Mengapa Saya Menjadi Guru TK
Kalau orang-orang tanya pekerjaan saya dan saya jawab “Guru TK”, biasanya mereka akan berespon seperti ini:
kamu pasti sangat suka anak-anak ya?
kamu berarti sangat sabar ya?
bagus sekali jadi guru, guru itu pahlawan tanpa tanda jasa
jadi guru TK sih gampang, cuma main-main aja sama anak-anak
Apalagi kalau tahu saya kuliah secara di jurusan pendidikan baik untuk S1 maupun S2 di luar negeri, komentarnya berlanjut:
kok mau sekolah pendidikan?
sekolah jadi guru pulang-pulang jadi guru TK saja, nggak sayang?
emang keluarga kamu dukung?
kalau sudah sekolah di luar negeri, ngapain pulang ke Indonesia?
Sebetulnya, saya terkadang sedih ketika menghadapi pertanyaan dan komentar-komentar semacam demikian. Profesi guru, apalagi guru TK, seringkali masih dipandang sebelah mata dan kurang diperhatikan. Saya biasanya mencoba mengambil waktu untuk menjelaskan dan “mengedukasi”, memberikan penjelasan agar lebih banyak orang paham urgensi dan pentingnya profesi ini. Tapi seringkali waktu yang saya miliki tidak banyak sehingga jawaban saya kurang koheren/jelas. Terkadang, yang bertanya hanya peduli dengan apa yang mereka mau katakan/tanyakan, tetapi tidak peduli pada jawaban yang saya berikan. Oleh sebab itu, saya harap dengan tulisan ini, saya bisa menjelaskan dengan lebih baik mengapa saya menjadi guru TK.
1. Saya menjadi guru KB-TK karena saya dengan jelas menerima panggilan Tuhan untuk menjadi guru bagi anak-anak. Saya bukan menerima panggilan ini seperti Samuel yang secara langsung dengar suara Tuhan saat sedang tidur. Seperti Timotius, saya bersyukur bahwa sedari kecil saya sudah mendengar Injil dan kebenaran Firman Tuhan yang disampaikan oleh kakek, nenek, dan orang tua saya yang sudah terlebih dahulu mengenal Tuhan. Keluarga saya mendorong dan mengajar saya untuk melihat dunia dan hidup dari dan dengan perspektif Firman Tuhan, baik itu dalam melihat keindahan maupun keburukan, keberhasilan maupun kegagalan, dan dalam suka maupun duka. Menjalani hidup bersama Tuhan membuat hidup yang sulit dan penuh pasang surut ini menjadi masuk akal, bermakna, dan berpengharapan. Saya juga diberkati dengan adanya beberapa guru di sepanjang saya bersekolah yang memberikan teladan kehidupan di dalam Tuhan melalui kehidupan doa mereka, bagaimana mereka membagikan Firman Tuhan, dan memberikan nasihat/counsel kepada murid-murid yang bergumul melalui doa dan nasihat yang mengarahkan kami kepada Tuhan.
Sejak kecil, salah satu doa saya dan keluarga kami adalah agar Tuhan berkenan menjadikan kami saluran berkat bagi orang-orang, agar orang-orang bisa bertemu dan mengenal Tuhan. Maka, saat saya SMP dan sudah mulai harus memikirkan mengenai kuliah dan profesi masa depan, saya mulai mempertimbangkan dan melirik profesi pendidikan sebagai area yang bisa memberikan saya kemungkinan untuk melayani Tuhan dan menjadi berkat bagi banyak orang—yaitu murid-murid yang akan Tuhan percayakan. Ketika ide ini mulai muncul dan saya mulai mendoakannya, beberapa “konfirmasi” berdatangan seperti dukungan dari teman, orang tua, guru, khotbah dari hamba Tuhan yang mendorong orang Kristen untuk menginjili dan melakukan penginjilan melalui pendidikan, bahkan melalui nasihat dari hamba Tuhan yang melayani saya dan keluarga sejak saya masih sangat kecil. Pengalaman saya mencari tempat bersekolah dan proses aplikasi juga adalah sebuah proses yang bagi saya adalah bagian dari konfirmasi Tuhan atas panggilan saya.
