Siap Nikah untuk berumah tangga itu bukan hanya bersandar pada kepemimpinan suaminya aja… tapi harus ditopang kuat oleh kesiapan istri untuk mau diatur, diarahkan, diajari, dan dinasihati juga.
seen from United Kingdom

seen from Australia
seen from Belarus
seen from China
seen from T1
seen from China
seen from Yemen
seen from Türkiye
seen from United Kingdom
seen from United Kingdom

seen from Spain

seen from Israel

seen from Türkiye

seen from Israel
seen from South Korea
seen from China

seen from Türkiye

seen from Brazil
seen from United States

seen from France
Siap Nikah untuk berumah tangga itu bukan hanya bersandar pada kepemimpinan suaminya aja… tapi harus ditopang kuat oleh kesiapan istri untuk mau diatur, diarahkan, diajari, dan dinasihati juga.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Pernikahan mengajarkan bahwa pasangan kita bukan hadir untuk memenuhi semua keinginan kita. Ia juga seseorang yang memiliki ketakutan, kekurangan, impian, dan kebutuhan untuk dicintai, sama seperti kita.
Perasaan cinta adalah satu hal, tapi pernikahan adalah hal yang lain.
Cinta mungkin cukup untuk membuat dua orang memutuskan menikah. Tapi, cinta saja tidak akan cukup untuk menjalani pernikahan itu sendiri.
Pernikahan membutuhkan lebih dari sekadar cinta. Ia juga membutuhkan kemampuan mengendalikan diri, keterampilan berkomunikasi, kesediaan untuk terus beradaptasi, dan banyak hal lainnya.
Apa iya suami bisa maksa istrinya buat bersih-bersih, masak, sampai ngurus mertua 'atas nama Islam'? Jawabannya mungkin nggak seperti yang kamu bayangkan. Sebelum mutusin buat nikah (atau kalau pernikahanmu lagi di fase berat), kamu wajib baca pandangan Ustaz Nouman Ali Khan soal gimana bikin batasan yang sebenarnya.
View On WordPress
Menikah itu ibadah?
Banyak orang mengatakan hal yang sama tentang menikah, tapi tak banyak yang mengatakan ibadah itu bisa ditunaikan ke hal lain selain menikah.
Konsep "menikah itu ibadah" sudah seperti standar akal yang ditetapkan turun temurun. Bahkan KUA mengatakan hal yang sama seperti prototipe yang jelas. Lalu tak ada yang mengatakan resolusi jika menikah saat badai datang bagaimana menghadapinya.
Ada yang bilang menikah itu percakapan, ada yang bilang menikah itu impulsif, ada yang mengatakan menikah itu menyatukan, tapi bagaimana jika aku katakan menikah itu perdagangan, pasti terasa kontrovesial, kan?
Terkhususnya di negara kita, sesuatu yang tampak kontroversi akan mengundang banyak cacian atau makian tanpa perlu memahami konteksnya "mengapa seseorang bisa mengatakan pernikahan itu perdagangan?"
namun itu hanya pendapat pribadi ku, yang tak pernah secara verbal sampai di ruang publik.
Ada satu hal yang harus diketahui mereka yang ingin menikah, pesan ini langsung dari penulis @gramabiru
Kau boleh menikah saat kau tahu siapa dirimu, apa tujuan hidup mu, kenapa dirimu berjuang, mengeluh nggak saat di uji sama Allah, bagaimana resolve masalah yang dihadapi, bagaimana hubungan mu dengan sang pencipta, mengapa aku harus bertanggung jawab, dan kenapa setara itu harus.
orang dibalik @gramabiru adalah orang yang terlalu sadar dan terlalu tenang, bahkan bisa dikatakan ia adalah orang yang tak terlalu ambil pusing dengan perkara menikah. Baginya mempercayakan segalanya pada sang pencipta sudah keharusan dan cukup mentadabburi kehidupan ini sedemikian seperlunya.
ada qoute yang mengatakan "aku takkan berkembang biak sebelum aku berkembang baik" itu merupakan qoute yang masuk akal. Pernikahan itu bukan sesuatu yang semata-mata mencintai dan mencintai. Tapi yang terpenting itu "sadar dan tidak gila" kebanyakan yang terjadi adalah mencintai dengan ugal-ugalan tapi tak sadar ia sudah mematahkan syarat sah shalat.
Menikahlah semampunya, bertanggungjawab seharusnya, bertindak seperlunya.
Saat kau belum tahu diri mu, jangan menikah dulu.
Saat kau belum menguasai puncak ego mu, jangan menikah dulu.
Saat kau belum mampu bertahan dibanyak kehidupan, jangan dulu menikah.
Saat kau belum bisa membagi kehidupan mu, jangan menikah.
Saat kau belum cukup umur jangan dulu menikah.
Saat kau di mabuk cinta jangan dulu menikah.
Itu pesan terakhir mentor filsafat ku, sebelum aku menghilangkan diri dari perguruan tinggi. Dia tak berpesan jangan mencuri atau apapun itu, dia hanya berpesan tentang hal hal yang penting sebelum menikah. Mungkin, menurutnya segala cara dpat dilakukan untuk mempertahankan rumah tangga, termasuk mencuri.
INGAT! Saat teman mu menikah jangan nasehati dia, tetapi bantu dia, karena perahu berlayar tetap butuh angin dan para kru. Dan yang paling utama sediakan sekoci sebelum kapal tenggelam. ITU PENTING.
Kata pak Faiz, kalo belum menikah maka berpuasa lah. Hehehe
Mengerti, kan?
