terakhir kali aku menangis di motor adalah saat ninggalin ilya di rumah buat pergi ke dokter. sudah lumayan lamaa. ternyata kemarin kejadian lagi, mumetnya pikir dan tanya di kepala sudah tidak tertampung lah. ketemu ibu ayam tulang lunak goreng, aku ngusap air mata dulu wkwk
perempuan (atau mungkin kita semua?) dihadapkan pada pertarungan dalam pikiran, memaksa dua hal bertentangan berkelahi supaya bisa terwujud; sebuah realita yang teori bilang ini ideal.
misal, ibu baru melahirkan. menyusui anaknya. sudah tenang dan yakinkan diri bahwa asi akan cukup. lalu nyatanya bb anaknya tidak naik-naik sampai 3 bulan. sudah dideteksi bahwa kurang intake- berarti kurang dari produksi asinya. malah dibilang "jangan terbawa beban pikiran supaya asinya banyak". lah. nyatanya kan asinya dikit :(
jadi pikirannya teh dipaksa rileks, merasa baik-baik saja, bari harus afirmasi asiku banyak padahal sudah jelas bukti nyata bahwa asinya memang sedang kurang. kabayang lieurna?
aku itu wkwk alhamdulillaah sudah lewat.
lalu tiba lagi gelombang pertentangan pikiran dan realita lainnya. misal ibu menyusui, cutinya 3 bulan saja, harus kembali bekerja. pumping di tempat kerja harus rileks supaya suplainya aman. sedemikian rupa itu pikiran di'manipulasi', mengesampingkan rasa bersalah dalam pertimbangan bekerja-menemani anak secara utuh.
kalau aku, di rumah. ingin melakukan hal lain yang implikasinya adalah aku perlu absen sementara untuk aktif nemani ilya. misal kalau aku mau menggambar, mataku ke layar dong bukan ilya. kalau ilya bobo atau self-play mah aman ya. kalau tiba-tiba sedang minta perhatian? kadang kalau sedang fokus, dipanggil pun tidak nyahut kan kita. padahal kalau anak lagi fokus lalu dipanggil tidak nyahut, kitanya pasti kesal/marah (uhuhu)
menggambar masih lebih fleksibel selama tidak ada deadline. kalau aktivitasnya yang lain? yang butuh fokus lebih? yang idealnya auto dihentikan kalau ilya bangun dan butuh? yang malah harusnya tidak melibatkan anak-anak?
lalu misal ada kesempatan untuk menjalankan itu. ilya main sama yang lain. tetap ada lintasan "ah harusnya waktu ini kupakai untuk susun kurikulum main dan belajar ilya". ai pas sama ilya, kepikirannya ke yang lain. heu.
terus ya enak aja gitu duduk diam berpikir menyadari lintasan-lintasan perasaan dan pikiran yang ada. sambil pengen nangis karena kok mumeet ya. pas ada kesempatan motoran, nangis deh. sayang bentar da perjalanannya singkat sekali.
dulu kupikir kenapa sih ada orang yang membiarkan diri berlarut dalam sedih sekian waktu. secara sadar. dijawabnya ingin menikmati kesedihan.
ternyata memang nikmat, ketika punya kesempatan untuk menikmati rasa yang ada. yang terkini, kemumetan. kerungsingan diri, pikiran, rasa. semacam diberi kesempatan memeluk diri dan lain-lainnya yang mengiringi.
terima kasih batik halus - jalaprang.
pakai timer di pagar rumah orang.
LAH PANJANG AMAT YA BUND.
Sh Hamza Yusuf di bulan maulid Nabi ﷺ membawakan topik praktik Prophetic mindfullness. digarisbawahi bahwa mindful dalam Islam adalah dengan dzikrullaah, selalu mengingat Allaah di segala kondisi.
alurnya: dzikr = remembrance = rhema + more = bringing back something to mind = mindful
Rasulullaah juga sadar sepenuhnya ketika bersedih, dan beliau ﷺ selalu bersama Allaah di setiap detiknya.
We went with Allah's Messenger (ﷺ) (p.b.u.h) to the blacksmith Abu Saif, and he was the husband of the wet-nurse of Ibrahim (the son of the Prophet). Allah's Messenger (ﷺ) took Ibrahim and kissed him and smelled him and later we entered Abu Saif's house and at that time Ibrahim was in his last breaths, and the eyes of Allah's Messenger (ﷺ) (p.b.u.h) started shedding tears. `Abdur Rahman bin `Auf said, "O Allah's Apostle, even you are weeping!" He said, "O Ibn `Auf, this is mercy." Then he wept more and said, "The eyes are shedding tears and the heart is grieved, and we will not say except what pleases our Lord, O Ibrahim ! Indeed we are grieved by your separation."
Clip from Sahih al-Bukhari 1303, In-book reference : Book 23, Hadith 61USC-MSA web (English) reference : Vol. 2, Book 23, Hadith 390
semoga kita selalu dimampukan dalam mengelola diri, pikiran, dan rasa sesuai yang Allaah mau. aaamiin.