Iman Seorang Musafir dan Bajak Laut
βββββββββββββββββββββββββββββββββββββββ
βFaith is not the belief that God will do what you want. It is the belief that God will do what is right.β
β Max Lucado
βββββββββββββββββββββββββββββββββββββββ
Kutipan itu menampar rasionalitasku di saat yang sama sekali tidak terduga: saat aku sedang asyik-asyiknya menonton cuplikan One Piece di YouTube sambil ditemani secangkir kopi.
Siapa sangka, di tengah riuhnya imajinasi tentang bajak laut dan petualangan lautan lepas, satu kalimat penutup dari sebuah video justru membuatku terdiam, menahan napas sejenak, dan memaksaku menelaah ulang relasi pribadiku dengan Tuhan akhir-akhir ini.
Setelah kucari tahu, kalimat itu berasal dari Max Lucado, seorang pendeta dan penulis Kristen, dalam bukunya He Still Moves Stones: Everyone Needs a Miracle. Tentu, kutipan itu lahir dari tradisi teologis yang berbeda dengan Islam. Karena itu, aku tidak membawanya sebagai dalil teologis, melainkan sebagai sebuah refleksi yang menurutku memiliki daya gugah melampaui batas tradisi: tentang bagaimana manusia memandang Tuhan, keinginannya sendiri, dan ketidakpastian kehidupan.
Sebab, kalimat itu bukan sekadar kutipan indah untuk ditempelkan di media sosial. Ia menjelma menjadi kritik terhadap cara kita memahami kehendak Tuhan. Ia seolah menodongkan sebuah pertanyaan yang meresahkan:
βJangan-jangan, selama ini sebagian besar hal yang kusebut sebagai kehendak Tuhan sebenarnya hanyalah kehendakku sendiri yang kuberi legitimasi ilahi?β
Dan jujur saja, kemungkinan itu terasa mengerikan.
Coba kita renungkan mekanismenya.
Saat kita menginginkan sesuatu, kita berdoa mati-matian agar Tuhan memberikannya. Lalu, ketika kebetulan realitas berjalan persis seperti ekspektasi kita, dengan bangga kita berseru: "Ini kehendak Tuhan."
Tetapi, ketika kenyataan menampar keras keinginan kita dan skenario berjalan sebaliknya, dalih yang paling cepat kita keluarkan adalah: "Mungkin Tuhan sedang mengujiku."
Tentu, tidak ada yang keliru dari memaknai penderitaan sebagai ujian. Dalam tradisi keagamaan, bahkan ada banyak dasar untuk memandang kehidupan dengan cara demikian.
Namun ada pertanyaan yang lebih dalam:
βSeberapa sering kita benar-benar berserah kepada Tuhan, dan seberapa sering kita hanya sedang berharap Tuhan mengesahkan apa yang sudah terlebih dahulu kita inginkan?β
Sebab mungkin masalahnya bukan terletak pada keinginan manusia untuk mendapatkan sesuatu. Masalahnya muncul ketika keinginan itu diam-diam berubah menjadi ukuran tentang bagaimana Tuhan seharusnya bekerja.
Kita berkata ingin berserah diri, tetapi kecewa ketika keputusan-Nya tidak sesuai dengan kehendak kita.
Kita berkata percaya kepada-Nya, tetapi hanya merasa tenang ketika masa depan bergerak menuju skenario yang telah kita susun.
Kita berkata bahwa Tuhan Mahatahu, tetapi pada saat yang sama bertingkah seolah-olah kita lebih tahu apa yang terbaik bagi diri kita sendiri.
Bukankah di sana terdapat sebuah ironi?
Kita mengaku beriman kepada Tuhan yang Mahatahu, tetapi masih ingin mendikte bagaimana kehidupan harus berjalan.
βββββββββββββββββββββββββββββββββββββββ
Barangkali benar, yang sering kali kita sebut sebagai iman hanyalah keinginan-keinginan yang diberi nama βTuhanβ.
βββββββββββββββββββββββββββββββββββββββ
Kalimat itu kemudian membawaku kepada sosok Rabi'ah al-'Adawiyah.
Di tengah kecenderungan manusia menjadikan agama sebagai transaksiβberbuat baik demi mendapatkan sesuatu dan menjauhi dosa demi menghindari sesuatuβajaran sufistik Rabi'ah terasa seperti tamparan yang berbeda.
Kisah tentang dirinya memang masyhur dalam tradisi tasawuf. Dikisahkan bahwa suatu ketika Rabi'ah berjalan membawa obor dan kendi berisi air. Ketika ditanya hendak melakukan apa, ia menjawab dengan sebuah simbolisme yang ekstrem:
"Aku hendak membakar surga dengan obor ini, dan memadamkan api neraka dengan air ini. Aku ingin melakukannya agar kelak tidak ada lagi manusia yang beribadah hanya karena pamrih mendambakan surga, atau sekadar gemetar ketakutan akan siksa neraka."
Terlepas dari persoalan historis mengenai kisah tersebut, simbolismenya begitu kuat. Ia sedang menyerang sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar praktik ibadah:
Motif manusia dalam mencintai Tuhan.
