Tentang Pengajian, Piring UFO, dan Membangun Organisasi
By Eko Bambang Fitriyanto
Kalau dihitung-hitung, saya mulai belajar organisasi sejak kelas 1 SMP. Perjalanan itu terus berlanjut hingga hari ini. Awalnya di PII, saya berproses dari tingkat PK (Pengurus Komisariat) hingga akhirnya mendapat amanah di PB (Pengurus Besar). Saya juga pernah mengikuti Taruna Melati IPM (waktu itu masih bernama IRM), meskipun tidak menjadi pengurus. Setelah itu saya berproses di KAMMI, mulai dari mengikuti DM 1 hingga menjadi pengurus PK KAMMI MIPA Undip. Alhamdulillah, sampai sekarang pun Allah masih memberi ruang untuk terus belajar melalui Muhammadiyah, tepatnya bersama Fordigimu, sebuah komunitas di bawah naungan LDK PP Muhammadiyah.
Masing-masing organisasi memiliki warna, budaya, dan cara berproses yang berbeda. Namun, ada satu pelajaran yang saya rasakan hampir selalu sama: organisasi yang bertahan dan berkembang biasanya bukan hanya karena mampu membuat program-program besar, tetapi karena mampu menjaga rutinitas, membangun budaya, dan menumbuhkan kader secara konsisten.
Kalau ditanya pengalaman organisasi yang paling membekas, mungkin jawabannya tidak seperti yang dibayangkan banyak orang. Bukan seminar besar, bukan muktamar, bukan pula acara yang dihadiri ratusan peserta.
Yang paling saya ingat justru ta'lim pekanan alias pengajian rutin.
Mungkin karena dari agenda yang tampak sederhana itulah saya justru belajar banyak tentang bagaimana sebuah organisasi dibangun.
Di komisariat dulu, hampir setiap pekan selalu ada ta'lim. Saya pernah mendapat amanah untuk mengoordinasikan agenda tersebut. Tugasnya sebenarnya sederhana: mencari pengisi, menyusun jadwal, memastikan siapa yang menjadi tuan rumah, menyiapkan konsumsi bila diperlukan, lalu menyebarkan undangan kepada seluruh anggota.
Bedanya dengan sekarang, waktu itu belum ada WhatsApp. Undangan dibuat dalam bentuk surat, lalu diantar satu per satu ke rumah anggota.
Ta'lim biasanya dilaksanakan pada malam Minggu. Setiap pekan kondisinya tidak selalu sama. Kalau malam sedang cerah, insya Allah semuanya berjalan lancar. Namun ketika hujan turun, tantangannya berbeda. Jalanan menjadi lebih sepi, perjalanan lebih lambat, dan kadang peserta yang hadir tidak sebanyak biasanya. Meski begitu, kami tetap berusaha datang. Selain karena ingin menuntut ilmu, ada juga rasa sungkan kepada tuan rumah yang sudah bersedia membuka rumahnya sebagai tempat pengajian. Tidak jarang pula kami baru pulang ketika malam sudah cukup larut.
Karena ta'lim selalu bergilir dari rumah ke rumah anggota, tanpa terasa kami jadi saling mengenal keluarga, lingkungan, bahkan kondisi masing-masing. Organisasi saat itu terasa bukan sekedar tempat berkumpul, melainkan ruang untuk saling menguatkan dan bertumbuh bersama.
Dari pengalaman-pengalaman sederhana itulah saya belajar bahwa membangun organisasi tampaknya memang memiliki tahapan. Organisasi yang kokoh jarang lahir dari program yang langsung besar. Sebaliknya, ia biasanya tumbuh dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dijaga dengan konsisten.
Menurut saya, tahap pertama adalah membangun dan menjaga rutinitas internal, seperti pengajian yang berjalan Istiqomah. Dari sinilah budaya organisasi dibentuk, rasa memiliki dipupuk, kepemimpinan dilatih, kader bertumbuh, dan kekompakan diuji. Rutinitas yang sederhana inilah yang sering kali menjadi pondasi bagi program-program yang lebih besar.
Setelah fondasinya mulai kuat, organisasi biasanya lebih siap menyelenggarakan agenda internal yang lebih besar, seperti kaderisasi atau rihlah. Selanjutnya mulai belajar menghadirkan kegiatan yang manfaatnya dirasakan masyarakat, misalnya tabligh akbar. Ketika kapasitas organisasi semakin matang, barulah kolaborasi dengan organisasi lain, pemerintah, atau berbagai mitra menjadi lebih memungkinkan. Jika semua itu dapat dijaga keberlanjutannya, insya Allah suatu saat organisasi juga dapat membangun amal usaha yang manfaatnya terus mengalir.
Karena itu, menurut saya, ketika membangun sebuah organisasi, mulailah dari program yang paling mudah dilakukan namun bisa dijaga keberlangsungannya. Bagi ormas Islam, salah satu contohnya adalah menghidupkan pengajian rutin.
Insya Allah, mengelola pengajian bukanlah pekerjaan yang terlalu rumit. Yang dibutuhkan adalah orang-orang yang mau bergerak mengurus hal-hal sederhana: menyiapkan tempat, menghubungi pengisi, menyiapkan konsumsi, dan mengundang jamaah.
Manfaatkan saja apa yang ada. Kalau ndilalah belum ketemu siapa yang bisa menjadi tuan rumah, pinjam saja masjid atau rumah pengurus yang memungkinkan. Selain itu, yang tak kalah penting adalah memutar infak di setiap pengajian. Dulu kami menyebutnya "piring UFO", karena kotak infaknya bukan kotak, melainkan piring yang ditutup buku. Sederhana sekali, tetapi tetap berfungsi.
Infak yang terkumpul setiap pengajian sebagian bisa menjadi kas organisasi, sebagian lagi dapat membantu meringankan tuan rumah. Dari kebiasaan-kebiasaan kecil seperti itulah sedikit demi sedikit organisasi memiliki modal, baik modal finansial maupun modal kebersamaan, untuk menjalankan program-program berikutnya.
Tentu saja ini bukan rumus baku. Bisa jadi pengalaman setiap organisasi berbeda-beda. Ini hanya sekelumit pelajaran yang saya dapatkan dari perjalanan belajar selama berorganisasi.
Pengalaman-pengalaman itu mengajarkan saya untuk tidak tergesa-gesa. Setiap organisasi memiliki titik awal, tantangan, kapasitas, dan ritme pertumbuhannya masing-masing. Karena itu, saya lebih percaya pada proses: membangun rutinitas, memperkuat pondasi, lalu bertumbuh sedikit demi sedikit. Mungkin hasilnya tidak langsung terlihat, tetapi justru dari proses itulah organisasi belajar menjadi lebih matang.
Pada akhirnya, organisasi bukan sedang berlomba siapa yang paling cepat terlihat besar. Yang lebih penting adalah bagaimana ia mampu terus bertumbuh, memberi manfaat yang semakin luas, serta melahirkan kader-kader yang siap melanjutkan estafet perjuangan. Insya Allah, jika pondasinya kokoh, Allah akan mudahkan langkah-langkah berikutnya.