Aku bahkan tidak tahu apakah ini surat, pengakuan, atau sekadar catatan untuk diriku sendiri. Yang kutahu, ada banyak hal yang tidak pernah berhasil kuucapkan langsung kepadamu. Karena itulah, aku menuliskannya. Sebab, hanya itu yang bisa kulakukan.
Lucunya, semakin sering aku mencoba melupakanmu, semakin sering aku mengingatmu. Aku mengira melupakan hanyalah perkara waktu. Waktu memang terus berjalan. Tapi, kenangan sering kali memilih menetap.
Yang lebih menyulitkan adalah kenyataan bahwa aku selalu memberi arti pada hal-hal yang sebenarnya biasa saja. Sebuah pesan darimu, membuatku berharap kau sedang mengingatku. Percakapan singkat denganmu, membuatku mengira kau mulai membuka hati. Pertemuan yang hanya sebentar, membuatku membayangkan sesuatu yang tidak pernah benar-benar ada.
Sekarang aku sadar. Yang selama ini tumbuh bukanlah kepastian. Melainkan harapan yang kubesarkan sendiri. Mungkin, cara terbaik mencintaimu memang bukan dengan terus menunggu. Melainkan dengan perlahan menerima bahwa tidak semua perasaan harus berakhir menjadi kebersamaan.
Kalau suatu hari nanti aku benar-benar berhasil melupakanmu, bukan berarti aku berhenti menyayangimu. Hanya saja, akhirnya aku memilih berhenti berharap. Semoga saat hari itu tiba, kita sama-sama sudah menemukan kebahagiaan di jalan yang berbeda.
(Solo, Akhir Juli 2014) Dari dulu, Juli memang selalu wadidaw sekali :c

















