Berserah bukan menyerah. Bersegera bukan tergesa-gesa.
art blog(derogatory)

⁂

blake kathryn
Sade Olutola
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
we're not kids anymore.

izzy's playlists!

Janaina Medeiros
DEAR READER

Origami Around
taylor price

tannertan36
Acquired Stardust
Misplaced Lens Cap
AnasAbdin

@theartofmadeline
Stranger Things
Sweet Seals For You, Always
NASA

seen from Germany

seen from Malaysia

seen from United States

seen from Singapore

seen from Türkiye
seen from United States

seen from Malaysia

seen from Singapore
seen from Malaysia

seen from Philippines
seen from China
seen from Germany
seen from Italy

seen from Greece

seen from Malaysia
seen from Germany
seen from United States
seen from Finland

seen from United States

seen from Germany
@abidahsy
Berserah bukan menyerah. Bersegera bukan tergesa-gesa.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Mei: Kembali
Penantian itu akhirnya berakhir, Ibuk sudah kembali dengan aman selamat sehat sentosa ke tanah air. Berkumpul lagi bersama kami dengan segudang cerita tentang waktu-waktu yang dihabiskan bersama cucu-cucunya yang lucu nun jauh di sana. Alhamdulillah semua berjalan lancar dan menyenangkan dengan segala dinamikanya.
"Your mom came"
"Yeah she has arrived home, how do you know?"
"I know everything. About you also"
"(You knew it) From my dad?"
"Nope. Just guessed"
"Ohh"
"I know about you also"
"Like what?"
"Like everything"
Kurang lebih itu obrolan singkat lewat pesan teks antara aku dan Aksar Amad. Entah mengapa, manusia yang satu ini bisa menebak dengan tepat hal-hal tentangku, terutama saat aku merasa sudah cukup baik menutupinya. "I am getting to know you very well, I am reading your pulse," ucapnya kepadaku di awal masa perkenalan kami.
Aksar Amad juga berencana untuk kembali. Jika kondisi di tempatnya tinggal saat ini tidak kunjung membaik, maka dia akan pulang ke tanah airnya. Dia bahkan sudah membayangkan betapa bahagianya dia jika tinggal berdekatan dengan orang tuanya. Meski begitu, dia juga terus berusaha untuk mencoba peluang di tempat baru yang pernah dia ceritakan padaku.
Sempat aku berpikir bahwa tinggal di tanah airnya —jika kelak kami menikah— pasti akan penuh tantangan. Terlebih lagi, Aksar Amad gemar mengirimkanku fakta-fakta absurd yang ada dan terjadi di negara asalnya. Tetapi semakin jauh kuberpikir, aku jadi menyadari bahwa perkara tempat itu memang penting, namun lebih penting lagi dengan siapa kita tinggal dan hidup. Mungkin bisa jadi aku akan betah tinggal di negaranya kelak, siapa yang tahu?
Bagiku, selama bersama dengan orang-orang terkasih dan yang juga mengasihiku, itulah yang disebut rumah, dimanapun tempat itu berada.
Aku juga harus ingat bahwa sejatinya semua manusia adalah musafir di dunia ini, hanya tinggal sebentar dan sementara. Jadi, dimanapun bumi itu dipijak, seluruh alam dan seisinya adalah milik Allah dan hanya kepada-Nya lah semua akan kembali.
April: Sadar
Sempat aku membaca sekilas tentang tulisan penghuni Tumblr yang lain beberapa waktu lalu. Bahwa ada tipe masalah yang tidak bisa diselesaikan tanpa mencapai suatu tingkat kesadaran yang baru. Terakhir, aku hanya memahami dua tipe masalah yaitu masalah yang muncul untuk diselesaikan dan satu lagi adalah masalah yang hadir hanya untuk dihadapi dalam diam alias membiarkannya mengalir begitu saja atau menerimanya. Tapi kini, aku menemukan satu tipe masalah baru yaitu masalah yang bisa diselesaikan hanya dengan ilmu yang baru, kesadaran baru.
Di penghujung bulan April, bulan dimana keponakanku yang merupakan anak ke-3 dari mbakku lahir, aku menonton sebuah podcast yang benar-benar membuka mataku. Tentang pernikahan yang harus dimulai dengan kesadaran dan ilmu. Kukira cukup dengan ikut kelas pranikah di sana dan di sini, dapat teori ini dan itu, diskusi dan mendengar pengalaman dari si A hingga si Z. Ternyata semua ilmu itu kosong jika tidak berhasil menciptakan satu bentuk kesadaran baru. Sama halnya seperti ilmu tanpa amal, hanya sekadar tahu tetapi tidak mengubah apapun dalam kehidupan seseorang tersebut.