2. Saya menjadi guru KB-TK karena saya melihat anak-anak perlu mengenal Tuhan dan Injil sejak dini. Mengapa saya memilih unit KB-TK, unit termuda dalam pendidikan formal? Bukankah kebanyakan orang membuat keputusan menjadi orang Kristen atau bertobat saat mereka remaja dan sedang “nakal-nakalnya?” atau sedang dalam puncak pergumulan mereka sehingga mereka perlu orang-orang yang bawa mereka kepada Kristus? Mengapa harus tunggu masa remaja? Hidup itu sulit! Hidup di dalam dunia yang berdosa ini tidak mudah! Mengapa harus tunggu sampai remaja, kalau kita juga berkesempatan mengenalkan setiap manusia, bahkan sejak masa kecil mereka, bahwa ada penyelamat dan pengharapan dalam kehidupan di dunia ini?
Pengalaman hidup saya dan buku-buku yang saya baca, juga orang-orang di sekitar saya banyak yang mendengar tentang Kristus dan menerima Injil justru karena pelayanan yang mereka terima sejak mereka masih kecil. Saya bahkan memiliki banyak pengalaman bagaimana Injil bekerja luar biasa pada anak-anak dan menjadikan mereka saksi Tuhan sejak dini. Mempertahankan iman dan setia pada iman yang mula-mula memang tidak selalu mudah, namun sebetulnya banyak contoh-contoh dan bukti nyata dari hidup orang-orang yang setia di dalam iman dan Tuhan gunakan menjadi berkat bagi banyak orang melalui kesetiaan mereka seumur hidup menjalankan pelayanan dari kecil. Mereka menjadi contoh komunitas yang bertekun dalam kesalehan, saling menguatkan dalam perjalanan iman, dan menjadi kesaksian pekerjaan Roh Kudus pada komunitas perjanjian (covenant).
Dari buku Devoted: Great Men and Their Godly Moms, saya juga bisa membaca kesaksian hidup “raksasa-raksasa iman” dan penginjil terkenal di Amerika yang kisah hidupnya tidak banyak disorot oleh orang-orang. Mereka menjadi pelayan Tuhan yang Tuhan pakai luar biasa karena ada iman yang ditabur sejak mereka masih kecil oleh orang tua mereka. Mereka bergumul dalam hidup dan ada yang meninggalkan Tuhan, tapi kembali karena mengingat Firman yang disampaikan oleh ibunya. Ada juga yang hidup setia pada Tuhan, dan setiap pergumulan dihadapi sebagai proses hidup yang menyucikan karena dihadapi bersama dengan Tuhan. Tuhan membuat semua proses hidup mereka bermakna dan akhirnya menjadi kesaksian bagi orang-orang banyak.
Maka saya melihat bahwa Injil perlu diberitakan sejak dini. Tuhan akan memberikan pertumbuhan pada waktunya, namun kita sebetulnya melalaikan tanggung jawab kita jika kita menolak atau menghalang-halangi anak-anak untuk datang kepada Tuhan dengan menolak menyampaikan Firman Tuhan kepada mereka. Apalagi di masa sekarang, kebebasan dan hak pribadi yang dijunjung tinggi membuat tidak sedikit orang menolak untuk memberitakan Injil pada anak-anak atas dasar “takut” dianggap tidak menghargai kebebasan individu. Maka mereka membiarkan anak-anak “memilih agama mereka sendiri nanti waktu sudah besar”. Tapi ini tidak sesuai Firman Tuhan! Tuhan memanggil anak-anak untuk mendekat kepada-Nya dan memberkati mereka. God loves little children too! Tuhan ingin semua orang mendapatkan pengharapan Injil dari sejak mereka masih berada di dalam kandungan, karena Tuhanlah yang merajut kita dan punya Dialah kita. Maka menghalangi anak-anak dari mendengar Firman dan tidak memberitakan Firman yang benar kepada mereka sebetulnya adalah tidak benar dan tidak bertanggung jawab.
