Emang beneran deh, hal yang paling nenangin diri itu kalau kita tawakkal sama apapun yang terjadi. Meski bingung, sedih, khawatir, seneng, haru, campur aduk dan silih berganti, tapi kita percaya bahwa semua pasti ada hikmahnya.
Kadang ujian yang Allah kasih itu biar kita lebih sering inget Allah; biar lebih deket sama Allah; biar banyak minta sama Allah. Tinggal kitanya mau berprasangka baik atau engga? Atau kita ngga tau kan, jangan-jangan karena dosa kita juga?
Manusia emang cuma bisa berencana, tapi skenario Allah yang terbaik.
Semoga Allah ganti setiap pengorbanan dan perjuangan. Semoga Allah beri pahala di setiap prosesnya. Semoga Allah masih tetap menjadi alasan pertama di setiap keputusan yang ada.
Semoga Allah segera mengangkat wabah ini dan semuanya lekas pulih kembali..
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
โ Live Streamingโ Interactive Chatโ Private Showsโ HD Quality
Anya is LIVE right now
FREE
Free to watch โข No registration required โข HD streaming
Alhamdulillah saya sudah divaksin dosis pertama, tapi bukan Sinovac atau AstraZaneca. Loh?
Saat ini saya sedang berada di Singapura, menjalani final quarter studi PhD saya dengan beasiswa kampus negeri di sini. Izin tinggal saya di sini namanya student pass yang termasuk kategori 'long-term resident' sehingga berhak mendapatkan vaksin gratis walaupun foreigner.
Setelah tiba giliran untuk resident dengan rentang umur 18-39 tahun untuk menerima vaksin, kampus dengan segera mengirim pengingat kepada seluruh mahasiswa untuk mengecek dan memperbarui data nomer HP masing-masing. Karena kampus nantinya mengirim database civitas ke kementerian kesehatan. Dua minggu kemudian, saya dapat kode unik untuk bisa 'booking appointment' vaksin dosis pertama.
Dalam tautan 'booking appointment' untuk vaksin, kita bisa memilih tempat (community centre atau CC gitu umumnya) dan waktunya sesuai kenyamanan dan availability masing-masing. Menariknya kita bisa tahu di CC mana vaksin yang dipakai apa. Pemerintah Singapura sejauh ini meng-endorse dua opsi vaksin saja untuk vaksin gratis ini: Pfizer atau Moderna, yang mana keduanya tergolong mRNA vaccine.
Saya secara sadar memilih CC yang dekat kampus dan awalnya tidak terpengaruh soal preferensi yang beredar di masyarakat. Setelah booking tanggal dan jam vaksin, barulah saya tanya-tanya ke teman-teman yang sudah duluan. Karena saya cuma mau yang dekat kampus saja, opsi tanggalnya sisa akhir Juni. Kalau saya mau, bisa saja dapat lebih awal tapi CC-nya yang agak jauh. Ya, intinya saya ga mau ribet (dan keluar uang transport buat vaksin doang).
Kembali soal preferensi vaksin, saya melihat banyak yang prefer Pfizer karena menurut testimoni yang beredar efek sampingnya lebih enteng dibandingkan dengan Moderna. Ya jadi tidak begitu mengganggu aktivitas setelah divaksin, karena saya tidak mau sakit saat bulan-bulan terakhir menuju deadline laporan tesis S-3 saya. Kebetulan di CC dekat kampus, vaksinnya Pfizer :)
Normal saja ketika setelah divaksin ada efek samping. Ini pertanda tubuh sedang bereaksi dengan konten vaksin denga cara membentuk antibodi. Karena efek samping itu normal atau bahkan 'expected', saat vaksinasi kita akan menerima briefing yang kurang lebih seperti ini:
1) Tidak berolahraga selama 1 minggu ke depan agar tidak kelelahan
2) Pantau suhu tubuh 2x24 jam ke depan, jika deman dan tidak hilang dalam dua hari maka segera kunjungi dokter--dan biaya pengobatan GRATIS karena itu bagian tanggung jawab pemerintah yang telah mengimbau warganya untuk vaksin.