Bagiku, kesadaran adalah langkah awal paling konkret untuk beramal dengan ilmu yang baik.
Seorang ahli pernikahan dan parenting di podcast tersebut sudah menikah selama lebih dari 40 tahun dan beliau berkata bahwa menikah itu bisa terjadi karena keinginan dan kebutuhan. Keinginan itu sumbernya dari faktor eksternal sedangkan kebutuhan itu bersumber dari internal diri. Dalam pernikahan setidaknya ada tiga kebutuhan yaitu biologis, emosional, dan spiritual. Maka kesadaran atas kebutuhan tersebut dan yakin bahwa melalui pernikahan tiga hal tersebut bisa terpenuhi, maka itulah orang-orang yang akan memiliki pernikahan berjangka panjang (terutama sadar atas kebutuhan spiritual).
Banyak wanita yang menyesal dalam pernikahannya karena mereka menikah tanpa memiliki kesadaran terlebih dahulu. Tetapi, ada juga yang semakin bersinar setelah menikah karena dia menemukan tujuan hidupnya dalam pernikahan. Beliau juga bilang bahwa menikah itu pilihan, konstruksi sosial saja yang membentuknya seakan-akan menikah itu wajib, terutama jika sudah menginjak usia tertentu.
Ya, sadar. Ilmu sebelum amal dan amal setelah ilmu. Lantas menikahlah saat sudah sadar dan berkebutuhan.
Satu kesadaran lain aku dapatkan dalam proses bersama Aksar Amad. Awal bulan April, dia memintaku untuk mencari opsi baru. Siapa sangka ide darinya ternyata benar-benar berhasil? Aku menemukan opsi lain yang baru, Tihar namanya. Selisih 8 tahun denganku, seorang mualaf, laki-laki sirkasia asli keturunan Yunani dan juga tinggal di sana.
Obrolan mengalir selama kurang lebih dua pekan tetapi harus diakhiri karena perbedaan budaya dan standar dalam berkomunikasi. Tihar bilang bahwa selesainya proses ini bukan berarti ada yang salah dalam kualitas kami masing-masing sebagai individu, kami hanya tidak sempurna cocok. Padahal yang dia cari adalah kecocokan 100% tanpa cela. Berbeda denganku yang masih memiliki ruang untuk kompromi.
Dan yeah, meski disayangkan, Ibuk juga bilang padaku bahwa tidak peduli dia laki-laki Eropa atau bukan, yang terpenting adalah kenyamananku, termasuk di dalamnya keyakinan bahwa aku bisa hidup bersama dengan baik dan tenang untuk jangka waktu yang panjang.
Dan yeah, hingga hari ini ternyata yang masih terus berlanjut adalah Aksar Amad dengan segala kelebihan dan kekurangan yang bisa aku terima dan nikmati bersama di dalam perjalanannya.
Dan yeah, aku akan terus mendoakan yang ke-13 agar selalu diberikan kemudahan, keberkahan, kesehatan, kesejahteraan, dan rida Allah tentunya. Mengapa sekarang berubah menjadi mendoakan yang ke-13? Karena nomor urut ke-12 kini sudah disematkan olehku untuk keponakanku yang baru lahir pertengahan April lalu. Alhamdulillah wa barakallaah.
Maret: Bertambah
Akhir-akhir ini, aku membaca buku tentang Risalah Berkah. Salah satu makna dari berkah adalah bertambah dan berkelanjutan. Keberkahan hadir karena intervensi Allah di dalamnya sehingga sesuatu yang mungkin terlihat sedikit ternyata bisa cukup bahkan berlebih. Di bulan ini, usiaku bertambah dan doa yang aku amini paling serius adalah doa tentang keberkahan usia.
Panjang atau pendeknya usia seseorang, bagiku itu relatif. Yang usianya panjang belum tentu bermanfaat, membuatnya semakin banyak beribadah dan mewariskan kebaikan bagi orang lain, begitupun sebaliknya. Quality over quantity. Tetapi aku juga tidak mengabaikan bahwa waktu juga bisa menciptakan kualitasnya tersendiri.
Tentu saja aku bersyukur atas bertambahnya usia yang berarti sudah sekian purnama, ujian, suka, dan duka yang terlewati dan aku masih bertahan. Allah masih memberiku waktu dan kesempatan untuk semakin mencintai-Nya serta menjadi kebaikan bagi alam dan seisinya. Allah juga memberiku kesempatan untuk terus berusaha dan berdoa hingga nanti saat Allah memanggil, jiwaku dalam kondisi rida dan juga diridai-Nya. Jiwa-jiwa yang tenang.
