Kau dan Hal-hal di Antara Itu
Penghujung Juni, Ketika Hujan tak Lagi Tabah
Hmm, aku tak tahu harus memulainya dari mana, tetapi barangkali aku akan membuat surat ini seklise mungkin, agar tak perlu upaya lebih untuk kau paham.
Juni sudah berakhir, hujan kemarin sore menyirami desaku dengan baik. Matahari masih bersinar, angin masih mengarak awan, dan kabut masih gemar datang di pagi hari. Cuaca, seharusnya topik yang menarik, kan?
Kabarku, tentu tak baik-baik saja. Namun bukan berarti buruk.
Aku masih rutin meminum obat, hanya saja tak lagi menulis jurnal harian, tak lagi membaca puisi, tak lagi memotret langit, tak lagi bicara tentang hal yang kusuka, dan tak lagi merindukanmu.
Kadang aku bertanya, apakah berhenti mencintai berarti berhenti merasakan emosi lain?
Sejak aku memusnahkan ingatan yang membuatku terluka, ingatan yang membuatku bahagia turut membuih. Termasuk ingatan tentangmu, ia tak meletakkan apapun lagi untuk membuatku merasa hidup.
Iya, Mas. Berhenti mencintaimu, menyisakan ruang hampa yang senyap di dadaku. Dahulu kupikir hampa ada rasa kosong karena tak lagi bersama, tetapi ternyata ia adalah apa-apa yang tak lagi memiliki makna dan rasa.
Aku ingin mencintaimu lagi, sekali lagi, atau bahkan ribuan kali lagi. Namun, hatiku tak pernah mampu lagi.
Aku tak pernah percaya akan mati rasa, terlebih cinta habis di masa lalu. Aku selalu percaya bahwa kelak aku akan jatuh cinta lagi. Namun ternyata untuk sampai pada kelak, adalah melewati hidup yang tak lagi memiliki gairah.
Aku tahu, aku tahu, dan sangat tahu, bahwa hidup tak melulu perihal cinta. Hanya saja, benarlah Rhoma Irama, hidup tanpa cinta benar seperti taman tanpa bunga. Aku tumbuh, hijau dan cemerlang, tetapi tak ada warna lain, tak ada wangi lain, tak ada yang menarik.
Mas, jika kukatakan akan kutempuh seluruh sakit untuk merasakan cinta lagi, apakah aku pecundang yang tak mampu bertahan dengan rasa hambar?
Atau, kau akan membantuku kembali sinting, memujamu seperti hari ini adalah senja setelah pelangi?
Maaf jika surat ini tak memiliki fungsi, aku hanya ingin mencari cara, membawa kembali seluruh yang pernah merekah di dadaku.
Puisi, kau dan hal-hal di antara itu.