3) Jika merasa tidak enak badan, minum saja PANADOL. Iklan gratis buat perusahaan swasta :)
Oh ya, sebelum divaksin kita akan ditanyain dulu, "Ada demam atau nggak enak badan 1x24 jam yang lalu?" Ini ditanyain dua kali. Sekali pas registrasi ulang, satu lagi sebelum disuntik. Semua protokol dan briefing dilakukan untuk mengurangi kemungkinan-kemungkinan buruk pascavaksin.
***
Sepulang divaksin, saya teringat di Indonesia vaksin yang awalnya beredar cuma Sinovac, kemudian menyusul AstraZaneca. Bedanya apa yaaa?
Setelah ngobrol sama istri dan cari info-info tambahan, setidaknya ada empat pegangan buat saya pribadi:
a) Data keampuhan vaksin bisa jadi bias sesuai sampel waktu dan tempat (https://www.youtube.com/watch?v=K3odScka55A). Sehingga, berpatokan murni pada angka keampuhan (efficacy) hanya membuat kita menolak mentah Sinovac yang sudah ada di Indonesia dan dibeli dengan anggaran pemerintah. Di saat krisis, setiap negara akan berusaha untuk melakukan pengadaan dengan pertimbangan masing-masing karena butuh cepat, supply-nya terbatas, dan semua negara berkompetisi untuk itu. Jadi, kita vaksin karena bersyukur dengan opsi yang kita punya.
b) Setelah muncul AstraZaneca (AZ), ada testimoni teman-teman istri saya @syofarahals bahwa pascavaksin efek sampingnya lebih berasa dibandingkan Sinovac. Yang kedua, setelah divaksin tapi tetap tertular Covid-19 maka yang sudah divaksin AZ akan memiliki gejala lebih ringan dan recovery lebih cepat. Jadi, jika ada info fasilitas kesehatan yang ada stok AstraZaneca, sebaiknya pilih itu dan arahkan keluarga dan kenalan Anda ke sana jika memungkinkan.
c) Vaksin bekerja dengan cara yang berbeda untuk membangun imunitas sesuai kategorinya, mRNA (Pfizer, Moderna), viral vector (AstraZaneca), atau inactivated virus (Sinovac). Sila lihat perbandingannya di sini: https://www.youtube.com/watch?v=osRo-yz1VQ8
d) Pegangan terakhir adalah vaksin itu kayak ikutan "challenge" dan memang opsional. Reward-nya? Terbentuk imunitas. Cara mendapatkannya? Jaga kesehatan sebelum dan sesudah vaksin sampai kondisi kebugaran normal kembali.
Sebagai penutup, vaksin mungkin jawaban doa-doa dan qunut nazilah umat Islam se-dunia untuk diangkatnya wabah ini. Tapi, bukannya wabah yang diangkat tapi umat Islam "dipaksa" untuk lebih berpikir kritis dan saintifik.
Wabah ini sebuah pengingat bagi kita untuk menghargai ilmu pengetahuan. Pengingat bahwa kita butuh lebih banyak orang Indonesia yang ahli di bidang sains dan teknologi. Juga pengingat bahwa mati itu mudah saja, tidak pandang umur. Tapi kita diberi akal untuk berikhtiar dan mengusahakan yang terbaik untuk orang-orang yang kita sayangi.
Jika kaum tua sudah terlanjur termakan hoaks, maka harapan kita tinggal di pundak anak-anak muda (anak, ponakan, cucu-cucunya) untuk mengedukasi mereka.
Kita semua tahu, bahwa dunia sedang tidak baik-baik saja. Ada sebuah wabah yang sedang mengancam kita semua. Jangan sampai kita menganggap remeh hingga membuat kita terlena.
Pemerintah sudah mengeluarkan berbagai kebijakan. Orang-orang mulai membeli banyak bahan makanan dan obat-obatan. Berbagai kegiatan atau pertemuan mulai dibatalkan.
Namun, ada hal yang tak boleh kita lupa. Ialah Allah Sang Maha Pencipta. Yang menciptakan wabah dan juga yang memusnahkannya. Maka terhadap wabah, ada beberapa sikap yang harus kita lakukan sebagai hamba-Nya.
Berusaha
Ialah yang pertama, berusaha sebisa kita untuk mencegah penularan. Mulai dari menjaga kesehatan, rajin mencuci tangan, serta menghindari keramaian. Seperti yang pernah Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam sampaikan.
