Seseorang akan tersadarkan dengan dua hal: Diubah oleh suatu nasehat, atau Diubah oleh suatu kejadian.

#dc comics#dc#batman#tim drake#batfam#bruce wayne#dick grayson#batfamily#dc fanart



seen from United States
seen from United States
seen from Canada

seen from Maldives
seen from China

seen from Maldives
seen from Canada
seen from United States
seen from United States
seen from Belgium
seen from Canada
seen from China
seen from Greece

seen from Malaysia
seen from United States

seen from Malaysia
seen from China

seen from Australia

seen from Maldives
seen from United States
Seseorang akan tersadarkan dengan dua hal: Diubah oleh suatu nasehat, atau Diubah oleh suatu kejadian.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Sumatera hari ini bukan hanya basah oleh banjir, ia basah oleh pengkhianatan yang sudah lama dibiarkan.
Air memang turun dari langit, tapi bencana itu lahir dari bumi yang dipaksa telanjang oleh manusia-manusia yang tamak.
Dulu, hutan-hutan Sumatera berdiri seperti para penjaga: menahan hujan, menyimpan air, memeluk tanah agar tidak runtuh.
Kini penjaga itu roboh satu per satu. Digunduli, dihabisi, dipereteli atas nama keuntungan yang tak pernah cukup.
Maka bukan salah langit ketika kota-kota tenggelam, bukan salah sungai ketika ia meluap mencari jalan.
Salahkan tangan-tangan yang menebang pohon tanpa memikirkan apapun yang tumbuh selain uang di kantong mereka.
Kini banjir datang seperti bisikan gelap:
‘Aku tidak lahir dari hujan. Aku lahir dari keserakahan kalian.’
Sumatera tidak sedang dihukum. Ia hanya sedang menunjukkan apa yang terjadi ketika hutan dijadikan korban.
Ya Allah, Lindungilah Sumatera dari bencana dan keserakahan. Kuatkan yang terdampak, sembuhkan yang terluka, dan jadikan hujan sebagai berkah, bukan musibah.
Amiin.
#deaksara
kopi
aku merasa sudah waktunya menjaga jarak dengan kopi. tentu bukan karena nikmat yang hilang. bagiku kopi masih punya rasa yang sama, dengan pahitnya juga manisnya.
mungkin karena belakangan aku merasa terlalu menggantungkan diri pada keberadaan kopi. dalam penatku, pun dalam ceriaku.
bagian yang paling menyedihkannya adalah ketika kopi mulai jadi penyebab luka, juga gemar membuatku terjaga semalaman.
tunggu dulu, apakah benar ini kisah tentang kopi?
Lalu kamu akan mengerti, mengapa beberapa kesalahan atau luka tak dapat sembuh melalui maaf. Kamu akan mengerti juga mengapa maaf yang sudah terucap dan diterima, tak lantas membuat relasi atau situasi kembali seperti sebelum kesalahan terjadi atau luka tercipta.
Bukan tentang maaf yang tidak tulus atau lawan bicaramu yang bukan pemaaf, karena setiap orang memproses luka mereka dengan cara dan kecepatan yang berbeda. Beberapa orang membutuhkan jeda yang begitu panjang, ketika beberapa yang lain dapat melupakannya dalam sekejap. Dan tidak pernah ada nilai benar atau salah—hanya manusia yang sedang menjadi manusia.
Seeokor kura-kura kecil bertanya pada kelinci putih,
"Bagaimana caranya agar aku bisa sampai ke ujung jalan ini? Bagaimana supaya aku bisa menjadi sepertimu? Kamu terlihat bersinar, hebat, dan bisa melakukan apapun yang kamu inginkan." Kura-kura menatap kelinci dengan tatapan kagum.
"Kamu hanya perlu melakukannya. Aku yakin kamu juga bisa."
Kura-kura kecil tidak mengerti. Bagaimana caranya ia bisa berlari secepat kelinci. Bagaimana ia bisa melakukan sesuatu dengan percaya diri seperti itu.
la adalah kura-kura yang penuh ketakutan. la tidak mengerti bagaimana caranya untuk sampai ke ujung jalan. la takut jikalau di tengah jalan, ia akan bertemu hewan buas, atau ia akan tersesat dan tidak menemukan jalan untuk kembali.
Bagi kura-kura kecil, ini adalah langkah terbaik yang telah ia coba lakukan. Tapi ia bahkan belum mendekati apa pun yang kelinci putih lakukan.
Kura-kura kecil berpikir, apa suatu hari nanti ia bisa mengejar kelinci putih? Apa ia juga akan sehebat kelinci putih? Apa ia juga akan terlihat bersinar seperti itu?
-Bagian I. Kura-kura kecil-

