Pernahkah kamu merasa berat untuk mengakhiri sesuatu karena kamu menikmati momen saat menjalani sesuatu itu? Misalnya seperti aku yang suka sekali berenang, bisa berjam-jam di dalam air dan tidak kunjung merasa lelah. Kalau sudah berenang, aku akan mencoba segala cara untuk mengulur waktu agar bisa selama mungkin di dalam air. Apalagi kalau ada temannya, bisa benar-benar lupa waktu.
Lima belas menit lagi deh kita (berenangnya), padahal sudah menghabiskan 1 jam lebih sebelumnya. Lalu, saat sudah mau habis waktunya, aku akan beralasan, sepuluh menit lagi deh. Kemudian, setelah sepuluh menit berlalu, aku akan menggenapkan. Tambah lima menit lagi biar sekalian 2 jam. Dan alasan-alasan lain yang dibuat agar bisa berlama-lama menjalani apa yang aku suka.
Alasan paling masuk akal bagiku untuk menyudahi berenang adalah karena sudah masuk waktu sholat atau matahari sudah tinggi atau karena kolam renangnya akan segera tutup. Pun, di saat terakhir sebelum naik ke atas kolam, aku akan curi-curi kesempatan berenang satu atau dua putaran kolam lagi.
Begitulah, untuk momen atau hal tertentu yang sangat disukai, aku terbiasa untuk menyimpannya dengan sangat baik dalam memori terutama saat sudah hampir sampai di penghujungnya. Memori yang dibentuk melalui afirmasi positif bahwa nanti juga akan ada kesempatan lagi berenang seasyik ini. Rasa cukup kubatasi dengan cara itu.
Lalu, bagaimana dengan pencarian ke-12 ini?
Dengan berat hati aku sampaikan bahwa proses dengan Al ternyata sudah harus berakhir. Bukan akhir yang pernah kubayangkan sebelumnya, tapi setidaknya menjadi pembelajaran berharga bagiku di masa depan.
Jawaban dari Allah kali ini masih 'belum'. Dan aku masih harus melanjutkan pencarian.
Mungkin berbeda dengan berenang, mencari yang ke-12 ini sudah melibatkan banyak sekali emosi, rasa, dan pembelajaran. Pernah ada saat aku sangat menikmati masa menunggu dengan harap-harap cemas, ada juga saatnya sedih dan merasa patah hati, serta lengkap dengan segudang pelajaran yang bisa diambil dan disyukuri.
Tapi untuk kali ini, aku merasa perlu berhenti. Bukan berhenti untuk menyerah tentunya, bukan pula karena sudah berhasil menemukan, namun untuk beristirahat. Sekaligus menjadi caraku yang baru merayu langit. Mungkin, jika Siti Hajar membuktikan keimanannya dengan berlari, kini aku akan mencoba cara yang lain.
Yang penting hati selalu percaya, sikap tetap baik, dan terus berdoa. Allah kan Maha Tahu apa yang ada di dalam hati orang-orang yang berikhtiar dengan berlari maupun diam dalam tenang.
Tapi sebelum aku istirahat, akan kuselesaikan satu proyek terakhir yaitu menguji memori yang baik di Bulan Maret yang lalu. Si Senior Kampus.
Akan aku jalani dengan sebaik mungkin, setenang yang aku mampu, dan seikhlas-ikhlasnya apapun yang akan terjadi nanti. Proyek yang satu ini memang unik, berjalan relatif lambat karena penuh misteri dan teka-teki, padahal orang yang dimaksud cukup dekat denganku. Beberapa fakta yang baik telah terkonfirmasi tapi aku tidak serta merta jatuh hati padanya karena aku tahu bahwa setiap cocok belum tentu nyambung.
Meski begitu, entah mengapa, aku masih terus mempercayainya.
Bukan apa apa, karena saat aku minta pada Allah untuk dijauhkan darinya jika memang bukan dia yang terbaik, beberapa tanda dan jawaban malah mengarah sebaliknya. Tapi, saat aku berusaha untuk mendekat, aku hampir kehabisan cara untuk melakukannya. Tidak seperti diriku yang biasa.
Jadi, untuk kali ini, aku akan berikan usaha dan doa yang terbaik diantara yang paling baik. Kepasrahan pada Allah yang jauh lebih penuh dari yang pernah dilakukan. Dan jika Allah masih bilang 'belum' untuk kisah yang satu ini, aku akan tetap bersyukur dan memilih untuk beristirahat sementara dari hiruk pikuk pencarian.