"Apabila kalian mendengar tentangnya (wabah penyakit) di sebuah tempat, maka janganlah kalian masuk ke dalamnya, dan bila kalian berada di dalamnya, maka janganlah kalian keluar daripadanya sebagai bentuk lari daripadanyaโ. (HR. Bukhari dan Muslim)
Berusaha menghindari wabah, bukanlah berarti menghindari takdir-Nya. Tetapi, adalah salah satu cara berpindah dari takdir Allah yang satu ke takdir lainnya. Sebagaimana yang dicontohkan oleh Sayyidina Umar bin Khattab ketika menghadapi wabah di zaman kekhalifahannya.
Abu Ubaidah bertanya, โApakah kamu akan lari dari takdir Allah, wahai Umar?โ Umar bin Khattab menjawab, "Benar, ini lari atau berpaling dari takdir Allah ke takdir Allah yang lain. Tidakkah engkau melihat, seandainya saja engkau memiliki unta dan lewat di suatu lembah dan menemukan dua tempat untamu; yang pertama subur dan yang kedua gersang. Bukankah ketika engkau memelihara unta itu di tempat yang subur, berarti itu adalah takdir Allah. Demikian juga apabila engkau memeliharanya di tempat yang gersang, apakah itu juga takdir Allah?
Berusaha untuk menghindari penyakit, bukan berarti kita takut mati atau kita terlalu cinta dunia. Tetapi ini adalah tanda bahwa kita manusia, yang mempunyai akal dan pikiran untuk berusaha. Ini adalah tanda bahwa kita umat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam yang menjalankan tuntunannya. Sebagaimana Nabi pernah bersabda, ย "Ikatlah dulu untamu, lalu bertawakallah." (HR. Tirmidzi)ย
Berdoโa
Yang kedua, berdoโa meminta perlindungan kepada-Nya. Karena sesuatu di dunia ini terjadi atas kehendak-Nya. Karena Allah-lah Yang Mahakuasa atas segalanya. Maka kita bisa melafalkan do'a-do'a yang pernah dicontohkan Nabi Muhammad shallalahu 'alaihi wasallam.
Alloohumma innii aโuudzu bika min zawaali niโmatik, wa tahawwuli โaafiyatik, wa fujaaโati niqmatik, wa jamiiโi sakhothik.
Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari hilangnya kenikmatan yang telah Engkau berikan, dari berubahnya kesehatan yang telah Engkau anugerahkan, dari siksa-Mu yang datang secara tiba-tiba, dan dari segala kemurkaan-Mu. (HR. Muslim)
Bismillaahil-ladzii laa yadhurru ma'as-mihi syai-un, fil ardhi wa laa fis-samaa', wa huwas-samii'ul 'aliim.
Dengan nama Allah yang tidak membahayakan dengan nama-Nya segala sesuatu yang ada di langit dan bumi, dan Ia lah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (HR. Abu Daud)
Bertawakkal
Yang ketiga, bertawakkal kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Setelah kita semaksimal mungkin berusaha, maka serahkan sisanya kepada-Nya. Percayalah bahwa Allah akan memberi yang terbaik kepada kita.ย
" ... Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. ..." (QS. At-Talaq: 3)
Pada akhirnya, semoga kita semua diberi kekuatan dan perlindungan dari Allah subhanahu wa ta'ala. Semoga diberi kesabaran dan kesembuhan, kepada siapa saja yang sedang menderita.
Mampir bentar, yuk, Mas Mbak. Kita ngobrol sedikit. Habis ini monggo dilanjut ibadahnya.
Sampailah kita di mellow-mellow sedihย akhir bulan Ramadan. Sebagaimana kita bergembira menyambut Ramadan, bersedih pula ketika Ramadan akan pergi. Belasan atau puluhan tahun hidup kita, meski sekarang kondisi wabah, tiap tahun ya begini terus ya kondisinya. Repeat. Kayak Rasulullah dan sahabatnya dulu ya begitu.
Ya gitu itu. Memang selalu mellow menuju akhir Ramadan.ย
Bentar lagi pasti banyak deh unggahan-unggahan yang membahas betapa sedihnya umat. Kayak salah satu unggahan yang mewujudkan Ramadan sebagai orang yang pamit pergi. Sedih, ya.ย
Tapi unggahan kali ini bukan unggahan yang umum seperti itu. Bukan.
