Sometimes I take a break in the middle of writing something in my diary

seen from United States

seen from United States
seen from Sweden

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Spain
seen from United States
seen from China

seen from United Kingdom

seen from Malaysia
seen from United States

seen from Australia
seen from Iraq
seen from T1

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from China

seen from Italy
Sometimes I take a break in the middle of writing something in my diary

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch ⢠No registration required ⢠HD streaming
Kemelekatan
Sebuah seni penderita'an, ternyata adalah rasa menganggap kepemilikan atas yang di titipkan pada diri, Kemelekatan. Rasa yang di rasakan pada insan manusia ketika bahan baku nya adalah rasa takut, harapan, keinginan serta rasa cinta yang berlebih pada hal yang di dambakan dan di akui. Di aduk menjadi rata dan tercampur sehingga menjadi hidangan yang di namai "kemelekatan" . Kepada suatu hubungan antar manusia (hablum minannas) atau pada benda dan jabatan yang di miliki. Rasa ini tumbuh merambah dan merekah, ketika kita tidak menyadarkan diri bahwa semua hanya titipan. Perubahan, perpisahan, kepergian, meninggalkan atau di tinggalkan. Adalah indikasi terbesar ketika kemelekatan itu sudah merambah dan mekar di hati manusia. Ini ujian yang cukup berat, namun pembelajaran yang sangat dalam untuk insan sederhana ini.
Innalilahi wa innailaihi raji'un. Sesungguhnya kami milik Allah, dan kepada nya kami kembali.
Teringat pesan yang di tuliskan oleh tokoh ulama dan penyair dunia. "Perpisahan hanya bagi mereka yang mencintai dengan mata, bukan bagi mereka yang mencintai dengan hati dan jiwa nya." - Jalaludin Rumi.
Dan mungkin itulah alasan, mengapa yang menjadi titik tertinggi dalam mencintai adalah keikhlasan, bukan kepemilikan, Lahaulawalla quatta illa billah.
iam|Har 11/8/26 -Lampung
Pemain Cadangan
Aku suka kok, jadi pemain cadangan. Duduk-duduk santai di pinggir lapangan menyaksikan permainan. Baru kalang kabut ketika dipanggil mengganti pemain yang habis masa pakainya. Aku senang menjadi pemain cadangan. Tak banyak dilirik, tak banyak dikomentari. Kecuali kalau aku berganti peran menjadi pemain utama. Tapi bagaimanapun, peran utamaku adalah pemain cadangan. Bukan berarti aku tidak berlatih dengan keras. Bukan pula artinya aku punya kemampuan yang lebih rendah. Aku cuma ... cadangan. Cadangan ya cadangan. Bukan yang pertama, bukan yang dielu-elukan dunia. Jika boleh, aku mau jadi pemain cadangan selamanya dan jika boleh lagi, aku mau jadi pemain cadangan yang sama sekali tidak turun ke pertandingan. Aku tahu kedengarannya menyia-nyiakan, tapi tiada seorang pun yang lebih dulu bertanya apakah sejak awal aku ingin bergabung dalam permainan ini. Maka bila bisa memilih, aku suka jadi pemain cadangan. Turun nanti-nanti saja saat diperlukan. Banyak menonton, mengamati, dan menyemangati. Kadang kala menjadi pemain cadangan itu tidak buruk juga. Masih bagus aku belum melepas seragamku dan malah kabur keluar arena. Jadi pemain utama itu bagus, tapi bagus lagi bila jadi pemain utama di pertandinganku sendiri.
Senantiyasa, 2026.
