"Aku sedih karena ketika keinginanku terwujud, aku sudah tidak menginginkannya."
Barangkali itulah yang disebut oleh Marcel Proust sebagai kutukan. Manusia hanya mencapai sesuatu yang diinginkannya tepat pada saat hasratnya terhadap hal itu benar-benar mati. Implikasinya, keinginan yang dibunuh oleh waktu juga membunuh identitas lama kita. Oh man, I hate what time has done to this.
Waktu merambat begitu lambat sedangkan manusia berubah begitu cepat, sehingga ketika sesuatu yang diinginkan dengan gila-gilaan oleh diri di masa lalu itu baru terwujud bertahun-tahun kemudian, "diri lama" yang menginginkan hal itu sudah tidak ada lagi (too late for joy). Kita menghabiskan hidup mengejar sesuatu yang diinginkan oleh diri kita yang sudah lama mati.
"Apa arti semua perjuangan itu jika aku sudah bukan orang yang sama?"
Proust melihat perubahan diri sebagai alasan mengapa pemenuhan keinginan menjadi sia-sia. Masa lalu telah memberiku tujuan dan masa kini yang membuat tujuan itu terasa asing. Lantas siapa aku sekarang? Jadi ini yang dulu kuanggap akan memberiku kebahagiaan dan kepuasan? Apa yang akan terjadi seandainya ini datang sedikit lebih cepat? Apa yang akan terjadi seandainya aku tidak berubah terlalu cepat? Aku bahkan merasa kesal ketika hidup terus melanjutkan alur ceritanya.
Kita berjuang demi memenuhi keinginan-keinginan kita, tetapi proses perjuangan itu sendiri mengubah kita menjadi orang yang berbeda dari orang yang pertama kali menginginkannya. I hate that the person who wanted this no longer exists.
"Mungkin memang tujuan penundaan itu agar kamu berhenti menginginkannya."
Kabar buruknya kau berubah. Kabar baiknya kau telah berubah. Diri barumu mulai menyadari bahwa kamu tidak membutuhkan hal itu. Justru yang disebut kutukan adalah ketidakmampuan manusia itu sendiri untuk lepas dari keinginan lamanya meskipun dirinya telah berubah. Lihatlah kasih Tuhan yang hendak membebaskanmu dari perbudakan atas keinginan-keinginan tersebut.
Sayangnya kau bisa memahami bahwa suatu keinginan memang harus mati (untuk membentukmu menjadi orang yang lebih baik), dan tetap berduka saat keinginan itu mati. Proust begitu jeli melihat fakta bahwa kita tidak bisa lagi merasakan apa yang dulu kita rasakan. Dalam bukunya, In Search of Lost Time, ia menjelaskan dengan lebih rinci,
Hanya saja, kita harus memberi waktu kesempatan untuk bekerja. Namun tuntutan kita terhadap waktu tidak kalah berlebihan dibanding tuntutan yang diajukan hati agar dapat berubah. Pertama-tama, waktu adalah hal yang paling enggan kita berikan, karena penderitaan kita terasa begitu tajam dan kita sangat ingin melihatnya segera berakhir.
Selain itu, waktu yang dibutuhkan hati orang lain untuk berubah akan dihabiskan oleh hati kita sendiri untuk berubah pula. Akibatnya, ketika tujuan yang dahulu kita tetapkan akhirnya menjadi mungkin untuk diraih, tujuan itu sudah tidak lagi menjadi tujuan kita.
Lagi pula, gagasan bahwa tujuan itu pada akhirnya akan dapat diraih—bahwa tidak ada kebahagiaan yang, setelah berhenti menjadi kebahagiaan bagi kita, tidak dapat akhirnya kita capai—memang mengandung kebenaran, meskipun hanya sebagian kebenaran.
Hal itu jatuh ke tangan kita justru ketika kita telah menjadi tak peduli terhadapnya. Namun ketidakpedulian itulah yang membuat kita menjadi tidak lagi terlalu menuntut. Dan karenanya, ketika menoleh ke belakang, kita dapat meyakinkan diri bahwa hal itu pasti akan membuat kita bahagia seandainya datang lebih awal, padahal mungkin pada saat itu kita justru akan menganggapnya jauh dari cukup dan sangat mengecewakan.
— Giza, beberapa kemenangan mungkin tampak seperti pemakaman. Dan jiwa itu sendiri baru bisa merdeka setelah ia terlebih dahulu berkabung atasnya.

















