174
Subjektif; Pernikahan itu Berat
Beberapa waktu lalu, muncul di timeline sosial media, video kenyataan-kenyataan dari kehidupan pernikahan.
Gambaran kebebasan yang berkurang, banyaknya hal yang harus dikompromikan, masalah finansial hingga parenting.
Lalu orang-orang yang berkomentar merasa ketakutan sendiri. ‘Bagaimana kalau—’ mulai memenuhi isi kepala.
Dalam video tersebut, si istri menunjukkan betapa pontang-pantingnya dia mengurus rumah. Ditambah ‘beban’ mengurus anak.
Maksudnya, orang-orang berpikir pernikahan itu harusnya kerja sama. Ada yang melontarkan pendapat “istri tidak seharusnya keberatan sendirian mengurus rumah, mendidik anak, dan lain-lain. Istri seharusnya diratukan. Segala pekerjaan rumah adalah tugas suami.”
Sayangnya, tidak semua hal berjalan sesuai ekspektasi. Tidak semua finansial rumah tangga berlimpah.
Sayangnya tidak semua pernikahan itu berjalan dalam dan dengan kondisi ideal.
Tidak ada yang bilang menikah itu mudah. Menikah memang berat.
Tapi akan jadi berkali lipat berat, saat manusia-manusia diluar rumah mereka dengan nyalangnya menyalahkan keputusan atas pilihan-pilihan yang mereka saja tidak tahu.
Menjadi berat saat lelah dan bukannya beristirahat namun justru mendongakkan kepala dan mulai membandingkan dengan yang sedang longgar.
Menjadi berat saat kita berhenti mencari ilmu, berhenti belajar, berhenti bersandar pada Allah.
Menjadi berat saat terlena bahwa siklus hidup itu ya kalau tidak senang ya susah. Kalau jelas-jelas dalam Al-Quran menyatakan dunia hanya permainan, senda gurau, cobaan.
Menjadi berat kalau tidak bersiap dan dibarengi dengan ilmu. Ilmu kalau Allah itu Maha Kaya, Maha Pendengar, Maha Penyayang, Maha Mengetahui, Maha dari segala Maha dengan 99 nama-Nya.
Barangkali menjadi berat karena ya ibadahnya panjang, hadiahnya surga.
Maka, untuk kita-kita yang sedang berjalan menuju pernikahan, tentukan standar beratmu sendiri. Karena setiap kita, memiliki batasnya masing-masing.
Kira-kira di titik mana aku siap membuka diri, bekerja sama selamanya dalam ikatan pernikahan? Sebenarnya apa yang menjadi tujuan pernikahan? Sejauh mana aku mengartikan kata ‘berkorban’ dalam pernikahan?
Semoga ketakutanmu, ketakutanku menjadi pengingat bahwa Allah adalah sebaik-baik penolong setelah segalanya direncanakan dan dipersiapkan.
Dan untuk aku di masa depan, kalau-kalau sudah menikah dan sedang berat menjalani pernikahan; tolong jangan berhenti meluruskan niat dan mengingat tujuan. Jangan berhenti bersandar pada Allah. Selamanya itu tidak lama, hanya sampai waktunya kita harus pulang.
Sekian.
@ffahraa













