Pada suatu waktu, aku pernah khawatir, apakah aku salah memahami arti pasangan hidup?
Bukan karena sedang ada masalah besar, bukan karena rumah tanggaku buruk. Justru semuanya berjalan cukup baik. Kami punya anak-anak yang ganteng dan cantik, rumah sederhana yang hangat, obrolan sehari-hari, pertengkaran kecil yang wajar, lalu damai lagi seperti biasa. Tidak ada drama besar. Tidak ada luka yang layak diceritakan panjang lebar.
Namun kadang, kegelisahan itu datang diam-diam. Misalnya saat melihat pasangan lain yang terlihat begitu serasi. Yang sama-sama suka menulis, sama-sama suka membaca, sama-sama suka olahraga, sama-sama hobi jalan-jalan, sama-sama nyambung di banyak hal, dan kesamaan lainnya. Mereka seperti dua potongan puzzle yang dibuat dari kotak yang sama.
Lantas, bagaimana denganku?
Aku bisa duduk lama di depan layar hanya untuk memperbaiki satu paragraf yang rasanya belum pas. Istriku tidak terlalu mengerti kenapa seseorang bisa memikirkan satu kalimat selama itu.
Aku suka makanan pedas, dia tidak.
Aku lebih betah di rumah, dia justru suka senang kalo diajak keluar.
Aku berpikir berkali-kali sebelum membeli sesuatu, dia lebih mudah menikmati keinginan kecil saat itu juga.
Aku suka olahraga, dia tidak terlalu.
Kalau dihitung-hitung, kesamaan kami memang sedikit sekali.
Aku pernah bertanya dalam hati: apa kami pasangan yang cocok?
Mengapa dua orang yang memiliki banyak perbedaan bisa memilih hidup bersama?
Apa kesamaan bukan hal utama? Atau aku saja yang terlalu sering membandingkan hidupku dengan hidup orang lain?
Sejujurnya, jelek-jelek begini, dulu aku juga pernah punya bayangan tentang sosok ideal. Perempuan yang auranya hidup, menarik diajak bicara, punya dunia sendiri yang membuat penasaran. Ia seperti tokoh cerita yang membuatku ingin terus membuka halaman berikutnya. Ya, semacam tokoh Kugy dalam cerita Perahu Kertas, setidaknya begitu bayanganku waktu itu.
Dan sejujurnya, aku selalu merasa tidak cukup level untuk perempuan seperti itu.
Parasku di bawah rata-rata, hidup biasa saja, keberanian pun setengah-setengah. Karena itu, kekaguman akhirnya cuma berhenti jadi kagum. Dilihat dari jauh, lalu disimpan diam-diam. Aku pernah mengira, kalau suatu hari aku menikah, mungkin dengan tipe seperti itu. Nyatanya tidak.
Aku dulu mengira pasangan terbaik adalah orang yang membuat hati berdebar. Yang punya banyak kesamaan. Yang kalau difoto terlihat serasi dari luar. Yang kalau dilihat orang lain tampak seperti pasangan impian.
Padahal setelah hidup benar-benar dijalani, aku mulai melihat hal lain.
Saat aku pulang dengan kepala penat, ada istriku yang tetap menungguku.
Saat aku banyak pikiran, ada istriku yang tetap mengurus rumah tanpa banyak pidato. Saat aku gagal di beberapa hal, ada istriku yang tetap bersikap biasa, seolah aku masih cukup.
Saat aku ingin diam, dia tidak selalu menuntut penjelasan.
Hal-hal seperti itu memang tidak romantis. Tidak mudah dipamerkan. Tidak akan terlihat keren di mata orang lain. Tapi, justru itulah yang menopang hidup.
Aku sadar, selama ini aku terlalu sibuk menghitung kesamaan yang tidak kami punya, sampai lupa mensyukuri ketenangan yang aku punya.
Kami memang tidak sama dalam banyak hal. Selera makanan berbeda. Cara menikmati hidup berbeda. Cara menghabiskan waktu pun sering berbeda. Tapi anehnya, kami tetap ingin pulang ke rumah yang sama.
Mungkin memang begitu pasangan hidup. Bukan dua orang yang identik. Bukan dua orang yang cocok di semua hal. Bukan dua orang yang selalu paham tanpa bicara.
Kadang hanya dua orang yang sama-sama lelah, lalu memilih saling tinggal.
Dan setelah semua pencarian, aku sadar, ternyata cukup itu kadang lebih berharga daripada sempurna.