— 6626 —
Aku tidak berhenti mencintaimu, aku hanya berhenti memegang erat keyakinan yang mulai retak; bahwa aku pasti dipilih.
Kadang kita mencintai seseorang dengan sangat tulus. Lalu suatu hari kita menemukan fakta bahwa orang itu belum bisa mencintai dengan cara yang kita harapkan.
Dan itu tidak otomatis membuat salah satu menjadi jahat. Itu hanya membuat kenyataan menjadi jauh lebih menyedihkan.
Karena kita sama-sama bertarung dengan rasa takut masing-masing. Aku yang takut akan kemungkinan tidak dipilih, dan kamu yang takut akan kemungkinan bahwa risiko hidup bersamaku tidak cukup layak untuk ditanggung.
Di sisi lain, memahamimu bukan berarti meniadakan rasa sakitku, dan memahamiku tidak semerta-merta menghapus ketakutanmu. Memahami semua ini juga bukan berarti menafikan segala bentuk upaya, cinta, dan kasih kita.
Semua ini hanya menunjukkan bahwa cinta sering kali diuji oleh realita dan ketakutan yang kita hidupi.
Semuanya bisa benar secara bersamaan.
Sebab kadang manusia gagal bukan karena tidak saling mencintai, melainkan karena mereka sedang berusaha menjawab persoalan yang berbeda.
Jujur, memahami semua fakta ini menjadi begitu ironis, bahwa ternyata pertanyaan yang kita ajukan pada dunia tidak simetris.
Dan yang lebih menyedihkan, mungkin masing-masing dari kita belum mampu menjadi jawaban bagi pertanyaan yang paling ditakuti untuk satu sama lain.
Mungkin untuk saat ini, aku tidak perlu memutuskan masa depan hubungan ini.
Tidak perlu memutuskan apakah kita akan bersama atau tidak.
Tidak perlu memutuskan apakah kamu akan memilihku atau tidak.
Mungkin cukup satu keputusan kecil:
"Untuk beberapa waktu, aku akan kembali merawat diriku sendiri. Karena ada bagian diriku yang baru saja terluka oleh sebuah kejujuran yang tidak siap kuterima."
Dan menurutku, mungkin itu keputusan yang sangat manusiawi.
Maaf.
Ternyata aku tidak sekuat yang kukira.














