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Kak, tulisanmu bagus baguus banget. MasyaAllah. Penasaran buku apa aja yang udah kakak baca. Pasti banyaak banget. Penasaran juga mana buku yang jadi favorit kakaknya😅
Ada beberapa pertanyaan yang masuk, yang juga kaitannya dengan buku bacaan/penulis favorit. Ga pernah sengaja nyempetin jawab karena bingung.
Jujurly, nggak punya jawaban exact soalnya dengan kehidupan Giza yang dinamis ini (ea) buku-buku yang terasa favorit tuh sebenernya lebih kepada "dibaca dan ditemukan di momentum kehidupan yang tepat".
Tapi biarkan aku coba menjawabnya berdasarkan state kehidupanku.
Di usia sekolah, gengsi ngaku hobi baca soalnya terlalu miskin untuk beli buku. Takut ditanya, "buku favoritmu apa?" soalnya nggak punya buku yang bener-bener beli sendiri, ketika temen-temen SMP saat itu lagi hype buku-buku Tere Liye. Jadi malu dan insecure. But deep inside, si guwe teh ga bisa boong, ternyata emang demen baca. Soalnya kan kirain tuh dulu, kalo ngaku hobi baca harus punya buku favorit gitu lah. Padahal waktu itu tuh udah suka puisi-puisi lama dari sastrawan Indonesia dan nemu bacaan lama di perpus sekolah. Terus kalo di usia SMA banyaknya justru nonton kajian (Ust. Nouman Ali Khan dan Ust. Omar Suleiman).
Di usia 18-20, lagi bodoh-bodohnya soal percintaan (yah dengan kognitifku yang segitu saat itu), aku suka baca-baca bukunya Kiki Mulki. Buku favoritku: Akhir yang Tidak Kuharap Selesai dengan Membenci. Buku ini udah aku rekomendasikan ke banyak banget orang yang sedang di fase melepaskan/perpisahan/move on/detachment. Pemetaan ke "titik pojok" tiap perasaannya tuh akurat coy! Gokil emang penulisnya.
Banyak fiksi yang kuselesaikan di usia ini, terutama karyanya Renita Nozaria (Noir, Noceur, dsb.) Dulu mah banyak banget fiksi di wattpad yang bagus-bagus. Oh ya, beberapa webtoon juga aku ikutin banget di usia ini. (Masih zaman ga ya webtoon?). Di usia ini juga mulai jadi pembaca quora dan tumblr.
Di usia 20-22, lagi suka-sukanya ngepretelin tentang takdir. Buku terbaik yang kubaca adalah bukunya Ibnu Athaillah - Mengapa Harus Berserah (di terbitan lain, judulnya Istirahatkan Dirimu dari Kesibukan Duniawi). Dulu sebelum ada penerbit Indonesia yang ngecetak jadi buku, aku nemu pdf-nya yang masih sangat berantakan. Abis itu aku rapiin manual dan highlight bagian-bagian yang ngena. In case ada yang mau pdf hasil highlight-ku, dm aja ya! Di fase ini juga banyak baca buku Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim. Juga baca Tahafut al-Falasifah by Al-Ghazali, serta counter-nya, Tahafut at-Tahafut by Ibnu Rusydi.
Masih di usia yang sama, lagi suka-sukanya topik akhir zaman. Akhirnya ngikutin ceramahnya Syekh Imran Hosein plus beli buku-bukunya (banyak banget euy judulnya, recommended semua kalo emang suka topik berat dan geopolitik). Banyaknya sih mind blowing dan ningkatin awareness tentang ujian dan konspirasi akhir zaman. Walau jujur aku gak begitu punya scaffolding yang baik untuk memahami topik geopolitik. Masih kayak anak-anak gitu, ngeliatnya yang baik siapa, yang jahat siapa wkwk. Padahal kan kalo ngomongin politik mah semuanya juga berkepentingan yah. Gitu lah, bacanya mah suka. Tapi sharing-nya mah belum berani.
Di usia 22-25 kayak sekarang, udah beli-beli buku. Tapi banyaknya sih buku-buku kenegaraan wkwk.
Beberapa list buku lain yang kuselesaikan:
Cosmos by Carl Sagan
Man's Search For Meaning by Viktor Frankl
Bincang Akhlak, Sobat Sakit, by Ust. Jek (Takdir Alisyahbana Ridwan)
Malaikat di Sisi Kita by Ust. Omar Suleiman
Tafsir Waktu by Ust. Nouman Ali Khan
Even Angel Ask by Prof. Jeffrey Lang
Buku tentang Khalid bin Walid dan Amr bin Ash (lupa siapa yang nulis, orang luar)
Di samping itu, kalo gabut paling baca-baca jurnal penelitian orang. Kalo ada satu buku paling recommended nggak kenal usia dan fase, rekomendasiku adalah: Makanya Mikir oleh Cania Citta dan Abigail Limuria. Untuk cinta-cintaan di fase ini, aku merekomendasikan buku Heidi Priebe - Letting You Go. Dan satu lagi yang cukup banyak mengubah hidup, suka baca Tafsir Qur'an by Abul A'la al-Maududi.
Di usia sekarang, lagi suka (maniak, literally maniak) baca buku-bukunya Carl Gustav Jung. Tapi nyicil sih bacanya juga, sesuai topik yang lagi aku kepoin/concern-in. Kebetulan banyak banget tulisan beliau yang relevan dengan kekepoanku. Ada lagi tulisan yang sering kubaca, tulisannya Pak Senai Demirci di Medium, dan Jun Mark Patilan (penulis Filipina). Dan lagi suka baca tulisan reddit (ini serius, beberapa kali bisa begadang sampe subuh cuma buat muasin rasa penasaran soal topik tertentu).
