"beberapa kemarahan mungkin akan menemukan kata maaf,tapi beberapa kekecewaan tidak akan menemukan kata sembuh"
_zetian_
seen from India
seen from United Kingdom

seen from India

seen from Malaysia
seen from Iraq

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from China

seen from United States
seen from South Africa
seen from China

seen from United States
seen from United States

seen from India
seen from United States
seen from Saudi Arabia
seen from Russia

seen from United States

seen from United States
"beberapa kemarahan mungkin akan menemukan kata maaf,tapi beberapa kekecewaan tidak akan menemukan kata sembuh"
_zetian_

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch β’ No registration required β’ HD streaming
Syair Seorang Pendosa yang Mengetuk Pintu Rahmat
Aku datang bukan membawa cahaya amal yang membuat langit bangga menyebut namaku.
Aku datang dengan langkah yang letih, dengan hati yang penuh bekas luka, dan tangan yang masih berbau oleh dosa-dosa yang berkali-kali kubiarkan tumbuh di ladang kelalaianku sendiri.
Aku hanyalah seorang pendosa, yang setiap fajar berjanji untuk berubah, lalu pada senja kembali tersandung oleh kelemahan yang sama.
Namun, di antara gelap yang mengurung jiwaku, masih ada satu cahaya yang tak pernah padam:
Rahmat-Mu.
Bukankah Engkau Tuhan yang membuka pintu ampunan lebih luas daripada luasnya samudra, lebih tinggi daripada bentangan langit, dan lebih dekat daripada urat nadi yang mengalirkan kehidupan ke dalam tubuhku?
Maka ketika dunia terasa sesak, dan dada dipenuhi kecemasan yang tak bernama, aku kembali mendengar suara firman-Mu yang lembut namun mengguncang seluruh jiwaku:
"Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu..."
Betapa agung kalimat itu. Sebab ternyata, jalan menuju ketenangan bukanlah hilangnya seluruh badai, melainkan hadirnya Engkau di tengah badai itu sendiri.
Aku pernah mengira bahwa penderitaan adalah ujian terberat.
Kini aku mengerti, yang lebih berat adalah hati yang kehilangan kemampuan mengingat-Mu.
Betapa sering aku mencari jalan keluar ke segala arah, sementara Engkau telah membuka pintu yang paling dekat:
Sabar. Dan shalat.
Sabar, agar jiwa tidak roboh di hadapan takdir yang telah Engkau tetapkan.
Shalat, agar hati yang rapuh tetap terhubung kepada Dzat yang tidak pernah tertidur menjaga seluruh makhluk-Nya.
Kini aku memahami mengapa Engkau mengatakan bahwa semua itu terasa berat.
Bukan kerana tubuh ini enggan bersujud, tetapi kerana hati terlalu sering bersujud kepada dunia.
Ketika dunia menjadi kiblat cinta, sabar berubah menjadi siksaan, dan shalat terasa seperti beban.
Namun ketika akhirat memenuhi dada, air mata menjadi dzikir, kesabaran berubah menjadi kekuatan, dan setiap sujud menjelma taman tempat jiwa beristirahat.
Aku mengingat Ayyub.
Lelaki yang kehilangan hampir segalanya, namun tak pernah kehilangan adabnya dihadapan Tuhannya.
Tak ada keluh kesah yang melampaui batas penghambaan.
Hanya satu bisikan yang lahir dari hati paling sabar:
"Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit, dan Engkau adalah Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang."
Begitulah iman. Ia tidak menghapus luka, tetapi menjadikan luka jalan pulang menuju Allah.
Aku mengingat Umar.
Ketika dunia terasa menghimpit, beliau tidak berlari menjauh dari shalat, melainkan berlari menuju shalat.
Kerana beliau mengetahui bahwa sujud bukan tempat melupakan masalah, melainkan tempat menerima kekuatan untuk menghadapinya.
Aku mengingat Sa'id bin Jubair.
Tubuhnya berdiri di hadapan kematian, tetapi ruhnya telah lama berdiri di hadapan Rabb semesta alam.
Bagaimana mungkin manusia menakutinya, sedangkan hatinya telah dipenuhi kerinduan kepada perjumpaan dengan Allah?
Aku mengingat Hasan al-Bashri.
Beliau memandang dunia laksana bayang-bayang sore hari.
Sebentar tampak. Lalu hilang.
Karena itu, kebahagiaan tidak membuatnya lalai, kesedihan tidak membuatnya putus asa.
Sebab matanya selalu melihat kampung akhirat di balik kabut kehidupan dunia.
Kini aku mengerti. Kesabaran bukan lahir dari kuatnya tubuh. Bukan pula dari kerasnya hati.
Kesabaran lahir dari keyakinan.
Semakin dekat hati kepada hari pertemuan dengan-Mu, semakin kecil seluruh luka dunia.
Kehilangan bukan lagi kehancuran. Tangis bukan lagi kelemahan. Musibah bukan lagi kutukan.
Semuanya hanyalah jalan panjang menuju rumah yang abadi.
Ya Allah...
Aku tidak meminta hidup yang bebas dari ujian. Aku hanya memohon hati yang tidak berpaling dari-Mu.
Aku tidak meminta jalan yang selalu mudah. Aku hanya memohon kaki yang tak lelah melangkah menuju sajadah.
Aku tidak meminta dunia selalu memenuhi harapan. Aku hanya memohon agar harapan terbesar dalam hidupku selalu tertuju kepada-Mu.
Kerana orang yang mengenal-Mu boleh jadi tetap menangis. Tetap jatuh. Tetap terluka.
Namun ia tak pernah benar-benar kalah. Sebab ia tahu kepada siapa seluruh air mata harus mengalir, kepada siapa seluruh doa harus kembali, dan kepada siapa seluruh perjalanan hidup akan berakhir.
Aku hanyalah seorang pendosa. Bukan penghuni langit. Bukan pula ahli ibadah yang amalnya menjulang.
Aku hanyalah hamba yang berkali-kali jatuh, namun berkali-kali pula mengetuk pintu rahmat-Mu.
Jika dosa mengajariku rendah hati, biarlah sabar menjadi tungganganku.
Jika air mata mengingatkanku kepada-Mu, biarlah shalat menjadi rumah tempat aku pulang.
Jika harapan masih tersisa di dadaku, biarlah semuanya hanya tertuju kepada ampunan-Mu.
Hingga kelak, ketika seluruh langkah berhenti, ketika seluruh suara dunia terdiam, dan aku berdiri sendiri di hadapan-Mu...
Semoga Engkau tidak memandang betapa banyak dosaku.
Tetapi Engkau memandang betapa sering aku kembali.
Sebab tujuan akhir seorang hamba bukanlah menjadi manusia tanpa cela. Melainkan menjadi jiwa yang tak pernah lelah pulang kepada Rabb-nya,
hingga napas terakhirnya menjadi saksi, bahwa ia wafat dalam rindu kepada Allah.
β’
β’
β’
Lueng Bata, Banda Aceh
29 Juli 2026
Pernahkah berkecamuk di benak kalian dan kalian bergumam dalam senyap seperti ini,
Kiranya siapa yang cintanya amat besar kepadaku setelah Allah? Siapa yang tangisannya paling dalam dan paling luka saat aku tiada di dunia?
TANPA NAMA
Ada yang bergetar di dada,
bukan gembira, bukan juga luka.
Ia hanya⦠ada,
seperti kabut yang menolak dijamah kata.
Ingin kutulis,
tapi huruf-huruf saling bertabrakan,
maknanya retak sebelum lahir,
hilang di antara jeda dan bisikan.
Malam pun tak mengerti,
meski telah kuberi seribu sunyi.
Langit hanya menatap,
diam seperti aku yang tak tahu harus apa.
Perasaan ini,
bukan cinta, bukan nestapa,
ia seperti bayangan di cermin retak,
jelas namun tak bisa disentuh juga dibawa.
Dan aku hanya bisa diam,
menyimpannya di sudut dada yang paling rahasia,
tempat di mana semua rasa
tinggal sebagai tanyaβ¦
Mungkin sebenarnya pria yang aku butuhkan adalah dia yang memberikanku bibit bunga, pot, tanah, kompos, dan sekop lalu mengatakan, "ayo menanamnya. Aku tanamkan untukmu ya," daripada dia yang hanya pergi ke toko bunga lalu memetiknya untukku.
- Sastrasa