Kata saya, kalo sudah menikah maka tetaplah beribadah.
Ayo, menikah. Sebelum kiamat huhuhu.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
36/365
Laki-laki Penakluk Ombak
Aku adalah badai yang sering kali datang tanpa permisi,
Menggulung emosi, menghempaskan ego, dan memecah kesunyian dengan gemuruh ombak yang melelahkan.
Namun, genggaman tanganmu selalu punya cara untuk menjadi jangkar yang paling tenang.
Kamu tidak menaklukkan riuhku dengan amarah yang lebih besar, melainkan dengan bentangan kesabaran seluas cakrawala.
Terima kasih telah selalu menggenggam jemariku dengan erat, meredam setiap pasang lautanku, dan menjadi rumah paling teduh untukku pulang.
Satnight | 22.58
Dalam pernikahan selalu ada ruang untuk saling memaafkan dan menerima kekurangan-kekurangan karena kitapun tidak terlepas dari banyaknya khilaf yang sering kali tidak kita sadari.
Mitsaqan Ghalizha: Janji Berat di Hadapan Allah
Akad nikah sering berlangsung singkat.
Beberapa kalimat diucapkan, saksi mengiyakan, doa dipanjatkan, keluarga tersenyum lega.
Namun di balik singkatnya lafaz itu, ada amanah yang panjang.
Pernikahan bukan sekadar hari bahagia yang dirayakan.
Bukan hanya busana, dokumentasi, undangan, dan ucapan selamat.
Ia adalah perjanjian yang kelak akan ditanya oleh Allah.
Allah menyebutnya dengan kalimat yang berat:
وَكَيْفَ تَأْخُذُونَهُ وَقَدْ أَفْضَىٰ بَعْضُكُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ وَأَخَذْنَ مِنْكُمْ مِيثَاقًا غَلِيظًا
“Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul dengan sebagian yang lain, dan mereka telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat.” (QS. An-Nisa: 21)
مِيثَاقًا غَلِيظًا
Perjanjian yang kuat.
Kalimat ini menahan seorang mukmin agar tidak memandang rumah tangga dengan ringan.
Suami tidak mengambil istri sebagai milik yang boleh diperlakukan sesuka hati.
Ia menerima amanah yang harus dijaga dengan takut kepada Allah.
Istri pun tidak memasuki ikatan itu untuk kehilangan kemuliaannya.
Ia masuk ke dalam rumah yang semestinya menjadi tempat penjagaan, rahmah, dan ketenangan.
Karena itu, pernikahan tidak cukup ditopang oleh rasa suka di awal.
Rasa bisa berubah.
Keadaan bisa sempit.
Harapan bisa bertemu kenyataan yang tidak selalu sama.
Tabiat pasangan yang dahulu tampak kecil bisa terasa berat ketika dijalani setiap hari.
Di sana nilai sebuah akad diuji.
Bukan ketika semuanya mudah.
Melainkan ketika kecewa datang, lisan sedang ingin menang, dan hati sedang merasa paling terluka.
Janji yang kuat terlihat bukan hanya saat cinta terasa manis, tetapi saat seseorang tetap menjaga adab ketika sedang tidak nyaman.
Maka jangan meremehkan kata-kata yang melukai.
Luka di rumah sering tidak terdengar oleh orang luar, tetapi Allah mengetahuinya.
Jangan mudah membuka aib pasangan demi mencari pembelaan.
Jangan menjadikan nafkah, kedudukan, atau kelebihan diri sebagai alat untuk merendahkan.
Jangan menggunakan diam sebagai hukuman yang memutus kasih sayang terlalu lama.
Jangan mengumpulkan kelemahan pasangan untuk dijadikan senjata ketika marah.
Sebab pasangan bukan lawan yang harus dikalahkan.
Ia amanah.
Ia manusia yang Allah hadirkan untuk diperlakukan dengan adil dan ihsan.
Ia teman perjalanan yang sama-sama membutuhkan ampunan Allah.
Rumah tangga tidak selalu lembut setiap hari.
Namun banyak pahala tersembunyi di dalamnya.
Pahala ketika menahan lisan dari kalimat yang bisa menghancurkan.
Pahala ketika meminta maaf meski gengsi masih terasa berat.
Pahala ketika tetap menunaikan hak, walau hati sedang belajar pulih.
Pahala ketika memilih memperbaiki, bukan membalas.
Pahala ketika mengingat bahwa Allah melihat apa yang terjadi di balik pintu rumah.
Untuk yang belum menikah, ayat ini mengajarkan agar tidak memasuki pernikahan hanya dengan bekal perasaan.
Siapkan iman, adab, tanggung jawab, dan kesiapan untuk belajar.
Untuk yang sudah menikah, ayat ini mengingatkan agar akad tidak hanya dikenang sebagai tanggal.
Ia perlu dihidupkan dalam cara berbicara, cara menafkahi, cara menghargai, cara meminta maaf, dan cara menyelesaikan luka.
Jika suatu hari rumah terasa berat, ingat kembali bahwa hubungan ini tidak dimulai dengan permainan.
Ada nama Allah yang disebut.
Ada keluarga yang menitipkan harapan.
Ada amanah yang harus dijaga.
Ada perjanjian yang kuat.
Maka rawatlah pernikahan dengan ilmu, sabar, dan takut kepada Allah.
Bukan karena pasangan selalu sempurna, tetapi karena akad itu berat di hadapan-Nya.
Ya Allah, berkahi rumah tangga kaum muslimin.
Jadikan pernikahan mereka tempat tumbuhnya sakinah, mawaddah, dan rahmah.
Lembutkan hati suami dan istri dalam menjalankan amanah.
Jauhkan mereka dari zalim, khianat, dan keras hati.
Jadikan rumah mereka jalan untuk semakin dekat kepada-Mu.
Aamiin.