suatu sore bersama Bapak (#MariBercerita)
Beberapa tahun lalu, saya mengalami momen episodik, berakhir di IGD, lengkap dengan rangkaian mesin canggih untuk membantu pernafasan.
Orang tua saya cukup terbiasa me-manage rasa khawatir, tapi kali itu, Bapak dan Mama merasa situasinya cukup berbeda. Mungkin insting orang tua terhadap anaknya. Bapak dan Mama bisa merasakan, gadisnya sedang di puncak rasa lelah, sedang sangat tergoda untuk menyerah.
Bapak memutuskan untuk berkunjung ke Jogja, menemani gadis sulungnya dan sahabat terbaiknya.
Suatu Kamis dalam pekan kunjungan Bapak, saya menghabiskan waktu sejak pagi menjelang siang sampai pada sore hari untuk kontrol di tiga dokter berbeda, sebagaimana biasa, namun kali ini ditemani beliau yang sekuat tenaga menjaga ekspresinya tetap santai, bebas dari raut sedih dan khawatir.Â
Saya meminta izin tidak meminum beberapa jenis obat hari itu. Ada kencan dengan Bapak. Saya butuh badan dan jiwa saya untuk sepenuhnya fungsional.
Dari rumah sakit, kami ke toko baju muslim di Pandega Marta, tidak jauh dari angkringan Cak Nun dan bakul dawet favorit saya saat itu. Di perjalanan pulang, saya menyampaikan keinginan untuk berjalan kaki, yang dianggap sebagai tantangan oleh Bapak, yang tentu saja beliau sanggupi.
Dulu, di samping Indomaret dekat Parsley, ada toko kecil yang menjual cheesecake. Kami mampir dan Bapak mentraktir satu slice cheesecake enak, sebelum kami melanjutkan perjalanan menyusuri aspal di jalan kaliurang 'bawah' yang penuh dengan hiruk pikuk kendaraan.
Sore hari itu masih jelas dalam ingatan saya. Saya dengan maxi dress biru muda yang dibelikan Mama saat akan pertama kali ke Jogja dan sepatu yang baru sehari sebelumnya dibelikan Bapak di Mall Malioboro, Bapak dengan celana kanvas dan kemeja abu-abu lengan pendek. Juga bias mentari yang tak lagi silau, pula hembus angin sepoi-sepoi yang nyaman menyapa kulit.
Tujuan kami ke Chez Moi di Sagan. Saya minta Bapak menemani menghabiskan sore di sana, dulu masih beroperasi sebagai café, bukan hanya bakery dan pastry shop seperti sekarang.
Di Chez Moi, saya pesan french chocolate panas dan opera slice, Bapak pesan green tea panas.
Lalu dimulai serangkai percakapan.
Bapak melontarkan pertanyaan yang lebih mirip pernyataan. "Capek sekali sayang?", yang saya jawab hanya dengan menggumam "uh...uh".
Kami berdua sama tau, capek itu sama sekali tidak merujuk pada jalan kaki hampir sejam barusan.Â
Setelahnya ada senyap beberapa detik, lalu hilang tak berbekas. Tidak ada ceramah, hanya percakapan ngalor ngidul tanpa henti, seringkali diselingi tawa. Tawa saya masih sama renyah dan menggelegar. Entah memang suara tawa saya sudah ditakdirkan selamanya selalu seperti itu, atau barangkali saat itu, saya dengan sadar sekuat tenaga memperlihatkan diri yang belum menyerah, demi Bapak yang curi-curi menganalisis, demi Mama di rumah yang menunggu hasil analisis.
Kami duduk di samping jendela saat itu. Langit mulai berganti semburat merah muda menandakan senja. Musik di Chez Moi mengalun pelan dari speaker, mengiringi sendu senja dan wangi harum khas toko roti.
Sudah waktunya mengakhiri kencan, sedikit lagi waktu maghrib.
Bapak menatap langit, lalu menatap saya dengan tatapan penuh sayang, tatap yang terlalu indah untuk dideskripsikan melalui kata-kata.
Bapak membaca surat kecil yang beliau tulis untuk saya, yang di dalamnya ada serangkaian kalimat yang hingga kini masih hangat mendekap jiwa setiap kali sendu menghampiri.
"Masih banyak jalan yang harus kamu lalui, masih banyak tempat yang menunggu untuk kamu kunjungi, masih banyak manusia yang harus kamu temui, masih terlalu banyak hikmah yang menanti kamu resapi, belum waktunya untuk berhenti. Bapak tidak bisa bayangkan lelah yang kamu rasakan, tapi paksa diri untuk lanjut bergerak, terlalu indah jiwamu untuk berhenti di sini".
Saat itu, saya hanya tersenyum dan mengangguk sebagai penerimaan terhadap doa dan harapan, pula pengakuan terhadap keyakinan pada kebenaran yang normatif. Mungkin juga saya sedang benar-benar mengais alasan untuk bertahan dan menjadi kuat. Tapi saya sama sekali tidak punya gambaran tentang jalan yang dimaksud Bapak, tentang orang-orang dan hikmah yang menunggu saya temui di sepanjang jalan itu.
Beberapa tahun berlalu, penguatan dari Bapak perlahan tapi pasti mulai bertemu bentuk. Dan di satu titik, kalimat-kalimat Bapak tersebut menjadi standar dan indikator pemaknaan hidup secara retrospektif.
Betapa indah perjalanan, betapa berharga pertemuan yang membawa sukacita dan kehangatan, betapa banyak pembelajaran, betapa besar makna yang mengantarkan pada kedamaian jiwa.Â
Betapa benar keputusan untuk terus bergerak dan tidak berhenti. Betapa tepat seruan untuk percaya tanpa harus memburu-burui datangnya hikmah.Â
Jika tak ada jalan lain, mungkin memang kaki harus melangkah di jalan itu untuk bertemu jawaban dari doa-doa yang dipanjatkan.
Yang saya pelajari dan akhirnya sedikit banyak bisa saya pahami, hakikatnya, menjadi kuat dan berserah diri sama sekali tidak kontradiktif. Menjadi kuat harus dipaksakan, tetapi kuat punya batasan. Di luar batas itu, hanya ada pilihan untuk percaya dan berserah.
Sebagai manusia, sebagai seorang hamba, mengakui kelemahan dan keterbatasan adalah bentuk perayaan kekuatan diri. Ada janji dan ketetapan-Nya, kita hanya perlu untuk bergerak penuh keyakinan dan menolak dikalahkan oleh ragu dan takut.Â
Terima kasih pada semua yang membersamai perjalanan saya di tiap babaknya dan menjadi alasan penyadaran ini. Terima kasih sudah menjadi jejak dan bukti kasih dan cinta dari Sang Maha Cinta dalam kehidupan saya.