Kenangan Dalam Kode Binary
Dunia modern saat ini memberi kita kemudahan-kemudahan, tentunya itu karena perkembangan teknologi. Orang-orang tidak lagi menonton, menyimpan, dan membagikan sesuatu dalam bentuk fisik. Mereka seperti menikmati kecanggihan peradaban ini dalam realitas virtual. Mereka tak lagi menyimpan foto-foto pada momen tertentu pada album foto fisik. Mereka juga tak lagi mendengarkan musik-musik favoritnya dalam bentuk rilisan fisik. Juga mereka tak lagi membaca terbitan majalah / koran fisik. Seolah modernitas mengajak kita menggenggam dunia dalam ponsel, apapun yang kau butuhkan seakan ada di dalamnya.
Kadang aku khawatir jika momen yang telah aku lewati dan tersimpan dalam arsip digital akhirnya hilang. Ketika platform digital tersebut bangkrut misalnya, seperti mereka yang dulu pernah punya akun Friendster / Myspace, ke mana kah momen-momen yang tersimpan dulu? Aku tak pernah tahu. Aku juga menyimpan foto-foto, rekaman video dalam handphoneku, lalu saat handphoneku hilang, maka kenangan yang tersimpan di dalamnya pastinya juga hilang. Seperti juga ketika ribuan data digitalku yang tersimpan dalam hardisk komputer, saat hardiskku rusak. Lalu ke mana aku bisa mengenang momen-momen yang sempat terrekam tersebut? Aku tak tahu jawaban pasti. Ingatanku tak sedetail bagaimana hardisk komputerku bekerja.
Aku sempat berpikir ketika semua orang hanya menyimpan arsip kenangannya pada platform digital, maka mereka sama saja dengan menyerahkan sejarah pada tangan robot. Ketika pencipta dan pemilik robot ini ingin merubah dunia dengan aturannya, mereka hanya perlu menekan tombol Ctrl + Alt + Del maka terhapuslah semua sejarah, lalu mereka ciptakan narasinya sendiri.
Menyimpan foto, buku, majalah, rekaman musik dalam bentuk fisik masih sering aku lakukan. Koleksi kasetku, buku-buku, majalah masih terjaga, dan foto-foto keluargaku, saat aku kecil juga masih tersimpan rapi dalam album.
Dunia digital benar-benar memberikan kemudahan, termasuk kemudahan untuk melupakan.
Malang,
22 Desember 2022
āJurnalul unei cititoare visatoareā
Capitolul 3: CĆ¢nd se credea ca totul merge bine ,Ć®mi dau seama ca apare ceva ce nu ma asteptam sa vad Ć®n aceasta carte. Viata de cuplu nu e uČoarÄ Či e realist asta. Ma surprinde cĆ¢t de realist e acest capitol. Comunicarea nu exista aproape deloc Či asta e trist. Mary se Ć®ntristeazÄ fiind departe de pÄrinČii ei Či Wilson e misterios ,fiind tot timpul plecat. Ma Ć®ntreb ce se va Ć®ntĆ¢mpla. Stau cu mana pe inima Či sper ca relaČia lor va progresa Či ca nimic rÄu nu li se va Ć®ntĆ¢mpla.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch ⢠No registration required ⢠HD streaming
āJurnalul unei cititoare visatoareā
ā”ConČine spoilereā”
ā”As dori sa va povestesc urmÄtorul capitol,mai exact sa va spun scenele mele preferate din acest capitol. Ćncepe cu Wilson,pentru cÄ asta e numele Ducelui. Exact. Este Duce. Cine ar fii crezut?Nu eu,asta e sigur. Cumva a aflat cine este Mary sau mai exact despre familia ei. Ea este Ć®ncÄ o enigma de care este curios. Mary-kate ajuta la biserica ceea ce o face Ć®ncĆ¢ntÄtoare cu copiii sÄraci. Wilson o viziteazÄ la biserica,bineĆ®nČeles. Doar e curios de ea. Či ador faptul ca Wilson cauta fete inteligente. O sa intelegeti din carte de ce spun asa. Se vede ca ii place sa converseze cu cineva dar sa aibÄ Či ce anume. Ce gentleman este Wilson cu mama sa. As putea spune mai multe dar va las pe voi sa aflati minunata discuČie pe care o are cu mama sa. Mic spoiler alert : TĆ¢nÄrul asta e interesat de Mary. ā”
