Mbak @prawitamutia .... Aku setuju dengan setiap kata yang Mbak tuliskan. Kesendirian memang luka yang paling sukar ditahan, lebih menyakitkan daripada kehilangan harta atau tubuh yang sakit. Aku mengalaminya sendiri, di tanah rantau ini, jauh dari keluarga, jauh dari wajah-wajah yang biasanya menjadi rumah.
Sakit yang singgah di tubuh sebenarnya bisa ditawar dengan obat, bisa ditenangkan dengan istirahat. Tapi sakit yang bernama kesepian—apalagi saat tubuh juga rapuh—itulah yang benar-benar meruntuhkan dari dalam. Malam-malam menjadi begitu panjang, bahkan suara jam dinding terasa seperti pengingat bahwa aku menjalani semua ini sendirian.
Aku pernah mencoba menghibur diri dengan berkata: tidak apa-apa, aku kuat. Tapi nyatanya, yang paling sulit dilawan bukanlah sakitnya tubuh, melainkan sepi yang diam-diam masuk, membekukan hati, dan membuat langkah terasa semakin berat.
Mungkin benar, kesendirian adalah sahabat bagi orang yang berprinsip kuat. Tapi kadang, justru prinsip itu yang membuat kita harus menanggung sendiri rasa sepi ini tanpa pernah bisa benar-benar membaginya.
Di rantau ini aku belajar satu hal: tubuh bisa sembuh, luka bisa tertutup, tapi kesepian hanya bisa ditanggung, bukan diobati. Dan semakin aku mencoba memeluknya, semakin aku sadar, ia adalah bayangan yang akan selalu berjalan di belakangku, kemanapun aku pergi.