Keadaan kita sekarang nggak mungkin sama dengan besok, minggu depan, apalagi tahun depan. Semuanya terus berproses.
Mungkin tempatnya masih sama, tapi apa yang kita rasakan di dalamnya pasti akan berbeda di setiap waktunya. Kita pun berubah, begitu juga orang-orang di sekitar kita. Ada yang datang, ada yang pergi, ada yang akhirnya cuma tinggal sebagai bagian dari cerita.
Jadi, mungkin nggak apa-apa kalau hari ini terasa berbeda. Karena memang nggak ada yang benar-benar menetap dalam bentuk yang sama.
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality✓ Free Actions
Free to watch • No registration required • HD streaming
Yang Tidak Kita Tahu dari Setiap Orang yang Berpapasan
Sore ini aku duduk sebentar di pinggir trotoar SCBD, cuma memperhatikan. Tidak sedang buru-buru ke mana pun, tidak sedang menunggu siapa pun — cuma duduk dan menonton arus manusia yang mengalir tanpa henti di depan mataku. Dan entah kenapa, dari situ muncul rasa syukur yang tidak kuduga akan datang di tempat seramai ini, di antara klakson mobil dan suara langkah ribuan orang asing yang tidak akan pernah kukenal namanya.
Ada yang lewat sambil dorong gerobak cilok dan cilor, berteriak menawarkan dagangannya di antara hiruk pikuk gedung-gedung kaca yang menjulang di sekelilingnya — kontras yang aneh, tapi entah kenapa terasa pas, seperti pengingat bahwa di balik gedung-gedung megah ini, roda ekonomi kecil tetap berputar, tetap dibutuhkan, tetap punya tempatnya sendiri. Tidak jauh darinya, ada tukang kopi keliling dengan termos di pundaknya, berjalan pelan menyusuri barisan orang yang duduk menunggu jemputan, menawarkan secangkir kehangatan dengan harga yang jauh lebih murah dari kopi-kopi yang dijual di kafe-kafe berkaca di seberang jalan. Aku ingat pernah menulis soal ritual kopi pagiku sendiri — betapa proses menyeduhnya terasa seperti satu-satunya hal yang benar-benar bisa kukendalikan. Tukang kopi keliling ini, entah kenapa, membawa kehangatan yang sama, hanya dengan cara yang jauh lebih sederhana: bukan biji pilihan yang digiling perlahan, tapi termos yang dipanggul berjalan kaki, dijual demi menyambung hidup hari itu juga.
Di sisi lain trotoar, ada yang berlari pagi — atau sore, tergantung jadwal masing-masing — dengan pakaian olahraga yang harganya mungkin setara gaji sebulan si penjual cilok. Sepatu lari bermerek, jam tangan pintar yang menghitung detak jantung, earphone nirkabel yang harganya bisa buat beli gerobak dagangan baru. Aku tidak sedang menghakimi siapa pun di sini — cuma memperhatikan betapa dekatnya dua dunia yang begitu berbeda ini, berbagi trotoar yang sama, berbagi udara yang sama, tanpa benar-benar saling melihat satu sama lain. Mungkin yang berlari itu sedang mengejar target maraton pertamanya. Mungkin dia sedang lari dari sesuatu yang jauh lebih personal — dari insomnia, dari kecemasan kerja, dari pertengkaran semalam yang belum selesai. Larinya sama, tapi alasannya bisa jadi begitu berbeda, dan kita yang cuma menonton dari pinggir jalan tidak akan pernah tahu yang mana.
Ada yang berjalan menenteng tas bermerek yang berkilau di bawah lampu jalan, melangkah cepat dengan sepatu hak tinggi menuju gedung kantor yang pintunya dijaga satpam berseragam rapi. Tidak jauh dari situ, ada yang berlari mengejar bus TransJakarta yang pintunya hampir menutup, tas kerja terguncang-guncang di pundaknya, napas terengah-engah karena takut telat. Ada juga yang setengah berlari turun tangga menuju stasiun MRT, melirik jam tangan sambil menghitung berapa menit lagi sebelum kereta terakhir yang bisa mengejar jadwalnya. Aku memperhatikan wajah-wajah itu sekilas — tidak ada satu pun yang benar-benar terlihat santai. Bahkan yang naik mobil pribadi, bahkan yang menenteng tas termahal sekalipun, semua punya semacam ketegangan kecil di wajahnya, seolah semua orang di kota ini sedang mengejar sesuatu yang tidak pernah benar-benar bisa mereka kejar sampai tuntas.
