Menyingkap Tabir Lauh Mahfuzh
​Takdir itu adalah asrar (rahasia) Tuhan yang tersimpan rapi di balik tirai ghaib. Ia takkan pernah terbacakan oleh mata manusia yang hanya diam terpaku di tepian keraguan.
​Ketahuilah, wahai Jiwa.
Garis tanganmu tidak ditulis untuk dibaca di atas telapak tangan yang diam menengadah tanpa daya. Garis itu ditulis untuk mewujud dalam derap langkah kaki yang berani menembus kabut ketidaktahuan.
​Sebab Allah Azza wa Jalla tidak menggelar peta nasib secara utuh di hadapanmu, melainkan Dia memberimu pelita bernama Ikhtiar.
​Bagaimana engkau akan tahu di bumi mana rezekimu tertanam, jika engkau enggan membasahi kakimu dengan keringat perjalanan?
Bagaimana engkau akan tahu di dermaga mana hatimu akan berlabuh, jika engkau takut menantang ombak lautan?
​Sesungguhnya, takdir itu "menjadi" ketika engkau "menjalani".
Setiap langkah yang kau ayunkan dengan nama-Nya, adalah pena yang sedang menuliskan kenyataan dari apa yang semula hanya berupa kemungkinan.
Jangan menuntut untuk tahu ujungnya sebelum engkau memulainya.
Karena hakekat tawakkal bukanlah menanti takdir datang mengetuk pintu, melainkan berjalan menjemputnya dengan keyakinan penuh:
Bahwa di setiap tikungan jalan yang samar, Allah telah menyiapkan sebaik-baik penyambutan.