Mas Mbak, saya mau tanya.ย
Emang kita yakin di ujung atau selepas Ramadan ini cukup dengan hanya rasa sedih? Tidak ada apa-apa lagi begitu? Sedih, lalu makan kue lebaran, kenyang, lalu normal lagi, begitu? Waduh.
Photo by Aaron Burden
Ya, sedih memang. Kemuliaan-kemuliaan bulan ini akan berakhir. Rasulullah dan sahabat pun banyak menangis di penghujung bulan. Tapi sedihnya kita kudunya sama seperti mereka. Sedih apakah itu?
Sedih dengan determinasi.
Ramadan ini kita banyak sekali target, ya. Baca Al Qurโan sekian kali khatam. Tarawih sekian rakaat. Berderma sekian harta. Bagi-bagi takjil setiap mau buka. Dan laku kebaikan-kebaikan lainnya, ingin kita adopsi.
Pun, keburukan-keburukan kita mulai kita tinggal, seiring dengan diri yang menahan nafsu. Karena nafsu cenderung mengajak kepada keburukan, kayak yang tertera di QS. Yusuf ayat 53 tu. Kebiasaan buruk itu, baik pada mata, mulut, telinga, hidung, atau anggota tubuh lainnya, ya kita yang tahu. Apapun itu, keburukan itu kita tinggalkan.
Lalu artinya apa sih determinasi ini?
Masih ingat gak kata ustadz-ustadz kalau kajian? Khusyuknya sholat itu terlihat, salah satunya dari salam sampai takbir. Iya, salam sampai takbir. Kalau sholat itu khusyuk, perilakunya di luar sholat itu membawa kebaikan. Jadi tidak sekadar menggugurkan kewajiban dari takbir hingga salam. Tidak sekadar itu.
Dengan analogi yang serupa, Ramadan pun demikian, Mas Mbak. Satu bulan kita di dalamnya latihan ini itu, hasilnya dapat dilihat pada sebelas bulan lainnya.ย
Tapi hasil yang diminta apa, kudunya kita coba rinci sebisa kita. Jangan sekadar manis di ucapan/tulisan saja. Yuk ditentukan.
Selepas Ramadan, saya bakal lebih rajin baca Al Qurโan daripada sebelum Ramadan. Selepas Ramadan, saya akan lebih banyak menyisihkan gaji untuk aksi sosial. Pun, selepas Ramadan, saya mau kurang-kurangin ngomongin orang.ย
Apapun kebaikan yang diadopsi, apapun keburukan yang ditinggalkan, semua adalah determinasi kita selepas bulan ini. Renungi bulan ini, di sebelas bulan lainnya.
Harus ada yang berubah. Jangan sama saja seperti sebelum Ramadan. Rugi.
Unggahan ini bukan pendalaman kesedihan meninggalkan Ramadan, seperti unggahan-unggahan lainnya. Bukan. Saya ingin membawa ke sisi yang sering terlupa, perubahan apa pasca Ramadan.
Sebagai penutup, sebelum Mas Mbak lanjut buat ibadah kembali, kalau saya boleh saran, yuk kita fokus pada meninggalkan keburukan dan mengharap ampunanNya selalu. Dengannya, tidak ada dosa yang menghalang jalan ke Surga. Kayak kata Sheikh Omar Suleiman,
โLeaving off one sin is better than gaining a thousand good deeds in Ramadan,โ
- Sheikh Omar Suleiman
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
โ Live Streamingโ Interactive Chatโ Private Showsโ HD Quality
Anya is LIVE right now
FREE
Free to watch โข No registration required โข HD streaming
Kumandang azan bergema setiap jumat. Memanggil jutaan umat islam untuk menanggalkan segala aktivitas keduniaannya, semata menghadap kehadiratNya. Maka seperti biasa, aku selalu bergegas, bahkan sebelum takbir telantunkan dari suara sang bilal, aku telah berada di shaf terdepan bersama teman-temanku.ย โLumayan, dapat unta,โ ujar temanku terkekeh saat kita bersama-sama duduk di shaf depan. Kita pun terkekeh, hehehe...
