Manusia sering mengira ia membutuhkan kepastian untuk bisa hidup. Padahal sering kali ia hanya membutuhkan keberanian untuk tetap berjalan di tengah ketidakpastian.

seen from Italy
seen from France

seen from Singapore

seen from Italy

seen from Singapore
seen from Germany

seen from Germany
seen from United States
seen from United States

seen from France
seen from Germany

seen from Germany

seen from Germany
seen from United States
seen from France

seen from Germany
seen from France
seen from Yemen

seen from Brazil
seen from United States
Manusia sering mengira ia membutuhkan kepastian untuk bisa hidup. Padahal sering kali ia hanya membutuhkan keberanian untuk tetap berjalan di tengah ketidakpastian.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Satu-satunya nasehat untuk diriku sendiri adalah: mulai saja mengikhlaskan apa yang telah Tuhan tetapkan untukmu. Bila kamu harus terus menjadi Ranger pink, maka nikmati saja peranmu.
-NM-
(260128)
Dunia ini bisa terdengar rancu dan terasa kejam saat memberi kabar justru dibilang cari perhatian, bercerita dibilang berlebihan, meminta tolong dibilang tak punya kekuatan, menangis dibilang meratapi kesulitan, marah dibilang tidak sabaran, diam dibilang tidak meminta bantuan, sebaliknya meminta bantuan justru diolok-olok katanya tak bisa mengatasi masalah sendirian. Lalu kita harus seperti apa kalau usaha bertahan hidup malah mendapat penghakiman dari mereka yang lupa caranya memanusiakan manusia. Apakah memang takdir kita untuk mati sendirian?
Manusia dan Laut
Manusia itu laut. Dan kita sudah berani kasih komentar, cuma karena pernah main di pantainya.
☆☆☆☆☆
Manusia itu seperti lautan. Masalahnya, kebanyakan dari kita merasa sudah jadi nelayan kawakan, padahal baru parkir sandal di pantai.
Kita melihat seseorang tertawa, lalu buru-buru menyimpulkan hidupnya ringan. Kita melihat seseorang banyak diam, lalu kita labeli sombong.
Padahal yang kita lihat cuma permukaannya. Pasir basah, ombak kecil, buih yang sebentar ada sebentar hilang. Pantai. Itu saja.
Laut tidak pernah menjelaskan dirinya. Ia tidak merasa perlu membela diri. Ia tidak peduli apakah kamu menganggapnya tenang atau berbahaya.
Sebab laut tahu, yang berdiri di pantai tidak akan pernah mengerti apa yang sedang terjadi di bawah.
Di kedalaman, ada arus yang saling bertabrakan. Ada bangkai kapal yang karam tanpa saksi. Ada karang tajam yang melukai ikan, tapi tak pernah muncul ke permukaan. Ada badai yang sudah lewat, tapi meninggalkan trauma di dasar.
Begitu juga manusia. Ada orang yang tampak ramah, tapi setiap malam berperang dengan pikirannya sendiri. Ada yang terlihat biasa-biasa saja, tapi pernah hampir tenggelam, lalu belajar berenang sendirian. Ada yang tampak keras, padahal ia cuma lelah terus-menerus ditarik ombak.
Kita sering lupa bahwa pantai itu tempat paling aman untuk menilai laut—dan karena itu, justru paling tidak jujur.
Menghakimi manusia hanya dari yang penampakan luarnya saja, itu seperti mengaku paham laut hanya karena pernah main pasir di pantainya.
"Tapi kenapa kita sendiri sering begitu, mang?"
Ya mungkin lantaran kita nggak sadar bahwa hidup itu dalam, dan cerita orang lain bukan tontonan gratis.
"Gimana nggak ditonton, orang tiap buka medsos ada mulu."
Itu mah pilihan. Mau lu liatin atau lu skip, terserah.
Friendship needs no reason
Persahabatan gak selalu logika, keterikatan pertemanan itu hadir karena rasa. Hadirnya rasa bahagia, nyaman, kemudian rasa kesal, marah, sedih, dan berulang, itu menjadi jalan untuk mengenal satu sama lain.
Jujur tidak mudah melewati konflik demi konflik, karena udah saling terbuka, rasanya lebih apa adanya. Lagi mode egois beneran egois, lagi mode tantrum beneran tantrum.
Tapi tanpa disadari, keterikatan itulah mulai terjalin. Kita tidak lagi di tahapan saling mengenal. Kita memasuki tahap saling memaklumi dan saling memahami. Kita belajar untuk saling mengingatkan saling menerima tanpa saling gak enakan atau saling tersinggung. Kita belajar untuk tidak menyimpan tapi mengutarakan. Kita belajar untuk memberi ruang satu sama lain. Untuk apa? memenangkan hati satu sama lain dan memenangkan pertemanan itu sendiri
Pasti sering denger ini "kalau kamu gak menemukan aku di syurga, cari aku yaa... "
Kita buat pertemanan ini sampe syurga, yuk. Tapi sebelum itu, boleh banget ya Allah barengin kita di Madinah dan Masjidil haram yaaaa