Di bulan ini aku juga menyelesaikan beberapa hal, sebagiannya hanya perlu dilalui. Mulai dari menunaikan janji temu dengan beberapa teman lama, mengisi 10 malam terakhir Ramadhan dengan orang-orang terkasih, mengikuti beberapa kajian tentang hari akhir, malaikat, para nabi, dan tentu saja topik yang masih sama yaitu pra-nikah. Aku juga melalui lebaran no full team full team club dengan baik bersama adik-adik dan ayah. Ternyata aku bisa dan sama sekali tidak buruk seperti yang pernah kubayangkan.
Bertambah usia artinya bertambah yakin bahwa waktu pertemuan dengan Yang Maha Penyayang semakin dekat dan itu membuatku semakin giat bersiap. Aku kembali bekerja setelah hampir sebulan jeda dan aku kembali membuka pintu untuk opsi lain yang baru. Menariknya, mencari opsi baru adalah hal yang disarankan oleh Aksar Amad meskipun pada akhirnya dia selalu memastikan ulang satu hal tentang mengambil keputusan.
You can speak to him until I come to Indonesia. When I come then you should stop, it’s up to you to choose me or him which is better for you. You need to decide.
Sederhananya, yang dia mau adalah agar aku tidak bersedih. Kejadian yang terjadi di tempat tinggalnya menambah ketidakpastian atas proses yang sudah hampir genap setahun ini. Tapi satu hal yang pasti, dia sudah memiliki rencana dan aku sepakat dengan rencananya itu. Tidak ada paksaan, tidak ada prasangka, murni hanya rasa percaya yang semakin bertambah dan keyakinan atas skenario Allah yang pastinya terbaik.
Aku akan menunggu, bersiap, dan berdoa dengan lebih baik daripada biasanya. Insha Allah.
Februari: Tenang
Hari itu, waktu berjalan sangat cepat. Pagi, siang, lalu sore dan tibalah waktu mengantar ibuk pergi jauh. Aku menangis, tetapi lebih lagi kedua adikku. Mereka berdua sudah berusaha sampai ke bandara sesegera mungkin sebelum ibuk masuk ke pengecekan imigrasi, tetapi apa boleh buat, kedua adikku itu tidak sempat berpisah secara langsung dengan ibuk, selisih hampir satu jam.
Selama ini memang selalu aku, selalu kami yang pergi meninggalkan rumah dan ibuk setia menunggu kami pulang. Setiap hari. Aku tidak menyangka rasanya ditinggalkan jauh oleh seseorang yang selalu menyambut kita di rumah ternyata sesedih ini. Aku sudah menyiapkan diri beberapa bulan belakangan, tetapi tetap saja sedih itu tidak bisa dibendung. Bahkan ayah, untuk sepersekian detik aku menangkap wajah sedihnya. Hampir air matanya tumpah kalau saja aku tidak memprotesnya lebih dulu soal ibuk yang dibuat terburu-buru untuk segera masuk pengecekan imigrasi tanpa menunggu kedua adikku sampai di bandara.
Hari itu, libur panjang sebelum Ramadhan. Di saat orang-orang sibuk menghabiskan waktu bersama, kami malah berpisah. Di perjalanan pulang, di tengah obrolan supir taksi dan ayah yang mengomentari betapa macetnya jalan malam ini, aku melanjutkan menangis diam-diam. Membiarkan perasaan sesak dan sedih itu mengalir lewat air mata tanpa suara.
Sesampainya di rumah, aku memilih untuk tidur sendirian di ruang tengah, tempat dimana saat malam-malam sebelumnya dipenuhi dengan kehangatan sosok ibuk.
Tetapi hidup harus berjalan terus. Libur panjang pun usai dan Ramadhan kali ini kami jalani berempat saja. Rumah yang awalnya ramai, kini berubah sepi, bahkan ayah sempat bilang saat kami makan berbuka, "Ini pertama kalinya Ramadhan tidak bersama ibuk ya?" Yang kemudian kami jawab dengan diam.
Tetapi di balik semua sedih itu, Allah hadirkan kemudahan pula. Ibuk sampai dengan selamat di tempat tujuan, wajahnya terlihat sehat dan menikmati waktunya dengan lebih banyak me time di saat beberapa kali kami sempatkan untuk video call. Adikku lulus tes keahlian sebagai syarat terakhir untuk melanjutkan kerja di Saudi. Adikku yang lain diterima di program master dua negara Eropa barat. Ayahku, beberapa pekan lalu juga sudah ada kesibukan di tempat kerjanya yang baru. Kedua adikku yang lain beraktivitas dengan baik dan banyak membantuku mengurus rumah. Menariknya, ayah juga selalu membantu menyiapkan makanan, bebersih, dan mencuci piring. Kami seperti membentuk tim baru yang saling memahami dan mengisi.
