Memikul Beban Hari Esok Hanya Akan Mematahkan Kakimu Hari Ini
"Kecemasan itu jauh lebih melelahkan daripada kesabaran."
— Imam Ali bin Abi Thalib a.s.
Ketika menghadapi badai kehidupan, kita sering mengira bahwa yang paling berat adalah kenyataan pahit yang sedang berada di depan mata. Padahal, dalam banyak keadaan, yang jauh lebih menguras tenaga justru kecemasan liar yang terus berputar-putar di dalam pikiran. Tubuhmu mungkin sedang berbaring istirahat, tetapi hatimu tidak pernah sedetik pun berhenti memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang belum tentu terjadi.
Imam Ali bin Abi Thalib a.s. memberikan tamparan spiritual yang sangat logis: kecemasan jauh lebih melelahkan daripada kesabaran. Orang yang cemas sebenarnya sedang memikul beban berkali-kali lipat. Ia menderita karena masalah yang nyata hari ini, lalu dengan sengaja menambah penderitaannya dengan membayangkan berbagai musibah baru yang belum tentu Allah takdirkan terjadi di hari esok. Akibatnya, ia kehilangan haknya untuk tenang hari ini.
"Janganlah kamu bersedih hati karena urusan hari esok, karena setiap hari esok akan membawa rezekinya masing-masing."
— Mutiara Hikmah
Sebaliknya, kesabaran bukan berarti kita mati rasa atau tidak boleh merasakan sedih dan takut. Kesabaran sejati adalah kemampuan untuk tetap melangkah, tetap berikhtiar, dan menjaga benteng hati agar tidak runtuh dikuasai oleh kegelisahan.
Orang yang sabar itu masih bisa menangis, masih bisa merasa lelah, dan masih memiliki banyak pertanyaan di kepalanya. Namun, ia tidak membiarkan kecemasan menguasai seluruh kemudi hidupnya, karena jangkar tauhidnya tertanam kuat: ia percaya bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya sendirian.
"Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk."
— QS. Al-Baqarah: 45
Para sufi mengajarkan bahwa sebagian besar kecemasan lahir ketika hati yang kerdil ini berusaha mengendalikan sesuatu yang berada di luar kekuasaannya. Kita terobsesi untuk memastikan hasil akhir, bernafsu ingin mengetahui masa depan, dan menuntut jaminan bahwa semua skenario harus berjalan sesuai ego kita.
Ketika kenyataan berkata sebaliknya, hati pun menjadi gelisah dan sesak. Padahal, aturan main dari Allah sangat sederhana: Kita hanya dibebani dengan kewajiban berikhtiar, bukan dibebani untuk mengendalikan hasil.
"Kewajibanmu adalah menanam benih, sedangkan menumbuhkannya adalah urusan Sang Pemilik Semesta."
— Imam Al-Ghazali
Itulah mengapa tawakal menjadi satu-satunya obat penawar bagi jiwa yang lelah. Setelah melakukan usaha terbaik yang kita bisa, seorang mukmin akan menyerahkan sisa perkara yang berada di luar jangkauan tangannya kepada Allah. Ia paham betul bahwa rezeki, umur, jodoh, kesehatan, dan hasil akhir dari setiap perjuangan berada rapat dalam genggaman-Nya. Kesadaran makrifat ini tidak serta-merta menghilangkan masalah, tetapi berhasil mengurangi beban mental yang tidak perlu kita pikul.
"Barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya."
— QS. At-Talaq: 3
Tanpa disadari, kecemasan juga sering kali bertindak sebagai pencuri ulung yang merampas keindahan hidup yang sedang kita jalani sekarang. Kita terlalu sibuk mengkhawatirkan apa yang mungkin hilang di masa depan, hingga lupa bersujud mensyukuri apa yang pasti masih ada di tangan hari ini. Kita takut gagal, sehingga gagal menikmati indahnya proses belajar. Kita cemas akan ditinggalkan, sehingga lupa menghargai hangatnya kebersamaan yang sedang Allah pinjamkan saat ini.
Ingat, bersabar itu tidak sama dengan pasif atau menyerah. Kesabaran adalah kekuatan aktif untuk terus konsisten berbuat baik meskipun hasilnya belum tampak, terus mengetuk pintu langit dengan doa meskipun jawaban belum datang, dan terus merawat harapan meskipun jalan di depan terasa amat panjang. Kesabaran melahirkan keteguhan jiwa, sedangkan kecemasan hanya menguras bahan bakar energimu tanpa pernah menghasilkan jalan keluar.
Jika hari ini hatimu kembali bergemuruh dan dipenuhi kekhawatiran, ambil jeda sejenak, lalu tanyakanlah dengan jujur kepada dirimu sendiri: Apakah semua hal pelik yang sedang kupikirkan ini benar-benar berada dalam kendaliku?
Jika jawabannya tidak, maka detik ini juga, serahkanlah semuanya kepada Allah. Tidak semua persoalan di dunia ini harus diselesaikan oleh otakmu yang terbatas. Ada bagian-bagian dalam hidup yang hanya bisa diurai oleh keajaiban dan kepercayaan penuhmu kepada-Nya.
Pada akhirnya, hidup kita tidak menjadi ringan karena semua masalah mendadak lenyap tanpa sisa. Hidup menjadi jauh lebih ringan ketika hati berhenti memikul beban yang bukan menjadi porsinya. Orang yang sabar tetap akan menghadapi badai yang sama, tetapi ia tidak akan tenggelam di dalamnya. Ia berjalan dengan dada lapang, karena ia tahu persis bahwa setiap detak langkahnya berada di bawah pengawasan dan kasih sayang Allah.
"Sangat menakjubkan urusan seorang mukmin... jika ia tertimpa kesusahan ia bersabar, dan itu baik baginya."
— Hadits Riwayat Muslim