Malu, Ragu, Dan Rasa Bersalah
Hari itu ruang ATM sebuah bank cukup ramai. Empat buah ATM masing-masing terdapat antrean satu hingga dua orang. Yah, tidak seramai di pasar namun ruangan itu terasa ramai dibandingkan kunjunganku di hari lainnya, bagi saya yang seorang introvert.
Kala itu saya mengantre di belakang seorang ibu berusia sekitar lima puluhan. Ibu ini menarik perhatian semua orang yang berada di ruangan tersebut karena suaranya menggema di ruangan yang tidak terlalu besar itu. Dia mengoperasikan mesin ATM di depannya sambil melakukan video call kepada seorang laki-laki yang lebih muda, kelihatannya seperti ibu dan anak. Dia menggerutu dan mengomel sambil mengikuti arahan laki-laki tersebut, tetapi kemarahannya seperti lebih tertuju kepada si mesin yang beberapa kali memuntahkan kartu ATM nya karena si ibu kelamaan memberikan respon ke mesin sesuai dengan arahan laki-laki di telepon.
Berikutnya dia kembali memasukkan kartu kemudian berpaling ke arah saya sembari berbicara di telepon, "Mungkin Abang ini bisa bantu." Kemudian dia kembali ke layar mesin untuk memasukkan nomor PIN.
Respon saya adalah mundur selangkah dengan maksud tidak mengintip dia ketika memasukkan nomor PIN ke mesin. Dalam waktu yang singkat itu pergumulan terjadi di kepala saya. Momen ketika si Ibu memasukkan enam digit angka ke mesin sekitar satu detik per angka, refleks saya membayangkan laki-laki di telepon bukan anaknya, melainkan seorang asing yang sedang mencoba menipu seorang ibu yang kurang paham teknologi untuk mengirimkan sejumlah uang kepadanya. Dari percakapan mereka sebelum kartu dimuntahkan mesin sebelumnya terdengar samar instruksi untuk memilih "Transaksi Lainnnya" di menu dan mencari "Kirim ke Bank Lain".
Setelah memasukkan PIN si Ibu kembali menoleh ke saya, "Terus bagaimana, Bang?"
Dalam satu detik otak saya berputar kencang layaknya super computer mengolah pilihan yang akan saya ambil berikutnya. Pilihan pertama adalah membantu si Ibu, dengan terlebih dahulu menanyakan: "Orang ini siapanya Ibu?" sambil menunjuk ke laki-laki di telepon genggamnya. Sepersekian detik berikutnya saya membayangkan saya di ruang interogasi dikelilingi orang-orang yang ada di ruang ATM sebagai saksi dengan tuduhan saya sebagai kaki tangan dalam usaha menipu ibu tersebut. Segera saya mengambil opsi kedua, saya mundur satu langkah lagi sambil berkata kepada si Ibu, "Ibu tanya saja sama Abang itu," sambil menunjuk ke arah telepon di genggamannya.
Ketika antrean di mesin lainnya sudah bergerak, saya turut berpindah ke antrean mesin di sebelahnya. Kemudian saya teringat satpam bank yang seharusnya membimbing para pengguna yang tidak mahir mengoperasikan mesin ATM. Saya melihatnya duduk agak jauh di luar ruangan ATM ketika saya memarkirkan motor. Saya hendak melangkah ke luar untuk menceritakan kepada satpam tersebut namun saya membeku, tidak mampu melangkah.
Sifat saya yang pemalu mengalahkan niat saya untuk menolong. Saya merasakan perhatian semua orang di ruangan itu tertuju kepada saya ketika saya berpindah antrean, menolak membantu si Ibu. Seketika saya mencoba untuk tidak menarik lebih banyak perhatian dengan mencoba meninggalkan antrean.
Sekali lagi kartu ibu itu dikeluarkan oleh mesin. Alih-alih mencoba lagi, dia memberi kesempatan kepada orang di belakangnya. Dengan kesal dia berbicara di telepon dan menyalahkan laki-laki itu yang terlalu lambat membimbingnya dan mengucapkan nomor rekening tujuannya. Dalam hati saya mendoakan semoga dia gagal transfer agar tidak tertipu kalau memang itu yang sedang terjadi. Ketika tiba giliran saya menggunakan mesin, ibu itu berpindah ke mesin yang lain, masih berusaha melakukan transfer dana.