Di seberang jalan, seorang pria duduk santai di atas motornya, terparkir di bahu jalan, matanya sesekali melirik ke arah pintu keluar gedung perkantoran — mungkin sedang menunggu istrinya selesai kerja, siap membonceng pulang bersama setelah hari yang panjang. Ada ketenangan tersendiri dari caranya duduk, satu kaki menapak aspal, satu tangan menggenggam ponsel sambil sesekali mendongak memastikan istrinya belum keluar. Aku jadi teringat lagi soal beban jadi kepala keluarga yang pernah kutulis di sini — betapa beratnya menanggung tanggung jawab itu sendirian. Tapi melihat pria ini menunggu dengan sabar, aku juga diingatkan bahwa di balik semua beban itu, ada juga momen-momen kecil yang tenang: menjemput orang yang kita cintai pulang kerja, duduk santai sejenak sebelum berdua kembali menembus macetnya kota ini bersama-sama.
Sementara itu, di jalur yang lain, sebuah mobil mewah terjebak macet, lampu remnya menyala berkedip-kedip di antara ratusan mobil lain yang sama-sama tidak bergerak, terlepas dari berapa pun harga mobil yang mereka kendarai. Macet ternyata jadi salah satu dari sedikit hal yang benar-benar demokratis di kota ini — tidak peduli mobil mewah atau motor butut, semua sama-sama terjebak, sama-sama menunggu, sama-sama tidak berdaya di depan lampu merah yang tidak kunjung hijau. Aku membayangkan pengemudi mobil mewah itu, di balik kaca gelapnya, mungkin sedang menelepon kerjaan yang belum selesai, mungkin sedang mendengarkan lagu favoritnya sambil menghela napas panjang, atau mungkin justru sedang menahan tangis yang tidak bisa dia tunjukkan begitu sampai kantor nanti. Kemewahan mobilnya tidak memberitahu apa-apa soal apa yang sedang terjadi di dalam kepalanya.
Ada juga yang berdiri berkelompok sambil ngobrol santai di depan sebuah kafe, tertawa lepas seolah tidak ada beban sama sekali — dan mungkin memang begitu, mungkin itu momen istirahat mereka yang paling jujur hari ini, satu-satunya waktu ketika mereka benar-benar bisa jadi diri sendiri di tengah hari kerja yang melelahkan. Tapi bisa jadi juga mereka sedang menahan sesuatu di balik tawa itu, seperti yang sering kulakukan sendiri belakangan ini — tersenyum di depan orang, padahal di dalam sedang menahan banyak hal yang tidak ingin kutunjukkan. Kalau aku bisa berpura-pura sekuat itu, kenapa aku selalu berasumsi bahwa senyum orang lain itu murni tanpa beban di baliknya?
Ada juga sepasang office boy dan cleaning service yang duduk di bangku taman kecil di sudut kompleks perkantoran, membawa bekal dari rumah, makan sambil ngobrol pelan, sesekali tertawa kecil di antara suapan nasi. Mereka mungkin tidak pernah masuk ke gedung-gedung megah itu lewat pintu depan yang sama dengan para eksekutif, tapi merekalah yang menjaga gedung-gedung itu tetap bersih dan berfungsi setiap hari, sebuah pekerjaan yang jarang dilihat tapi selalu dibutuhkan, persis seperti Hephaestus yang pernah kutulis di sini — bekerja di tempat yang jarang disorot, tapi tanpa mereka, seluruh sistem yang lebih besar ini tidak akan bisa berjalan.