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Catatan Seorang Pesimis: Waktu
Jika waktu adalah entitas dengan niat, maka ia tidak pernah berhenti, tidak pernah letih, dan tidak pernah berbelas kasih. Ia berjalan tanpa menoleh, tanpa peduli siapa yang terseret, siapa yang tertinggal, siapa yang memohon.
Waktu adalah algojo yang sabar. Ia tidak membunuh sekaligus, melainkan sedikit demi sedikit, dalam dosis yang terlalu kecil untuk kita sadari sehari-hari.
Lihatlah tubuhmu. Tiap hari ada sel yang mati, rambut yang rontok, kulit yang mengelupas. Kau tidak merasa, tapi itu adalah eksekusi kecil yang dilakukan waktu. Kau kira kau masih muda, padahal keriput sudah bersiap di bawah kulitmu, menunggu momen untuk menampakkan diri. Kau kira kau masih kuat, padahal sendi-sendimu sudah mulai retak. Begitulah cara waktu bekerja.
Waktu juga merampok ingatan. Pada awalnya, kau bisa mengingat wajah, suara, setiap detail. Lama-lama, wajah itu buram, suara itu hilang, detail itu lenyap. Hingga yang tersisa hanyalah rasa samar bahwa seseorang pernah ada di hidupmu. Kau bisa mencoba melawan dengan foto, catatan, atau cerita, tapi itu pun akan lapuk. Bahkan kertas pun akan menguning di laci. Tidak ada yang bisa melindungi ingatan manusia dari gigitan waktu.
Yang lebih kejam, waktu menjadikan semua hal fana. Cinta yang kau kira tak tergoyahkan, pelan-pelan akan berubah jadi rutinitas, kemudian jadi beban, lalu mungkin jadi kebencian. Janji-janji besar mengecil, idealisme muda menguap, semangat yang dulu membara akhirnya padam. Lihat, kan, waktu bahkan tak butuh api untuk membakar, ia cukup menunggu saja.
Orang sering berkata waktu menyembuhkan luka. Itu dusta. Waktu tidak menyembuhkan apa pun. Ia hanya membuat luka kehilangan bentuk, hingga kita lupa letak persisnya. Rasa sakitnya tidak benar-benar hilang, hanya berubah jadi kesunyian yang lebih sulit dijelaskan.
Aku pikir, ketakutan terbesar manusia bukanlah kematian, melainkan fakta bahwa waktu terus berjalan bahkan setelah kita tiada. Dunia akan tetap bising, matahari tetap terbit, anak-anak tetap berlari, seakan-akan hidup kita tidak pernah berarti apa-apa. Dan waktu, ia bahkan tidak berhenti untuk berkabung. Ia tetap berjalan dengan kejam, menelan kita tanpa jejak.
Dan kita, yang menyebut diri berakal, tak pernah bisa benar-benar berdamai dengan algojo itu. Kita hanya menunduk, pura-pura lupa, sementara jam di dinding tetap berdetak, mengingatkan sekaligus memberi pertanda, bahwa setiap detik yang lewat adalah atom nyawa kita yang berkurang perlahan.
kopi
aku merasa sudah waktunya menjaga jarak dengan kopi. tentu bukan karena nikmat yang hilang. bagiku kopi masih punya rasa yang sama, dengan pahitnya juga manisnya.
mungkin karena belakangan aku merasa terlalu menggantungkan diri pada keberadaan kopi. dalam penatku, pun dalam ceriaku.
bagian yang paling menyedihkannya adalah ketika kopi mulai jadi penyebab luka, juga gemar membuatku terjaga semalaman.
tunggu dulu, apakah benar ini kisah tentang kopi?
Andai lelah tak pernah ada, mungkin dunia akan berputar tanpa henti, tanpa siang yang terasa panjang, tanpa malam yang mendekap tenang. Manusia akan terus berlari mengejar ambisi, tanpa tahu kapan waktunya berhenti, kapan harus menunduk dan menatap bumi. Tidak akan ada kursi yang terasa nyaman, tidak ada pelukan yang terasa menenangkan, karena tak ada tubuh yang butuh istirahat dan tak ada hati yang ingin bersandar.
Andai lelah tak pernah ada, mungkin kita akan menjadi mesin—terus bergerak, terus bekerja, terus mengejar sesuatu yang tak pernah selesai. Kita akan kehilangan makna dari kata “cukup,” sebab tanpa lelah, tak ada rasa ingin berhenti. Dan tanpa keinginan untuk berhenti, kita takkan pernah tahu bagaimana rasanya damai.
Andai lelah tak pernah ada, mungkin aku takkan pernah tahu betapa indahnya rebah sejenak. Tidak akan ada rasa syukur saat mata terpejam, tidak akan ada rasa lega saat embusan angin sore menyentuh wajah. Setiap hari akan berlalu seperti garis lurus tanpa ujung, tanpa warna, tanpa rasa, tanpa jeda untuk merenung.
Lelah, meski sering disesali, sebenarnya adalah tanda bahwa kita masih hidup, masih berjuang, masih berusaha menaklukkan sesuatu. Ia datang bukan untuk melemahkan, melainkan untuk mengingatkan: bahwa tubuh ini punya batas, hati ini butuh tenang, dan jiwa ini harus dijaga.
Andai lelah tak pernah ada, mungkin aku akan kehilangan sisi manusianya diriku. Aku takkan tahu rasanya menangis di tengah malam karena penat, atau tersenyum di pagi hari karena akhirnya semua usai. Takkan ada rasa bangga setelah perjuangan panjang, sebab tanpa lelah, tak ada perjuangan yang bisa disebut berat.
Lelah adalah jeda yang diberi waktu, sebuah ruang di mana kita belajar menilai ulang arah. Ia membuat langkah menjadi lebih pelan tapi lebih pasti, membuat hati lebih peka pada hal-hal kecil yang sering kita lupakan. Dalam lelah, ada renungan, ada doa, ada harapan kecil yang tumbuh perlahan.
Maka andai lelah tak pernah ada, hidup mungkin hanya tentang bergerak—bukan tentang merasa. Dan aku, takkan pernah tahu betapa berharganya rebah di bawah langit senja, menutup mata, menarik napas panjang, lalu berkata dalam hati:
“Aku sudah berjuang sejauh ini, dan itu cukup.”