Pupici
āJurnalul unei cititoare visatoare ā
ā”ConČine spoilere ā”
Dragele mele cititoare,
Sunt noua pe aceasta aplicaČie Či mi ar plÄcea sa Ć®ncep sa povestesc cÄrČile pe care le citesc aici. Acest cont nu este ca sÄ atrag atenČie ci e mai mult un jurnal unde scriu ceea ce mi place din ceea ce citesc. Sa ma bucur de ceea ce descopÄr. ^_^
Halaman Zaki: Bab 1 āKomik Pertamakuā
Notifikasi berdenting, dan balon cakap menunjukkan sebuah pesan yang membuatku mengatupkan bibir dan berhenti menggulir layar.
āSelamat, Bro.ā āNgapo melok lomba cerpen ketimbang lomba lukis. Kau, kan, pinter ngelukis, Bro.ā
Ponsel kubaringkan ke lantai, dan memilih menutup mataku dengan tangan, daripada membalas pesan itu.
***
Aku tidak suka dengan ayahku, karena dia lelaki menyebalkan. Namun akan kutarik ucapan itu di saat dia pulang membawa majalah Bobo. Dari pada membaca iqro, aku lebih suka membaca komik atau majalah anak seperti ini. Buku pelajaran pun yang kusukai cerita pendeknya saja. Namun yang menyebalkan, ibu lebih suka anak yang pintar mengaji. Sayangnya anak perempuan sepertiku tidak pintar akan hal itu.
Aku juga tidak pintar menghitung, dan menghafal perkalian. Dijemur dengan teman-teman yang juga tidak pintar, tak masalah. Asal wanita paling tua di rumahku tidak mengetahuinya. Jika ia menyuruhku menunjukkan nilai di sekolah, aku cukup perlu memberikan buku gambarku, dan mengatakan buku lain sedang berada di Buguru.
Andai di sekolah ada mata pelajaran berbohong, mungkin aku akan mendapatkan nilai tinggi.
Sepertinya yang paling ibuku suka adalah gambaranku, karena hanya itu yang ia pamerkan ke teman-temannya. Namun, ia berhenti menyukainya saat aku di daftarkan lomba mewarnai. Padahal momen itu adalah halaman yang berbekas. Semua orang membawa pensil warna, dan krayon. Bahkan ada yang membawa pensil mahal, rasanya jadi ingin. Akan tetapi aku yakin ayah tidak akan membelikannya.
Singkat saja kuberi tahu bahwa aku kalah.
Hari itu aku tidak menjadi anak terpintar.
Tidak juga menjadi juara lomba.
Aku bahkan tidak tahu gambar mana yang masuk kategori juara. Meski ibu tidak lagi pamer gambaranku, sejak saat itu, ia jadi berhenti bertanya nilai di sekolahku. Aku tidak perlu cemas lagi sekarang. Akan tetapi ia tetap bertanya bagaimana mengajiku.
Kalau dipikir-pikir sekarang, mungkin ibu memang hanya ingin aku punya masa depan.
Hidupku terus berjalan, temanku silih berganti. Akhirnya aku berada di kelas empat. perasaanku sangat senang karena sudah tidak lagi memakai pensil, saatnya memakai pena. Rasanya seperti seumuran kakakku, walau tubuhnya lebih tinggi.
Percayalah, waktu itu aku benar-benar menganggap pena adalah tanda kedewasaan.
Aku mendapatkan teman sebangku yang baru. Kulitnya putih, bibirnya juga pucat. Jarinya sangat lentik. Kami seperti berasal dari dunia yang berbeda. Ia menyapa terlebih dahulu, dan memperkenalkan namanya, padahal aku sudah tahu. Namanya Alya, ia adalah anak guru di kelas lain. Setiap pulang ia tidak perlu menunggu jemputan sepertiku, sangat beruntung.
