Kuhabiskan Keberuntungan Hidupku Demi Kamu
Aku selalu meyakini, setiap orang punya jatah keberuntungan dalam hidupnya. Ada yang beruntung di karir, harta, kesehatan, asmara, dan lainnya. Sedikit atau banyak jatahnya, hanya sang pencipta lah yang tau. Sejak kecil, aku selalu berpikir kalau jatah keberuntungan di hidupku tidaklah banyak.
Tapi, aku cukup yakin, eh tidak, sangat yakin malah. Jika jatah keberuntunganku selama hidup itu banyaknya 100, maka 90% sudah kugunakan untuk mendapatkan hatinya dia, istriku saat ini, hehe.
Sebagai anak yang terlahir di keluarga petani yang kalau dikatakan miskin banget juga ndak sepertinya, soaalnya kami masih memiliki sawah untuk bertani. Namun kalau dikatakan menengah juga kejauhan. Karena itulah, sejak kecil aku terbiasa hidup dengan keterbatasan. Mungkin faktor itulah yang membentuk pola pikirku yang sangat rasional dan logis, sehingga tidak berani ambil resiko besar.
Sejak kecil, aku sudah sangat sadar apa saja kelemahanku dan sedikit hal yang menjadi kelebihanku. Kelemahanku suangat banyak, jika kalian melihatku dalam beberapa detik atau menit saja, kalian akan bisa membuat 10 list kekuranganku, wkwk
Nah, masalahnya, kelebihanku itu sedikit, sangat sedikit malah. Mungkin kelebihan yang paling awal aku sadari adalah otakku yang sedikit lebih encer daripada kebanyakan anak di lingkunganku. Jadi, nyaris dari masa SD hinggga perkuliahan, hal itulah yang selalu aku gunakan untuk sedikit menutupi banyak kelemahanku.
Oke, kembali ke topik tulisan ini. Tentang keberuntunganku, terutama di urusan asmara, haha. Sebagai orang yang jauh dari kata goodloking + qismin, tentu kalian bisa tebak kira-kira bagaimana cerita asmaraku. wkwk
Ini beberapa nama yang pernah menjadi cerita di hidupku, walaupun hanya sekadar suka atau kagum, sayang, dan bahkan cinta.
1. Masa SD
Perempuan pertama yang menarik perhatianku ini namanya Devi, teman SD ku. Dia lah yang membuat aku cuma rangking 1 selama 1x saja di SD, selebihnya selalu rangking dua. Dia tentu cantik dan pintar. Tapi sekarang, aku sadar dulu itu cuma perasaan suka sesaat/kagum saja. Soalnya saat SMP dan SMA kami masih satu sekolah. Dan perasaan itu juga sudah hilang. Dia kemungkinan besar juga tidak pernah tertarik padaku sebagai lawan jenis, cuma dianggap rival saja, haha.
2. Masa SMP
SMP adalah masa di mana keenceran otakku berada di masa puncaknya. Iya sih masih ada beberapa orang yang lebih pintar dariku, tapi di masa SMP itu lah banyak sekali teman-teman yang notice kelebihanku ini. Dipanggil ke atas panggung perpisahan karena dapat nilai 10 di pelajaran UN Matematika adalah momen puncaknya. Btw, aku sekolah di kecamatan, 5 km dari rumahku. Setiap hari aku mengayuh sepeda pulang pergi dari rumah ke sekolah.
Nah, di fase ini ada beberapa perempuan yang berhasil membuatku kagum/suka, tapi cuma 1 yang bikin di level jatuh hati. Kulitnya yang sawo matang dan senyumnya yang manis selalu berhasil bikin aku salah tingkat saat itu. Sayangnya, tampaknya ia tidak memiliki perasaan yang sama padaku, hiks. Karena namanya unik dan indah, namanya aku jadikan nama depan anak cewekku, haha. Semoga istriku nggak tau, kalaupun tau, semoga ia tak mempermasalahkan, wkwk. Oh ya, Namanya Agvinta Nilam Wahyu Yudhistira. Bagus dan unik, kan?