Sementara aku duduk, kupastikan hp ku sudah dalam mode silent. Kuambil salah satu mushaf di rak di samping mimbar khatib.ย โAh, ini dia...โ rupanya mushaf langgananku sedang berada di tempatnya. Entah mengapa, aku menyukai mushaf biru dari negeri para nabi ini. Aku menciumnya, aromanya sepertinya memang mushaf ini masih baru. Pun juga cetakan hurufnya. Tertulis tahun 2019. Ah pantas, masih belum ada setahun.
Aku melirik jam tanganku, masih sekitar 30 menit sebelum azan, aku rasa cukup untuk menyeleseikan Al-Kahfi. Ya, padatnya aktivitas minggu itu membuatku masih belum sempat menamatkan surat ini, hingga kamis malam aku hanya mampu menamatkan yasin dan tahlil, itu pun juga dengan mata sudah terkantuk-kantuk.ย
Aku pun memulai tilawah, sambil sesekali memejam mata, berhenti, menghayati kisah pemuda kahfi di dalamnya. Masih tentang shaf terdepan, tiba-tiba pikiranku teringat akan sabdaNya berabad silam...
"Jika tiba hari Jum'at, maka para โMalaikat berdiri di pintu-pintu masjid, lalu mereka mencatat orang yang datang lebih awal sebagai yang awal. Perumpamaan orang yang datang paling awal untuk melaksanakan shalat Jum'at adalah seperti orang yang berkurban unta, kemudian yang berikutnya seperti orang yang berkurban sapi, dan yang berikutnya seperti orang yang berkurban kambing, yang berikutnya lagi seperti orang yang berkurban ayam, kemudian yang berikutnya seperti orang yang berkurban telur. Maka apabila imam sudah muncul dan duduk di atas mimbar, mereka menutup buku catatan mereka dan duduk mendengarkan dzikir (khutbah)." (HR. Ahmad dalam Musnadnya no. 10164)ย
โLe, ayo ke masjid, sudah mau iqamat.....โ Teriakan ayah membuyarkan lamunanku di tengah khutbah yang ternyata sudah selesai. Aku pun bergegas merapikan surban di pundakku, memastikan wangi-wangian sudah tercium di bajuku. Pandemi ini mengubah kebiasaanku. Terlebih kali ini aku di rumah, membersama orang tua yang jelas mereka lebih rentan terkena..ย
Kotaku sudah menjadi zona merah. Memang masih belum begitu parah, hingga ulama setempat tetap menyelanggarakan shalat jumโat. Namun entah mengapa, masjid di dekat rumahku sedikit acuh terhadap anjuran untuk menjaga jarak. Bahkan karpet pun tak mereka gulung, masyarakatnya masih jarang memaiak masker.ย ย
Hingga aku pun bersepakat dengan ayah, bahwa khutbah kami dengarkan dari rumah, untungnya speaker masjid selalu dikeraskan. Kami baru berangkat menjelang iqamat, sembari mengamini doa khatib dalam langkah-langkah cepat kami ke berjalan ke masjid.ย
Kami mengambil shaf belakang, yang terluar, yang terpisah, yang di situ jarang bahkan ada jamaah. Keadaan darurat. Aku bahkan menyemprot lantai dengan disinfektan yang aku bawa sendiri dari rumah.ย Mau bagaimana lagi. Kepulangan ini barangkali adalah hikmah, agar aku memastikan orang-orang yang aku cintai di rumah baik-baik saja.ย Khatib pun tak berlama-lama dalam menyampaikan khutbah. Bacaan shalat diperpendek, demikian pula dzikir. Namun selepas iโtidal kedua, imam membaca doa...
Air mataku menetes perlahan. Aku rindu. Rindu shaf terdepan. Rindu di mana ibadah jamaah bisa dengan nyaman dan aman dilakukan. Rindu berkumpul dengan teman-teman.ย
Terjanganย pandemi Covid-19 belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir. Di beberapa negara justru seperti sedang menuju puncaknya. Demikian pula di tanah air, angka warga terinfeksi virus corona dan yang meninggal terus bertambah. Tingkat kematian akibat wabah Covid-19 di Indonesia terbilang tinggi di dunia, mencapai kisaran 9,4%, sedikit di bawah Italia.