Bersama sebuah kesulitan memang Allah sudah janjikan kemudahan-kemudahan. Lantas, aku meminta pada Allah hati yang tenang sehingga tidak terlalu senang dengan kenikmatan yang Allah berikan, juga tidak sedih maupun khawatir berlebihan atas ujian yang ada.
Kabar lain datang dari Aksar Amad. Dia mengabari kalau ada peluang kerja baru, tetapi masih dalam proses tender. Rencana-rencana lain pun bermunculan, mulai dari potensi kerja di Yunani, Polandia, hingga Norwegia. Yang jelas dia mau kerja di Eropa dan mendapat dual citizenship setelah tinggal beberapa tahun di negara barunya kelak.
Without (a secure) job, who will get married? Aku menghormati prinsipnya tentang pekerjaan yang mapan sebelum memutuskan menikah. Cara berpikir yang sejatinya sudah tepat dan menunjukkan sikap tanggung jawab. Sebagai perempuan, aku hanya perlu lebih sabar menunggu dan terus mendoakannya. Lagipula apa sih yang aku kejar?
Jika dia baik untukku, agamaku, dunia, dan akhiratku maka Allah akan mudahkan, dekatkan, dan limpahkan berkah. Insha Allah, aamin yaa Rabbal'alamin. Itu saja yang mau aku percayai dalam hati, dengan hati yang tenang.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Rindu yang lalu 'kan jadi satu
Senyumlah bersamaku, sabarlah menunggu
Kita 'kan bertemu di ruang baru
Tawakkul will free you. You're not meant to control everything, you're meant to surrender it to the One who controls it all. When your mind says, "what if", let your heart say, "Allah is sufficient for me." He sees what you don't. He hears what you can't. He removes what will break you and replaces it with what will build you. Rest your heart. Qadr is written with love.
you'll never find a refuge that holds you like Allāh does. you can search the whole world, through hearts, homes, and hands, yet none will ever give you the peace His nearness brings. in His shelter, you are never unseen, never unloved, never left wandering. He is the home that remains when everything else fades.
Januari: Sementara
Dunia dan seisinya memang sementara. Aku, kamu, bahkan alam yang setiap harinya meregenerasi diri untuk terus berulang dan bertahan, nantinya juga akan berakhir. Entah mengapa kesadaran atas makna sementara bisa menguatkan rasa rela, meningkatkan syukur, dan menyemai sabar. Karena paham bahwa semua yang terjadi saat ini bersifat sementara, hati menjadi damai, lapang, dan lebih peka untuk menghargai.
Ketika menghadapi badai, teringat bahwa semua sementara, maka ya sudah nanti juga berlalu. Ketika dihantam realita yang menyakitkan, teringat bahwa hidup tidak selalu berisi luka dan sedih, lantas ya sudah nanti juga akan ada tawa lagi. Ketika harus kehilangan sesuatu yang dikasihi, teringat bahwa tidak ada yang sejatinya dimiliki oleh diri ini, maka ya sudah nanti juga berganti. Berganti dengan yang lebih baik langsung dari Yang Maha Kekal, insha Allah.
Sama halnya dengan segenap penantian panjang, perjalanan jauh, kisah-kisah bertaut, perjuangan, pengorbanan, serta pertanyaan dalam diam, semuanya sementara. Nanti juga akan ada akhirnya, nanti juga dapat jawabannya, nanti juga berhenti.
Jadi kini, aku menjadi lebih paham lagi, bahwa barangsiapa yang meyakini bahwa hidupnya yang sementara ini diatur sedemikian rinci dan rapi oleh Yang Maha Kekal, maka dia tidak akan merasa khawatir dan tidak pula bersedih hati. Dalam benak dia sadar, dia hanya perlu menjalaninya dengan iman, amal shalih, dan saling menasihati. Dia percaya bahwa yang kemudian itu lebih baik baginya daripada yang permulaan. Dan dia juga percaya bahwa sungguh kelak Yang Maha Kekal pasti akan memberikan karunia-Nya kepadanya sehingga dia menjadi puas.
p.s. maaf tulisan kali ini agak kelabu, Januari isinya hujan hujan dan hujan, efeknya jadi sendu.
Desember: Tidak Berpisah, tapi Tidak Berjumpa
Kisah ini masih tentang Aksar Amad. Setelah menyuruhku kembali mencari di aplikasi pencarian jodoh dan memintaku untuk menjadikan dia sebagai opsi, kami melanjutkan bicara. Dengan kondisinya yang tidak baik-baik saja, dia bilang kalau dia mengkhawatirkanku. Orang yang aneh memang.