3. Masa SMA
Masa SMA mungkin adalah puncak masa puberku. Pada masa ini lah aku mengalami masalah jerawat di muka yang sangat membuat frustasi. Sudah muka gak ganteng, ditambah jerawatan lagi, ckck. Karena keterbatasan akses informasi dan biaya, akibatnya aku tidak bisa mengobati jerawat di wajahku saat itu dengan baik dan benar. Bekas jerawat alias bopeng di wajahku sampai usia 34 tahun aja masih ada.
Nah, anehnya, dengan kombinasi muka jauh dari kata ganteng + bopeng + qismin + naik supra bapak, di kelas 10 SMA aku berani PDKT sama temen sekelas yang paling cantik. Gila gak tuh? Kalau dipikir-pikir sekarang, gak tau diri sekali ya diriku dulu, wkwk
Dan lebih mencengangkan lagi, dengan kondisi mengenaskan seperti itu, terkonfirmasi bahwa dia juga suka sama aku. Terharuuuuu ... kok bisa ya, haha. Dan saat itulah, aku resmi jatuh cintaa bersama, tidak jatuh cinta sendiri terooos. Yeaaayyyy.
Aku tak pernah menembak dia jadi pacarku waktu itu, gak sesuai trend anak-anak muda pada masa itu pokoknya. Dari obrolan secukupnya di kelas, bertukar kabar lewat sms di hape, kami saling tau kalau kami juga saling cinta. Ceilehhh. Kalau di analisa paling logis, mungkin alasan dia suka aku karena aku pintar, yah itu aja kayanya. Apalagi coba? Soalnya di kelas 10 dulu mayoritas isinya cowok berandalan, haha
Dan sayangnya, ternyata kami tidak berjodoh. Memang benar kata pepatah, orang yang paling kita sayang, punya kekuatan paling besar untuk menyakiti kita. Hubungan kami berakhir saat kelulusan SMA, detail cerita cinta dengannya kayanya kepanjangan kalau diceritakan di tulisan ini. Lain kali aja ya. Oh ya, nama cewek yang berhasil membuat aku jatuh cinta bersama pertama kali adalah Lisnawati.
Masa kuliah mungkin adalah fase penentu arah hidupku saat ini. Baik segi arah karir dan asmara. Aku kuliah di FKIP UNS. Dari SD cita-citaku memang ingin jadi guru, mungkin karena efek sejak kecil doktrin itu sudah ditanamkan bapakku, haha. Dan ya, setelah kuliah di fakultas keguruan, aku baru menyadari kalau menjadi guru bukan passionku.
Nah, di masa kuliah ini, ada beberapa perempuan yang menarik perhatianku. Tentu dalam rentang waktu yang berbeda ya, bukan di waktu yang sama. Sebagai pria yang wajahnya tidak lulus KKM, tentu aku juga sadar diri yaaa.
Dari beberapa perempuan, mungkin cuma ada 2 yang benar-membuat jatuh hati. Tapi keduanya bertolak belakang, satunya membuat patah hati sepatah patahnya, satunya membuat hati ini merasakan dicintai dengan tulus dan menenangkan.
Kita bahas yang pertama dulu ya, wkwk
Dia adalah teman sekelasku waktu kuliah. Namanya Restu Widhi Hastuti. Sebenarnya, menurutku dia gak cantik-cantik amat kok, ada yang lebih cantik di kelasku. Namun, entah kenapa, sejak melihat pertama kali saat perkuliahan, ada semacam sensasi berbeda di hatiku, wkwk. Rill cinta pada pandangan pertama, haha. Gugup, gelisah, grogi, dan aneka perasaan aneh lainnya akan muncul kalau aku bertemu dengannya. Jangankan bertatap muka, mendengar suaranya saja hatiku sudah tak karuan wkwk. Lebay amat ya. Tapi, dulu memang begitu yang kurasakan selama kurang lebih setahunan.