3. Saya menjadi guru KB-TK karena melalui profesi ini, saya bisa punya lebih banyak kesempatan berinteraksi, menginjili, dan berproses dengan anak-anak. Untuk mengabarkan Injil kepada anak-anak, sebetulnya saya bisa saja menjadi penginjil atau pendeta. Saya bisa berkotbah dan saya bisa secara langsung mengabarkan Injil kepada anak-anak, dan mungkin bisa melayani lebih banyak orang dibandingkan menjadi guru. Namun, pengkotbah dan penginjil biasanya tidak memiliki privilege untuk berinteraksi secara rutin dengan jemaat yang menerima Firman Tuhan tersebut. Guru, terutama guru di sekolah Kristen, tidak hanya mendapatkan privilege untuk menyampaikan Injil kepada murid-murid yang diajarnya dalam pembelajaran di kelas, tetapi juga menghidupinya bersama dalam setiap interaksi sehari-hari. Injil perlu didengar dan dihidupi. Selain di rumah, tempat terbaik untuk melakukannya adalah di sekolah, tempat kedua anak-anak menghabiskan sebagian besar waktu mereka. Sebagai guru, saya bisa berbagi Injil dan pengalaman hidup, saya bisa ikut membimbing mereka berproses dalam menghidupi Injil melalui pikiran, tindakan, dan perbuatan mereka. Melalui disiplin kelas; interaksi sehari-hari; dan materi pembelajaran yang dibahas dengan mengarahkan perhatian kepada Tuhan sebagai pencipta, pemelihara, penebus, dan penguasa alam semesta; saya berharap saya bisa menjadi guru yang menyadarkan anggota komunitas kelas dan sekolah akan keberadaan Tuhan di tengah-tengah kita serta kenyataan bahwa kita semua hidup di hadapan Tuhan.
Secara spesifik, saya terpanggil untuk melayani anak-anak dalam keluarga Kristen di Indonesia. Mengapa? Sejak kecil saya melihat di Indonesia ada tren/kecenderungan untuk lebih menyoroti kisah pertobatan yang spektakuler tetapi jarang ada bimbingan bagi orang-orang, terutama anak-anak dari keluarga Kristen mengenai bagaimana hidup setia dalam iman dan bertumbuh serta berbuah sebagai orang Kristen dalam kesalehan agar bisa semakin serupa Kristus. Akibatnya, banyak anak-anak dari keluarga Kristen yang “sengaja berontak” atau meragukan iman karena merasa pengalaman iman mereka tidak autentik dan biasa-biasa saja. Ketekunan dan kesetiaan menghidupi iman tidak dilihat sebagai suatu bibit yang berharga untuk ditumbuhkan. Meskipun singkat, dalam waktu yang saya miliki bersama dengan murid-murid saya, harapan saya adalah mereka bisa mengalami dan merasakan bagaimana hidup berproses dan bertumbuh dalam hikmat, kemampuan, dan dalam kesalehan menghidupi iman mereka. Kami membiasakan diri melalui keseharian untuk hidup di hadapan Tuhan, bersandar kepada Tuhan, berserah kepada Tuhan, dan untuk melibatkan Tuhan dalam semua aspek kehidupan. Membangun dan memiliki sudut pandang yang benar akan hidup sangat penting. Tuhan bekerja dalam hidup manusia bukan hanya dalam momen-momen tertentu, tetapi juga dalam keadaan dan hal-hal yang sederhana sehari-hari. Ini penting untuk kita sadari dan syukuri.
4. Saya menjadi guru KB-TK karena Tuhan beri saya talenta yang lebih memperlengkapi saya untuk mengajar murid KB-TK. Saya sudah pernah menghadapi murid-murid SMP-SMA dan mengajar murid-murid di bangku kuliah. Saya tahu saya tidak punya kemampuan komunikasi dan keterampilan mengajar yang memadai untuk bisa mengajar mereka. Tapi, saya mampu dengan mudah bersabar dan berelasi dengan anak-anak. Dari situlah saya tahu saya akan lebih efektif mengajar sebagai guru KB-TK.
