10 Hari Berbagi Cerita dan Pikiran
Day 1: Menjadi Berbeda, Menjadi Kamu
Seorang teman dulu pernah berkata: “Yul can try to be one of us while we are not Yul and we’ll never try to be Yul”. Pernyataan itu diucapkan matter-of-fact-ly, tanpa malice, dan mengundang tawa kecil dari semua yang ada di situ, termasuk saya.
Verdict yang saya terima sejak dulu dari teman-teman dekat sangat straightforward: saya punya dunia sendiri yang tidak menarik bagi kebanyakan orang. Julukan sayang dari mereka untuk saya adalah ‘old soul’, kadang diplesetkan menjadi ‘odd soul’.
Sejak kecil sampai fase remaja akhir, kondisi emosional saya relatif stabil tanpa fluktuasi. Namun, saya sudah menyadari bahwa model komunikasi dan cara menikmati waktu antara saya dan teman-teman cukup berbeda.
Metode saya dididik dan dibesarkan, bentuk media yang saya konsumsi, hal-hal yang diekspos kepada saya, adalah sesuatu yang sangat saya banggakan dan secara signifikan mempengaruhi proses pembentukan identitas dan personality saya, namun di sisi lain menempatkan saya dalam semacam solitary bubble.
Sampai awal kuliah, pola kehidupan sosial saya masih sama. Ada deliberate effort untuk mencoba memahami segala topik pembicaraan teman-teman, ada kebutuhan untuk menjadi bagian dari sebuah kelompok, namun saya masih Yul yang sama, seorang introvert kelas kakap yang tidak benar-benar tertarik pada dunia selain dunianya sendiri.
Menjadi berbeda dan tidak relatable tidak pernah menjadi masalah di fase itu, tidak pernah pula saya pikirkan secara serius. Saya secara objektif merasa diri saya adalah manusia yang menyenangkan, dan saya tidak merasa kekurangan apapun akibat interests yang sedikit berbeda. Kebutuhan terhadap koneksi dengan manusia lain sudah terpenuhi lebih dari cukup melalui kasih sayang dan perhatian dari orang tua saya.
Sampai akhirnya di satu titik dalam fase dewasa awal tersebut, setelah melewati periode yang sulit, juga setelah menjadi cukup dewasa untuk bisa mempersepsikan cinta baik platonik maupun romantis, saya akhirnya merasa, sepertinya menyenangkan jika dipahami dan diterima.
Menjadi 'berbeda' yang dahulu adalah sesuatu yang saya banggakan kini merupakan sesuatu yang membawa kesepian.
Di titik inilah, saya mulai banyak berpikir tentang esensi menjadi seorang individu, dengan identitas dan kepribadiannya sendiri, di tengah lingkungan sosial yang menuntut pemenuhan terhadap koneksi antar manusia, serta hubungan interpersonal yang baik.
Saya termasuk orang yang 'wear her emotions on her sleeves', sangat animated, sangat excited ketika membicarakan topik yang disukai. Tapi lalu saya akan sangat peka membaca situasi. Have I said too much? Is my excitement hard to accept for those who listen? Is my affection a burden to those who receive it?
Seiring mengizinkan diri untuk menjadi lebih aktif sebagai makhluk sosial, semakin perasaan ini mengganggu.
Saya akhirnya berpikir banyak tentang konsep self-awareness, dan self-consciousness sebagai dampak dari pilihan untuk merayakan keunikan diri. Saya berusaha bertumbuh menjadi sedikit lebih bijaksana, dan saya mencoba untuk menjadi manusia yang adil terhadap dirinya sendiri.
Hubungan dan dinamika di rumah serta cara kita dicintai oleh keluarga menjadi blueprint dalam kita mendefinisikan dan mengekspektasikan hubungan interpersonal dengan orang-orang terdekat di luar rumah. Ekspektasi terhadap resonansi emosional dengan lingkungan sosial terdekat seringkali melahirkan isolasi emosional.
Saya menyukai diri saya. Saya adalah pribadi yang sangat secure, saya hampir tidak pernah merasa membutuhkan validasi dari orang lain, tidak juga peduli pada opini orang lain tentang diri saya kecuali dari mereka yang saya cintai (read: orang tua, abang dan adik-adik). Tetapi di saat yang sama, saya tidak bisa memungkiri bahwa saya membutuhkan koneksi emosional dengan manusia lain.
Saya sering berpikir apakah introversion yang absolut itu nyata adanya. Apakah ada manusia yang benar-benar dan sepenuhnya menikmati kesendirian, murni karena preferensi, semata-mata karena ia menyukai kesendiriannya, dan bukan karena sedang bersembunyi dari rasa takut terhadap penolakan, disalahpahami, dan akhirnya terluka, ketika ia membuka diri dan berharap dipahami.
