photo diambil dari Surabayapagi , Libreria Eatery.
Bayangkan di situasi ini, anda sedang lewat di kafe ini dan kita bertemu.
Sedang luang? Duduk sebentar, yuk. Cukup 10 menit saja.
Mau minum apa? Kalau mau, pesan saja, teh atau kopi. Tenang, saya yang traktir. Mau saya ajak renungan bareng sebentar saja, kok, sambil nunggu waktu Isya’.
Jadi Mas Mbak .. Ramadan sudah lewat 10 hari, ya. Gimana perasaannya sekarang? Sedih? Sama nih.
Iya, banyak sedih karena masih banyak target-target yang belum tercapai, ya? Yang one day three juz, belum terlaksana sempurna. Kawan-kawan yang one day one juz pun sama. Padahal, kita sudah bareng-bareng menaruh target jauh sebelum masuk bulan ini, ya. Saya bisa paham itu.
Belum lagi, melihat unggahan tumblr atau tweet teman-teman yang bikin diri semakin terasa jauh dari pencapaiannya. Ada yang bikin kita merasa terhakimi, jauh dari kata baik, karena kurang banyak membaca Alqur’an.
Mungkin ada benarnya, karena kita kebanyakan nonton drakor hehe. Tapi mungkin pula, memang kitanya yang lambat karena tidak dapat secepat teman lain yang sudah khatam berkali-kali dalam 10 hari ini.
Sadar tidak sadar, kita sering membandingkan diri kita sama orang-orang, ya. Bahkan dalam hal ibadah.
Iya, sing tenang. Kita ulik bareng-bareng, ya.
Muhasabah atau renungan, baiknya menghasilkan kesadaran atas tiga hal, beserta solusinya. Tiga hal itu apa saja?
Saya seruput teh dulu ya. Biar kalem. Mari. *seruput
Baik, jadi begini. Menurut Ust. Salim A. Fillah, kalau kita muhasabah itu, tercapai setidaknya tiga hal.
1. Sadar kalau rezeki dariNya itu melimpah
2. Sadar akan sedikitnya amalan
3. Sadar kalau dosanya masih sangat banyak
Dengan rezeki, iya, rezekiNya ini melimpah banget, ya. Mungkin kita termasuk yang enggak perlu khawatir bahwa besok sahur makan apa, buka dengan makan apa. Belum lagi pakaian kita tercukupi, elok-elok pula. Belum lagi bentuk rezeki yang lain. Wah, semakin direnungi, semakin bersyukur tuh.
Dengan amalan, iya, rasanya sedikit ya yang bisa dilaksanakan di pandemi ini. Tidak bisa i’tikaf. Tidak bisa nyender di pilar masjid buat bermesraan sama Alqur’an. Pun, urusan duniawi tidak sedikit menyita waktu. Usia semakin menua, bertambah tanggung jawab, semakin banyak pula yang diurus, termasuk keuangan yang terancam selama pandemi ini. Rasanya semakin hilang fokus. Belum lagi teman yang terpaksa tidak WFH, berangkat dan pulang dengan rasa khawatir akan pajanan penyakit. Iya, rasanya urusan duniawi ini tidak ada hentinya ya.
Memang kudu lebih meluangkan waktu ibadah, bukan lagi ibadah kalau ada waktu luang.
Dengan dosa, seperti di unggahan sebelum ini, kita memang dituntut untuk selalu muhasabah di sela-sela rakaat sholat qiyaam. Dosa itu ya, personal. Ya saya sendiri belum pernah baca catatan malaikat di pundak kiri ini. Semakin kita menelisik diri, semakin ketemu dosa yang luput dari hati. Kecil besar, jangan dianggap remeh. Masalah bukan hanya pada besar kecilnya dosa, tapi bayangkan betapa Maha Besar nya Dzat yang kita khianati. Semakin direnungi semakin mau menangis rasanya ya.. Semoga dihapus semua, ya, aamiin..
Tiga hal ini, hayuklah direnungi di rumah. Menangis, itu lebih baik. Kata bunda saya, menangis pada hal-hal yang demikian itu tanda hidupnya hati.
Tidak apa-apa kok sesekali membandingkan kondisi diri dengan kondisi ibadah orang lain. Tapi ingat, dalam kadarnya. Jangan suka membanding-bandingkan. Mungkin orang itu waktunya lebih luang, tidak seberapa tersibukkan dengan kondisi keuangan atau tanggung jawab lainnya, seperti dirimu. Mungkin, kapasitasmu dan kapasitasnya memang jauh berbeda.
Jadi, selama di bulan Ramadan ini, plan ibadah fisik yang sudah dirancang di awal hayuklah dievaluasi kembali. Sing penting, dilaksanakan sesuai kapasitas fisik dan mental kita. Masih bisa ditambah ngajinya, monggo ditambah. Masih bisa memperbanyak bagi-bagi makan buat buka, yuk perbanyak berbagi.
Sing terpenting pula, mengutip Ust. M. Nuzul Dzikri, fokuskan ke ibadah hati, yaitu belajar sabar, ikhlas, ridho, jauhi riya’, perbanyak muhasabah, dan lain-lainnya. Sehingga, sibuk dalam apapun, juga bernilai ibadah.
Islam itu mudah, kok. Kayak kata Gus Baha,
“islam itu mudah, yang bikin berat itu nafsu kita,”
Jangan-jangan nafsu kita untuk mengejar target berupa angka itu lebih besar daripada keinginan kita untuk lebih dekat denganNya.
Wah. Tiati. Jatuhnya pada paham yang salah.
Baik. Sebelum beranjak dari kursi ini, ini pesan saya.
Hayuklah jangan suka membandingkan diri dengan orang lain. Bandingkan dengan diri yang lalu, itu lebih utama. Selama diri ini bisa lebih baik daripada kemarin, dengan memaksimalkan kapasitas milik diri sendiri, insyaaAllah sudah tidak merugi, kok.
Oh iya. Sebagai penutup, mohon dimaafkan ya salah-salahnya saya, lahirnya, batinnya. Saya takut kalau-kalau usia saya ternyata benar-benar berakhir sebelum sempat mengucap maaf hehe. Apapun takdirNya, semoga pengingat-pengingat di platform ini bisa jadi amal jariyah bersama, ya.
Bentar lagi adzan isya’. Siap-siap sholat, gih. Makasih ya sudah mau renungan bareng. Sing semangat untuk sisa 20 hari di bulan ini!