Ini bukan berarti saya tidak mengasihi anak-anak remaja. Saya sangat mengasihi mereka juga, tapi saya tahu dan percaya bahwa setiap orang ada talentanya masing-masing dan Tuhan memberikan saya talenta untuk mengajar anak-anak yang lebih kecil. Saya bersukacita atas pertumbuhan anak-anak remaja di sekolah kami dan sering berinteraksi dengan mereka melalui mengajar 1 atau 2 kelas khusus, bekerja bersama dalam kepanitian, dll. Namun saya juga tahu mereka juga akan lebih baik diajar oleh guru lain yang Tuhan beri talenta khusus untuk mengajar anak-anak remaja.
Perjalanan hidup dan iman juga Tuhan sudah desain untuk menjadi sebuah perjalanan hidup yang dialami secara kolektif. Tuhan memanggil saya untuk menjadi guru mereka selama setahun, dan sesudah itu waktu kami bersama sudah habis. Kami masih bisa berinteraksi dan saling mendoakan, tapi kemudian Tuhan menempatkan lagi guru lainnya untuk jadi bagian dalam hidup mereka. Sama seperti Tuhan bekerja untuk membentuk saya melalui setiap murid dan keluarga yang saya temui, Tuhan juga bekerja untuk membentuk setiap anak-anak melalui keluarga, guru, dan lingkungan mereka.
Saya memulai menekuni profesi ini karena saya ingin menjadi berkat bagi anak-anak dan keluarga mereka. Namun, sejak saya memulai karier saya sebagai guru, saya mendapati Tuhan banyak memberikan saya berkat melalui murid-murid saya dan keluarga mereka. Tuhan terus menyertai, memberikan yang saya butuhkan, dan dari interaksi sehari-hari saya bisa banyak berefleksi mengenai hubungan saya sendiri dengan Tuhan yang adalah penebus, guru, dan juga Bapa saya. Tuhan menggunakan setiap orang yang saya temui untuk membentuk dan menajamkan saya, serta memperhalus saya di banyak area kehidupan. Pertanyaan dan perhatian yang orang-orang ajukan ketika mengetahui profesi saya tentu valid, namun sukacita dalam menjalani panggilan Tuhan, kesempatan menyaksikan pekerjaan Tuhan, dan privilege bertumbuh dan menyaksikan anggota komunitas bertumbuh bersama membuat semua pergumulan dan kesulitan menjadi lebih bermakna.
Terutama ketika Tuhan memberikan kesempatan untuk melihat buah-buah iman yang ditabur mulai bertumbuh dalam hati murid-murid kami..
Bukan berarti karena saya menjalani panggilan Tuhan yang saya terima maka hidup saya semulus jalan tol. Ada banyak jatuh bangun, kesulitan, pergumulan, dan hari-hari di mana saya ragu atau kecewa, terutama dengan diri saya sendiri. Tapi Tuhan baik. Tuhan yang memegang tangan saya senantiasa dan memberikan penghiburan serta kekuatan di setiap pergumulan. Kiranya Tuhan yang menolong saya untuk setia hidup di dalam Tuhan, dan setia dalam melayani Tuhan seumur hidup saya.
Doa ini juga adalah doa saya bagi para pembaca sekalian. Kiranya para pembaca bisa bertekun dalam menghidupi hidup sesuai dengan panggilan yang Tuhan berikan kepada anda. Selain itu, saya harap tulisan ini juga bisa mendorong para pembaca untuk bisa ikut mendoakan guru-guru Kristen dalam pelayanan kami, mendoakan anak-anak yang lahir di dunia ini agar sedari kecil mereka bisa mendengar Injil dan mengenal Tuhan, serta ikut bersama-sama membawa anak-anak sejak kecil mendengar Firman Tuhan dan bertemu Allah yang sejati.
Masih ada banyak hal yang ingin saya bagikan, namun sepertinya tulisan-tulisan tersebut perlu menunggu kesempatan berikutnya.