Dia bilang bahwa dia khawatir kalau aku mempercayainya dan bahkan menunggunya sehingga aku tidak lagi memiliki pilihan serta berhenti mencari. Dia bilang begitu di saat dirinya-lah yang seharusnya dikhawatirkan. Lagipula, mengapa repot memintaku mencari di saat aku sudah melakukannya selama 6 tahun terakhir? Aku sendiri pun telah mengubah pencarian menjadi doa-doa, itu saja.
Diuji oleh Allah dengan banyak hal sampai membuatku berpikir bahwa orang ini diberikan kelebihan oleh Allah untuk dihapus dosa-dosanya setiap hari, untuk terus mendekat pada Allah. Meski memang perlu sabar yang ekstra bahkan keridaan yang terus menerus perlu diperbarui untuk menerima setiap ujian yang Allah berikan tersebut, aku percaya bahwa Allah tidak akan membebani hamba-Nya di luar kemampuannya. Itulah yang membuatku berpikir bahwa Allah menjadikan Aksar Amad istimewa dengan ujian-Nya.
Dengan angka-angka hasil medical checkup yang kemudian aku cek di mesin pencarian dengan bantuan kecerdasan buatan, kondisi Aksar Amad bisa dibilang sebuah keajaiban. Entah sekuat apa doa ibunya sehingga dia bisa bertahan sejauh ini. Entah sekuat apa doa ibuku sehingga aku masih saja menerimanya. Aku bahkan pernah bilang bahwa di mataku dia cukup dengan segala kondisi yang dia miliki.
Aku tahu ini berat, tetapi pergi dan berbahagia sendiri belum tentu lebih ringan. Jadi, aku memilih untuk tinggal. Segenap rencana aku buat demi membuktikan pada Allah bahwa aku bersungguh-sungguh soal hal ini, yang secara mengejutkan ternyata Allah curahkan berbagai kemudahan dalam perjalanannya. Aku meminta petunjuk, lantas Allah berikan inspirasi bahkan jalan-jalan baru yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan. Alhamdulillaah.
Memang benar kata Allah, bersama kesulitan ada kemudahan. Dan di saat aku bilang pada Aksar Amad bahwa kata-kata itu bukan milikku tetapi milik Rabb pencipta dan pemelihara alam semesta, dia merespon bahwa dia mempercayai dan memahaminya. Meski kami berbeda, tapi bahasa kami sama. Meski kami tidak berpisah, tapi kami juga tidak (mungkin lebih tepatnya belum) berjumpa. Insha Allah nanti, jika itu yang terbaik.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
November: Penuh Drama
Tidak ada bulan yang paling banyak dramanya dibanding Bulan November kali ini, setidaknya sejauh 10 bulan terakhir selama 2025. Drama dimulai dari rencana ibuk ke UK untuk menemani mbak lahiran anak ke-3, ayah dengan proyek-proyeknya sebagai konsekuensi ditinggal ibuk beberapa bulan, event besar dan penting di kantor, sampai perpisahan dengan Aksar Amad.
Ya, kisah selama 8 bulan ini harus diakhiri. Alasannya karena Aksar Amad ragu untuk pergi ke Indonesia. Dia bilang padaku untuk mencari laki-laki baru sebagai penggantinya. Dia juga bilang bahwa aku lebih baik menikah dengan laki-laki Indonesia yang dekat dan bisa menemani tanpa harus membuatku merasa sendirian karena terpisah jarak. Laki-laki yang baik yang bisa mengatasiku. Dia tidak ingin membuang waktuku lebih banyak lagi dan dia mau agar aku menikmati hidupku beserta pilihanku nanti.
Aku sudah sampai di titik hampa. Tidak ada rasa marah, kecewa hanya seadanya, sedih pun nihil. Bahkan aku tidak menangis sama sekali. Mungkin karena masih syok, aku juga tidak tahu. Aku hanya menyayangkan 8 bulan waktuku untuk fokus taaruf dengan satu orang, harus kembali ke titik nol dan mengulang semuanya dari awal lagi. Bagiku yang bisa mengakhiri taaruf dalam sepekan atau bahkan sehari, 8 bulan tentu bukan waktu yang sedikit.
Apakah memang ini yang Engkau mau untuk aku jalani, Yaa Rabb?
Yeah, seperti saran dari Aksar Amad juga, aku akhirnya kembali menggunakan aplikasi dan bertemu dengan beberapa laki-laki (yang semoga) baik, mayoritas mereka adalah orang Indonesia. Semuanya dimulai dari perkenalan tentang pekerjaan, keluarga, rencana, dan lain sebagainya. Bahkan ada salah satu yang langsung memberikanku list berisi 10+ pertanyaan yang tentunya ada pertanyaan tentang visi misi pernikahan di dalamnya.
