LIDAH ITU TIDAK BERTULANG
“Tetapi, tanpa lidah, manusia tidak bisa berbicara. Tanpa lidah, manusia tidak bisa mengecap rasa. Lidah tidak bertulang, tapi siapa sangka bisa jauh lebih tajam dari pedang. Berlisanlah dengan hal yang baik atau lebih baik diam.” begitu katanya.
Tapi sepertinya, banyak manusia yang enggan untuk mematuhi, atau mungkin sudah lupa tentang pentingnya menjaga lisan. Betapa banyak orang yang berbicara tanpa berpikir, yang mengatakan hal-hal yang ada di pikirannya tanpa memikirkan akibat dan dampak dari ucapannya tersebut. Sudah banyak buktinya, orang-orang yang tergelincir hidupnya karena tidak mampu menjaga serangkai daging tidak bertulang di rongga mulutnya.
Salah satunya adalah kamu. Ingat, lisanmu adalah cerminanmu, apa yang kamu ucapkan adalah apa yang ada di dalam nuranimu. Dengan lisan seseorang akan terhormat, dengan lisan seseorang juga akan terhina. Berhati-hatilah dalam berbicara, berpikirlah dahulu sebelum perkataanmu menyakiti orang lain. Ia lembut seperti sutera namun berbisa seperti ular.
Niat baik pun ternyata bisa melampaui batas. Kalimat-kalimat cinta dan janji yang kamu ucap begitu saja justru menjadi senjata makan tuan. Dianggap melecehkan harga diri, membuat kamu harus berurusan dengan dirimu sendiri karena realitas yang tidak sesuai dengan lisanmu. Siapa sangka, kata-kata yang terlontar ringan dari lisanmu begitu dahsyat. Dampaknya membuat aku tersandung dan terancam selama empat tahun terakhir.
Bukan itu saja, kamu juga mendapat kecaman dari berbagai pihak, menjadi sasaran caci maki banyak orang, bahkan penghargaan-penghargaan yang pernah diraih sepanjang kariermu diputukan untuk dianulir. Canda yang membawa petaka. Betapa mengerikan.
Ada banyak bukti tergelincirnya hidupmu karena lisan yang tidak mampu kamu jaga. Maka tidak salah semua sabda, pepatah, juga petuah tentang bahaya lisan dan keharusan untuk menjaganya demi keselamatan hidup.
Jika ingin selamat, hanya ada dua pilihan. Berkata benar atau diam. Sebab ketika lisan telah mulai berkicau, kamu tidak pernah sadar telah berbicara panjang lebar, bahkan kamu lupa, tentang apa saja yang sudah kamu ucapkan.
Sebab lidah tidak bertulang, maka tidak mudah bagi kamu untuk mengendalikannya. Lisan bisa lebih kejam menusuk dan meyakiti, melebihi pisau belati. Bukan hanya raga, sukma pun akan lebih merasakan sakitnya. Bahkan mampu membuat hidup seseorang – aku – berubah haluannya.
Berhati-hatilah. Jangan sampai kamu melontarkan pernyataan dan pernyataan tanpa pertimbangan lagi. Jangan sampai lisanmu menjelma pedang yang menggores nurani banyak orang tanpa kamu sadari lagi. Jangan sampai lontaran lisan memantul sebagai senjata makan tuan dan menjadi sebuah penyesalan lagi.
Berita yang sempat ramai dibicarakan dan membuat heboh berbagai pihak tentang aku dan kamu, membuat aku ingin tetap berbohong pada semua orang bahwa kamu adalah orang yang sangat baik. Betapa kalimat sepele menjadi senjata makan tuan bagimu, karena terlontar dalam konteks dan ruang waktu yang tidak seharusnya. Tapi maaf, kebenaran harus tetap ada.
Bahkan, dua insan yang dahulu berjalan bersama dengan penuh keyakinan pun bisa dipisahkan, hanya dengan lisan.