UTUH
— Tentang Cinta yang Takut Kehilangan —
────────────────────────────
“Care and responsibility denote love, but love is not possible without respect and knowledge. Respect means the concern that the other person should grow and unfold as he is. Respect thus implies the absence of exploitation. I want the loved person to grow and unfold for his own sake, and in his own ways, and not for the purpose of serving me.”
— Erich Fromm, The Art Of Loving (1956)
───────────────────────────────────────
Ada masa di mana aku percaya bahwa cinta adalah tentang memegang erat, tentang tidak melepaskan, tentang menggenggam sampai jari-jari memutih.
Aku pikir semakin kuat aku menahan, semakin aman sesuatu akan menetap. Tapi yang dicengkeram tidak pernah benar-benar tinggal—mereka hanya takut jatuh. Dan aku baru sadar: yang sebenarnya takut jatuh itu bukan mereka. Tapi aku.
Ketakutan kehilangan terasa seperti cinta. Padahal ia hanya gema luka lama yang belum sempat dirawat. Luka yang berbisik pelan di dalam dada:
“Jangan tinggalkan aku. Aku tidak mampu hidup tanpamu.”
Aku dulu mengira masalahnya ada pada hubungan atau pasangan. Ternyata masalahnya ada pada bagian diriku yang belum selesai.
Banyak orang ingin membangun hubungan tanpa pernah membangun diri. Mereka belajar taktik, menjaga “frame”, berpura-pura tenang agar terlihat berharga—sementara di dalamnya gemetar.
Kalimat seperti:
“jangan takut kehilangan, biar dia yang takut kehilanganmu,”
terdengar kuat. Tapi ia tidak menyentuh luka. Ia hanya menenangkan permukaan.
──────────
Bukan hubungan yang membuat kita takut. Yang menakutkan adalah bagian diri yang belum percaya bahwa ia tetap utuh meski sendirian.
──────────
Kadang, aku masih ingin memegang erat. Masih ada hari-hari di mana aku ingin diyakinkan. Tapi kini aku tahu: meminta orang lain menyembuhkan luka yang bukan miliknya bukanlah cinta. Itu pelarian.
Hubungan tidak runtuh karena cinta kurang kuat. Ia runtuh karena dua orang datang dengan luka yang sama-sama belum selesai.
Kedamaian terasa membosankan bagi hati yang terbiasa hidup dalam kekacauan. Sunyi terasa asing bagi jiwa yang lama bertahan di kebisingan.
Dan mungkin itulah sebabnya banyak orang lebih memilih drama daripada ketenangan. Kini aku mulai mengerti:
Cinta bukan tentang menjadi sulit ditinggalkan. Bukan tentang terlihat kuat. Bukan tentang tidak pernah takut. Cinta adalah tentang tetap tinggal pada diri sendiri, bahkan ketika orang lain pergi.
Tentang berani berkata,
“Aku takut kehilangan—tapi aku tidak akan kehilangan diriku demi bertahan.”
Karena hubungan yang benar tidak dimulai dari kecemasan, melainkan dari kejelasan. Dan kejelasan lahir ketika kita akhirnya pulang—ke diri sendiri.
.
.
.
.
“Mungkin aku bukan takut kehilangan orang yang aku cintai, tapi aku takut mengakui kesalahan narasi cinta yang telanjur aku percayai.”














