Aku menulis catatan ini dengan hati yang sering terasa kecil di hadapan Tuhan. Betapa bodohnya aku sebagai manusia; berkali-kali melakukan kesalahan yang sama, berkali-kali pula lalai untuk segera kembali meminta ampun. Kadang aku sungkan kepada manusia, tetapi anehnya tidak malu kepada Tuhan yang selalu melihatku. Doaku pun sering datang seenaknya—datang ketika butuh, pergi ketika merasa cukup. Padahal Engkau selalu membuka pintu yang tidak pernah tertutup. Aku teringat firman-Mu dalam Al-Qur’an: “Wahai hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya. (QS. Az-Zumar: 53). Dan sabda Nabi: “Allah berfirman: Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku.” (Hadis Qudsi). Maka hari ini aku datang dengan prasangka baik kepada-Mu, meski aku penuh kekurangan. Seperti doa yang sering dikisahkan dari Abu Nawas: “Ya Allah, jika aku tidak pantas masuk surga-Mu karena amal, lalu kepada siapa lagi aku berharap jika bukan kepada rahmat-Mu?” Dengarkanlah catatan ini, wahai Tuhan. Aku tidak membawa apa-apa selain harapan bahwa Engkau masih berkenan menoleh kepada hamba yang sering tersesat ini.
Di sekelilingku ada orang-orang yang sebenarnya sangat berjasa dalam hidupku: orang tuaku yang menua dengan diam-diam, keluarga yang sering kupahami terlambat, adik yang mungkin meneladani tanpa pernah kuketahui, dan teman-teman yang pernah kutemui di berbagai fase hidup. Jika aku jujur kepada diriku sendiri, aku sadar aku sering bersalah kepada mereka—bukan karena kebencian, tetapi karena ego yang terlalu besar dan kesadaran yang sering datang terlambat. Aku bukan orang yang pintar, bukan pula orang yang kaya, bahkan aku tahu aku juga belum menjadi orang yang benar-benar baik. Namun satu hal yang aku tahu: aku tidak pernah benar-benar bisa membenci mereka. Untuk Ayah dan Ibu, maafkan anakmu yang sering keras kepala. Untuk keluargaku, maafkan aku yang kadang hadir hanya sebagai nama, bukan sebagai perhatian. Untuk adik dan teman-temanku, maafkan jika aku pernah menjadi sebab luka yang tidak kusadari. Jika suatu hari kehidupan ini berakhir, harapanku sederhana: semoga Allah mempertemukan kita kembali dalam keadaan yang lebih baik—bukan di dunia yang sementara ini, tetapi di tempat yang lebih abadi, di penghujung perjalanan manusia, yaitu surga.
Aku juga mengenal diriku sendiri sebagai manusia yang penuh kelemahan. Aku sering ragu pada langkahku, sering kalah oleh kemalasan, dan kadang terlalu lama berdamai dengan kesalahan. Dalam diam aku menyadari bahwa musuh terbesar manusia sering kali bukan orang lain, melainkan dirinya sendiri. Karena itu aku teringat nasihat para sahabat Nabi yang selalu mengajarkan kejujuran kepada diri. Ada perkataan yang sering dinisbatkan kepada Umar bin Khattab: “Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab.” Kata-kata itu terasa sederhana, tetapi berat untuk dijalani. Begitu pula nasihat Ali bin Abi Thalib: “Barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya.” Dari situlah aku belajar bahwa kelemahan bukanlah alasan untuk menyerah, tetapi alasan untuk terus memperbaiki diri. Mungkin aku bukan manusia yang kuat, tetapi aku masih ingin menjadi manusia yang mau belajar dari kegagalan. Dan selama napas ini masih ada, aku ingin terus berjalan—pelan, jatuh, bangun lagi—dengan harapan bahwa suatu hari Tuhan melihat usaha kecilku dan berkata"CUKUPLAH DAN PULANG DENGAN DAMAI.”✨