Hai apa kabar?
kemarin saya tidak berhasil menyelesaikan 5 tulisan ramadan, hanya mentok sampai tanggal 25 ramadan. Kalau mau nyari excuse, jelas ada. Cuma saya akhirnya menyadari memang pada saat itu, khususnya di akhir ramadan, skala prioritasnya bergeser.
Dengan segala dar-der-dornya kehidupan. Mulai dari berita terkait keadaan di Palestina, IHSG, nilai tukar rupiah yang ambruk, kondisi ekonomi saat ini, PHK banyak banget, dan bahkan satu bisnis saya akhirnya gulung tikar di bulan ini dengan konsekuensi nyata adalah karyawan saya juga ikut kehilangan pekerjaan, totalnya hampir 15 orang. Itu nyesek banget, ada karyawan yang bahkan bareng kita sejak awal-awal buka usaha :(
Saya bayangin, kalau teman-teman di sini punya usaha mikro terus punya karyawan 1-2 orang, saat itu itu udah bener-bener membantu sekali. Terlebih jika cashflow nya memungkinkan untuk menggaji mereka dengan baik sesuai kesepakatan bersama.
Belum lagi berita soal maraknya judi online/pinjol, itu ternyata tidak hanya berita tapi juga dialami oleh orang-orang yang kukenal. Belum lagi, teman-teman di sini yang mungkin saat ini sedang mencari pekerjaan di tengah kondisi saat ini dan galau banget karena belum dapet-dapet, mulailah berpikir untuk melatih skillset yang bisa dijual sendiri.
Deg-deg-an juga buat kita yang saat ini jadi orang tua yang punya anak masih kecil-kecil. Keadaan saat ini, memang tidak sepenuhnya sama, tapi mungkin ini yang dirasakan dulu sama bapak/ibuku di tahun 1997-1998 dan saat itu umurku masih 7 tahunan yang nggak ngerti apa-apa. Bapak ibuku bisa melewati fase krisis moneter di kala itu, sekarang anak-anakku juga nggak ngerti apa-apa soal keadaan sosial ekonomi politik di negeri ini, tapi kecemasan sebagai orang tua rasanya luar biasa.
Dan saat ini, kesadaran saya mengantarkan pada satu hal bahwa sebagai orang tua, tugas nggak gampang ini lebih mengerucut, mempersiapkan generasi anak-anak saya buat jadi pendobrak. Mereka akan menjadi anak-anak yang tangguh dan memperjuangkan hal-hal baik di masa yang akan datang.
Jika kita di sini, yang menjadi orang tua, memiliki privilise buat ngasih akses buat anak-anak kita yang sebaik-baiknya. Maka upayakan!!! Jangan jadikan gawai sebagai penenang mereka, jangan menyerahkan anak-anak di asuh oleh tontonan tidak mendidik di tiktok dkk. Revolusi di masa yang akan datang, bisa jadi dimulai dari bagaimana kita menjadi orang tua. Bertanggungjawablah sebagai orang tua.
Dunia ini seperti akan menemui masa berakhirnya, karena tanda-tandanya semakin terlihat nyata. Hal itu pun menimbulkan keresahan tersendiri, tapi sekaligus menumbuhkan kesadaran bahwa urusan-urusan yang kita resahkan tentang dunia seperti nunggu jodoh, harta dunia, dan segala macamnya. Jangan sampai menguasai dan melemahkan diri kita. Karena ancaman yang akan muncul di masa yang akan datang, membutuhkan diri kita yang kuat dan tegas. Punya kemampuan decision making, critical thinking, analitycal thinking, lateral thinking, creative thinking, problem solving, dan berbagai macam hal lain yang harus kita asah dari sekarang.
Jangan menyerahkan diri kita kepada sifat bermalas-malasan dan mengkonsumsi konten sampah di media sosial. Kehidupan memberikan kita kesempatan saat ini untuk membuat diri kita menjadi sebaik-baiknya.
Dan kesempatan itu adalah saat ini. Bukan kemarin, bukan nanti.