Perasaan yang menyenangkan sekaligus menyakitkan karena hanya aku yang jatuh cinta. Dia tidak tertarik sedikitpun padaku. Ada sih beberapa usaha yang kulakukan, tapi karena keterbatasan isi dompet dan muka, ya bukannya mendekat, sebaliknya mungkin dia malah tambah risih sama aku, wkwk. Ya wajar aja sih. Kalau dipikir secara logis, apa coba alasan dia bisa tertarik padaku. Mahasiswa dengan wajah di bawah standar, qismin, dan secara akademik juga medioker saat kuliah, haha.
Mungkin saat itulah rasa patah hati paling sakit yang pernah kurasakan seumur hidup. Ditambah lagi, beberapa waktu setelahnya aku dapat undangan nikah dari Lisna. Kalian masih ingat dia kan? Ya, orang yang pertama kali mau jatuh cinta bersama saat SMA. Saat aku masih kuliah semester 3, dia sudah memutuskan menikah dengan pria pilihannya. Setahuku suaminya adalah senior di kampusnya. Jangan ditanya segalau dan sepatah apa hatiku saat itu. Sudah ah, lebay amat jadi laki, wkwk.
Yang kedua, namanya Istiqomah Nur Hidayah. Dia sebenarnya juga teman sekelasku. Dibanding restu, ini perempuan lebih cantik lho. Cantiknya juga natural karena seingatku dia jarang atau hampir gak pernah pake make up. Sebenarnya sudah dari awal kuliah aku juga sudah memperhatikan dia. Tapi dia sudah terlanjur didekati temanku yang lain + aku sudah terlanjur tertarik sama temennya dia juga, haha. Nah, uniknya, dia itu dari dulu selalu ngasih semangat sama aku biar terus berjuang mendapatkan hati temennya itu. Tapi, ternyata tetep aja gagal. wkwk
Nah, di antara temen-temen perempuan satu angkatanku, isti adalah salah satu yang paling populer. Mungkin karena orangnya ramah, murah senyum, supel, agamis, dan juga cantik. Setahuku, cukup banyak mahasiswa yang dekat atau sedang mendekati dia, termasuk beberapa teman-temanku, wkwk. Ya karena sadar diri gak bisa bersaing + sedang sibuk mencoba mengambil hati temennya, awal-awal perkuliahan kami berteman baik biasa, seperti mahasiswa lainnya.
Nah, semenjak patah hati + ditinggal nikah, anehnya intensitas aku bertukar pesan dengannya bertambah sering. Dia juga gak risih karena setahuku memang dia ramah pada siapa aja. Awalnya aku juga gak berharap lebih sama dia. Rasa sakit karena patah hati sebelumnya tentu membuat trauma. Tapi, bukan sulis kalo namanya gak tau diri, haha.
Sejak akhir tahun 2012 aku mulai gencar mendekatinya dengan berbagai strategi gembel haha. Dan yak, dengan segala dinamika hubungan selama bertahun-tahun, singkat cerita, akhir tahun 2016 kami memutuskan untuk menikah. Yak, kalian tak salah baca. MENIKAH, wkwk. Apa saja dinamika yang aku dan istri alami selama 2013-2016 mungkin akan aku ceritakan di lain waktu, hehe.
Alhamdulillah kami sudah hampir 10 tahun sah menjadi suami istri. Sudah dikaruniai 2 anak yang ganteng dan cantik. Sampai sekarang, kalau dipikir-pikir secara logis, gak ada logisnya sih istri nerima aku jadi suaminya, haha.
Kebanyakan teman-temanku yang kenal kami berdua tentu akan sepakat dengan opiniku. Jika dinilai secara paras, istriku itu nilainya 7,5-8,5 per 10. Dan aku, dengan penuh kesadaran menilai 4,5/10, haha. Karena itulah, aku sangat yakin. Sebagian besar jatah keberuntungan hidupku kuhabiskan demi mendapatkan istriku sekarang, hehe. Jika ada Sulis-sulis lain di universe lain, aku dengan sangat yakin bilang, kalo akulah Sulis paling beruntung di semua universe. hehe