Gerbong Tujuh
Commuter Line bukan sekadar kereta yang mengangkut orang dari satu titik ke titik lainnya.
Setiap pagi, ia seperti sebuah sungai panjang yang membawa ratusan, bahkan ribuan cerita sekaligus. Cerita yang baru dimulai. Cerita yang sedang diperjuangkan. Atau cerita yang diam-diam sedang berusaha diakhiri oleh pemiliknya.
Pagi itu, jam menunjukkan pukul enam lewat empat puluh lima.
Kereta menuju Angke maupun Kampung Bandan datang dan pergi silih berganti. Namun semuanya tampak sama: penuh. Terlalu penuh.
Aku sudah tidak ingat berapa banyak rangkaian yang kulewatkan. Biasanya aku tidak terlalu peduli. Selama masih ada sedikit ruang untuk berdiri dan selama aku merasa masih bisa masuk tanpa merepotkan orang lain, aku akan tetap mencoba naik.
Tapi entah kenapa, hari itu berbeda.
Mungkin karena tubuhku masih menyimpan lelah dari hari sebelumnya. Mungkin juga karena hatiku sedang tidak ingin berdesakan dengan apa pun.
Jadi aku menunggu.
Satu kereta lewat.
Lalu satu lagi.
Dan satu lagi.
Sampai akhirnya, lewat pukul tujuh, aku melihat sesuatu yang sejak tadi kucari: sedikit ruang kosong.
Tidak besar. Tidak nyaman. Hanya cukup untuk membuatku berpikir, “sepertinya aku bisa masuk ke sana.”
Ruang itu berada di gerbong tujuh.
Dari luar, tidak ada yang istimewa. Sebuah gerbong yang sudah tidak terlalu muda. Cat yang mulai kehilangan kilau. Interior yang menyimpan jejak waktu. Salah satu rangkaian yang datang dari negeri yang sering dijuluki Matahari Terbit.
Tidak ada yang spesial di sana.
Setidaknya itu yang ingin kuyakini.
Karena ternyata, kalimat itu hanyalah cara paling halus yang kupunya untuk menyangkal sesuatu.
Sebab begitu kakiku melangkah masuk, ada sesuatu yang terasa akrab.
Bukan aroma gerbongnya.
Bukan suara rodanya.
Bukan pula susunan kursinya.
Melainkan sebuah kenangan yang selama ini rupanya masih duduk diam di sana, menungguku datang kembali.
Kenangan itu tersimpan rapi di sudut yang tidak bisa disentuh siapa pun. Di tempat yang selalu berhasil menyimpan hal-hal yang sudah ingin kita lupakan, tetapi tidak pernah benar-benar pergi.
Di hati.