Namun di tengah wabah yang mengancam kesehatan fisik, sepertinya negara dan masyarakat minim menaruh perhatian akan kesehatan mental. Padahal selain mengancam kesehatan fisik, pandemi ini juga mengganggu kesehatan mental masyarakat. Berita meningkat dan meluasnya penyebaran wabah, serta tingginya angka kematian, membuat mental sebagian orang down. Apalagi bila wabah itu menimpa orang terdekat dan berujung kematian. Kesehatan mental bisa kian terganggu.
Keadaan ini kian diperburuk dengan terpukulnya sektor ekonomi. Pandemi Covid-19 menyebabkan banyak sektor usaha terganggu bahkan tutup sampai jangka waktu yang tidak ditentukan. Sebagian orang malah kehilangan mata pencaharian.
Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar juga menuntut warga untuk menghentikan sebagian besar aktifitas usaha. Sedangkan pemerintah sendiri belum bisa memberikan garansi bila warga pasti akan mendapatkan pemenuhan kebutuhan pokok selama pandemi dan pemberlakuan kebijakan PSBB. Kondisi ini menambah berat beban masyarakat yang berdampak pada meningkatnya depresi.
Gangguan kesehatan mental ini sudah terjadi di depan mata, di antaranya meningkatnya KDRT selama. Beberapa sumber menyebutkan bila KDRT meningkat selama masa pandemi. Seperti dikutip dari Al Jazeera, beberapa negara mencatat adanya peningkatan laporan KDRT melalui telepon, hingga dua kali lipat. Sayangnya petugas komisi perempuan maupun polisi tidak dapat berbuat banyak karena mereka juga memiliki keterbatasan dana untuk mengatasi masalah tersebut.
New York Times juga melaporkan hotline darurat meningkat untuk pengaduan tindak kekerasan sejak sejumlah negara menerapkan kebijakan lockdown, karantina wilayah dan social distancing. Menurut pakar sosiologi Marianne Hester dari Bristol University, hal ini sebenarnya sudah bisa diprediksi.
Nah, apakah negara sudah memperhitungkan keadaan ini dan mempersiapkan penanganannya? Bila tidak, maka bangsa ini akan menghadapi dua problem serius; wabah dan gangguan mental yang luas.
Untuk keluarga muslim, ada beberapa langkah yang perlu dilakukan agar mental kita dan keluarga tetap sehat selama masa pagebluk ini.
1.ย Kuatkan keimanan pada Qadha Allah SWT.ย Setiap keluarga muslim patut mengokohkan keimanan pada qadha dan qadar, karena setiap musibah yang terjadi adalah kehendak Allah. Tak ada kemampuan manusia untuk menolak atau mendatangkannya. FirmanNya:
ย Katakanlah: โSekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakalโ.ย (TQS. At-Taubah: 51).
Setiap muslim juga menjaga kebersihan hati dengan ridlo dan sabar atas musibah yang menimpanya. Senantiasa berprasangka baik atas segala takdir Allah pada diri ini, meskipun pada musibah sekalipun. Sabda Nabi SAW.
โJanganlah salah seorang kalian meninggal kecuali ia berhusnuzan kepada Allah.โย (HR. Muslim)
Iman pada takdir Allah dibarengi tawakal/berserah diri padaNya akan menjadi penguat kesehatan mental yang paling utama. Membuat keluarga muslim tetap tegar meskipun didera musibah.
2.ย Meningkatkan Tawakal Pada Allah.ย Ketenangan jiwa datang bila seseorang merasa aman; aman dari gangguan kesehatan, aman secara finansial, aman secara sosial. Satu-satunya yang bisa menciptakan rasa aman dalam diri seseorang adalah dengan bersandar pada Allah SWT.
Hal itu karena tak ada Pemilik segala jaminan keamanan melainkan Allah SWT. Dialah Yang Maha Mengamankan (al-Muโmin), Yang Maha Menyelamatkan (as-Salam), Yang Maha Kaya (al-Ghani), dsb. Tawakal yang penuh pada Allah akan memberikan ketenangan batin. FirmanNya:
Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.ย (TQS. Ath-Thalaq: 3)
Tawakal menjadi sangat penting terutama dalam situasi penuh ketidakpastian; kapan wabah akan berakhir, bagaimana jaminan finansial kelak, dsb. Maka penguat hati dan harapan adalah berserah diri kepada Allah sambil ikhtiar.