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Memoar Pujangga Pendusta
Aku belajar menulis bukan untuk mengatakan kebenaran, melainkan untuk membuatnya terdengar indah.
Sejak kecil, aku percaya bahwa kata-kata lebih kuat dari kenyataan. Kenyataan sering kali kasar, patah, dan tak selesai. Tapi kalimat—ah, kalimat bisa dijahit rapi. Ia bisa menutup luka, menyembunyikan aib, bahkan mengubah kegagalan menjadi legenda kecil yang memabukkan.
Aku tumbuh sebagai pemuja diksi. Di rak kamarku terselip bayang-bayang para penyair: dengan amarah mudanya, dengan hujan yang tak pernah benar-benar reda, dan dengan palu yang menghancurkan moralitas. Dari mereka aku belajar satu hal: kebenaran bukan sesuatu yang utuh—ia adalah tafsir yang paling meyakinkan.
Dan aku ingin menjadi yang paling meyakinkan.
Aku pernah menulis tentang cinta seolah-olah aku pernah memilikinya sepenuhnya. Padahal yang kumiliki hanya bayangan, percakapan singkat, dan penolakan yang tak pernah selesai. Aku pernah menulis tentang kehilangan seolah-olah aku telah berdamai dengan kematian. Padahal setiap malam aku masih takut pada sunyi. Aku menulis tentang keberanian, padahal dalam hidup nyata aku sering menunda langkah, seperti prajurit yang menunggu perang usai tanpa pernah bertempur.
Aku adalah pujangga pendusta.
Tapi dengarlah: dustaku bukanlah kebohongan murahan. Ia adalah upaya menyelamatkan harga diri. Di dunia yang mengukur manusia dari capaian dan saldo, aku memilih membangun kerajaan dari metafora. Jika aku tak bisa menjadi pahlawan dalam kehidupan, setidaknya aku bisa menjadi pahlawan dalam paragraf.
Ada saat-saat ketika aku bertanya: apakah aku menipu pembaca, atau justru menyelamatkan mereka? Bukankah setiap orang ingin percaya bahwa cinta bisa abadi, bahwa luka bisa sembuh, bahwa manusia bisa berubah? Jika aku menulisnya dengan cukup indah, mereka akan percaya. Dan dalam kepercayaan itu, mungkin ada sedikit kebenaran yang lahir—meski berasal dari dusta.
Aku mulai sadar, pendusta sejati bukanlah ia yang mengarang cerita, tetapi ia yang takut mengakui rapuhnya diri. Aku takut disebut gagal. Takut dianggap biasa. Maka aku membungkus diriku dengan kalimat-kalimat kontemplatif, istilah-istilah filsafat, dan nada eksistensial yang terdengar dalam. Padahal yang bersembunyi di baliknya hanyalah seorang lelaki yang belum selesai dengan dirinya sendiri.
Aku menulis untuk terlihat kuat. Aku menulis untuk terlihat dalam. Aku menulis agar tidak terlihat kosong.
Ironisnya, justru dari kekosongan itu lahir tulisan terbaikku.
Kini, saat usia tak lagi muda dan cermin tak lagi ramah, aku mulai berani mengurangi metafora. Aku belajar menulis tanpa topeng. Tidak semua luka perlu dipuitiskan. Tidak semua kegagalan perlu dijadikan alegori. Ada kalanya kebenaran cukup ditulis apa adanya—tanpa hiasan, tanpa kebesaran palsu.
Aku masih pujangga. Tapi aku tak lagi ingin menjadi pendusta.
Jika suatu hari kau membaca tulisanku dan merasa tersentuh, ketahuilah: mungkin itu bukan karena aku pandai merangkai kata, tetapi karena akhirnya aku berhenti bersembunyi di baliknya.
Dan di sanalah, untuk pertama kalinya, puisiku tak lagi menjadi dusta—melainkan pengakuan.
malam ini tak terbendung karena aku telah merasa penuh dan aku ingin kau tahu.
Perlahan-lahan aku bisa memeluk rasa yang begitu indah, kangen.
@itsalwaysgal yang tak lagi menuntut apa-apa, hanya ingin merayakan kedalaman, sampai tuntas.