Part 1:
Aku sudah lupa hari apa itu. Yang masih kuingat, siang hari di bulan Februari 2016, saat jam istirahat kerja, sebuah pesan WA masuk ke ponselku. Aku mendapat pesan dari wanita yang sudah lama tidak bertukar pesan denganku. Padahal, pernah ada masa saat kami hampir setiap malam saling bertukar pesan, mengobrol sampai larut, membahas berbagai hal. Pesannya singkat. Dia mengajakku bertemu sepulang kerja. Katanya, ada sesuatu yang ingin dibicarakan.
Aku tersenyum saat membaca pesannya. Sejujurnya, aku juga sangat merindukannya. Dia adalah wanita yang aku cintai dan juga mencintaiku. Kami pernah begitu sangat dekat. Tapi karena sesuatu hal dan berbagai pertimbangan, aku memilih menjauh. Hampir dua tahun lamanya aku sengaja menjaga jarak.
Aku balas pesannya singkat. Kami sepakat bertemu di sebuah rumah makan sepulang aku kerja, tidak jauh dari tempatku bekerja.
Siang itu aku melanjutkan bekerja, tapi pikiranku sudah tidak fokus. Aku terus menebak-nebak. Memangnya ada apa? Kenapa harus bertemu? Kenapa rasanya serius sekali? Kami memang sudah lama tidak mengobrol berdua. Aku bahkan bingung nanti harus membuka percakapan dari mana.
Sepulang kerja, aku langsung bergegas menuju rumah makan yang sudah kami sepakati. Aku mengendarai motor Supra kesayanganku. Setelah memarkir motor, aku bergegas masuk sambil mengedarkan pandangan ke berbagai penjuru ruangan. Ternyata, dia sudah datang lebih dulu. Dia duduk sendirian sambil menatap layar ponselnya. Karena terlalu fokus, dia tidak menyadari kedatanganku.
Aku lalu berjalan mendekat.
“Hei … sudah lama, Is? Maaf agak telat.” ucapku gugup, sebab aku tahu sebenarnya tidak terlambat.
Dia mengangkat kepala, sedikit kaget.
“Eh ... kamu nggak telat kok, Lis.”
Aku duduk di kursi di depannya. Kami saling berhadapan. Kuperhatikan wajahnya sekilas. Masih cantik seperti dulu.
“Gimana kabarnya, Is? Sehat?” tanyaku basa-basi.
“Sehat, Lis. Kamu juga sehat, kan?”
“Sehat kok ….”
Beberapa detik kami berdua kembali diam.
“Mau ngobrol apa? Kayaknya serius banget.” tanyaku.
Dia tidak langsung menjawab. Tatapan matanya berubah. Beberapa menit setelah itu menjadi salah satu percakapan paling penting dalam hidupku.
Sore itu dia bertanya tentang kelanjutan hubungan kami. Sebenarnya, hubungan kami memang aneh. Kami pernah sangat dekat, tapi tidak pernah ada kata jadian. Tidak pernah juga ada kata putus. Hubungan kami seperti menggantung begitu saja. Dia juga tidak terlalu ingin tahu kenapa aku memilih menjauh selama hampir dua tahun terakhir. Dia hanya ingin tahu satu hal.
Apa aku serius dengannya?
Sebab, dia sudah ingin menikah. Dan lebih mengejutkan lagi, ada laki-laki lain yang sedang mendekatinya.
Aku masih ingat betul perasaanku saat itu. Kaget, bingung, dan tentu saja takut. Sebab, selama ini aku sama sekali belum memikirkan pernikahan dalam waktu dekat. Targetku menikah di usia 26-27 tahun. Sedangkan waktu itu usiaku baru 23 tahun.
Aku juga baru bekerja belum genap dua bulan. Tabunganku hampir tidak ada. Kondisi ekonomi keluargaku sejak dulu juga pas-pasan, cenderung kekurangan malahan. Di kepalaku saat itu, menikah adalah keputusan yang sangat tidak logis dan realistis. Aku tidak ingin mengajak anak orang hidup susah denganku.
Pertemuan sore itu akhirnya berakhir tanpa jawaban yang benar-benar jelas. Aku menjelaskan semua kondisiku. Dia memahami karena sedikit banyak dia sudah tahu bagaimana keadaan keluargaku sejak dulu. Tapi, aku juga bisa melihat kekecewaan yang berusaha dia sembunyikan dari wajahnya.
Dia bingung. Aku juga tak kalah bingung.
Beberapa hari setelah pertemuan itu, ada sesuatu yang aneh terjadi padaku. Aku tidak pernah mengalami perasaan seperti itu sebelumnya. Hatiku tidak tenang. Tidurku tidak nyenyak. Pikiranku terus kembali ke obrolan sore itu. Yang membuatku heran, logika yang selama ini selalu menjadi peganganku tiba-tiba seperti tidak bekerja.
Dari dulu aku adalah orang sangat logis dan realistis. Kalau memang belum mampu, aku jarang sekali memaksa. Kalau memang belum siap, aku bersedia menunggu. Harusnya sesederhana biasanya. Tapi, kali ini berbeda.
Aku tidak ingin membiarkan kesempatan itu pergi begitu saja. Di sisi lain, aku juga tidak ingin wanita yang kucintai ikut hidup susah bersamaku. Dia sangat pantas mendapatkan laki-laki yang lebih siap, lebih mapan, dan lebih tampan dariku.
Kalau kupikir-pikir, harusnya mudah bagiku untuk mengalah dan melepaskannya saat itu. Membiarkan dia memilih laki-laki lain yang mungkin bisa memberinya kehidupan yang lebih baik. Tapi, ternyata tidak semudah itu. Hampir seminggu penuh, otak dan perasaanku seperti berjalan ke arah yang berbeda.
Otakku berkata, “Jangan egois.”
Perasaanku berkata, “Kalau dilepas, kamu akan menyesal seumur hidup.”
Di tengah kebingungan itu, aku bahkan sempat menulis sebuah surat untuknya. Aku menuliskan semua yang kurasakan setelah pertemuan sore itu. Lalu kukirimkan padanya.
Dan entah bagaimana, akhirnya aku mengambil keputusan yang sampai sekarang tidak pernah kusesali. Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku memilih mengikuti perasaanku daripada logikaku. Aku memutuskan akan memperjuangkannya.
Minggu pagi, aku memberanikan diri mengajak bapak dan ibu mengobrol. Ada sesuatu yang ingin kusampaikan. Sesuatu yang bahkan beberapa hari sebelumnya tidak pernah kubayangkan akan kuucapkan. Dan itu membuat mereka sangat terkejut.












