Pendapat Tentang Film "Ipar Adalah Maut"
Hari sabtu kemarin saya akhirnya menyempatkan untuk menonton film "Ipar Adalah Maut". Awalnya saya berfikir mungkin bioskop sudah tidak terlalu ramai karena kurang lebih sudah satu bulan tayang tapi ternyata saya keliru. Animo penonton masih cukup antusias rupanya untuk film ini. Di teater saya menonton kira-kira terisi 3/4 dari keseluruhan kapasitas. Oke, sekarang langsung menuju filmnya.
Di awal film alurnya cukup santai dan enjoy, sebagaimana kisah romantis pada umumnya yang ditonjolkan. Bagaimana pertemuan pertama antara Nisa dan Mas Aris, betapa terkesannya Nisa dengan karakter dewasa nan cerdas dari dosennya sendiri tersebut. Sampai akhirnya mereka menjalin hubungan dan resmi menikah. Nah, ada adegan yang saya ingat dan mulai berfikir adalah ketika Aris berkunjung ke rumah Nisa lalu Rani kecil yang membukakan pintu. Saya langsung menerka-nerka mungkin umur Rani saat itu sekitar 12-13 tahun. Usia awal menuju fase remaja. Sampai di titik ini cerita film masih wajar dan bahagia.
Beberapa tahun kemudian saat Rani akan memasuki bangku kuliah, ibu mereka agak was-was dan takut untuk membiarkan Rani tinggal sendirian di kos. Muncul ide dari sang ibu untuk menitipkan Rani tinggal serumah bersama Nisa dan keluarganya, walau kemudian ibunya bilang kalau ucapan itu hanya bercanda dan dilupakan saja. Nisa tampak galau dan bingung apa yang harus dilakukan. Apakah membolehkan adiknya tinggal serumah atau tetap kos sendiri. Dia diskusi dengan suami terkait hal tersebut. Intinya Mas Aris akan mendukung keputusan Nisa bagaimana baiknya. Dan teng teng, mereka sepakat membolehkan Rani untuk tinggal sementara waktu. Pada awalnya kehidupan mereka masih berjalan normal sampai datang momen-momen di mana percikan "api" itu siap menyambut kedatangan malapetaka yang berakhir bencana. Saya sejujurnya enggan melanjutkan detilnya hahaha, mungkin lebih baik nonton sendiri aja ya. Intinya Mas Aris dan Rani sang adik ipar mulai berhubungan layaknya pasangan suami istri.
Kisah ini mungkin tidak akan terjadi apabila Sang Ibu memberikan kepercayaan penuh kepada anak bungsunya yaitu Rani. Sampai detik ini kita masih sering dan banyak melihat seorang anak yang terlalu "diatur" oleh orang tua mereka entah dengan berbagai alasan. Mulai dari pergaulan, takut anaknya kenapa-kenapa terutama anak perempuan. Ada juga rasa gelisah apabila yang dilakukan sang anak tidak sesuai dengan apa yang mereka harapkan. Ekspektasi kelewat batas. Apa kemudian efek psikologi bagi sang anak? Mulai muncul rasa berontak dan merasa kesal terhadap keadaan. Mungkin hal tersebut terjadi pada Rani. Apalagi di film, sedari awal sang ibu sudah mendeskripsikan bahwa Rani ini anak yang manja, dan sang kakak Nisa anak yang pintar, kuat, mandiri. Ya, menurut saya ada andil orang tua dalam awal tragedi ini. Yang mana paket lengkap karena dibalut dengan persetujuan dari sang kakak yang membolehkan Rani tinggal bersamanya alih-alih tegas membiarkan adiknya belajar mandiri dengan sewa kos.
Adegan di kamar mandi memang seolah jadi "jalan" pembuka dosa bagi Aris dan Rani. Kalau dilihat lebih cermat sebenarnya titik awal mengapa Rani bisa demen sama Suami dari kakaknya sendiri ini adalah karena hampir tiap hari ketemu dan interaksi disertai pembawaan Aris yang kebapakan, buat Rani melihat Aris sosok sempurna untuk jadi pasangan. Apalagi ada momen di kampus yang semakin mempertegas Rani naksir sama Aris. Setelah itu yaudahlah, dosa pertama dimulai diikuti dosa-dosa selanjutnya. Saya pribadi cenderung agak berbeda melihat situasi tersebut. Segala bentuk kontrol ada di tangan Aris sebenarnya sebagai laki-laki. Bukan bermaksud untuk membandingkan gen loh ya. Tapi memang kontrol dan keputusan ada di pihak laki-laki. Itulah mengapa mereka disebut sebagai kepala keluarga dan imam. Karena memang tanggung jawabnya yang besar. Sayangnya, Aris gagal menaklukan nafsunya. Memang itulah kelemahan terbesar laki-laki, nafsu visualnya. Ketika sudah diserang pada bagian ini, luar biasa berat menangkalnya. Andai berhasil, betapa bahagianya Sang Maha. Kita berandai-andai saja kalau Aris menahan dan menolak ajakan setan untuk bekerja sama, tak akan ada air mata berlinang dari putri cantiknya, Raya. Betapa hancurnya hati anak sekecil itu melihat perpisahan orang tuanya. Lalu bagaimana tentang Rani? Bagaimanapun, Rani juga pelaku dalam bencana ini. Sebagai seorang perempuan apalagi adik ipar, sudah seharusnya dia menjaga apa yang harus dijaga. Tidak membiarkan sedetikpun orang lain terutama lawan jenis, apalagi suami dari kakaknya sendiri untuk berimajinasi ria bersama setan. Saya fikir rasa kagum terhadap kakak ipar sah-sah saja apabila masih dalam norma kewajaran dan tidak dibarengi dengan perasaan lebih. Rani padahal juga punya momen menolak ketika Aris mengajak ke hotel. Tapi ya toh dia juga gass aja. Paket komplet sih. Merinding membayangkannya.
Banyak pelajaran yang dapat dipetik dari film ini. Mulai dari bagaimana berperilaku dan bijak dalam memutuskan suatu hal dengan segala pertimbangan ke depannya. Paling penting adalah mencegah itu lebih baik. Karena pencegahan setidaknya meminimalisir sesuatu yang tidak diinginkan terjadi. Semoga kita semua selalu diberkahi dalam menjalani hidup. Dan terus menjadi pribadi lebih baik, belajar dari kesalahan hari kemarin.