Cinta; Hati atau rasio?
Al kisah, seorang yang hidup dengan penuh ambisi, bekerja tanpa henti, meniti anak tangga kesuksesan satu demi satu. Pikirannya tertata dan sistematis, ia mampu memecahkan masalah-masalah dengan baik. Logikanya selalu terukur dan teliti juga sedikit rumit, di semua tempat, bahkan juga dalam urusan cinta.
Dalam cinta, ia selalu gagal, tidak hanya sekali, berkali-kali ia gagal. Bukan karena parasnya, tetapi logikanya selalu menang telak dihadapan hatinya. Pasangannya tak menemukan hati dalam dirinya, cinta itu kering, hambar, dan tidak dapat dinikmati 'menu yang buruk'. Ia selalu ditinggalkan, namun ia tak pernah bersedih. Ia tak menyadari, bahwa kesedihan adalah cinta, ia hanya menganggap seseorang datang dan pergi itu biasa.
Suatu hari, seseorang datang dalam hidupnya, ia intens bertemu, ia berbagi kisah setiap hari, dan selalu menyempatkan bersama untuk menghabiskan waktu senggang. Tak disangka, seseorang itu jauh masuk ke dalam hidupnya. Hatinya tersentuh, namun ia tak menyadari. Orang tersebut masuk jauh menyentuh jiwanya, kesepian yang dulu ia anggap biasa, kini dirobohkan dan dibangun sebuah kastil dihatinya yang diisi oleh mereka.
Namun ia tak menyadari keberadaan seseorang itu dalam hidup nya adalah cinta. Ia mengukurnya dengan logika, bahwa seseorang itu hanyalah teman baginya. Sebab logikanya tak menemukan alasan untuk jatuh cinta padanya. Ia berkeyakinan, bahwa cinta itu harus logis, dengan alasan yang jelas.
Seseorang tersebut berkata padanya, bahwa cinta tak memiliki alasan. Sebagaimana cinta padanya tak memiliki alasan, ia dicintai karena itu adalah dia. Sesederhana itu. Namun ia tak percaya.
Sampai suatu hari, seseorang itu pergi karena ingin memberi pelajaran padanya. Ia menghilang sesaat setelah memberikan pelukan. "Aku akan pergi, dan tak akan pernah kembali, sampai kamu berani mengikuti hatimu, dan berhenti selalu memenangkan logikamu. Jika itu tak terjadi, maka aku akan menghilang selamanya".
Sejak hari itu, hidupnya terasa sepi, hatinya hampa. Namun ia tak mengerti mengapa. Ia tiba-tiba selalu menangis, dan selalu berhalusinasi melihat seseorang tersebut. Tetapi ia tak pernah berani jujur, kenyataan itu selalu dinafikan.
Sampai suatu hari ia bercerita pada sahabatnya, 'ada apa denganku? Mengapa aku begini, aku menyesal membiarkannya ada dalam hidupku.' Sahabatnya berkata, 'itu adalah cinta, katakan padanya jika kamu mencintainya'. Ia menjawab 'tidak mungkin aku mencintainya, tak ada alasan untuk itu'. Sahabatnya membalas 'lalu mengapa kamu menangis?' ia menjawab 'aku tidak tahu'.
"kamu tidak tahu mengapa kamu menangis, karena kamu mencintainya. Berhentilah menggunakan akalmu, kamu tidak akan menemukan apapun, datangi dia sekarang atau kamu akan menyesal selamanya"
Saat itu ia pun menyadari bahwa cinta itu sebenarnya adalah persoalan hati. Selama ini ia gagal bukan karena ia tidak cocok, tapi ia tak pernah memberikan hatinya pada orang lain, ia tak pernah menggunakan hati untuk berhubungan dengan orang lain.
Ia berkata "cinta memang unik, ia seperti permainan dua orang, yang seiring waktu melibatkan orang lain. Mulanya seseorang saling jatuh cinta dan ingin mendominasi untuk menentukan siapa yang terbaik, karena mereka masih jatuh cinta dengan logikanya. Sampai saat hati bermain, mereka tak lagi menghitung-hitung, dan hanya mencintai, membuat seseorang bahagia, bersama dan saling mendukung. Sungguh indah".
Sekian..............
.
.
@nidzomizzuddien













