Budak Algoritma
Coba ingat, dalam seminggu terakhir, berapa banyak hal dalam hidup kita yang dipengaruhi oleh media sosial? Pergi mencoba tempat makan atau destinasi wisata karena konten IG? Minta pasangan harus bisa A, B, C setelah menonton TikTok? Beli barang berdasarkan review di YouTube? Selamat, kita semua sudah sukses menjadi budak algoritma.
Saya mulai terusik dengan perubahan perilaku manusia sejak wabah TikTok melanda. Kenapa saya sebut wabah? Dampaknya masif, korban yang diserang milyaran, dan penyakit ini menular dengan sangat cepat. Apapun yang sedang viral di media sosial langsung diadopsi oleh generasi muda dan mendatangkan cuan tak terkira. Di satu sisi, TikTok dianggap sebagai sebuah jalan pintas menuju ketenaran dan kelimpahan. Namun, sesederhana dan seindah itukah kenyataannya?
Konten media sosial sering memaksa kita memiliki standar serupa untuk berbagai hal dalam hidup: kebahagiaan, kesuksesan, kekayaan. Lihat pasangan artis dilamar di Perancis dan prewed di Swiss, kita jadi punya impian sama. Lihat influencer punya uang milyaran dari aset kripto, kita ikut latah. Lihat konten outfit check senilai ratusan juta, kita silau dan ingin beli barang-barang branded. Sadarkah kita sudah disetir media dalam mendefinisikan bahagia?
Di dunia modern ini semua terasa semu. Banjir konten dan informasi membuat kita sering merasa hilang arah, tak tahu mana lagi yang bisa dipercaya. Rasanya seperti masuk ke dalam ruangan penuh orang yang membawa mic. Setiap orang bisa meneriakkan apapun karena asas kebebasan berpendapat.
Kondisi ini menjadi berbahaya karena fakta dan pembenaran makin sulit dibedakan. Jika video TikTok bilang pasangan yang lama membalas chat itu artinya sudah tidak sayang atau tidak memprioritaskan, tetiba Anda jadi bertengkar dengan pacar. Jika reels Instagram menunjukkan pasangan ideal itu harusnya memberi surprise tiket liburan ke destinasi idaman, Anda jadi merasa suami/istri kurang effort.
Sejak kapan bahagia kita didefinisikan media?
Paparan life update teman-teman kita juga tak banyak membantu. Rasa-rasanya mereka semua jauh lebih sukses dan mapan. Si A sudah punya keluarga bahagia, si B selalu traveling ke luar negeri, si C punya karier cemerlang di bidang yang wow. Semua hal ini menjadi racun yang mengendap di alam bawah sadar. Terus menjadi pengingat, "Aku kapan bisa begitu? Kenapa aku enggak punya pasangan kayak dia? Kok hidupku membosankan banget?"
Keluarga dan kawan kita tak salah, mereka hanya mengunggah momen-momen terbaik dalam hidupnya. Begitu juga dengan jutaan pengguna media sosial lain. Jika mereka semua menampilkan sisi buruk dan menjemukan dalam kesehariannya, siapa yang tertarik? Bagaimana bisa mendapatkan engagement?
Inilah yang perlu selalu kita ingat: Media sosial bukan kenyataan. Media sosial hanya fragmen terbaik seseorang yang dipoles secantik mungkin untuk tontonan publik. Jangan bandingkan hidupmu dengan secuil performa berdurasi semenit.
Bila Anda sudah di tahap lelah dengan ini semua, obatnya sederhana; puasa media sosial. Berhentilah mengonsumsi informasi-informasi tak penting yang justru membuat kepala pening. Anda mungkin merasa berat, tak sanggup menolak rayuan konten-konten lucu, seru, dan asyik itu. Sadarkah Anda tak ada bedanya dengan orang ketagihan? Tak bisa berhenti merokok, ngopi, makan gula? Media sosial memang candu yang begitu memabukkan.
Tentu tidak semua masalah hidup selesai ketika Anda uninstall TikTok dan Instagram. Namun, Anda akan punya waktu dan konsentrasi penuh untuk menghadapi berbagai tantangan hidup. Anda akan punya ruang untuk mencoba hal-hal baru, menemukan keseruan dari hobi lama, dan menikmati momen dengan orang-orang terdekat. Anda akan punya kebebasan untuk menentukan sendiri apa makna bahagia, bukan sekadar hasil dikte algoritma.










