Aku pernah mencintaimu sedalam orang-orang menenggelamkan doa pada malam yang sepi; diam, tulus, dan tanpa jaminan akan dijawab.
Barangkali kesalahanku bukan karena mencintaimu. Kesalahanku adalah membiarkan cinta itu tumbuh terlalu jauh, hingga melampaui batas yang mampu kau berikan. Aku menanam harapan di tanah yang tak pernah kau janjikan untuk kutempati, lalu heran mengapa yang tumbuh hanyalah penantian.
Aku mengenalmu seperti seseorang mengenal arah pulang, tetapi tak pernah benar-benar memiliki rumah itu.
Ada banyak hal yang kusesali. Bukan karena kau memilih jalan yang berbeda, melainkan karena aku pernah percaya bahwa ketulusan akan selalu menemukan tempatnya. Aku menghabiskan waktu memelihara kemungkinan-kemungkinan yang hanya hidup di kepalaku sendiri. Sementara kau, mungkin sejak awal, hanya sedang lewat.
Kini aku mengerti, mencintai seseorang terlalu dalam kadang membuat kita lupa bahwa cinta tidak selalu berakhir dengan memiliki. Ada yang ditakdirkan menjadi pelajaran, bukan tujuan. Ada yang datang untuk mengajarkan luasnya rasa, lalu pergi sebelum sempat menjadi cerita yang utuh.
Dan yang paling menyakitkan bukan kehilanganmu.
Melainkan menyaksikan diriku perlahan kehilangan banyak hal demi mempertahankan seseorang yang bahkan tak pernah benar-benar kumiliki.
Jika waktu dapat diputar kembali, mungkin aku tetap akan mencintaimu. Hanya saja, aku ingin melakukannya dengan lebih bijak. Tidak menjadikanmu pusat dari seluruh semesta, tidak menggantungkan bahagia pada kemungkinan yang rapuh.
Namun waktu tidak pernah berjalan mundur.
Maka biarlah penyesalan ini tinggal sebagai catatan kecil di antara lembar hidupku; pengingat bahwa pernah ada seseorang yang kucintai sedalam-dalamnya, tetapi tidak cukup dekat untuk kugenggam selamanya.
Dan di antara segala hal yang gagal kupunya, kaulah yang paling indah untuk dikenang, sekaligus paling sulit untuk dilupakan.
@gramabiru | Tentang Penyesalan yang tak pernah selesai