Dalam tradisi yang dinisbatkan kepadanya, Rabi'ah bahkan dikenal melalui munajat yang kurang lebih menggambarkan gagasan itu:
"Ya Allah, jika aku menyembah-Mu lantaran takut akan neraka-Mu, maka bakarlah aku di dalamnya. Dan jika aku menyembah-Mu lantaran mengharap surga-Mu, maka jauhkanlah surga itu dariku. Namun, jika aku menyembah-Mu semata-mata karena cinta kepada-Mu, maka janganlah Engkau sembunyikan keindahan wajah-Mu yang abadi dariku."
Di sana aku melihat sebuah pertanyaan yang sama dengan kutipan Max Lucado, tetapi dari arah yang berbeda:
βApakah aku mencintai Tuhan, atau sebenarnya aku hanya mencintai apa yang kuharapkan dari Tuhan?β
Keduanya terlihat begitu dekat, tetapi sebenarnya sangat berbeda. Yang pertama menempatkan Tuhan sebagai tujuan. Yang kedua berpotensi menjadikan Tuhan sebagai sarana.
Dan mungkin di situlah ego spiritual bekerja dengan cara yang paling halus. Ia tidak selalu muncul dalam bentuk kesombongan. Kadang ia justru bersembunyi di balik doa, ibadah, bahkan bahasa-bahasa religius yang terdengar begitu saleh.
Kita tidak lagi berkata:
βAku ingin sesuatu, lalu Tuhan harus memberikannya.β
Kita mengatakannya dengan bahasa yang lebih halus, bahkan sangat samar:
βAku hanya sedang berusaha memahami kehendak Tuhan.β
Padahal mungkin, jauh di dalam diri, kita masih sedang berharap bahwa kehendak Tuhan akhirnya akan sesuai dengan kehendak kita.
Sekilas memang tidak ada yang salah. Kita bahkan masih bisa berkata:
βLalu kenapa? Bukankah Tuhan Maha Kaya? Seharusnya mudah bagi-Nya untuk memenuhi keinginanku.β
Dan memang, persoalannya bukan pada keberanian untuk berharap kepada Tuhan. Berharap adalah bagian dari doa. Persoalannya muncul ketika harapan perlahan berubah menjadi tuntutan, hingga kita mulai menganggap bahwa kehendak Tuhan seharusnya mengikuti bentuk kehidupan yang telah kita bayangkan.
Pada titik itu, tanpa sadar, kita tidak lagi hanya meminta Tuhan berjalan bersama kita.
Kita sedang meminta Tuhan berjalan di jalan yang telah kita tentukan.
Lantas, hamba macam apa yang mencoba mendikte Tuhannya?
βββββββββββββββββββββββββββββββββββββββ
Takdir berada dalam pengetahuan Tuhan. Ikhtiar berada dalam ruang manusia. Sebagian penderitaan lahir ketika manusia memaksa kehidupan tunduk pada sesuatu yang memang tidak berada dalam kuasanya.
βββββββββββββββββββββββββββββββββββββββ
Pada titik ini, aku teringat tentang perbedaan antara ikhtiar dan tawakkal.
Ikhtiar adalah wilayah manusia. Di sana kita berusaha, belajar, merencanakan, memilih, memperbaiki kesalahan, dan mengerahkan kemampuan yang kita miliki. Tawakkal dimulai ketika kita menyadari bahwa usaha tidak pernah identik dengan hasil.
Kita boleh mengupayakan seseorang untuk tetap tinggal, tetapi kita tidak dapat memaksa hatinya.
Kita boleh membangun masa depan sebaik mungkin, tetapi kita tidak dapat menjamin apa yang akan terjadi esok hari.
Kita boleh berdoa dengan seluruh keberanian yang kita punya, tetapi kita tidak pernah memiliki kuasa untuk menentukan bagaimana Tuhan menjawabnya.
Namun anehnya, manusia sering kali tidak berhenti pada wilayah ikhtiar. Kita ingin hasil sekaligus kepastian. Kita ingin berusaha, lalu memastikan bahwa apa yang kita usahakan akan berakhir sesuai dengan keinginan kita.
Kita mencintai seseorang, sekaligus ingin memastikan bahwa hati dan komitmennya tidak akan pernah berubah.
Kita mengejar cita-cita, sekaligus menggenggam keyakinan bahwa hasil akhirnya pasti menjadi milik kita.
Kita menengadah, berdoa dengan air mata yang tumpah, tetapi doa-doa itu kadang melayang seperti surat ancaman: seolah Tuhan harus mengabulkannya hanya karena kita telah memintanya dengan sungguh-sungguh.
Barangkali yang paling kita takuti sebenarnya bukan luka dari cinta, pupusnya cita-cita, atau doa yang tak kunjung menemukan jawaban. Kita takut pada sesuatu yang lebih sederhana sekaligus lebih mengerikan:
Kita tidak tahu apa yang akan terjadi.