Saya akhirnya menyimpulkan bahwa asimetri dalam hubungan interpersonal adalah sebuah keniscayaan.
Pemahaman secara total antar manusia adalah mitos.
Tidak ada manusia yang bisa sepenuhnya memahami manusia lain. Jika kita mensyaratkan itu bagi seseorang untuk berada di dekat kita, maka selamanya kita akan selalu sendirian.
Tiap-tiap dari kita adalah makhluk yang kompleks, dengan layer yang sangat banyak, yang kita sendiri pun butuh waktu yang lama dan proses yang melelahkan untuk bisa memahami setiap aspeknya.
Tujuan dari hubungan antar manusia bukanlah saling memahami seutuhnya, tetapi saling menerima bahkan ketika kita tidak mampu memahami beberapa hal. Hakikatnya, akan selalu ada hal yang tidak kita pahami dari orang lain, sebagaimanapun dekat, sebagaimanapun sayang. Menjadi ‘berbeda’ adalah hasil yang inevitable dari lingkungan dan proses bertumbuh yang berbeda-beda.
Apakah setelah menyadari ini saya tidak kesepian lagi? Tentu tidak. Kesepian adalah bagian yang konstan dalam kehidupan.
Sering sekali saya menemukan sesuatu yang selucu atau seasik itu, tetapi ketika menengok sekeliling saya menyadari tidak ada tempat untuk berbagi, lalu saya hanya bisa tersenyum dan melanjutkan menikmati segala keseruan itu dalam kesendirian. Ada sensasi bittersweet pada momen menyadari itu, menyadari bahwa teman yang paling seru adalah diri sendiri.
Saya belajar banyak tentang hakikat sebuah kompromi dan menempatkan kontrol pada diri sendiri. Jika memang tidak sanggup untuk merasa sendirian, maka pilihannya ada pada diri kita untuk bekerja keras memahami dunia orang-orang di sekitar kita, karena yang membutuhkan adalah kita.
Sebuah kebodohan jika mengharap orang lain berubah untuk kita. Orang lain tidak punya urusan untuk memahami kita, apalagi jika harus mengeluarkan effort untuk tahu tentang kita dan dunia kita. Bagi saya, penyadaran tersebut sangat mendamaikan.
Saya menikmati waktu yang saya habiskan sendiri, di dalam dan di luar kepala, dengan hal-hal yang saya suka. Saya memilih untuk tetap di dunia itu dan tidak tertarik untuk mengenal dunia yang lain. Saya berada dalam ruang penerimaan yang radikal terhadap diri sendiri sebagai satu pribadi yang utuh. Hantaman kesepian yang sewaktu-waktu datang tanpa aba-aba adalah harga yang harus saya bayar.
Sebagai seorang introvert akut, ketika sedang bersama orang banyak, kita adalah tamu dalam realitas mereka. Tapi apa salahnya menjadi tamu? Bayangkan saja sedang wisata.
Jadi turis itu menyenangkan, lihat sana sini, dengar sana sini, toh jika lelah kita bisa pulang.
Orang lain tidak punya kewajiban untuk memahami kita, pun kita tidak harus dipahami oleh mereka untuk menjadi utuh.
Sampai sekarang, jika ingin menelpon seseorang untuk bercerita hal random tanpa arah, opsi saya terbatas pada orang tua, abang, dan adik-adik. Jika mereka sedang tidak bisa menemani karena suatu alasan, saya berbagi cerita dengan diri sendiri, isi kepala menjadi suaka.
Menulis adalah pilihan yang selamanya menyenangkan bagi seorang introvert. Kita bisa ‘berbicara’ dengan ‘bahasa’ kita sendiri. Kita tidak perlu ‘menerjemahkan’ pikiran kita. Kita bisa ‘bercerita’ dengan bebas tentang segala yang menarik bagi kita.
Pada akhirnya, kitalah yang harus menemukan sendiri dinamika yang adil dan paling pas, agar kita bisa merayakan menjadi diri sendiri yang mungkin sedikit berbeda dengan sekeliling kita, dan di saat yang sama, kita tetap mengizinkan diri untuk menikmati dan memperoleh hikmah dari koneksi emosional yang terbina melalui kebersamaan dengan manusia-manusia lain.
Hubungan yang sehat tidak mewajibkan orang-orang untuk sepenuhnya saling memahami. Keindahan seorang individu terletak pada kemampuan untuk merayakan sepenuhnya dirinya, dan keindahan hubungan antar manusia terletak pada pilihan untuk tetap dekat dan saling menerima bahkan ketika mengakui banyak perbedaan.









