Dari "Hidup Segan, Mati Tak Mau" Menuju Ranting yang Bergerak
Refleksi tentang membangun gerakan organisasi kemasyarakatan Islam dari akar rumput.
Oleh Eko Bambang Fitriyanto
Tidak sedikit organisasi kemasyarakatan Islam di Indonesia yang secara struktur masih berdiri, tetapi secara gerakan nyaris tidak terlihat. Nama organisasi masih ada, kepengurusan masih lengkap, bahkan surat keputusan kepengurusan masih berlaku. Namun, ketika ditanya apa kegiatan rutinnya, jawabannya sering kali tidak ada, atau kalaupun ada, belum mampu menjadi denyut kehidupan organisasi.
Ungkapan hidup segan, mati tak mau rasanya cukup menggambarkan kondisi tersebut. Organisasi tidak bisa dikatakan mati karena kepengurusannya masih ada. Namun, juga sulit disebut hidup karena gerakannya hampir tidak terasa.
Padahal, hakikat organisasi bukan terletak pada kelengkapan strukturnya, melainkan pada gerakannya. Organisasi baru benar-benar hidup ketika mampu menghadirkan aktivitas yang mempertemukan anggotanya, memperkuat ukhuwah, melahirkan kader, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Refleksi ini muncul setelah saya berdiskusi dengan beberapa pengurus tingkat ranting dari salah satu organisasi kemasyarakatan Islam. Kami membahas satu pertanyaan sederhana: bagaimana menghidupkan kembali sebuah ranting yang selama ini ada secara struktur, tetapi belum benar-benar hidup sebagai sebuah gerakan?
Dalam diskusi tersebut, saya menemukan pola yang mungkin juga terjadi di banyak organisasi.
Pertanyaan pertama yang muncul bukanlah, "Kapan kita mulai?", melainkan, "Dananya dari mana?"
Lalu disusul pertanyaan berikutnya, "Kalau yang datang sedikit bagaimana?"
Kedua pertanyaan tersebut tentu sangat wajar. Tidak ada organisasi yang dapat berjalan tanpa memikirkan pembiayaan maupun partisipasi anggota.
Namun, saya justru melihat persoalan yang lebih mendasar. Sering kali organisasi berhenti bergerak bukan karena tidak memiliki dana, tetapi karena terlalu lama menunggu kondisi yang dianggap ideal.
Kita ingin pengajian yang pesertanya banyak. Kita ingin pemateri yang terkenal. Kita ingin konsumsi yang layak. Kita ingin kas organisasi yang kuat. Semua itu adalah harapan yang baik. Persoalannya, bagaimana jika semua itu belum kita miliki hari ini? Apakah organisasi harus terus menunggu?
Lebih jauh lagi, kadang muncul perasaan bahwa sebuah ranting baru baru layak bergerak jika sudah memiliki sumber daya yang setara dengan cabang, daerah, wilayah, bahkan pusat. Seolah-olah sebuah kegiatan ranting minimal harus bisa meniru kemewahan acara di tingkat yang lebih tinggi. Padahal, secara kapasitas, ranting belum tentu mampu. Akibatnya, pengurus menjadi minder, ragu, lalu memilih diam daripada memulai.
Memulai dari Kemampuan yang Ada
Menurut saya, menghidupkan kembali sebuah ranting tidak harus diawali dengan program yang besar.
Cukup mulai dari satu kegiatan yang sederhana, mudah dilaksanakan, dan dilakukan secara istiqomah. Misalnya pengajian rutin, kajian tematik, atau kegiatan sosial yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat sekitar.
Pada tahap awal, tidak perlu memaksakan menghadirkan pemateri berhonor. Masih banyak mubaligh, ustaz, maupun kader internal yang bersedia berbagi ilmu sebagai bentuk pengabdian kepada umat.
Begitu pula dengan konsumsi. Tidak harus disediakan melalui anggaran besar. Semangat gotong royong dapat menjadi solusi. Setiap peserta membawa makanan sesuai kemampuan. Sederhana, tetapi justru mampu menumbuhkan rasa memiliki terhadap organisasi.
Yang paling penting bukanlah kemewahan acaranya, melainkan keberlangsungannya.
Kas Tidak Ditunggu, tetapi Dibangun
Salah satu alasan yang paling sering dikemukakan adalah belum adanya kas organisasi.
Padahal, kas bukanlah syarat agar organisasi dapat bergerak. Justru kas dapat dibangun seiring dengan bergeraknya organisasi.
Setiap kegiatan dapat disertai dengan kotak infak. Berapa pun yang terkumpul, apabila dilakukan secara rutin dan dikelola secara amanah, lambat laun akan menjadi sumber pendanaan organisasi.
Selain itu, pengurus juga dapat mengembangkan program donatur tetap bulanan. Di sekitar kita tidak sedikit kaum muslimin yang memiliki semangat berinfak untuk mendukung dakwah. Mereka mungkin tidak selalu menjadi pengurus, tetapi bersedia menjadi bagian dari gerakan ketika melihat ada kegiatan yang nyata, tujuan yang jelas, dan pengelolaan yang dapat dipercaya.
Dengan demikian, kas organisasi tidak lagi menjadi alasan untuk menunda kegiatan. Ia tumbuh bersama gerakan yang terus dijaga secara istiqamah.
Ketika Analisis Mengalahkan Aksi
Diskusi tersebut juga menghadirkan refleksi lain.
