Pernahkah kau melihat seseorang begitu ngotot dengan pendapatnya? Atau seseorang yang diam-diam keras kepala mempertahankan prinsipnya? Jangan buru-buru melabelinya bebal.
Bagi ku, tidak ada yang salah selama kakinya masih berpijak di dalam pagar Syariat yang Allah tetapkan.
Kita harus sadar, sebuah Opini itu tidak lahir dari ruang hampa. Ia adalah produk akhir dari proses panjang yang berdarah-darah. Ia adalah kesimpulan dari ribuan luka yang pernah ia terima, jutaan kecewa yang ia telan, dan pengorbanan sunyi yang tak pernah ia ceritakan di media sosial.
Kenapa dia berpikir A? Mungkin karena dia pernah hancur saat mencoba jalan B. Kenapa dia begitu defensif tentang X? Mungkin karena X adalah satu-satunya hal yang menyelamatkan kewarasannya dulu.
Kondisi kita berbeda. Privilege kita tidak sama. Sepatu yang kita pakai mungkin ukurannya sama, tapi kerikil tajam di dalamnya berbeda-beda. Maka, adalah sebuah keangkuhan jika kita memaksakan Kebenaran Versi Kita kepada orang yang kurikulum hidupnya berbeda dengan kita.
Selama dia tidak menabrak hukum Tuhan, biarkan dia bertumbuh dengan caranya.
Bijak itu bukan hanya soal tahu mana yang benar dan salah. Tapi juga tahu kapan harus berhenti mengoreksi.
Karena terkadang, orang butuh dimengerti perjalanannya, bukan dihakimi kesimpulannya.
Jangan tergesa menghakimi musim gugur orang lain hanya karena di halamanmu bunga sedang mekar.
Setiap isi kepala memiliki perpustakaan lukanya sendiri. Apa yang bagimu terlihat sebagai kekeliruan berpikir, boleh jadi baginya adalah satu-satunya benteng pertahanan diri yang tersisa.
repost blog @clichemistry
















