Saya selalu terpesona dengan kata. Rangkaian huruf yang perlu dirangkai dengan sedemikian rupa agar menjadi sebuah pesan. Kemudian perlu juga dimaknai seperti sedang memecah sandi.
Pernahkah Anda berpikir seperti ini: kata-kata sebetulnya adalah deretan kode rahasia. Beruntunglah kita yang sejak kecil diajari untuk memahami pola-pola sandi tersebut. Kita yang bisa membaca sebetulnya merupakan encoder dan decoder pesan-pesan rahasia. Apa yang kita baca dalam keseharian sebetulnya merupakan kesepakatan sekelompok manusia dalam memahami lambang-lambang acak. Keren, kan?
Mempelajari bahasa lain sama saja dengan mengetahui lebih banyak sandi rahasia. Pemahaman ini membuat kita memiliki lebih banyak kesempatan untuk mengerti informasi mendalam tentang hal-hal lain di dunia. Tentu pengetahuan terdalam tentang budaya lain hanya bisa kita dapatkan melalui sandi yang digunakan oleh masyarakat tersebut. Jika direnungkan seperti ini, bukankah kemampuan literasi terlihat sungguh berharga?
Hidup di dunia serba teknologi seperti sekarang membuat kita sering terlena. Merasa segala sesuatu bisa digantikan oleh pesan visual dan audiovisual. Padahal, salah satu dasar yang penting adalah bagaimana kita harus menjadi pemecah sandi literasi.
Ah, mungkin saya terlampau tradisional. Mungkin kaum muda akan berpikir, untuk apa memahami sesuatu yang usang? Tapi saya masih yakin bahwa sesuatu yang lambat dan membutuhkan proses akan menempa dengan lebih baik ketimbang sesuatu yang disodorkan secara instan di depan hidung kita.
Tahukah Anda mengapa menulis itu hal yang sulit? Karena sejatinya menulis adalah memampatkan konsep yang begitu luas, liar, dan tak terbatas ke dalam kata-kata, kalimat, paragraf. Ribuan hal yang ingin kita sampaikan harus diterjemahkan dalam pilihan kata. Tak heran, orang bilang kata adalah senjata. Jika senjata kita tak lengkap, bagaimana bisa kita berperang melalui tulisan?
Sebagai pembaca, kita juga merupakan orang-orang hebat. Kita adalah orang yang mau berusaha untuk mendapatkan kesenangan. Kok bisa? Foto dan video bisa secara langsung menunjukkan suatu hal. Tulisan? Kita yang harus menerjemahkan dan mengimajinasikan sendiri. Apalagi kalian yang membaca tulisan fiksi, benak selalu dilatih untuk berkelana dengan berbagai perspektif. Terkadang bahkan sudut pandang dari benda mati atau makhluk aneh dari dunia fantasi. Hebat, bukan? Percayalah, Anda sudah cukup langka di dunia :)
Orang boleh bilang, manusia berbeda dengan spesies lain karena punya hati nurani atau kecerdasan tinggi. Tidak juga. Menurut saya, makhluk hidup lain juga punya kasih sayang dan intelektualitas yang luar biasa. Namun, siapa yang menulis syair tentang patahnya hati? Siapa yang berkisah tentang petualangan musafir di padang gurun? Siapa yang mencatat ajaran agama dalam kitab-kitab? Saya belum pernah tahu ada tikus, gurita, sapi, atau elang menulis. Hanya manusia saja yang memiliki budaya literasi.
Sepenting itulah budaya menulis. Budaya yang memampukan manusia mewariskan hal-hal terpenting di seluruh dunia. Pengetahuan, teknologi, budaya, bahasa, apapun itu. Semua tersimpan rapi dalam sandi literasi.
Terlebih dari fakta yang bersifat eksak, saya percaya dalam kata juga tersimpan rasa yang tak bisa ditakar. Kadang, jumlahnya tak terhingga. Apalagi bila diutarakan oleh mereka yang hemat bicara.
"Jangan pulang malam-malam."
"Jangan lupa istirahat cukup."
Sesuatu yang begitu sederhana, tetapi menyingkap isi hati terdalam. Saya yakin Anda juga bisa merasakan cinta yang terselip di balik kata-kata itu.
Perkataan adalah wujud buah pikiran, ide, emosi, dan segala hal yang ada. Kata-kata menyimpan beribu makna mendalam. Memang tak selalu diterima dan dipahami dengan baik. Namun, akan selamanya ada; menunggu pemecah sandi yang cakap dan cermat untuk mengungkap rahasianya.