Belajar Khusnudzon
Kadang hidup datang dengan wajah muram, membawa hujan deras yang tak kita minta, menghapus rencana yang kita tulis rapi, dan meninggalkan kita bertanya, “Tuhan, adilkah Engkau padaku?”
Namun di sela keresahan itu, ada bisikan yang selalu kuingat: segala yang singgah adalah takdir, dan takdir adalah bahasa rahasia, yang hanya dapat dimengerti oleh hati yang rela.
Apakah pantas aku mengutuk langit, hanya karena hujan jatuh di saat pesta? Apakah layak aku menghina musim, hanya karena gugur tidak sesuai harapku?
Aku gemetar menahan lidah, takut menodai sujudku sendiri. Maka kupilih jalan yang lebih berat: membaca cahaya di balik gelap, menemukan hikmah di balik retak.
Sungguh, tidak mudah menelan getir dengan senyum yang ikhlas. Tapi bukankah husnudzon adalah cara seorang hamba mengetuk pintu rahmat-Nya?
















