"beberapa kemarahan mungkin akan menemukan kata maaf,tapi beberapa kekecewaan tidak akan menemukan kata sembuh"
_zetian_
seen from Philippines
seen from United States
seen from Germany

seen from Saudi Arabia
seen from United States
seen from Russia
seen from China
seen from Maldives
seen from Italy

seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States
seen from China

seen from Indonesia
seen from Belgium

seen from United States
seen from China
seen from Russia

seen from Netherlands
seen from United States
"beberapa kemarahan mungkin akan menemukan kata maaf,tapi beberapa kekecewaan tidak akan menemukan kata sembuh"
_zetian_

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Pernahkah berkecamuk di benak kalian dan kalian bergumam dalam senyap seperti ini,
Kiranya siapa yang cintanya amat besar kepadaku setelah Allah? Siapa yang tangisannya paling dalam dan paling luka saat aku tiada di dunia?
TANPA NAMA
Ada yang bergetar di dada,
bukan gembira, bukan juga luka.
Ia hanya… ada,
seperti kabut yang menolak dijamah kata.
Ingin kutulis,
tapi huruf-huruf saling bertabrakan,
maknanya retak sebelum lahir,
hilang di antara jeda dan bisikan.
Malam pun tak mengerti,
meski telah kuberi seribu sunyi.
Langit hanya menatap,
diam seperti aku yang tak tahu harus apa.
Perasaan ini,
bukan cinta, bukan nestapa,
ia seperti bayangan di cermin retak,
jelas namun tak bisa disentuh juga dibawa.
Dan aku hanya bisa diam,
menyimpannya di sudut dada yang paling rahasia,
tempat di mana semua rasa
tinggal sebagai tanya…
Mungkin sebenarnya pria yang aku butuhkan adalah dia yang memberikanku bibit bunga, pot, tanah, kompos, dan sekop lalu mengatakan, "ayo menanamnya. Aku tanamkan untukmu ya," daripada dia yang hanya pergi ke toko bunga lalu memetiknya untukku.
- Sastrasa
You will forever be the greatest regret I can never recover.
-Jalanpagi

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
14022025
Dahulu, konon katanya jikalau sepasang bisa bertahan mengucap angan-angan dari larut malam menuju siang mendongengkan janji-janji bisu demi langkah-melangkahi datangnya aral melintang.
Lalu kembali mempertanyakan kapan kiranya bisa meruntuhkan lagak tenang sementara tak ada lagi sepatah dua patah kata yang menghidupkan malam-malam panjang.
Bilamana telah siap menyambut gersang yang kian menjelang sementara nampan kosong dibumbui semerbak bimbang dengan jumlah yang tak terbilang.
Pun, kapan waktu lagi rasanya pembatas ruas-ruas bambu di ujung tebing kian menjulang berselaras mantra-mantra penuh harap tak terhingga dirapal berulang-ulang.
-Ditulis di hari yang (katanya) penuh kasih sayang, namun tak ada riang yang diundang menelisik menuju ruang (yang kamu pinta bahkan di waktu penuh luang).
Jari jemari kita sudah terlalu lama dingin,
Disapu jarak membelah dimensi,
Tak ada yang lebih hangat dari rongga yang disirami senyummu,
Kata pulang membuatku semakin rindu,
Tunggu aku, perjalanan mungkin tidak akan lama,
Bisa jadi beberapa detik lagi,
atau menit lagi,
atau jam lagi,
atau hari lagi,
atau bulan lagi,
atau tahun lagi,
Tunggu aku di rumah yang selalu kurindu.
🔻Revolusi Dalam Diri: Menumbangkan Hegemoni Slave to Self
(Syair atas Gagasan James Allen, versi M. Ismail Yusuf)
Sebelum kau menuduh dunia menindasmu, tanyalah dulu: siapa penguasa di kepalamu?
Kapitalisme bicara kebebasan— tapi menjualnya dalam bentuk iklan. Komunisme bicara kesetaraan— tapi memenjarakan hati dalam dogma negara. Fasisme menjanjikan kekuatan— tapi menumbuhkan ketakutan. Oligarki tersenyum di balik demokrasi— menyebut penindasan sebagai “stabilitas.”
Sebelum kau menuntut revolusi sosial, adakah kau sudah menggulingkan diktator kecil bernama takut, malas, dan nafsu kuasa diri?
Kita sering teriak: “turunkan tiran!” padahal tiran sejati sedang duduk manis di balik dada— mengatur jam makan, jam tidur, bahkan jam kita berpikir.
Kawan, penjara tak selalu punya jeruji besi, kadang hanya berbentuk kebiasaan yang kita sebut kenyamanan.
Rantai tak selalu berbunyi nyaring, kadang berupa notifikasi layar yang membuatmu tunduk setiap lima menit.
Kita menuduh kapital menghisap, diktator merusak tapi lupa: ego pun bisa jadi korporasi besar, menghisap tenaga nurani, mengiklankan kesombongan, memproduksi kemalasan dalam skala massal yang merusak.
Maka, sebelum kau bicara tentang revolusi, belajarlah menumbangkan penjajahan di kepalamu. Sebelum kau mengusung manifesto rakyat, tulislah deklarasi kemerdekaan dirimu sendiri.
Karena tak ada proletar yang benar-benar bebas selama pikirannya masih diperbudak oleh rasa takut, dan tak ada penguasa yang benar-benar berdaulat selama egonya masih mengemis validasi dunia.
Kau bisa menurunkan presiden, tapi jika hawa nafsu masih bertahta, rezim lama hanya berganti nama.
Kau bisa mengganti sistem, tapi jika keserakahan masih jadi ideologi, maka kapitalisme akan lahir dari hatimu sendiri.
Kawan, revolusi bukan sekadar senjata dan slogan, tapi keberanian menatap cermin dan berkata:
“Tirani pertama adalah aku sendiri.”
Dan ketika tiran itu tumbang— saat kau tak lagi diperintah oleh syahwat, tak lagi tunduk pada ketakutan, tak lagi disuap oleh kenyamanan— saat itulah kau bisa bicara tentang kebebasan sejati.
Karena revolusi sosial tanpa revolusi batin hanyalah pergantian warna bendera di ladang yang sama tandusnya.
Maka bangunlah, bukan untuk berteriak, tapi untuk berpikir.
Bangkitlah, bukan untuk berperang, tapi untuk melawan diri sendiri.
Sebab hanya mereka yang menaklukkan batinnya yang pantas memimpin dunia luar.