Aku duduk di situ dan mulai berpikir: setiap satu dari ribuan orang yang lewat di depanku ini punya kepala sendiri, penuh dengan pikirannya masing-masing, yang tidak akan pernah bisa kuketahui. Tukang cilok itu, apa dia sedang mikirin cara bayar sekolah anaknya bulan depan? Tukang kopi keliling itu, apa dia baru saja dapat kabar baik, atau justru sedang menahan sesuatu yang berat sambil tetap tersenyum menawarkan dagangannya? Orang yang berlari dengan outfit mahal itu, apa dia sedang lari dari sesuatu yang lebih dari sekadar target kalori harian — mungkin dari tekanan kerja, dari masalah rumah tangga, dari kecemasan yang cuma bisa dia lepas lewat keringat dan detak jantung yang terpacu?
Yang punya tas mahal itu, apa dia benar-benar bahagia dengan hidupnya, atau justru sedang menopang citra yang jauh lebih rapuh dari yang terlihat dari luar? Yang berlari kejar busway itu, apa dia sedang mengejar waktu karena harus jemput anak di sekolah, atau karena takut kena potongan gaji kalau telat? Yang menunggu jemput istrinya di atas motor itu, apa mereka baru saja melewati pertengkaran di rumah, atau justru sedang menikmati salah satu momen paling tenang dalam hari mereka yang sibuk? Yang macet di mobil mewahnya itu, apa dia benar-benar setenang yang terlihat dari balik kaca gelap mobilnya, atau justru sedang menghadapi masalah yang jauh lebih besar dari yang bisa dibayangkan orang yang cuma melihat mobilnya dari luar?
Aku juga jadi berpikir soal diriku sendiri di tengah semua ini. Kalau seseorang duduk di trotoar yang sama, memperhatikanku berjalan lewat, apa yang akan mereka simpulkan? Mungkin mereka akan melihat orang biasa, berpakaian biasa, berjalan dengan langkah yang mungkin terlihat cukup tenang — tanpa tahu sama sekali soal malam-malam yang kuhabiskan mempertanyakan arah hidupku sendiri, soal doa yang belum terjawab, soal rasa takut yang kadang datang tanpa permisi. Dari luar, aku mungkin cuma terlihat seperti satu lagi orang yang lewat di trotoar ini, tidak ada yang istimewa. Dan itu, entah kenapa, justru jadi pelipur — karena kalau aku bisa menyembunyikan begitu banyak hal di balik wajah yang tenang, mungkin begitu juga dengan semua orang lain yang kuperhatikan sore ini.
Aku tidak akan pernah tahu jawaban dari semua pertanyaan itu. Dan justru dari situlah rasa syukur ini muncul — bukan syukur karena aku merasa lebih baik atau lebih beruntung dari siapa pun yang kulihat, tapi syukur karena aku disadarkan betapa banyaknya kehidupan yang berjalan paralel denganku setiap detik, masing-masing dengan bebannya sendiri, masing-masing dengan caranya sendiri untuk bertahan, dan aku cuma satu dari ribuan cerita yang sedang berjalan bersamaan di trotoar yang sama ini.
Aku pikir inilah yang bikin manusia begitu menakjubkan sekaligus begitu menyedihkan untuk direnungkan sekaligus: kita semua berjalan berdampingan, berpapasan setiap hari, berbagi trotoar yang sama, macet di jalan yang sama, menunggu di halte yang sama — tapi hampir tidak pernah benar-benar tahu apa yang terjadi di kepala orang yang berjalan tepat di sebelah kita. Yang kaya punya masalahnya sendiri yang mungkin sama beratnya, hanya bentuknya berbeda, dari yang dihadapi tukang cilok yang mendorong gerobaknya. Yang berjuang mengejar busway mungkin sama lelahnya dengan yang duduk nyaman di mobil mewah yang terjebak macet, hanya jenis kelelahannya berbeda.
Dan mungkin ini juga yang selama ini belum sempat kutulis waktu bahas soal ekonomi negara kita — bahwa di balik angka-angka pertumbuhan dan statistik inflasi yang kudiskusikan panjang lebar, ada jutaan wajah seperti yang kulihat sore ini, masing-masing berjuang dengan caranya sendiri, tidak peduli apakah PDB tumbuh 5 persen atau rupiah melemah sekian persen. Angka-angka itu penting, tapi mereka tidak pernah benar-benar menangkap perjuangan personal setiap orang yang sedang mendorong gerobak, mengejar busway, atau duduk menunggu di atas motor sore ini.