Tidak sedikit organisasi dipimpin oleh orang-orang yang memiliki latar belakang akademik yang sangat baik. Hal ini tentu merupakan kekuatan karena mereka terbiasa berpikir sistematis, kritis, dan penuh pertimbangan.
Namun, dalam beberapa situasi, saya merasakan ada tantangan yang patut direnungkan. Pembahasan sering kali lebih banyak diisi dengan daftar risiko daripada daftar peluang. Setiap gagasan diuji dari berbagai sisi, tetapi keputusan untuk memulai justru semakin jauh.
Boleh jadi, hal ini terjadi karena sebagian pengurus lebih banyak ditempa dalam tradisi akademik daripada dinamika gerakan di tingkat akar rumput. Cara berpikir yang hati-hati tentu penting, tetapi organisasi kemasyarakatan juga membutuhkan keberanian untuk bertindak meskipun belum semua keadaan ideal terpenuhi.
Tentu saja, ini bukanlah penilaian yang berlaku untuk semua akademisi. Banyak akademisi yang justru menjadi motor penggerak organisasi dan mampu membangun perubahan besar di tengah masyarakat. Refleksi ini hanya mengingatkan bahwa organisasi memerlukan keseimbangan antara kemampuan berpikir konseptual dan pengalaman menggerakkan masyarakat.
Mungkin Kita Terlalu Sering Melihat Contoh yang Sudah Mapan
Saya juga mencoba mencari penyebab lain mengapa banyak pengurus di tingkat ranting cenderung ragu untuk memulai.
Boleh jadi, salah satunya karena referensi yang kita lihat adalah organisasi yang sudah mapan.
Di kota-kota besar, tidak sedikit ranting atau cabang yang telah memiliki amal usaha, jaringan yang kuat, serta kedekatan dengan kepengurusan di tingkat daerah, wilayah, bahkan pusat. Ketika mereka menyelenggarakan sebuah kegiatan, semuanya tampak rapi, besar, dan meyakinkan. Hal itu tentu patut disyukuri dan menjadi inspirasi.
Namun, tanpa disadari, kondisi tersebut bisa menjadi tolok ukur dalam benak kita. Seolah-olah sebuah ranting baru layak bergerak apabila sudah memiliki sumber daya yang serupa. Seolah-olah sebuah acara ranting baru dianggap pantas jika minimal bisa menandingi kemewahan acara di tingkat cabang, daerah, wilayah, bahkan pusat.
Padahal, menurut pengamatan saya, masih banyak contoh ranting di berbagai daerah yang tumbuh dari hal-hal sederhana. Pengajian dimulai di serambi masjid atau teras rumah. Konsumsi berasal dari urunan jamaah. Pematerinya kader sendiri. Kas dibangun sedikit demi sedikit melalui infak rutin dan donatur tetap. Tidak tampak megah, tetapi gerakannya hidup dan memberi manfaat bagi masyarakat sekitar.
Barangkali, selain belajar dari organisasi yang sudah besar, kita juga perlu lebih banyak belajar dari ranting-ranting kecil yang berhasil menjaga denyut gerakannya selama bertahun-tahun.
Keraguan Tidak Akan Menggerakkan Organisasi
Pelajaran terbesar yang saya peroleh dari diskusi tersebut adalah bahwa musuh utama organisasi sering kali bukan kekurangan dana ataupun keterbatasan sumber daya manusia.
Musuh terbesarnya adalah keraguan.
Keraguan membuat setiap gagasan selalu diikuti alasan untuk menunda. Setiap solusi dibalas dengan kemungkinan masalah baru. Akhirnya, rapat demi rapat terlaksana, tetapi kegiatan tak kunjung dimulai.
Padahal, tidak semua persoalan harus selesai sebelum langkah pertama diambil. Banyak solusi justru ditemukan ketika organisasi mulai bergerak.
Organisasi yang bergerak akan belajar dari pengalamannya. Ia dapat mengevaluasi, memperbaiki kekurangan, dan berkembang sedikit demi sedikit. Sebaliknya, organisasi yang terus menunggu kondisi ideal akan tetap berada di tempat yang sama.
Tulisan ini bukan berarti saya merasa sudah berhasil membangun organisasi atau ingin mengajarkan cara berorganisasi kepada siapa pun. Saya sendiri masih terus belajar, masih sering keliru, dan masih mencari bentuk gerakan yang paling tepat.
Apa yang saya tuliskan di sini hanyalah hasil perenungan dari beberapa diskusi, pengamatan, dan pengalaman yang sangat terbatas. Saya mencoba menyusun beberapa gagasan sederhana yang menurut saya realistis untuk dilakukan oleh ranting-ranting yang belum memiliki banyak sumber daya.
Bisa jadi, apa yang saya tuliskan tidak sepenuhnya cocok diterapkan di setiap tempat. Setiap ranting memiliki karakter masyarakat, tantangan, dan potensi yang berbeda-beda. Karena itu, tulisan ini lebih saya maksudkan sebagai bahan diskusi daripada sebuah resep yang harus diikuti.
Kalau ada satu harapan yang ingin saya titipkan, semoga semakin banyak ranting organisasi kemasyarakatan Islam yang berani memulai dari apa yang dimiliki hari ini. Tidak harus langsung besar, tidak harus langsung sempurna. Sebab, boleh jadi, gerakan-gerakan kecil yang dilakukan secara istiqomah itulah yang kelak menjadi fondasi lahirnya organisasi yang benar-benar hidup.