Kisahku Part 6: Titik Balik dan Keberanian Terakhir Menjemput Kepastian
Perjalanan untuk keluar dari lingkaran birokrasi yang membelenggu ini ternyata jauh lebih berliku dari yang kubayangkan. Rasa lelah dan putus asa sering kali datang bergantian, terutama ketika melihat langkah teman-teman seperjuangan yang sudah lebih dulu berhasil melangkah pergi.
Aku masih ingat betul bagaimana rasanya menghubungi seorang teman yang telah lebih dulu sukses mutasi ke Boyolali. Melalui sambungan telepon, ia sempat kebingungan dan bertanya dengan nada heran, "Kenapa sekretaris-mu malah mempertahankan staf kurang ajar seperti dia? Lalu kenapa kamu malah dipersulit untuk mutasi?" Tidak berhenti di situ, ia bahkan mengajariku seluk-beluk cara bersurat yang benar langsung kepada Plt Sekretarisnya agar jalanku lebih terang.
Belum reda rasa penasaranku, kabar-kabar lain datang menyusul dari teman-teman yang berhasil pindah ke Kendal dan Semarang. Setiap kali mendengar cerita keberhasilan mereka, jujur saja, dadaku terasa sesak oleh gemuruh rasa ingin segera menyusul. Aku bukan merasa iri atas pencapaian merekaāsama sekali bukanāhanya saja ada keinginan yang begitu mendalam untuk segera bisa lepas dan pindah seperti mereka. Di tengah rasa down dan gelisah yang kerap melanda, mereka tidak pernah lelah terus memberiku suntikan semangat.
Di tengah situasi yang melelahkan itu, secercah harapan mulai terbuka dari ranah domestik. Aku dan suamikuāyang kini telah resmi menjadi pendamping hidupkuāberdiskusi panjang dan sepakat menyampaikan niat untuk pindah domisili sekaligus mutasi kerja ke Tegal. Syukurlah, rencana itu langsung disambut baik. Tante dan om suamiku menyetujuinya dengan antusias. Suamiku memang jauh lebih dekat dengan mereka karena sejak kecil ia diurus dan dibesarkan oleh om dan tantenya tersebut. Terlebih lagi, mereka juga baru saja tinggal di Tegal dan memang sangat membutuhkan tenaga suamiku untuk membantu mengurus urusan keluarga di sana. Orang tuaku pun tampak ikut senang dan bergerak cepat membantuku mengurus segala keperluan administratif, mulai dari surat pindah hingga memastikan kependudukan kami segera beres dan KTP serta KK baru kami tercetak.
Dengan dukungan penuh dari keluarga, aku memberanikan diri menghadap langsung kepada sekretarisku. Saat itu, beliau merespons dengan kalimat penenang, "Ya, nanti saya bantu bicarakan dulu."
Merasa di atas angin, minggu depannya aku kembali menemuinya untuk menanyakan perkembangan. Namun, jawabannya tetap sama mengambang: "Masih ditanyakan." Mau tidak mau, aku berusaha mencoba percaya lagi.
Di kantor, aku sempat bercengkerama dengan Teddy, teman sekantor yang mengetahui perjuanganku. Ia mendengarkan keluh kesahku dan memberi saran yang masuk akal, "Kamu harus rajin dan rutin menanyakan hal itu ke atas, kalau tidak, berkasmu akan terus ditumpuk di mejanya" Di sisi lain, aku tidak sendiri. Temanku yang bernama Bu Tyas juga sedang berjuang mengurus pindah instansi meskipun nasibnya juga belum ada kejelasan. Sering kali, kami menghabiskan waktu istirahat untuk berdiskusi, saling menguatkan, dan merencanakan strategi langkah mutasi berikutnya.
Di tengah fase keputusasaan yang hampir mencapai puncaknya, sebuah pesan WhatsApp dari Yantiātemanku yang bertugas di instansi berbedaāmendadak masuk ponselku. Ia membawa kabar gembira: SK mutasinya sudah turun dan akan segera dikirim ke provinsi. Ia menanyakan sejauh mana progresku, sekaligus berniat baik menemaniku langsung menghadap orang provinsi untuk menembus jalan buntu.
Singkat cerita, ketegangan sempat memuncak ketika terjadi perdebatan alot antara aku dan kasubag SDM-ku. Meskipun ia mencoba menekan, aku tetap bergeming dan berjanji dalam hati untuk tidak lagi membocorkan progres langkahku padanya.
Hingga pada suatu hari, aku menemui sekretaris untuk menagih kembali kepastian tanda tangan. Di luar dugaan, beliau malah melemparkan tanya dengan nada menyudutkan, "Kemarin ada Sekprov ke sini jam 12 siang, kamu ke mana saja?"
Kupelototi rasa jengkel di dada, lalu kujawab tenang, "Saya sedang disuruh Kasubag menuntaskan urusan dengan pihak percetakan untuk keperluan SPJ, Pak."
Dalam hati aku hanya bisa ngebatin, Alasan klasik lagi.
Dua minggu kemudian, aku menghubungi Yanti kapan dia pamitan ke provinsi. Dia bilang besok, aku bingung sementara berkasku sendiri bahkan belum diteken oleh beliau. Sontak, ia menegurku, karena aku malah heran justru malah dia yang lebih kekeuh dan bersemangat membantuku pindah. Awalnya aku putus asa, tapi berkat Yanti lah aku maju ke provinsi. Selama ini dia sangat baik, mau memberikanku berkas mutasinya sebagai contoh, cara membujuk pimpinan agar mau tanda tangan serta dorongan semangat yang luar biasa bahkan dia sempat sounding dengan rekan provinsi supaya berkenan membantu proses mutasiku.
Sampai akhirnya, tibalah di satu titik kulminasi di mana kesabaranku benar-benar habis. Aku melangkah pasti mendatangi ruang sekretaris. Di sana, kudapati beliau sedang duduk bersama Kasubag Keuangan. Tanpa membuang waktu, aku mengetuk pintu, meminta izin masuk, dan menyampaikan bahwa aku sudah membuat janji temu dengan Kasubag SDM Provinsi hari itu juga.
Dengan sisa-sisa keberanian dan sedikit nada memaksa yang terpaksa kukeluarkan, aku mendesak beliau di hadapan Kasubag Keuangan. Dan ajaibnya, pertahanan itu akhirnya jebol. Aku berhasil mendapatkan tanda tangan berharga di atas berkasku!
Tanpa membuang sedetik pun waktu, aku langsung meluncur berangkat menuju provinsi hari itu juga, bergerak cepat secara mandiri tanpa sepengetahuan kasubag SDM-ku maupun rekan kantor lainnya. Langkah kakiku terasa ringan namun berdebar hebat; inilah detik-detik penentu di mana garis akhir perjuangan panjangku di tempat lama perlahan-lahan mulai terbentang di depan mata.