3.ย Menjaga Hubungan Baik Dengan Orang Terdekat.ย Kebijakanย stay at homeย dalam tempo cukup lama berpeluang memunculkan rasa jenuh yang berpotensi memicu konflik dengan orang-orang terdekat. Dalam kejenuhan seperti itu, persoalan-persoalan kecil justru sering diributkan. Ini bisa diakibatkan orang mencari pelampiasan terhadap kekesalan dan kejenuhan hingga akhirnya meributkan masalah kecil dengan pasangan atau orang terdekat.
Kunci masalah ini adalah tetap berpikir positif dan tidak meributkan persoalan kecil bahkan saling mendukung. Bukan hanya Anda yang merasa jenuh, tapi semua orang, termasuk pasangan dan anak-anak pun mengalami kejenuhan selama masa PSBB atau karantina. Sikap positif yang kita kembangkan pada sesama akan menularkan enerji positif juga pada mereka, sehingga kesehatan mental pun akan meningkat.
Inilah kasih sayang yang diperintahkan agama pada setiap muslim. Nabi SAW. bersabda:
Sesungguhnya Allah hanya menyayangi hamba-hambaNya yang penyayangย (HR At-Thobrooni dalam al-Muโjam al-Kabiir).
4.ย Mengembangkan empati dan saling menolong. Pandemi ini telah membuat kondisi ekonomi sebagian anggota masyarakat terpukul. Maka mengembangkan sikap saling membantu menjadi amat penting untuk menciptakan kehidupan sosial yang baik. Syariat Islam telah memerintahkan kaum muslimin untuk membantu meringankan beban hidup sesama. Nabi SAW. bersabda:
โManusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling memberikan manfaat bagi manusia. Adapun amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah membuat muslim yang lain bahagia, mengangkat kesusahan dari orang lain, membayarkan utangnya atau menghilangkan rasa laparnya. Sungguh aku berjalan bersama saudaraku yang muslim untuk sebuah keperluan lebih aku cintai daripada beriโtikaf di masjid ini -masjid Nabawi- selama sebulan penuh.โย (HR. Thabrani).
Memberikan bantuan pada tetangga, atau kenalan yang tertimpa musibah, selain mendatangkan pahala berlimpah, juga menyehatkan mental. Rasa senang dan bahagia saat bisa membantu sesama akan menyebabkan otak mengeluarkan hormon endorfin yang bermanfaat menciptakan suasana hati semakin nyaman yang selanjutnya meningkatkan imunitas/kekebalan tubuh.
5.ย Taqarrub Pada Allah.ย Mendekatkan diri kepada Allah juga menyehatkan mental. Sains modern memperlihatkan hubungan positif antara agama dan kesehatan. Orang-orang yang taat beragama, rajin beribadah, dan pro sosial memiliki hidup lebih sehat.
Penelitian oleh Marino A. Bruce, dkk pada 16 Mei 2017 juga menunjukkan hubungan antara kehadiran di gereja dengan kesehatan. Ukuran fisiologis sakit dinilai dari fungsi metabolik, kardiovaskular, dan inflamasi klinis/biologis. Peneliti mengemukakan mengunjungi gereja lebih dari satu kali seminggu akan mengurangi risiko kematian sebesar 55 persen.
Karenanya di tengah pandemi ini, perbanyaklah ibadah agar semakin dekat dengan Allah. Shalat lima waktu dan shalat-shalat sunnah, membaca al-Qurโan, berzikir, dan membaca buku-buku agama. Bukankah Allah SWT. telah berfirman:
Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.ย (TQS. An-Nahl: 97)
Terakhir, perlindungan terhadap kesehatan jiwa masyarakat akan menjadi paripurna bila negara hadir dalam memberikan perlindungan dan jaminan kehidupan yang layak. Bagaimanapun juga, masyarakat tidak bisa hidup tenang tanpa kehadiran negara.