Mengulang lagi.
Tapi plot twist-nya, aku akhirnya menutup kembali aplikasi itu karena Aksar Amad mengirimiku pesan dan penjelasan tentang kalimat-kalimatnya kemarin yang jelas-jelas bernada perpisahan. Tentu saja tidak semudah itu aku menerima penjelasan yang dia berikan. Tapi melihat kesungguhannya, kondisi yang ada, dan apa yang dia lakukan untuk memperbaikinya, membuatku memaafkan dan menerimanya kembali.
Mengenal lagi, dengan sosok baru yang berbeda dalam satu individu yang sama.
Dan aku masih saja memilihnya. Setidaknya, kemarin dan hari ini. Soal bagaimana nanti di masa depan, hanya kepada Allah aku titipkan.
Dan aku masih mendoakan yang ke-12, oh, mungkin akan berganti menjadi yang ke-13 kalau keponakanku si cucu ke-3 lahir lebih dulu dari tanggal pernikahanku. Hanya Allah yang tahu.
If only you knew how precisely Allāh is writing your story, you’d stop worrying about the parts that don’t make sense yet.
Oktober: Dear October Boy
This time, I listen to your advice to write about you in English so you do not need to translate my writings. Therefore, please enjoy reading it.
I met you on April 9th this year, it has been 7 months now. As what I ever told you, I've never been in a talking phase (taaruf) with someone on this world as far as I had been doing with you. That's totally good thing because finally I know that everything needs process and unexpectedly I really enjoy it. You can understand me easily and even read my pulse through my words although we technically never meet in person yet.
Distance, which I believe that is one of the advantages in our taaruf.
Distance, you ever said it is the greatest blocker between us so I thought you will give up on me. But it turns out, even the greatest blocker has nothing to do with us and we keep looking for each other no matter what. Almost everyday.
Distance, that taught me to run to Allah before I run to you. At the end, we back to realize that there is no distance between us to Allah.
I learned a lot from you. I can clearly remember at one night I cried because I was shy knowing you have an unlimited love to your parents, especially your mom. You are a good and kind-hearted person by taking care of your family at the same time you can make me feel as your priority. You inspired me to love my parents and your parents even more.
On the top of everything, you only afraid to Allah and rely on Him. Every struggles you faced make you become closer to Him and as I ever said to you that's the only variable which makes me can not leave you. I did try it many times, you were upset at me every time I was going to give up, but I keep coming back to you. So, within this writing I want to say that you might feel alone but in fact you never be, there is Allah who always be your best company and taking care of you. He will give heavier trials to whom He loves more, right? Because the reward of sabr is endless and your patience is constantly magnetic for me.
A wise person ever said that if you feel strongly wanting something, it because the future of you will already have it. Your willingness to do something is a handshake of you will achieve it in the future. In other words, our great willingness to be together is exist due to us in the future are really together, insha Allah. I believe that because Allah is in accordance to His servants' preconceptions, moreover, I've witnessed and experienced it many times in my life.
Hence, in this special month for you, I would like to send best dua for the October boy, Aksar Amad. I hope he always be at peace of mind and heart, healthy, wealthy, and become close to Allah at anytime, anywhere, and with anyone (hope that one is me). Today, our age gap is 2 and 2 months left to see you, insha Allah. Bismillaah.
Mengapa Rasul ﷺ Menyifati Umat di Akhir Zaman Ini Bagai Buih di Lautan?
@edgarhamas
