Tidak Terjebak Rumput, Tidak Terbuai Angan
Alphaman The Series Eps.02
Hal yang membedakan manusia dan hewan ialah kemampuan manusia untuk mempercayai narasi abstrak. Hal ini bisa menjadi kekuatan besar karena memungkinkan menciptakan kerjasama dalam skala besar. Tapi di sisi lain, hal itu juga bisa digunakan untuk memanipulasi dan mengendalikan orang dengan janji-janji yang belum tentu bisa dibuktikan.
Lawan dari abstrak adalah konkrit. Tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk dari keduanya, karena itu adalah sebuah paradoks.
Hewan cenderung hanya tunduk kepada hal yang konkrit, yang terkadang justru sering mencelakainya. Seperti burung, ikan, atau monyet yang sering terkena jebakan atau pancingan makanan yang ada tepat di hadapannya. Dalam Al-Qur'an, kecenderungan makhluk yang hanya silau oleh apa yang instan dan kasat mata di depan mata ini erat kaitannya dengan sifat Al-‘Ajilah (terburu-buru menikmati yang sekarang).
Dan hewan tidak akan pernah tertarik kepada hal yang abstrak, padahal mungkin itu jauh lebih menguntungkannya. Seperti halnya domba jika disodorkan dua pilihan antara sekarung rumput dan uang 100 juta rupiah. Jelas, domba akan memilih sekarung rumput karena ia tidak punya kemampuan mencerna nilai abstrak dari lembaran uang tersebut.
Lalu bagaimana dengan manusia?
Manusia seringkali terlarut dalam hal konkrit yang remeh, padahal itu tidak terlalu menguntungkan baginya dalam jangka panjang. Dan terkadang pula, manusia justru terhanyut dalam hal abstrak yang semu, padahal itu bisa saja menipu dirinya.
Di sinilah letak pentingnya merawat akal sehat. Kesimpulannya, manusia sebaiknya tidak terlarut dalam janji-janji atau konsep abstrak yang belum terbukti, namun juga tidak boleh hanya terpaku pada hal-hal konkrit yang bersifat jangka pendek.
Sebuah kehidupan yang bijak adalah ketika manusia dapat menggabungkan keduanya secara proporsional. Prinsip keseimbangan ini selaras dengan sebuah mahfudhot (kata bijak Arab) yang sangat populer:
اِعْمَلْ لِدُنْيَاكَ كَأَنَّكَ تَعِيْشُ أَبَدًا، وَاعْمَلْ لِآخِرَتِكَ كَأَنَّكَ تَمُوْتُ غَدًا
"Bekerjalah untuk duniamu seolah-olah kamu akan hidup selamanya, dan beramallah untuk akhiratmu seolah-olah kamu akan mati besok."
Pesan ini mengajarkan kita untuk hidup di dua alam berpikir: menggunakan pertimbangan abstrak (seperti visi masa depan, nilai keimanan, dan perencanaan jangka panjang) namun di saat yang sama tetap berpijak kuat pada kenyataan konkrit dan ikhtiar nyata yang ada di hadapan kita hari ini.