Sebuah Luka Yang Telah Pulih
Setiap rasa yang bersemi dan setiap emosi yang bergejolak tak pernah hadir tanpa alasan, ntah disadari ataupun tidak, Ia perlahan menggerogoti jiwa, hingga siapapun tidak sadar sudah sejauh apa diri berubah karenanya.
Sejak SD aku selalu memendam, aku tidak berani, aku takut, tidak suka bercerita, tidak memiliki inisiatif, dan aku menjadi semakin diam. Padahal saat balita aku cukup menjadi anak yang riang, suka berceloteh dan berani. Semuanya berpikir aku bertransformasi karena faktor usia, namun tidak, harusnya di usia demikian aku bisa tumbuh memiliki kekokohan diri yang terpenuhi hingga bisa percaya diri.
Jadi kalau menurutku, aku pikir aku berubah karena adanya konflik yang terjadi kala itu. Tepatnya saat aku duduk di bangku TK, aku memiliki sahabat perempuan yang ia sangat dekat denganku, tetangga sebelah rumah, kami sekelas di TK, juga teman bareng di ngaji sore, namun ia lebih mudah dariku setahun, Ega namanya. Ternyata hubungan pertemanan ini sangat singkat, aku tidak tau kapan ia memiliki dendam padaku karena aku lebih unggul darinya dimana-mana (kalau kata ibuku, itu dari ibunya yang memang iri padaku yang selalu bisa dan jadi juara di TK), lambat laun sikapnya kepadaku berubah, ia menjadi teman yang aneh, berkata kasar, egois, dan marah dan terjadi sesuatu konflik besar diantara kami yang aku lupa detailnya intinya seperti ditindas atau lebihðŸ˜, hingga aku takut padanya dan sangat tidak ingin melihatnya.
Lama kelamaan aku sangat tidak nyaman namun tetap aku tutupi dari ibuku, pernah sekali sepertinya ibu melihat gelagat aneh karena aku selalu menghindar kalo ingin pergi sekolah dengannya sehingga bertanya, "kakak sama Ega baik kan, kok mamak tengok ga pigi sama lagi ?" tanya ibu, dan aku jawab "baik kok mak, gapapa kakak mau duluan aja" kataku. Sampai suatu saat ini semua tercium, ibuku tau aku tertindas dibuatnya dari kakak-kakak yang ngaji MDA di TK kami. Karena hal itu ibuku mencoba bilang kepada ibunya serta mau tidak mau kami harus tidak berteman lagi demi kebaikan keduanya, ia sempat minta maaf dan ingin berteman lagi namun aku tidak bisa, sampai² beberapa hari sekolah aku selalu diantar dan ditunggu ibuku agar memastikan aku tidak dekat dengannya.
Tau rasanya anak usia 5 atau 6 tahun yang memendam cerita perselisihan dengan temannya kepada ibunya ? aku jujur tidak ingat namun cerita inilah yang paling aku tutup rapat, hingga akhirnya aku trauma untuk berteman dekat sekali dengan siapapun termasuk hingga sekarang. (Bisa kenal dan memiliki teman atau sahabat namun susah untuk memiliki hubungan yang lebih dalam dan masuk ke sesama kehidupan orang dan tidak memiliki trust yang besar untuk cerita, untuk hubungan yang lebih dekat, canggung, dan lain-lain Contohnya saja aku dan Dita A.P (Ape Lu), kami bersahabat (mungkin tak terlihat wkwk) namun sebenernya memiliki banyak ruang masing-masing, dan aku nyaman dengan hubungan seperti ini).
Aku pernah tidak memaafkan Ega dan pernah bersyukur karena dia pindah rumah ketika SD, sehingga aku tak perlu bertemu dengannya. Waktu telah menjawab dan aku telah memaafkan.
Mungkin benar itu memang menjadi salah satu faktor dari pertumbuhanku yang menjadi lebih tertutup dan takut, dari situlah aku sangat tidak suka konflik dengan siapa-siapa hingga sekarang, rasanya jika bersalah dan ada bermasalah dengan orang lain ingin menjadi orang yang terus minta maaf dan dimaafkan adalah sesuatu yang lebih indah.
Namun setelah dipikir-pikir sekarang, mengapa setelah konflik tersebut aku juga tidak memiliki perbaikan untuk keberanian dan kepercayaan diri ? Padahal itu terjadi ketika TK, sementara aku bisa bertumbuh di SD, SMP, SMA dan seterusnya untuk lebih baik. Dan ternyata yang menjadi penyebabnya tak jauh dan tak bukan adalah rumah. Aku memang sangat bersyukur hidup dengan keluarga yang utuh, ibu di rumah, ayah juga bekerja sebagai wiraswasta berdagang di rumah, tidak pernah merasakan salah satunya jauh dalam sehari. Namun hadir belum tentu berperan, begitu kira-kira.
Hingga sekarangpun aku tak dekat dengan ayah, ingin berubah pun bingung memutus rantainya, aku malu dan tidak berani. Tetapi aku memiliki momen rutin yang selalu bikin aku terharu karena ayah adalah segalanya, ia yang selalu mengantarku mengajar di mesjid, mengantar pagi-pagi ke simpang untuk kuliah, hingga sekarang untuk pergi kerja. Rasanya untuk mengucap terima kasih atas hadirnya selama ini aja aku malu dan selalu ingin menangis seperti saat ini menuliskan hal ini aku juga menangis :). Aku sayang ayah🖤
Aku sebenarnya tak pernah menyalahkan hal-hal lalu dari rumah yang menjadikan aku bertumbuh menjadi seperti sekarang ini, aku selalu menormalisasikan dan mewajarkan "oh iya ayah kan memang gini, oh iya mamak kan gini", namun seiring berjalannya waktu semakin dewasa semakin belajar, dan mengetahui bagaimana psikologi anak yang baik agar terpenuhi sejak dini, dan ya aku sangat jauh dari setiap tingkatan fasenya, banyak beban yang aku bawa hingga sekarang. Pelajarannya adalah peran kedua orang tua memang sangat diperlukan demi anak yang sehat secara lahir dan batin. Untuk kita kedepan.
Aku sadar bahwa semua orang punya salah, orang tua bersalah namun anak juga lebih banyak salah, belum lagi aku juga salah terhadap diriku sendiri, banyak sekali kekesalan terhadap diriku sendiri yang selalu terpendam, dan selalu aku buang dan lupakan. 'Denial' kata ini yang tepat untuk diriku.
Dear semuanya yang tak pernah sengaja membuat luka namun nyatanya aku terluka, terima kasih sudah hadir menjadi perjalanan hidup, maafkan aku, aku sudah memaafkan semuanya. Semoga kita baik yaa
Disclaimer, sekarang adeknya Ega itu murid ngajiku di mesjid sini, dan ia sangat akrab denganku, rasanya lega tidak ada dendam yang terasa. Happy for it
~Faa



