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch β’ No registration required β’ HD streaming
You will forever be the greatest regret I can never recover.
-Jalanpagi
14022025
Dahulu, konon katanya jikalau sepasang bisa bertahan mengucap angan-angan dari larut malam menuju siang mendongengkan janji-janji bisu demi langkah-melangkahi datangnya aral melintang.
Lalu kembali mempertanyakan kapan kiranya bisa meruntuhkan lagak tenang sementara tak ada lagi sepatah dua patah kata yang menghidupkan malam-malam panjang.
Bilamana telah siap menyambut gersang yang kian menjelang sementara nampan kosong dibumbui semerbak bimbang dengan jumlah yang tak terbilang.
Pun, kapan waktu lagi rasanya pembatas ruas-ruas bambu di ujung tebing kian menjulang berselaras mantra-mantra penuh harap tak terhingga dirapal berulang-ulang.
-Ditulis di hari yang (katanya) penuh kasih sayang, namun tak ada riang yang diundang menelisik menuju ruang (yang kamu pinta bahkan di waktu penuh luang).
Jari jemari kita sudah terlalu lama dingin,
Disapu jarak membelah dimensi,
Tak ada yang lebih hangat dari rongga yang disirami senyummu,
Kata pulang membuatku semakin rindu,
Tunggu aku, perjalanan mungkin tidak akan lama,
Bisa jadi beberapa detik lagi,
atau menit lagi,
atau jam lagi,
atau hari lagi,
atau bulan lagi,
atau tahun lagi,
Tunggu aku di rumah yang selalu kurindu.