Di tengah semua ketidaktahuan itu, aku memilih untuk bersyukur. Bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk berjalan di trotoar ini, menyaksikan hidup berjalan dalam segala bentuknya yang beragam. Bersyukur karena, seberat apa pun beban yang kupikul sendiri belakangan ini — soal pekerjaan yang belum kunjung datang, soal rasa takut akan masa depan, soal pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab — aku masih jadi bagian dari keramaian ini, masih jadi salah satu dari ribuan cerita yang sedang berjalan bersamaan, bukan sendirian di ruang kosong yang sunyi.
Mungkin rahasia sebenarnya dari semua orang yang berjuang menjalani hidupnya masing-masing bukan soal mereka punya jawaban yang tidak kupunya. Mungkin rahasianya justru sesederhana ini: mereka juga tidak tahu jawabannya, mereka juga bingung, mereka juga takut, tapi mereka tetap berjalan, tetap berlari kejar busway, tetap mendorong gerobak cilok, tetap terjebak macet dengan sabar, karena satu-satunya pilihan yang benar-benar ada di tangan kita semua bukan menyelesaikan semua ketidakpastian hidup sekaligus, tapi sekadar terus melangkah, satu langkah lagi, di trotoar yang sama, bersama ribuan orang lain yang sama-sama tidak tahu apa yang akan terjadi besok, tapi tetap memilih untuk berjalan maju hari ini.
Malam mulai turun waktu aku akhirnya berdiri dari tempat dudukku di pinggir trotoar itu. Lampu-lampu gedung mulai menyala satu per satu, menciptakan cahaya kuning keemasan yang membias di antara kaca-kaca gedung tinggi. Orang-orang yang tadi kuperhatikan sudah berganti dengan wajah-wajah baru — gelombang manusia lain yang baru saja pulang kerja, atau baru mulai jaga malam. Aku berjalan pulang sambil membawa satu pemikiran sederhana: bahwa aku tidak sendirian dalam perjuanganku, meski aku memang harus menjalaninya sendiri. Ada ribuan orang lain, di trotoar yang sama, di kota yang sama, yang sedang menjalani versi perjuangan mereka masing-masing, dengan cara yang mungkin tidak akan pernah kuketahui, tapi tetap ada, tetap nyata, tetap berjalan berdampingan denganku setiap hari.
Harusnya ketika kita makin bertambah usia, maka kedewasaan pun bertambah. Semakin bertambah usia idealnya pengalaman kita juga harus bertambah pula. Termasuk keimanan kita.
Struktur utama untuk mencapai kedewasaan rohani ini adalah dengan belajar bersyukur dan menentukan titik syukur.
Sebab, seringkali kita justru surplus dalam mengeluh (surplus komplain). Kita mencari-cari alasan untuk mengeluh:
Masakan kurang asin.
Pasangan yang sudah tidak seperti dulu lagi.
Ekonomi katanya susah, pekerjaan sulit.
dll
Bahkan, kita sering menyalahkan pihak lain atas keadaan yang terjadi: menyalahkan pemerintah, presiden, bahlil, gibran, circle pergaulan, atau bahkan hal-hal sepele seperti bantal atau tukang parkir.
Intinya, kita mengalami surplus mengeluh.
Padahal, struktur keimanan yang pertama dan utama saat mencapai kedewasaan adalah: Belajarlah Bersyukur.
Umumnya kita manusia, jika kita menerima sesuatu dan mengucapkan terima kasih, maka yang memberi akan menjawab, "Sama-sama."
Lalu, bagaimana dengan Allah? Ketika kita mengucapkan terima kasih kepada-Nya?
Maka Allah tidak hanya menjawab "Sama-sama," tetapi Allah akan terus menambah, menambah, dan menambah nikmat itu kepada kita.
Hal ini adalah komitmen yang Allah sampaikan dalam Surat Ibrahim ayat ke-7:
"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan: 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih'."
Kita sering berharap rumah menjadi tempat untuk menerima kembali kasih sayang dan dukungan. Ketika yang terjadi justru sebaliknya, ada rasa kosong yang sulit dijelaskan. Bukan karena kamu menuntut balasan, tapi karena setiap orang juga ingin merasa diperhatikan.