Aku mendengar hadits itu pertama kali saat di pesantren. Ketika suatu kali dalam sebuah kultum Ramadhan, seorang guru menjelaskan tema "Ahwal Al Alam Al Islami" —keadaan dunia Islam— lalu beliau membacakan hadits Rasul ﷺ,
"Hampir-hampir umat-umat (lain) akan saling memanggil untuk mengeroyok kalian sebagaimana orang-orang yang lapar memanggil satu sama lain untuk menghadapi hidangan mereka.”
Mendengar itu, para sahabat bertanya, "Apakah karena jumlah kami sedikit pada waktu itu?”
Dan inilah jawaban Rasulullah ﷺ yang melampaui zamannya. Sebuah jawaban yang mungkin tidak dilihat langsung oleh para sahabat, namun disaksikan oleh umat Islam di zaman ini.
Nabi bersabda, "Bahkan, pada waktu itu jumlah kalian banyak, tetapi kalian seperti buih di atas arus air bah.”
Seorang ulama muda, Syaikh Yusuf As Sayyid mencoba mentadabburi hadits tersebut dan mengatakan pada murid-muridnya,
"seakan-akan Rasulullah ﷺ sedang menggambarkan keadaan umat Islam tepat di zaman kita."
Jumlah yang banyak —sudah mencapai 2 miliar— namun populasi besar ini tidak bermakna di panggung perundingan bahkan medan laga. Sementara itu bangsa-bangsa lain saling memanggil, menjadikan kita seperti kue yang dibagi-bagi.
Ini terjadi sangat jelas mulai sejak tahun 1800-an, ketika Eropa melakukan gerakan kolonialisme modern. Ada istilah bernama "Scramble for Africa", dimana orang-orang Eropa mengadakan konferensi Berlin (1884–1885) di bawah Otto von Bismarck yang hasilnya: Afrika —dimana banyak muslimin di benua ini— dipetakan jadi koloni tanpa melibatkan orang Afrika.
Dan terjadilah, hampir 90% wilayah Afrika jatuh ke tangan Eropa dalam waktu ±30 tahun.
Asia pun begitu. Asia Selatan (India dan sekitarnya) mulai dicacah Inggris lewat British East India Company. Asia Tenggara dikeruk Belanda, Inggris, hingga Prancis. Cina pun ada masanya jadi rebutan lewat “Spheres of Influence” antara Inggris, Prancis, Jerman, Rusia, Jepang.
Dunia Islam? Dibagi-bagi seperti kue tart di perjanjian Sykes Pycot: Prancis mencaplok Lebanon, Suriah, dan Mosul, sementara Inggris menjajah Irak selatan, tengah Yordania dan Palestina.
Itu memang terjadi pada 1800-1900, namun luka dan efek badai yang mengoyak kita masih ada sampai 2025 ini.
Dan semalam aku bertanya-tanya: kenapa umat Islam bisa selemah ini? Bahkan kini panglima utama aktivis Global Sumud Flotilla adalah mereka dari Eropa. Angkatan Laut Italia turun tangan, Spanyol pun demikian. Sebagian umat Islam masih sibuk dengan egoisme masing-masing, apalagi pemimpin muslimin?
Ternyata jawabannya ada pada hadits yang sama, yang Rasulullah ﷺ sabdakan. Saat beliau menggambarkan umat seperti buih di air bah, Rasul melanjutkan,
"Dan sungguh Allah akan menghilangkan rasa gentar dari dari musuh-musuh kalian terhadap kalian, dan Allah akan melemparkan dalam hati kalian Al wahn.” Seorang sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, apa itu Al Wahn?"
Rasulullah ﷺ menjawab, "mencintai dunia, dan membenci kematian." (Shahih Abu Dawud)
"Kalian tahu apa yang terjadi pada buih? Apakah buih itu membawa air atau terbawa air?", tanya Syaikh Ahmad Yusuf pada murid-muridnya. Semuanya menjawab, "buih itu terbawa air."
Ya, itulah keadaan kita. Bukan aktor, tapi objek. Bukan pembawa narasi, tapi pembebek narasi. Bukan panglima media, tapi objek dan korban media. Bukan strong leader yang didengar Trump, Jinping dan Putin; melainkan makmum yang belum bisa berbuat banyak bagi sepotong akidah kita, Sang Baitul Maqdis!
Namun meski begitu, sebagaimana ku ulang berkali-kali, banyak ulama menyatakan bahwa Gaza sejak Thufan Al Aqsha telah membawa dunia pada era transformasi besar (زمن التحولات الكبرى). Buktinya? Penjajah tersingkap boroknya, normalisasi negara Arab dengan penjajah gagal, generasi muda di Barat justru banyak yang membela Palestina, dan gelombang pengakuan negara-negara "mantan penjajah" pada Palestina, menandai makin lemahnya Amerika.
Mereka mungkin bisa hancurkan kebun bunga kita, namun mereka tak akan mampu menunda datangnya musim semi!