Ketidakpastian membuat manusia ingin menggenggam sesuatu yang sebenarnya tidak pernah menjadi miliknya. Kita ingin memastikan siapa yang akan tinggal, apa yang akan terjadi, kapan doa akan terkabul, dan ke mana kehidupan akan membawa kita.
Sampai akhirnya, tanpa sadar, kita ingin memperluas wilayah ikhtiar hingga menyentuh sesuatu yang memang berada di luar kuasa kita. Dan mungkin, di situlah tawakkal menjadi penting.
Pada titik ini aku teringat kembali dengan sebuah hadis yang diriwayatkan dalam Sahih al-Bukhari No. 6416. Rasulullah ο·Ί berkata kepada Abdullah bin Umar:
ΩΩΩΩ ΩΩΩ Ψ§ΩΨ―ΩΩΩΩΩΩΨ§ ΩΩΨ£ΩΩΩΩΩΩ ΨΊΩΨ±ΩΩΨ¨ΩΨ Ψ£ΩΩΩ ΨΉΩΨ§Ψ¨ΩΨ±Ω Ψ³ΩΨ¨ΩΩΩΩ
βJadilah engkau di dunia seakan-akan seorang asing atau seorang pengembara yang sedang melintas.β
Barangkali inilah salah satu gambaran paling sederhana tentang posisi manusia di hadapan kehidupan. Seorang musafir tidak membutuhkan peta seluruh perjalanan untuk melangkah. Ia tidak menggantungkan seluruh dirinya kepada tempat persinggahan, sebab ia tahu bahwa dirinya sedang menuju sesuatu yang lebih jauh. Yang ia butuhkan hanyalah cukup: cukup bekal untuk perjalanan, cukup arah agar tidak tersesat, dan cukup cahaya untuk langkah berikutnya.
Dan manusia mungkin memang seperti itu di hadapan Tuhan.
Kita sering kali ingin mengetahui ending sebelum berani menjalani cerita. Kita ingin memastikan bahwa orang yang kita cintai akan tetap tinggal, cita-cita akan berhasil, doa akan dikabulkan, keputusan kita benar, dan masa depan berjalan sesuai dengan rancangan kita.
Padahal, memastikan seluruh perjalanan bukanlah tugas seorang musafir. Ia hanya perlu terus melangkah sejauh cahaya masih cukup untuk menunjukkan jalan. Dan mungkin, cahaya iman justru mulai terpancar ketika cahaya yang digenggamnya tak lagi mampu memperlihatkan apa yang ada di depan.
βββββββββββββββββββββββββββββββββββββββ
Iman bukan kemampuan mengetahui apa yang akan terjadi, tetapi keberanian mempercayai Tuhan ketika kita tidak tahu apa yang akan terjadi.
βββββββββββββββββββββββββββββββββββββββ
Tapi mari kita mundur kembali ke One Piece.
Aku jadi teringat sebuah adegan ketika Kru Topi Jerami pertama kali bertemu dengan Silvers Rayleigh di sebuah bar di Sabaody.
Di tengah perbincangan penting antara Robin dan Rayleigh, Usopp tiba-tiba menanyakan tentang harta karun terbesar dalam dunia bajak laut, One Piece.
βPaman, aku ingin bertanya juga... beritahu kami! Harta karun legendaris... One Piece itu sebenarnyaββ
Belum sempat menyelesaikan pertanyaannya, Luffy langsung memotong. Selaku kapten ia berteriak sangat keras,
βUSOPPP!!!. Aku tidak ingin mendengar harta karun itu berada!. Kita tidak tahu apa-apa, tapi semua orang pergi ke laut untuk mencari tahu sendiri. Jika paman itu mengatakannya pada kami, aku akan berhenti menjadi bajak laut!. Jika kita punya petualangan membosankan seperti itu, maka aku tidak akan melakukannya!.β
Ada sesuatu yang lucu sekaligus filosofis dari respons itu. Luffy tidak menolak One Piece. Ia justru menginginkannya. Yang ia tolak adalah kepastian tentang jalan menuju ke sana. Ia tidak ingin mengetahui akhir cerita sebelum menjalani ceritanya sendiri.
Barangkali kehidupan memang demikian.
Kita sering mengira bahwa yang kita perlukan untuk terus berjalan adalah kepastian tentang masa depan. Padahal mungkin, yang kita perlukan jauh lebih sederhana: cukup keberanian untuk mengambil langkah berikutnya.
Seorang musafir tidak harus mengetahui seluruh jalan untuk melanjutkan perjalanan.
Luffy tidak harus mengetahui di mana One Piece berada untuk tetap berlayar.
Dan mungkin manusia pun tidak harus mengetahui bagaimana hidupnya akan berakhir untuk tetap menjalani hari ini.
Barangkali kehidupan memang tidak pernah dirancang untuk dibaca dari halaman terakhir.
Ia hanya perlu dijalani.
Satu langkah.
Lalu satu langkah berikutnya.
Sampai suatu hari kita tiba di tempat yang sejak awal tidak pernah benar-benar kita ketahui.