Hatiku terus bertanya-tanya, apakah ia tahu bahwa aku sangat senang duduk di sebelahnya sekarang. Karena saat kelas menggambar, ia juga mendapat nilai sepertiku. Tetap aku yang tinggi. Alya bukanlah anak pemalu, dengan terang-terangan ia menceritakan banyak hal padaku. Membuatku menemukan kemiripan antara kami ber-dua. Kami sama-sama menyukai komik.
Di rumahnya ada banyak sekali komik, dan berbagai judul. Aku jadi iri, di rumahku juga sangat banyak buku, tetapi jika itu komik, sepertinya hanya milikku saja. Mendapatkannya pun perlu banyak perjuangan. Aku masih ingat betapa beratnya hidup di rumah eyang hanya demi tumpukan komik. Aku banyak menangis hingga sakit perut. Gigiku juga ikut sakit. Karena itulah menjadi berat.
Ah, cerita itu lain waktu saja, ayo lanjut mengenal Alya. Selain pintar menggambar, ia juga pintar menulis. Alya jadi memiliki komik buatannya sendiri. Aku sangat takjub, Alya seperti bintang. Ada perasaan yang begitu aneh di dadaku, seperti pertama kali aku membaca majalah Bobo.
Pena itu kuputar-putar di sela jari. Apa aku bisa membuat komik seperti Alya? Sesaat tanganku bergerak menggambar karakter hantu yang memiliki telinga seperti kelinci. Matanya berbinar, dan ada ada tahi lalat di bawah matanya. Ternyata Alya menyadarinya. Ia bertepuk tangan, dan mengatakan: āZaki pintar sekali menggambar, kenapa tidak membuat komik sepertiku?ā
Dia berkata seperti itu padahal gambarnya terlihat lebih cantik. Yang ini tidak tidak bohong.
Mataku menyipit dan kepalaku terasa gatal. Aku memang pintar menggambar, tetapi tidak bisa menulis cerita seperti Alya. Percuma saja jika gambar tidak ada alurnya. Hasilnya akan menjadi buku gambar, bukan komik. Namun Alya menggeleng mendengar ucapanku.
āKamu, kan, suka bercerita padaku. Kenapa tidak ceritanya kamu gambar. Tulisanmu masih bisa terbaca meski berantakan.ā
Aku terdiam sejenak. Hantu bertelinga kelinci itu seperti tersenyum padaku.
āAlya perkenalkan, ini Aoi Ghost.ā Aku seperti mendengar tawa dari Aoi Ghost, Alya juga tersenyum dan memperkenalkan gambarannya.
Sepulang sekolah, aku meminta buku tulis baru pada ayah. Aku berbohong lagi bahwa buku yang lain telah penuh. Ia memberikannya. Ada bunga di perutku.
Mulai saat itu aku mulai membuat komik seperti Alya. Memang tidak sebagus miliknya, tetapi aku sangat bangga dengan buku itu. Tidak peduli jika ada yang menertawakannya, selagi dia tidak membuat komik juga. Alya mengajakku untuk memberi tarif seribu rupiah pada teman-teman kami yang ingin membaca. Aku setuju. Setidaknya jika mereka mau mengejek komikku, aku mendapatkan uang.
Alya mendapatkan banyak pembaca, membuatnya memiliki banyak uang. Berbanding balik denganku, yang hanya mendapat sedikit pembaca. Hanya saja aku tidak merasa iri seperti biasanya, karena yang aku rasakan adalah Bahagia saat menggambar dan menulis.
***
Telapak tangan kusingkirkan dari mataku. Lampu kamar menyilaukan pandanganku. Kuraih lagi ponselku, kemudian menjawab pesan sahabatku sejak smp itu.
āAku dak pinter, Nita. Cuman suka aja.ā