Mereka tidak hilang, mereka hanya sibuk dengan kehidupannya yang baru.
Nanti juga ada masanya bertemu lagi.
Kamu tidak ketinggalan, setiap orang punya jalan hidupnya sendiri.
Kamu tak bisa memaksakan finish line yang sama untuk garis start yang berbeda.
Apapun finish line-nya, yang paling penting adalah menjaga keseimbangan untuk selalu ada di jalan yang lurus,
Dan itulah yang selalu kita minta pada Allah, bukan?
Bahkan dengan karunia hidup saja, Allah sudah menunjukkan bahwa kamu berharga.
Segala sulit, hilang, kalut, takut, jadikan ladang pahala dengan bersabar.
Sabar saja sudah jadi langkahmu membuktikan cinta pada Allah, tempat segala hal bermuara.
Tempat segala cinta dimulai.
Tanpa kamu perlu hadir, menjadi hebat, apalagi bertanggung jawab untuk hidup orang lain.
Terputus, tidak relate, tidak memberikan solusi bukanlah bentuk ketidakbermanfaatan.
Karena bisa jadi mereka hanya ingin didengar,
Dan kamu...(dengan apa adanya kamu saat ini plus segenap hal yang kamu anggap belum kamu capai)
Kamu bukannya 'tidak', tapi hanya 'belum'.
Proses menunggu hingga 'sudah' adalah bentuk kesabaran,
Dan jadikanlah itu ibadah.
Manusia memang ada sisi positif dan negatifnya, tidak bisa hilang sempurna salah satunya.
Pada sisi manakah yang mau dipupuk?
Mau jalan yang manakah seluruh energi dan segenap upaya dicurahkan?
Manusia tendensinya meremehkan dan menyakiti diri sendiri.
Yakinkan bahwa banyak hal negatif yang ada di pikiran, bisa jadi hanya tendensi itu, bukan realitanya.
Allah tidak pernah menzalimi hamba-Nya, kenapa kita menzalimi diri sendiri?
Kita tidak mau menzalimi orang lain, lantas kenapa dengan mudah menzalimi diri sendiri?
Kenapa begitu keras, menyalahkan, dan menyulitkan diri sendiri?
Kenapa memaksakan sesuatu yang kita hanya 'belum' bukannya 'tidak' bisa?
Suatu saat nanti juga bisa, insya Allah.
Ada tiga sumber cinta dalam hidup manusia yang bisa dipenuhi.
Cinta dari diri sendiri, cinta dari orang lain, dan cinta dari Allah, vice versa.
Lalu kenapa begitu keras pada diri sendiri?
Emosi itu ada untuk kita terima, realita itu ada untuk kita sadari.
Bukan berarti kita setuju untuk terlarut dalam emosi negatif atau membenci realita yang ada.
Karena melalui emosi itu kita belajar.
Karena melalui realita itu kita bertumbuh.
Karena kita hanya 'belum' bukan 'tidak',
Dan sepanjang prosesnya pun berpeluang pahala.
Kamu berharga dan berarti.
Bahkan di saat tidak seorang pun lagi yang berpikir demikian, termasuk dirimu sendiri,
Percayalah bahwa ada Allah Yang Maha Pengasih Penyayang yang selalu menganggap kita begitu.
Ruang virtual, 14 Oktober 2021.
(Sebuah catatan untuk diri dari seorang sholihah nan berharga @rainingyuki yang rela mendengarkan temannya menangis sesenggukan sambil beberapa kali buang ingus)