Setelah menikah nanti, pikirkan dan antusiaslah setiap hari tentang: kebaikan apa yang hari ini akan kuberikan untuk pasanganku? Lebih tepatnya, sama-sama antusias dan saling memikirkan.
—Taufik Aulia
seen from China
seen from United States
seen from South Korea
seen from Brazil

seen from India
seen from United States
seen from Philippines

seen from Türkiye
seen from United States
seen from Sweden

seen from United States
seen from Italy
seen from India

seen from Italy
seen from United States

seen from United States

seen from Italy

seen from United States

seen from Hungary
seen from United States
Setelah menikah nanti, pikirkan dan antusiaslah setiap hari tentang: kebaikan apa yang hari ini akan kuberikan untuk pasanganku? Lebih tepatnya, sama-sama antusias dan saling memikirkan.
—Taufik Aulia

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Lelaki - sekalipun tiap keputusan berada di atas telapak tangannya, namun melibatkan perempuan dalam setiap pengambilan keputusan adalah salah satu bukti bahwa ia menghargai perempuan.
01 Januari 2026 || 12.52 a.m
Tolong, Dengarkan Aku
Besok di hari ulang tahunku, bolehkah kuminta hadiah untuk didengar keluh dan kesahnya?
Aku ingin sekali saja divalidasi perasaannya. Satu jam saja. Tidak, 30 menit saja sediakan telinga dan empatimu untuk memahami.
Aku juga ingin diupayakan.
Setelah itu aku akan pergi, bekerja seperti biasanya, berbenah seperti biasanya, dan mengikuti keinginanmu seperti biasanya.
Aku akan baik-baik saja hingga tahun depan di hari ulang tahunku, aku kembali meminta hadiah yang sama.
@oversharink
Kak, kenapa gak jadi guru lagi?
Jawaban termudahnya karena udah resign, terus pindah jadi kerja paruh kantoran paruh kuli. Walau kadang masih terngiang zaman jadi guru, dan sekarang pun memperhatikan kalau jadi guru itu bikin lebih awet muda.
Mau jadi guru lagi?
Nggak ah. Ada hal yang lebih esensial tuk nggak jadi guru (digugu dan ditiru) lagi. Sebenarnya lebih karena evaluasi diri bahwa diri ini masih harus banyak berbenah. Jadi sayalah yang masih terus membenahi dan mendidik diri sendiri.
Lalu menyadari dan mengukur diri sendiri, sebagai suami, saya sendiri merasa gagal dalam mendidik istri. Bayangkan, kalau yang nyata dipimpin saja belum berhasil dididik, kiranya belumlah pantas untuk mendidik anak-anak di sekolah. Masih jauh.
Padahal istri saya sudah sarjana, orangnya cerdas, rajin.
Indikasinya sederhana: rumah nggak lebih bersih dan rapi dibanding zaman bujangan.
Saya ini tumbuh di keluarga yang terbiasa bersih dan rapi. Sebagai orang kreatif yang naturalnya gak jelas dan berantakan, sejak kecil saya biasakan diri tuk bersih dan rapi. Karena hilang pensil 4B dan drawing pen itu sangat menyedihkan tuk penggambar. Kertas gambar kotor karena debu pun serasa wajib dihindari.
Puncaknya, kamar saya adalah yang terfavorit buat nyimpen bayi saat acara keluarga. Alasannya simple, karena paling bersih dan rapi. Keluarga pun mengakui, saya adalah yang paling rapi kedua setelah Teteh.
Tapi itu berubah setelah menikah. Rumah lebih kotor dan berantakan. 10 tahun pernikahan, rumah nggak pernah lebih bersih dan rapi dibanding dulu.
Sebagai suami, saya udah nyontohin, nyuruh, dan ikut beberes juga. Sampai (almh.) Ibu pun pernah minta ke Teteh tuk ajarin istri buat bersih-bersih dan rapiin rumah. Dan hasilnya tetap belum sesuai target.
Bayangkan! 10 tahun hanya untuk mendidik seorang perempuan, muslimah, sarjana yang cerdas supaya rajin dan pandai dalam membersihkan dan merapikan rumah. Dan saya gagal.
Didiklah dulu diri sendiri, lalu orang terdekat. Barulah orang lain. Rasanya memalukan kalau lelaki mensalehkan orang lain, tapi nggak mensalehkan keluarganya sendiri.