Jawabannya pasti nggak memuaskan dan nggak sesuai ekspektasi, karena sebenarnya yang dibacanya nggak selalu buku 😅 jadi kalo di aku mekanisme suka membaca buku tuh, punya kekepoan/pertanyaan/topik yang dimaniakin dulu, baru nyari buku yang relevan.
Nah kalo sekarang mau mulai nyoba sering-sering baca fiksi lagi karena udah kenyang oleh buku self development dan butuh hiburan.
Top 3 recommended:
Makanya Mikir - Cania, Abigail
Mengapa Harus Berserah - Ibnu Athaillah
Tafsir Waktu - Nouman Ali Khan
— Giza dan beberapa bacaannya
Tutup Pintu
Kalau "ingin dilihat" itu awal mula cinta, aku tidak ingin dilihat kamu. Kalau "ingin melihat" itu awal dari rindu, aku tidak sekalipun ingin melihat kamu. Cinta dan rindu itu hanya milik Yang Layak. Kamu siapa?
Kalau "ingin dipahami" itu awal mula kesepian, maka aku cuma ingin ditemani oleh Allah sebab hanya Dia yang paling paham aku. Kalau "ingin memahami" itu awal dari pengenalan yang baik, maka aku ingin memahami-Nya sebagaimana Dia memperkenalkan diri. Dialah Tuanku, satu-satunya yang layak dilayani.
Kalau "ingin didengar" itu ungkapan dari rasa butuh maka aku hanya butuh Dia. Kalau "ingin mendengar" itu berarti penurunan ego, maka di hadapan Yang Maha Tinggi egoku tak punya arti. Sebab dialah hakimku, satu-satunya yang layak didengar dan dimuliakan.
Sekarang aku cuma ingin dilihat Allah dan melihat-lihat kekuasaan-Nya dalam setiap naik turunnya perjalananku. Sekarang aku cuma ingin namanya menjalar di daun telingaku. Supaya kebijaksanaan-Nya terpahat di batang otakku, kebaikan-Nya hinggap di cabang daya ingatku, dan kasihnya menjadi buah di bibirku.
Supaya terkesan Dia padaku.
Membaca ayat-ayat-Nya adalah sebaik-baik kita melihat. Maka tak ada lagi tempat bagi siapapun yang hendak menghalangi pemandangan itu. Jadi beberapa pintu memang harus ditutup agar kita tidak melihat, tidak dilihat, tidak mendengar, dan tidak didengar oleh orang yang tak perlu tahu kita tetap baik-baik saja tanpanya sebab Allah will take care of us. Karena, seperti yang Nabi Ibrahim katakan pada Azar, "sungguh Tuhanku Baik sekali padaku," sementara tak ada yang baik dari manusia kecuali Allah yang menurunkan baginya kebaikan.
Tersadar makna "iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'iin" bahwa sebelum bilang:
"Ya Allah, lihat aku sekarang, hehe!"
"Ya Allah, dengerin ya aku mau cerita."
"Ya Allah, Engkau ngerti kan isi hatiku?"
Pastiin udah bilang:
"Oh, ini ya maksud Engkau? Kalau gitu, mau-Mu aku gimana? Aku ikut mau-Mu sekarang, perasaanku belakangan."
"Maaf ya sempet salah paham sama Engkau. Janji bakal terus memperbarui pemahaman tentang Engkau."
"Ya Allah, aku sok-sokan banget ya menggurui Engkau harusnya begini begitu. Aku pasti bodoh banget di mata-Mu."
"Pengaturanmu menyelamatkanku, terima kasih Ya Allah."
"Aku melihat langit dan aku temukan kerendahan hati."
"Aku senang deh jadi milik-Mu. Kalau boleh ngulang hidup sekali lagi, aku mau jadi hamba-Mu lagi!"
"Sebuah kehormatan dipilih Engkau menjadi khalifah di bumi."
"Engkau senang dan ridha kah dengan ini? Kalau iya, aku bakal mengulanginya lagi besok dan seterusnya sampai ruhku tiba di sisi-Mu."
"Beneran cuma Engkau yang paling layak atas semua jerih payah ini. Maaf pernah salah menuju. Akan kulakukan yang lebih baik dan memuaskan daripada kepada yang salah tuju kemarin!"
Kini hidup jadi serangkaian kompetisi tentang siapa yang paling mengesankan-Nya. Maka menghambalah dengan versi terbaik diri kita. Untuk mengetahui versi terbaik itu, membaca ayat-ayat Allah dalam diri menjadi wajib (re: mengenali potensi). Pahami bahwa Allah menitipkan sesuatu dalam diri yang cuma kita yang bisa mengolahnya. Pahami keinginan Allah atas diri kita serta sadari Dia memperlakukan kita jauh lebih baik dari siapapun.
Yang Maha Melihat takkan diam saja lihat kita berjerih payah. Barangkali Dia memang sudah siapkan tempat di sisi-Nya atas nama kita, oleh sebab kita cuma ingin dilihat oleh-Nya. Barangkali Dia juga cuma ingin tempat itu diisi oleh kita. Jadi jangan disia-siakan ya, kesempatan itu?
— Giza. Kamu siapa, memangnya?