Percayalah, aku juga kalut akan masa depan. Pendidikan, karir, cinta, dan apapun yang mungkin lupa tertulis.
Aku tak mengabaikan pendidikanku. Kini sudah di ujung. Lebih baik mati tertusuk ujungnya daripada harus jatuh lagi ke dasar. Aku kalut. Juga tentang masa depan yang sengaja mundur untuk hampiri aku yang masih berkutat dengan pendidikan. “Mau jadi apa kau?” katanya. Banyak kolom tergambar oleh imaji setelah pertanyaan itu, tapi kosong semua. Jelasnya, aku banyak inginnya, namun tak ada isinya. Dua perkara itu cukup untuk membuatku tertegun di depan cermin yang pantulannya juga ikut melamun. Tapi aku selalu percaya pada satu kenaifan yang kubuat sendiri,
“Hari ini kelak akan kutertawakan dan tidak ada apa-apanya dibanding yang menunggu di depan”
Biar kusimpan mumet pendidikan dan karir dalam kepalaku juga beberapa temanku yang terlibat. Sekarang bukan tentang itu.
Membicarakan perihal cinta bagi sederet orang cukup menggelikan, iya juga bagiku, tapi biar aku coba. Mencintai itu lebih sulit dari membenci. Jadi maaf kalau aku merasa cukup bangga dengan ini. Aku tidak menyalahkan kalian yang malu. Kita mungkin berbeda pandang tapi aku tetap mencintai kalian, dengan hangat, selalu.
Belum berani menyebut bahwa “aku mencintaimu”. Cinta jatuh tidak secepat itu padaku yang sudah lama menjadi bayangan. Aku adalah kehinaan yang membenci dirinya sendiri.
Tapi ****, kau tolong aku. Di saat semua orang rasanya benar-benar menghilang (padahal aku sendiri yang membuat pikiran itu. Intinya mereka sebetulnya ada), kau masih memberi sedikit ruang untukku berani meratap walau kita sama-sama baru. Apa kata yang tepat, kastanya berada di atas suka dan di bawah cinta/sayang? Ini menggelikan, maaf. Aku begitu sekarang ini.
Kita masih singkat tapi sudah banyak bicara tentang berat. Baru beberapa jam kita bercakap, tak sempat bergurau seperti aku yang selalu, kita sudah bicarakan tentang kesalahan dan berubah. Itu aneh, ‘kan? Tidak, ya?
Adalah tentang aku ungkapkan betapa nestapanya aku di balik bahagia yang semu. Kau bilang paling tidak toleran akan itu. Sehari kau pergi, sehari esok kau kembali.
“Memang kamu sudah tahu aku di masa lalu? Dengan segenap kesalahan-kesalahanku? Dosa yang mungkin kau tak ingin ampuni pernah kulalui? Kau sudah tahu itu?”
Ah, tahu pun aku tak peduli. Jika bagimu kesalahanmu salah, maka berubah.
Tidak ada manusia yang terlahir jahat. Kita hanya salah mengolah perihal tentang-tentang yang terjadi selama berapa tahun hidup. Penarikan kesimpulan sementara bisa dilakukan dengan memungut kembali kenang-kenang. Setidaknya aku percaya itu.
Aku takkan bercerita panjang tentangmu, ****. Maaf bila kau benci kata “terima kasih” yang sebaliknya justru kupuja. Biar kuurai;
Terima kasih telah berpikir bahwa setiap orang pasti bisa berubah. Itu sederhana tapi banyak yang lupa, bahkan aku,
Terima kasih telah menyelamatkan budak terbelenggu kasih sayang yang salah. Kau sadari atau tidak, biarkan aku tak peduli,
Terima kasih telah membiarkan aku memaksa balas kebaikanmu dengan hal yang sebetulnya tak butuh hadirku sama sekali,
Terima kasih atas cerita tentangmu yang tak perlu susah payah kucari dari orang lain. “Kalau ingin tanya tentangku, tanya langsung saja. Aku akan menjawab,” katanya. Kau lebih profesional dari narasumber skripsiku,
Dan terima kasih atas ‘lakukan sebisamu’ itu.
Lima. Terlalu banyak, kah, bagimu? Biar sebal tak apa, jangan larang aku untuk melakukan hal sulit.
Tenang, ****. Aku tahu di akhir nanti kita belum tentu bersama. Atas nama kalimat yang tepat berada di bawah judul, aku selalu percaya bahwa kemungkinan selalu bisa disemogakan.
Ini bukan tentang aku yang merasa percaya diri akan mendapatkanmu. Tapi tentang sepintas cahaya yang masih belum mau redup bahkan pada malam yang pekat dan legam.
Terima kasih nomor lima itu kujawab sederhana, “baiklah”. Memang ada kata yang lebih tepat dari itu?