Entah mengapa saya seperti tertahan di sana pada saat itu. Saya harus menyetorkan sejumlah uang untuk melakukan pembayaran tagihan yang telah mencapai waktunya. Mesin yang saya gunakan menolak untuk menerima tunai yang dimasukkan ke dalam. Dua puluh lembar uang kertas biasanya hanya tersisa beberapa lembar yang gagal karena kotor, lusuh dan sebagainya. Kali ini mesin menolak separuhnya. Saya terus mencoba dan sepertinya keberuntungan sedang tidak berpihak kepada saya.
Semakin saya ingin proses penyetoran itu selesai, semakin lama saya tertambat. Ketika saya mengajarkan anak saya agar jangan takut dan jangan malu di tempat umum, saya sendiri merasa malu untuk pindah ke mesin lain setelah menolak membantu si Ibu. Padahal otak saya memproses informasi bahwa sensor mesin yang ini sedang mengalami kendala. Bahwa sensor mesin di sebelahnya mungkin bekerja lebih baik dan menerima uang kertas tersebut karena tidak ada lipatan dan tidak ada kotoran atau lusuh pada lembaran uang kertas yang terus menerus ditolak itu.
Akhirnya saya hanya menghitung secara kasar kalau uang yang berhasil di setor seharusnya sudah cukup untuk membayar tagihan. Ataupun kalau belum cukup saya bisa kembali lagi besok pagi. Saya segera meninggalkan tempat tersebut. Padahal antrean sudah berubah. Orang-orang yang sejak awal di ruangan tersebut sudah selesai dengan urusan mereka dan sudah berganti dengan orang lain yang baru datang. Seharusnya saya sudah tidak ada masalah dengan perhatian orang-orang di antrean tadi yang membuat saya merasa tidak nyaman karena menolak membantu si Ibu, karena mereka sudah tidak di sana. Namun entah mengapa pikiran dan badan saya tidak bisa sinkron pada saat itu.
Di tempat parkir motor saya kembali diingatkan untuk menghampiri satpam dan menceritakannya. Mungkin dia masih bisa membantu ibu tersebut. Namun badan saya tidak mau bekerja sama. Saya menyalakan motor dan segera menuju rumah.
- Photo by Andrew Patrick Photo on Pexels -
Peristiwa tersebut masih mengganggu pikiranku setibanya di rumah. Ibu itu tidak terlihat marah ketika saya menolak membantu. Ketika seseorang dalam urgensi dan meminta pertolongan secara baik-baik dan ditolak, biasanya orang tersebut akan marah seperti: "Anak muda tak punya hati, tak mau membantu orang tua yang kesusahan dengan teknologi." Saya masih memikirkan seharusnya saya menghampiri satpam untuk membantu ibu itu. Rasa bersalah itu baru menghilang setelah saya berkali-kali mencoba mengingatkan diriku sendiri bahwa seringkali saya berpikir berlebihan dan pikiran saya saat cemas itu sering tidak terbukti benar. Sebagai gantinya saya mendoakan agar ibu itu gagal mengirim atau laki-laki itu benar anaknya atau anggota keluarganya.
Saya mencoba memandang peristiwa itu sebagai pelajaran yang mendewasakan saya. Pelajaran yang relevan untuk situasi yang sedang saya hadapi belakangan ini.
Tidak semua orang bisa kamu tolong.
Jangan menyalahkan diri Anda sendiri untuk masalah orang lain.
Terkadang intuisi kita membimbing kita ke arah yang benar, menghindari masalah.
Ketika kita tidak bisa membantu orang lain, kita bantu dengan doa.
Jangan berpikir berlebihan. Dunia bekerja dengan caranya sendiri, jauh melebihi kapasitas pikiran manusia.
Terkadang kita hanya perlu beristirahat dan berhenti mencoba menyelmatkan semua orang. Setidaknya ada satu orang yang perlu kamu selamatkan di dunia ini. Dirimu sendiri. Selamatkan dia dari rasa bersalah. Selamatkan dia dari kecemasan. Selamatkan dia dari ketakutan.
Itu bukan egois. Itu sikap membantu jiwa yang ada didalam tubuhmu.