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Kalau lelah, beristirahatlah. Menyerah bukanlah jawaban. Setiap sabar akan berganti kebaikan dari sisi Allah tanpa batas.
Tahukah kamu apa yang paling dikhawatirkan untuk mereka yang sedang menunggu?
Bukan lamanya waktu yang membuat hati rapuh, bukan pula panjangnya penantian yang melelahkan jiwa. Yang paling dikhawatirkan adalah ketika penantian itu mengikis keyakinan, saat hati mulai bertanya, “Apakah janji itu benar akan datang?”
Menunggu sesungguhnya adalah madrasah kesabaran. Di dalamnya, iman diuji: apakah kamu masih teguh percaya pada Rabb yang tidak pernah alpa menepati janji-Nya? apakah kamu tetap menjaga doamu agar tetap hangat, walau hari-hari terasa dingin tanpa jawaban?
Yang paling ditakutkan bukanlah keterlambatan, melainkan hati yang menyerah di tengah jalan, jiwa yang letih lalu memilih meninggalkan doa, padahal pintu itu sudah hampir terbuka. Maka, jagalah hatimu ketika menunggu. Rawatlah keyakinanmu dengan dzikir, basuhlah resahmu dengan istighfar, dan peliharalah harapanmu dengan shalawat.
Karena di balik sabar yang terus terjaga, ada hadiah yang sedang dipersiapkan. Dan di balik doa yang tak henti dipanjatkan, ada janji Allah yang tidak akan pernah dikhianati.
@jndmmsyhd