4 Tipe Kepribadian Dasar Manusia
Entah siapa yang memulai dan apa pemicunya, siang tadi saya dan seorang guru membahas tentang 4 tipe kepribadian di kantor. Tapi karna tidak hanya ada kami berdua saja disana, akhirnya beberapa orang juga ikutan nimbrung.
"Saya tipe yang mana?" Tanya seorang guru.
"Ibu tipe sanguinis" Kata guru yang menjadi teman diskusi saya diawal.
"Gimana tuh?" Tanya nya lagi.
"Si populer bu. Apa-apa dibawa bahagia. Rame. Suka jadi pusper.."
"Pokonya, ga ada loe ga rame dah bu kata kuncinya" Saya menambahkan.
"Kalo saya apaan bu?" Tanya guru lain yang juga penasaran.
"Emmmm" Saya berfikir keras. "Kayanya ibu masuknya plegmatis bu" Akhirnya saya menjawab.
"Gimana tuh?" Lagi-lagi kalimat itu yang terucap.
"Si damai. Adem ayem pokonya. Ga suka konflik.." Jawab saya.
"Penengah juga bu kalau plegmatis". Tambah guru tadi.
"Hoooo. Baca gituan dimana dah bu?"
"Itu materi psikologi bu. Cari aja di google tipe kepribadian manusia." Jawab saya.
Diskusi terus berlanjut hingga tanpa saya sadari, jarum jam sudah menunjukan pukul 12.45 WIB. Saya beranjak dari kantor untuk mengisi kelas 6A, menggantikan guru yang tidak masuk.
Percakapan siang tadi sepertinya cukup memberikan dampak bagi salah seorang guru yang nimbrung, karena saat waktu sholat dzuhur anak-anak, guru tersebut kembali menghampiri saya dan mengajak saya berdiskusi 'lagi' tentang tipe kepribadian ini.
Well, ada beberapa teori kepribadian manusia yang ada di ranah psikologi. Salah satu yang terkenal adalah 4 tipe kepribadian ini.
Ada Sanguinis, si Populer.
Para Sanguinis adalah orang yang bahagia. Dia selalu bisa menghidupkan suasana dan selalu membuat suatu perkumpulan menjadi begitu. Kemampuan Sanguinis mencairkan suasana itu terjadi alamiah, tanpa dibuat-buat dan juga tanpa direncanakan. Mengalir begitu saja. Jika ada seseorang yang menurut anda ramai dan renyah, sudah bisa dipastikan orang tersebut adalah si Sanguinis. Perhatikan saja, jika tidak ada orang ini dalam sebuah 'lingkaran', 'lingkaran' tersebut pasti akan sepi.
Namun, karena kesukaaannya menjadi pusat perhatian, tak jarang Sanguinis ini selalu menyerobot saat orang lain berbicara. Ini alamiah. Jiwa Sanguinis memang butuh menjadi pusat perhatian, karena disitulah jiwanya hidup. Kebanyakan Sanguinis juga ceroboh dan tidak terstruktur.
Yang kedua adalah Koleris, si Kuat.
Bisa dibilang, Koleris adalah pemimpin ulung. Secara alami ia bisa membuat orang-orang mau untuk dipimpin. Koleris sebenarnya bisa melakukan semuanya sendiri (tidak butuh orang lain), tapi seringkali ia dipilih menjadi pemimpin di lingkarannya.
Tapi karena jiwa pemimpinnya ini, seringkali Koleris terlihat bersikap bossy dan keras. Juga karena ia tidak butuh orang lain, seringkali Koleris merasa bahwa hanya dia yang benar, dia yang nomor 1. Terkadang, Koleris juga dipandang sebagai sosok yang keras dan tidak memikirkan perasaan orang lain.
Tipe selanjutnya adalah Melankolis, si sempurna.
Sebenarnya bukannya Melankolis adalah yang paling sempurna, namun Melankolis itu secara alami menuntut kesempurnaan untuk dirinya dan lingkungannya. Ia bisa begitu teliti dan cermat karena tidak mau pekerjaannya terdapat cacat sedikitpun. Biasanya tipe Melankolis ini adalah orang yang mengerti seni (namun tidak semuanya). Dia bisa hanyut ke dalam pikirannya dan menghasilkan karya yang indah dipandang.
Akan tetapi, Melankolis ini memiliki perasaan yang sensitif, baik terhadap perkataan maupun perbuatan. Dia juga mudah merasa stress jika hasrat mencapai kesempurnaannya itu tidak tercapai.
Yang terakhir adalah Plegmatis, si damai.
Cita-cita luhur yang ingin dicapai oleh para Plegmatis adalah hidup aman, damai dan tentram. Secara alami, Plegmatis akan berusaha sebisa mungkin menghindari konflik. Ia akan menjadi penengah dalam suatu masalah demi tercapai kedamaian di sekitarnya. Plegmatis juga pendengar yang baik.
Namun, terkadang Plegmatis dianggap malas oleh orang lain (karena dia selalu berada di zona nyaman). Para Plegmatis biasanya juga minim inisiatif. Selain itu, Plegmatis mudah sekali terbawa arus sekitarnya. Dia biasanya tidak mempunyai pendirian yang kuat (tingkat toleransinya tinggi demi tercapainya perdamaian).
Dari ke empat tipe kepribadian diatas, tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk. Masing-masing kepribadian memiliki kelebihan maupun kekurangannya. Tinggal bagaimana kita melihat apa saja kekurangan dalam diri kita, kemudian mulai menekan / menguranginya sedikit demi sedikit.
-Jakarta, 22 Oktober 2019