Sesudah Riuh Itu Pergi
Ada kematian yang tidak memerlukan liang lahat.
Ia datang ketika nama yang dahulu dipanggil dengan hormat, tiba-tiba dilafalkan dengan bisik-bisik. Ketika tangan-tangan yang dahulu berebut menjabat, mendadak menjadi asing. Ketika pintu-pintu yang pernah terbuka lebar, perlahan menutup tanpa suara.
Aku telah melewati musim itu.
Lima bulan dua puluh hari—barangkali hanya deretan angka bagi mereka yang menghitung waktu dengan kalender. Namun bagiku, setiap hari adalah sebilah cermin yang mematahkan wajah lamaku sedikit demi sedikit. Yang keluar dari balik jeruji bukanlah manusia yang sama dengan yang pernah memasukinya. Ada sesuatu yang telah dikuburkan, meski jasad ini tetap bernapas.
Aku masih belajar hidup kembali.
Belajar menyapa pagi tanpa kegaduhan masa lalu. Belajar menerima sunyi sebagai teman. Belajar berdamai dengan kenyataan bahwa dunia tidak selalu menunggu seseorang yang pernah jatuh.
Hari ini, jika ada yang benar-benar hancur, maka ialah dua tiang yang dahulu kukira paling kokoh: keberanian jiwaku dan kecukupan hidupku. Mentalku luluh; nafasku tersengal oleh beban yang tak tampak. Finansialku tercerai-berai laksana rumah yang diterjang banjir besar, meninggalkan puing-puing yang bahkan enggan kukenal sebagai milikku sendiri.
Namun, di tengah reruntuhan itu, aku menemukan sebuah mata air yang tak pernah kutemukan ketika istana dunia masih berdiri tegak.
Aku menemukan bahwa hakikat penciptaanku bukanlah untuk menjadi tokoh, bukan pula untuk menjadi nama yang dielu-elukan manusia. Aku diciptakan hanya untuk menjadi seorang hamba—'abd, yang menundukkan dahinya kepada Rabb semesta alam.
Di sanalah aku mengenal ketenteraman yang tidak dapat dibeli oleh kemasyhuran.
Setiap kali ingatan tentang dunia lamaku datang menyergap, dada ini masih berguncang. Aku teringat hari-hari ketika pujian mengalir seperti sungai, ketika tepuk tangan terdengar lebih nyaring daripada suara hati, ketika popularitas menjelma candu yang kusangka abadi.
Lalu, dalam satu putaran takdir, semua itu runtuh.
Seakan-akan langit memadamkan seluruh lampu panggung, menyisakan seorang manusia yang harus belajar mengenali dirinya sendiri di dalam gelap.
Ada saat-saat ketika kenangan itu datang begitu deras, hingga kewarasanku nyaris hanyut bersamanya. Rasanya seperti seseorang yang dilempar dari puncak menara menuju dasar jurang, tanpa sempat memahami mengapa bumi tiba-tiba begitu dekat.
Tetapi, yang lebih menyakitkan daripada jatuh, adalah menyaksikan siapa yang tetap tinggal setelah kejatuhan itu.
Mereka yang dahulu kusebut saudara, ternyata hanya akrab kepada musim bungaku. Ketika musim gugur datang, dedaunan itu memilih diterbangkan angin. Tak ada sapaan. Tak ada pelukan. Tak ada sekadar kalimat yang berkata, "Bertahanlah, kami masih mengingatmu."
Barangkali, begitulah Allah memperlihatkan kepadaku perbedaan antara keramaian dan ketulusan.
Aku kehilangan banyak manusia.
Namun aku menemukan Tuhanku dengan cara yang belum pernah kupahami sebelumnya.
Kini aku mengerti, betapa rapuhnya hati yang menggantungkan nilainya kepada tepuk tangan manusia. Sebab tepuk tangan akan berhenti ketika panggung telah kosong. Sedangkan Allah tetap mendengar bahkan ketika seorang hamba menangis sendirian, di tempat yang tidak diketahui siapa pun.
Maka, jika hari ini aku masih berdiri, bukan karena aku telah pulih.
Melainkan karena setiap kali dunia merobohkanku, aku menemukan sajadah yang mengajarkanku cara bangkit.
Dan mungkin, di situlah kehidupan yang sesungguhnya baru saja dimulai.
"Hasbunallāhu wa ni'mal wakīl."
Cukuplah Allah bagi kami, dan Dia adalah sebaik-baik Pelindung.
•
•
•
Lampineung, Aceh Besar
27 Juli 2026