Memilih Pasangan Hidup
Memilih pasangan bukan hanya soal perasaan, tapi juga tentang arah hidup. Jika laki-laki dan perempuan memiliki visi dan misi yang sejalan, maka perjalanan rumah tangga akan terasa lebih ringan.usaha yang dilakukan tidak dianggap sia-sia, karena keduanya melangkah dengan tujuan yang saja.
Sesungguhnya yang ditakutkan perempuan bukanlah soal ekonomi. Banyak perempuan yang rela ikut membantu, rela berjalan Bersama, bahkan rela berkorban demi kebaikan keluarganya. Namun yang paling ia takuktakn adalah ketika seorang laki-laki, yang seharusnya menjadi pemimpin rumah tangga, tidak mampu memikul tanggung jawab dan tidak mau berusaha.
Pernikahan bukan hanya tentang awal yang indah, tapi tentang perjalanan Panjang yang penuh pasang surut. Seseorang laki-lakii adalah pemimpin, nahkoda yang menentukan arah bahtera. Karena itu, ketika ia tidak mampu mengabil keputusan besar di awal, bagaimana mungkin ia bias diyakini dalam keputusan-keputusan penting lain yang akan datang? Laki-laki dewasa sejatinya tahu apa yang ia perjuangkan dan berani bertanggung jawab atas pilihanya. Di sisi lain, tugas perempuan ketika sudah yakin adalah memberikan kemudahan. Bukan untuk mempermudah dirinya dilalaikan, tetapi untuk menunjukkan bahwa ia siap mengukung, siap mendampingin dan siap ikut berjuang.
Karena pada akhirnya hubungan yang sehat bukan hanya tentang satu pihak yang mengusahakan, melainkan tentang dua hati yang sama-sama berjuang, sama-sama saling mengusahakan. Perempuan perlu memahami bahwa laki-laki juga manusia yang bias Lelah, bias goyah, bahkan bias merasa rapuh. Justru di situlah peran istri menjadi sangant penting, ia bukan hanya pasanganan, tapi juga penenangn hati, bukan hanya teman hidup, tapi juga pengyemangat ketika suami mulai merasa berat memikul tanggung jawabnya.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Source: https://www.instagram.com/stories/herricahyadi/3434510173962838349?utm_source=ig_story_item_share&igsh=NHp3a3J5dng2bnVr
Doa di Persimpangan Waktu
Pada akhirnya segala ragu menjelma kabut, membuat langkah terhenti di persimpangan sunyi, hingga aku memilih diam sebagai doa, menyerahkan arah pada Yang Maha Tahu jalan.
Namun masih tersisa gentar di dada, takut semua hanyalah kesementaraan rasa, takut semua hanyalah sekadar pelarian, takut semua hanyalah cermin dari sepi.
Aku ingin pilihan ini jadi pelabuhan, yang meneduhkan dahaga jiwa yang rapuh, yang mampu menerima retak dan ganjilku, dan tetap tinggal, meski badai mengguncang.
Sering kupinta dengan lidah yang gemetar, “Ya Allah, jangan bosan pada rintihanku, tunjukkan jalan agar tak keliru memilih, berikan yang terbaik, meski aku belum sebaik itu.”
Semoga niat ini tetap terjaga bening, bahwa cinta hanyalah jalan menuju-Mu, bahwa ikatan hanyalah wujud ibadah, agar langkah kecil ini Engkau ridhai selamanya.
Terlalu dekat
Mana bisa kita dekat dengan seseorang tanpa ada perasaan kecewa? katakan padaku jika kamu menemukannya.
Karena aku, selalu kecewa.
Cut off? Pilihan yang mudah tapi bukan jalan yang dipilih.
Karena mana mungkin kita selamanya hidup tanpa membutuhkan orang lain. Setidaknya, manfaatkan sedikit situasi itu dengan tidak mendiamkannya atau malah menjauhinya.
Walaupun untuk bertukar pesan setiap hari rasanya tidak perlu, apalagi dia sudah ada riwayat menyakiti. Karena terlalu sering berkomunikasi memang kadang bisa membuat kita salah bicara atau begitu juga sebaliknya.
Wajar. Jangan lebay, jangan merasa paling tersakiti.
Memang begitu alarm untuk jangan terlalu dekat, apalagi bergantung pada seseorang !