Sayang, pada hari ini kaum muslimin hidup dalam negara kapitalis yang memberlakukan prinsip survival of the fittest. Warga dibiarkan bertarung sendiri menyambung hidup dan bertahan di tengah gempuran wabah ganas Covid-19, minim peran negara.
Terjangan pandemi Covid-19 belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir. Di beberapa negara justru seperti sedang menuju puncaknya. De
Sepanjang sejarah, manusia tampaknya suka sekali dengan membuat partisi-partisi yang membatasi wilayah dan budaya seperti tembok Berlin, yang akhirnya diruntuhkan bersamaan dengan menurunnya genggaman komunisme di Eropa Timur. Setengah tahun yang lalu, penutupan perbatasan di seluruh dunia boleh nampak sebagai upaya-upaya pencegahan penularan penyakit di permukaan, namun ternyata juga bermakna simbolik yang lebih dalam. Sebelum wabah meledak di seluruh dunia pun sudah terdapat tren untuk menutup perbatasan dan membangun tembok antara dua negaraโyang terkenal adalah pidato Donald Trump yang mau membuat tembok antara Amerika Serikat dan Meksiko. Penutupan perbatasan atas alasan medis juga menggemakan pola yang sama dengan penutupan atas dasar politis. Keduanya berusaha memberikan ilusi rasa aman kepada masyarakat yang terkurung di dalam tembok tersebut. Tetapi sebenarnya kedua cara tersebut memiliki kecacatan yang serupa, yakni menutup-nutupi kelemahan pemerintahan yang tidak mampu menanggulangi masalah-masalah yang mengintai dari luar tembok sana.
Menurut Michael Marder, seorang filsuf Kanada, satu-satunya hal yang membedakan respons kita dalam menghadapi krisis pandemi dengan karya-karya fiksi ilmiah popular adalah โtembokโ tersebut ternyata sama sekali tidak pejal. Pembatasan-pembatasan yang kita bangun tersebut ternyata lebih mirip membran sel yang organik dan dinamis ketimbang tumpukan batu cadas keras di Tembok Besar China. Sama seperti sebuah sel, sebuah negara yang benar-benar mengurung dirinya sendiri dari dunia luar pasti suatu saat akan mati kelaparan dalam kesepian.
Setelah melakukan refleksi kritikal atas berbagai bidang kajian, diskusi-diskusi seperti inilah yang menurut saya harus dibuat: diskusi mengenai kehidupan dan segala hal yang berkaitan dengan menjalani hidup sehidupnya. Pada akhirnya, masalah ini kembali lagi kepada kita semua sebagai umat manusia untuk memikirkan nasib kita sebagai satu kesatuan unit evolusi, bagian dari alam. Diskusi yang tidak hanya melibatkan umat manusia sebagai manusia, tetapi sebagai penduduk dunia, sebagai pelindung ekosistem. Untuk menyelamatkan kehidupan, kita semestinya tidak terus menerus menyematkan abstraksi atas kehidupan, melainkan menilai kehidupan itu sebagai realitas kontrit yang muncul dari kondisi dan interaksi yang holistik. Diskusi yang peka dan mengakui banyak perbedaan pandangan, diskusi yang menghindari abstraksi atas benda hidup seperti layaknya kelinci percobaan. Kita sebaiknya menghindari cara pandang yang keliru dalam melihat krisis pandemi melalui angka-angka dan data-data mentah yang lalu disebut orang-orang โkematian ribuan orang hanyalah statistikโ. Harapannya, setiap langkah dan kebijakan yang akan kita ambil pasca krisis pandemi akan melihat kehidupan sebagai suatu kesatuan yang utuh dan penuh.
Setiap orang memiliki cara pandang dan pendekatan yang berbeda-beda dalam memperkirakan apa yang akan terjadi dalam dunia setelah pandemi. Namun, dalam cara pandang biologi, keberlanjutan eksistensi manusia sepenuhnya diatur oleh kerjasama seluruh umat manusia sebagai satu kesatuan unit evolusi yang disebut superorganisme. Kita dapat memanfaatkan krisis ini dan berpikir kembali mengenai kehidupan kemasyarakatan kita, dan berkomitmen untuk menerapkan prinsip gotong royong yang telah terbukti bertanggung jawab atas keberhasilan manusia atas seleksi alam sepanjang sejarah.