Aku jadi teringat satu hal. Kadang kita tidak kecewa karena sudah memberi terlalu banyak. Kita kecewa karena selama ini merasa harus kuat terus, sementara hampir tidak ada yang bertanya, "Kamu sendiri gimana?"
Tapi aku juga ingin mengingatkan satu hal—
Jangan sampai karena orang lain tidak mengembalikan apa yang kamu berikan, kamu jadi menganggap nilaimu ikut berkurang. Nilai dirimu tidak ditentukan oleh seberapa banyak orang membalas usahamu.
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality✓ Free Actions
Free to watch • No registration required • HD streaming
Selamat tinggal Cahaya bintang, selamat melangkah menuju ketetapan Allah yang telah menunggumu. Terima kasih telah berkenan bersua kembali sebagai pertemuan akhir kita. Barangkali temu kita kali ini adalah cara-Nya untuk membantu kita menyelesaikan hal-hal yang belum sempat usai, agar tidak ada lagi kata yang tertahan dan tidak ada hati yang terus bertanya. Selamat bersuka cita dan kuturut berbahagia ☺️...
Aku sangat bersyukur atas rasa "bodo amat" yang Allah titipkan dalam diriku. Semakin bertambah usia, aku justru melihatnya sebagai salah satu nikmat terbesar yang Allah berikan.
Bukan "bodo amat" yang membuatku tak peduli pada orang lain, melainkan yang membuatku tidak mudah ikut campur dalam hal-hal yang memang bukan urusanku. Ada rasa malas yang ternyata begitu menenangkan: malas mengurusi hidup orang lain yang tidak ada kaitannya dengan hidupku, malas mempercayai cerita yang belum jelas kebenarannya, malas mendengar hal-hal yang hanya berdasarkan asumsi, dan malas menghabiskan energi untuk sesuatu yang tidak membawa manfaat.
Rasanya hidup jadi jauh lebih ringan. Tidak semua hal harus diketahui, tidak semua pembicaraan harus diikuti, dan tidak semua pendapat harus ditanggapi. Cukup fokus memperbaiki diri, menjaga hati, dan menjalani apa yang memang Allah amanahkan untukku.
Semoga Allah menjaga sifat ini agar tetap berada pada tempatnya—menjadikannya benteng dari prasangka, gibah, dan hal-hal yang sia-sia, tanpa menghilangkan rasa peduli pada sesama ketika memang dibutuhkan.
Sepi menggelayuti seseorang tanpa ia sadari. Ia menyusup perhalan dan mengisi ruang-ruang hampa dalam relung. Lalu, sesaat ia menetap, sepi mengetuk pintu di dalam benak-benak mereka. Tok tok tok. Dalam kehampaan rasa, sepi merasuk, membisikkan perasaan-perasaan sedih, meninggalkan lubang yang menganga dalam dada.
Sungguh benar adanya, manusia makhluk yang tak berdaya di hadapan rasa. Tatkala sepi menguasai, seluruh bahagia rasanya tak mampu menutup lubang sepi. Seberapa banyak pun dopamin yang dihasilkan, sepi tetap di sana, melekat.
Sebenarnya, manusia dengan segala gelisahnya, khawatirnya, sepinya, telah lama diketahui oleh Yang Maha Pencipta. Ia, yang mengetahui segala yang tampak dan yang tersembunyi. Ia, yang mengetahui setiap gentar dan desir yang berkelebat dalam benak tiap ciptaan-Nya. Ia, yang menciptakan rasa sepi dengan segala penawarnya.
Penawar sepi? Ialah syukur. Atas segala nikmat yang Ia berikan, selayaknya setiap makhluk merasa cukup. Bahkan, sepi itu sendiri ialah nikmat. Sepi, rasa yang hadir dan merana ketika lapar menepi, dahaga terpuaskan, dingin tiada lagi terasa, dan aman menyelimuti.
Analog (Ana-log) ialah sekumpulan naskah tanpa pola, tanpa tema, hanya rangkaian kata yang membentuk teks. Kadang bermakna, kadang pula tidak. Terbit sekenanya, tergantung suasana hati si empunya log.